Annisa Dan Azzam

Annisa Dan Azzam
Keingin tauan Haikal


__ADS_3

"Assalamu'alaikum. Maaf ganggu. Saya mau minta tolong, anak murid perempuan di kelas saya dari tadi mengeluh sakit tapi saya bingung harus gimana karena temen kelasnya pun bingung. Diajak ke UKS gamau katanya sakit untuk di ajak jalan"


"Dimana sekarang anaknya?"


"Di kelas mba"


Annisa pun menuju kelas yang sedang diajar oleh Haikal. Haikal pun menunjukkan anak yang tadi dia ceritakan. Annisa menghampiri nya.


"Kamu kuat jalan Nak?" Tanya Annisa pada murid tersebut.


"Engga Bu, sakit banget perut aku" Kata murid tersebut sambil terus meringis memegangi perutnya.


Annisa pun mencoba menenangkan anak tersebut sambil berpikir bagaimana membawa anak ini karena tak mungkin dia yang menggendongnya secara ukuran tubuh muridnya lebih besar daripada Annisa.


Annisa pun teringat dengan tandu milik UKS, dia pun meminta tolong murid laki-laki untuk memandu nya menuju UKS. Annisa dengan telatennya menemani anak tersebut sampai dirasa sudah lebih baik.


"Mba, makasih ya bantuannya. Saya bingung harus apa tadi yang saya ingat cuma mba untuk minta bantuan"


"Panggilnya Annisa aja"


"Ohiya Annisa"


Annisa pun menemani anak tersebut. Di dalam UKS bersama Haikal selalu guru kelas nya. Di dalam Annisa mengurusi kebutuhan anak tersebut, makan sampai minum obatnya. Annisa tak tega meninggalkan muridnya dalam kondisi sakit apalagi jauh dari orang tua karena Annisa merasakan itu tak enak.


"Hafiz kemana Mba, kok saya ga lihat dia. Biasanya dia sedang asik bermain dilapangan"


"Eh Annisa maksudnya" Lanjut Haikal.


"Panggil senyamannya aja. Hafiz sedang pergi sama ayahnya"


"Ayahnya yang semalam mengimami kita sholat ya mba?"


Annisa mengangguk.


Hati Haikal berdetak tak karuan ketika mengetahui bahwa benar itu adalah suami dari Annisa. Ada rasa panas dihatinya. Namun, Haikal sadar bahwa suami Annisa bukan orang sembarangan terbukti dari betapa banyak santri yang menghormatinya dan menyayangi nya. Haikal pun sadar Annisa juga bukan wanita sembarangan, Annisa begitu teguh dengan prinsipnya.


Haikal memandangi Annisa yang sedang menyuapi anak muridnya, Annisa memang cantik. Cantiknya begitu alami walaupun tanpa hiasan namun aura kecantikannya begitu terlihat sehingga siapa yang melihat nya akan memujinya.


Annisa sadar kalau dirinya sedang diperhatikan oleh Haikal, dengan cepat Annisa mengeluarkan jurus untuk mengusir secara halus.

__ADS_1


"Pak, silakan bapak lanjut ngajarnya. Kasian anak-anak yang lain menunggu bapak. Untuk dia, biar saya yang jaga. InsyaAllah aman"


Haikal pun merasa Annisa tak nyaman berada satu ruangan dengan dirinya. Haikal pun mengikuti perintah Annisa untuk kembali ke kelas untuk lanjut mengajar.


Annisa tertidur disofa saat menemani muridnya, ketika bangun Annisa ingin kembali sebentar ke kelas nya untuk mengambil tas miliknya karena dia ingin menanyakan kabar Hafiz yang sudah seharian bersama Azzam. Namun ketika ingin keluar UKS tiba-tiba Haikal datang dengan sedikit berlari dan langsung menahan Annisa dengan isyarat tangan.


"Mba, stop stop jangan pergi dari UKS"


"Apa hak kamu ngelarang saya?"


"Ini perintah dari Pak Kyai mba"


Annisa terlihat bingung, namun Haikal mengeluarkan ponselnya dan terlihat menelpon seseorang kemudian di serahkan ponselnya kepada Annisa.


