Annisa Dan Azzam

Annisa Dan Azzam
Masalah datang kembali


__ADS_3

Sabil pun mengangguk. Annisa bahagia sekali melihat penerimaan Bilqis dan Sabil. Mereka menyayangi Annisa seperti menyayangi orang tuanya sendiri. Annisa pun menyayangi mereka dengan tulus, Annisa menganggap mereka adalah anaknya sendiri bukan seperti anak sambung nya.


Orang tua Annisa, Ummi dan Abah pamit karena mereka memiliki kesibukan masing-masing jadi tak bisa menemani Annisa lama-lama. Namun orang tua Annisa berjanji akan menengok kembali kalau sudah selesai urusan di jakarta. Sabil dan Bilqis turut pulang, Azzam meminta maaf kepada mereka tak bisa mengantar nya karena sementara harus menjaga adik bayi dan mereka pun paham bahkan mereka tak ingin pulang namun apa daya esok hari mereka harus sekolah.


Kini tinggal Annisa, Azzam dan anak mereka. Annisa sedang istirahat sedang kan Azzam sibuk memandangi sang buah hatinya. Annisa tak lama terbangun, Annisa disuguhi pemandangan tersebut dan langsung tersentuh hatinya.


"Mas"


"Kamu udah bangun. Mau makan atau minum sesuatu?" Tawar Azzam.


"Engga kok Mas"


"Aku masih ga menyangka dengan kehadiran bayi kecil ini. Rasanya baru kemarin kita memperjuangkan cinta kita dan sekarang sudah Allah titipkan amanah. Tanda nya kita mampu melewati apapun kelak, karena ini salah satu bukti kalau Allah ridho dengan kita"


"Iya Mas, semoga aku mampu menjaga amanah ini"


"Aku mau kasih nama Hafiz ya. Biarlah anak ini akan jadi pelindung bagi orang-orang yang mencintai nya. Terutama untuk Bunda nya"


"Nama yang bagus, aku setuju"


Annisa dan Azzam melalui hari dengan penuh bahagia, mereka bekerja sama satu sama lain untuk menjaga Hafiz. Annisa pun sudah beraktifitas seperti biasa karena sudah pulih betul. Azzam membersamai Annisa hanya beberapa hari karena harus kembali kerja dan rutinitas lainnya.


Annisa selama dirumah dibantu oleh Bu Minah untuk menjaga Hafiz. Annisa juga sering dikunjungi oleh Ibu dan ayahnya. Ummi dan Abah pun sama sesekali berkunjung.


Annisa begitu bahagia dengan kehadiran Hafiz, karena benar-benar menjadi pengobat rindu ketika kangen dengan Azzam. Hafiz memiliki paras wajah mirip dengan Azzam, seperti Azzam junior jadinya.


Beberapa bulan berlalu dengan bahagianya, namun kebahagiaan Annisa seperti ditakdirkan tidak bertahan lama. Azzam dini hari pulang tiba-tiba, Annisa pun terkejut dengan kehadirannya. Azzam ketika datang tak banyak bicara. Dia langsung mencium ku dan mengambil Hafiz yang sedang tidur untuk digendong nya. Annisa pun tak melarang karena dia tau seperti nya Azzam sedang tidak baik-baik saja.

__ADS_1


Annisa pun langsung keluar membuatkan minuman hangat, Annisa membiarkan Azzam puas menggendong Hafiz. Annisa pun duduk di tepi tempat tidur, dia menunggu Azzam datang kepadanya. Tak lama, Azzam menaruh kembali Hafiz dalam box bayinya kemudian menuju Annisa. Azzam langsung memeluk Annisa.


"Ayo diminum dulu yuk teh hangatnya. Nanti keburu dingin"


Azzam tak bergeming. Annisa pun tak berkata lagi mungkin saat ini yang dibutuhkan Azzam adalah sebuah pelukan. Azzam pun melepaskan pelukannya, lalu dia menangis dihadapan Annisa. Annisa pun terkejut.


"Mas, jangan seperti ini. Semua masalah pasti sudah Allah siapkan jalan keluarnya. Percayalah"


"Jangan pernah pergi tinggalkan aku ya. Aku mohon"


Annisa pun mengangguk lembut.


Azzam menunduk dalam, Annisa tak ingin memaksa Azzam untuk berbicara walaupun dia sangat ingin tau apa yang sedang terjadi.