"Nak, ini Abah. Kamu tetap di UKS ya. Tadi Abah tau kamu di UKS dari Haikal. Tetap disana ya, disini sedang ada istri Azzam. Abah gamau kalau dia sampai mempermalukan kamu lagi, kamu tetap di sana sampai nanti Abah hubungi lagi"


Annisa sedih, mengapa dia harus kucing-kucingan dengan istri mas Azzam padahal dirinya sudah mengorbankan perasaannya untuk mereka. Seharusnya masalah selesai. Annisa tak punya kuasa menolak, dia tak ingin ada keributan juga.


"Iya Bah, Annisa paham"


"Makasih ya nak, maafin Abah. Ini Abah lakuin demi ketentraman kamu dan Hafiz"


Lagi-lagi Hafiz yang dijadikan tameng. Namun ada benarnya perkataan Abah, karena kalau mereka sampai tau keberadaan Annisa kelak Azzam akan semakin sulit bertemu dengan Hafiz sedangkan Annisa tak kuasa jika harus terjadi seperti itu. Annisa akan mengorbankan perasaan atau apapun demi Hafiz.


Annisa kembali ke dalam UKS, dia melihat anak muridnya yang sedang tertidur karena mungkin efek dari obat yang dia minum. Annisa seperti melihat muridnya seperti melihat dirinya sendiri. Merasakan sakitnya sendiri tanpa ada yang tau kondisi hatinya.


'Ya Rabb, sampai kapan semua ini akan berakhir. Kasihan Hafizku' Batin Annisa.


Annisa teringat dengan Hafiz, sedang apa mereka berdua. Apakah Azzam tau kalo disini ada istrinya, lalu bagaimana Hafiz. Haruskah Hafiz merasakan kebencian dari orang lain sedangkan Hafiz hanya seorang anak yang tak berdosa. Annisa mencoba menguatkan hatinya untuk tak menangis, Annisa berdzikir agar hatinya tenang.


Tak lama, pintu UKS terbuka. Annisa menengok, yang datang ternyata Haikal. Haikal membawa sebungkus makanan dan air mineral.


"Mba, makanlah. Ini udah siang, udah waktunya makan siang. Anggap aja ucapan terimakasih karena udah bantu saya tadi"


"Saya belum lapar tapi makasih ya"


"Mba, jangan dzolim sama diri sendiri. Kalau sakit, mba mau berakhir seperti dia. Hanya terbaring sedangkan ada Hafiz yang menunggu mba"


Annisa melihat ke arah Haikal, dia cukup terkesan dengan kata-kata nya.

__ADS_1


"Makanlah mba"


"Baik saya makan, sekali lagi makasih ya"


Annisa pun membuka bungkusan yang dibawa Haikal dan memakannya walaupun tak ada selera namun benar kalau dirinya sampai sakit hanya karena telat makan, kasihan Hafiz.


Annisa memakan makanan nya sangat lama, karena entah mengapa dia tak merasakan lapar. Haikal memperhatikan Annisa, sepertinya Annisa terpaksa memakannya karena ucapan dirinya.


"Mba, maafin saya ya atas ucapan saya yang tadi. Kalau mba ga berselera, disudahi aja makannya"


"Gapapa Kal, benar kata kamu kalau saya sakit kasihan dengan Hafiz karena teman bermainnya berkurang satu akibat sakit"


"Mba, boleh tanya sesuatu?"


"Mau tanya apa?"


"Kenapa mba ga ikut bersama suami mba?"


"Maksudnya?"


"Iya Kenapa malah mba tinggal disini?Padahal surga mba ada di suami, harusnya kan ikut suami kemanapun suami mba berdakwah"


Annisa tertawa pahit.


"Surganya sudah berpindah, lalu aku harus tetap ikut gitu?"


"Maksudnya, mba?"


"Yasudah kalau ga paham. Ohiya tamunya Abah sudah balik belum ya?"


"Ohiya, coba saya telpon dulu ya mba"


Haikal pun keluar UKS untuk menelpon Abah. Tak lama Haikal pun masuk kembali.


"Belum mba. Abah juga minta maaf karena udah bikin mba nunggu di UKS"


"Iya makasih ya infonya"


"Ngomong-ngomong emang siapa sih mba tamu Pak Kyai. Kok mba disuruh nunggu disini?"

__ADS_1


Annisa merasa tak nyaman ketika ditanya seperti itu oleh Haikal, sehingga Annisa melangkah menuju murid nya sambil berkata.


"Engga semua hal harus kamu tau, Kal"


__ADS_2