"Sayang, aku mundur aja ya dari semua jabatan yang sedang aku emban saat ini"


"Aku ga mau kehilangan kamu"


"Mas, aku ridho kalau pekerjaan kamu memang menyita waktu kamu bersama aku dan Hafiz. Aku tau, kamu disana memang lah sangat di butuhkan. Dan aku juga tau, kamu bahagia menjalani ini semua karena kamu bisa berdakwah dengan cara kamu"


"Tapi kalau jabatan ini membuat aku kehilangan kamu, aku ga mau sayang"


"Jalani saja dulu Mas. Percayalah, semua akan baik-baik saja. Kamu sebenarnya ada apa sih Mas?"


Akhirnya Annisa tak kuasa untuk tidak menanyakan apa yang sedang terjadi kepada Azzam. Azzam pun terdiam cukup lama.


"Ibunya anak-anak akan mengambil hak asuh mereka. Dan mengancam akan melaporkan serta menyebar luaskan tentang pernikahan siri kita. Aku gamau kalau kamu sampai ikut terseret. Kamu sudah terlalu sering menderita karena aku, biarlah dia mau melakukan apa tapi jangan menyakiti kamu apalagi memfitnah kamu. Aku ikhlas kalau akan kehilangan semu, asalkan aku di sisi kamu. Aku gabisa hidup tanpa kamu, apalagi saat ini ada Hafiz".

__ADS_1


Annisa paham kini apa yang sedang Azzam rasakan. Dia bimbang. Karena harus memilih yang tidak bisa dia pilih. Semua dia cintai, termasuk pekerjaan nya.


"Yaudah kita sekarang banyak memohon kepada Allah, agar ibunya anak-anak Allah lembut kan hatinya. Dia seperti itu karena sedang marah Mas. Dia ingin kamu pahami mungkin. Bicaralah baik-baik dengan nya"


"Dia memang tak pernah bisa mengerti aku Dia berbeda dengan kamu sayang. Dia tak pernah memahami ladang pekerjaan ku, dia selalu menuntut ku lebih. Padahal dari awal menikah dia sudah tau"


Keesokan harinya Azzam pamit kembali, karena dia semalam balik kerumah Annisa karena sedang butuh diskusi dengan Annisa. Annisa adalah istri yang dapat Azzam andalkan dalam hal segalanya termasuk meminta pendapat. Karena Annisa begitu bijak dalam mengeluarkan kata-katanya dan itu membuat Azzam nyaman jika berdiskusi dengannya.


Annisa pun kembali hanya berdua dengan Hafiz, siangnya baru Bu Minah datang untuk membantu Annisa.


Selepas Azzam pergi, Hafiz rewel sekali. Mungkin dia masih kangen digendong oleh sang ayah. Itu membuat Annisa pilu, begini kah nasib Annisa yang harus selalu mengalah. Dia menangis melihat sang anak seperti sekarang. Dia tak bisa berbuat apa-apa, Azzam harus membagi waktunya dengan pekerjaan, anak-anak nya dan Hafiz.


Annisa mencoba menenangkan Hafiz yang rewel namun tak berhasil. Akhirnya Annisa meminta bantuan Bu Minah untuk coba menenangkan Hafiz. Berhasil namun tak berlangsung lama karena setelah nya Hafiz menangis lagi.


Annisa mencoba menelpon sang Ibu untuk bertanya apa yang harus Annisa lakukan. Sedangkan suhu badan Hafiz normal. Akhirnya Sang Ibu menyarankan untuk menghubungi Azzam karena hanya itu satu-satunya jalan. Annisa pun menyerah, akhirnya mengikuti saran sang Ibu.


Annisa melakukan panggilan telpon kepada Azzam namun tak ada jawaban. Annisa terpikirkan menelpon Raihan, akhirnya Annisa lakukan.


"Assalamu'alaikum. Nis, ada apa telpon?" Kata Raihan.


"Wa'alaykumussalam. Kak, boleh minta tolong?"


"Boleh boleh, apa yang bisa aku bantu?"


"Kak, boleh bantu telpon ke Mas Azzam?"


"Loh ada apa emangnya Nis?Ada masalah kah?"

__ADS_1


"Hafiz sejak Mas Azzam pergi tadi dia nangis terus kak. Sudah segala cara aku lakuin tapi ga berhasil. Satu-satunya cara adalah bertemu ayahnya. Mungkin dia rindu"


__ADS_2