Annisa Dan Azzam

Annisa Dan Azzam
Menjaga Jarak


__ADS_3

Annisa buru-buru masuk kamar. Di dalam kamar Annisa menangis sepuasnya, hati Annisa sakit dengan pertemuan ini. Biasanya selepas bertemu dengan Azzam selalu kebahagiaan yang dia dapat namun kali ini berbeda. Pertemuan ini mungkin akan jadi pertemuan terakhir untuk mereka.


Setelah puas nangis, Annisa tertidur dengan pakaian yang masih sama saat bertemu dengan Azzam tadi. Ponsel Annisa berdering, namun malas sekali Annisa untuk mengangkat panggilan tersebut. Rasanya Annisa seperti kehilangan semangat hidupnya setelah berpisah dengan Azzam.


Namun ponselnya terus berdering. Annisa pun mengambil ponsel tersebut dan melihat siapa yang telpon. Ternyata Azzam. Hati Annisa ingin sekali mengangkat nya namun pikiran jernih Annisa melarangnya.


'Maaf Mas' Batin Annisa


Annisa pun menonaktifkan ponselnya. Semua dia lakukan demi kebaikan bersama. Annisa pun melirik jam ternyata sudah malam. Annisa hanya mengganti bajunya dan tidak bebersih diri. Annisa melanjutkan tidur, Annisa melewatkan makan malamnya.


Hari ini Annisa melaksanakan puasa sunnah, semalam dia terbangun untuk sahur walaupun hanya dengan beberapa butir kurma karna Annisa tak punya semangat untuk makan.


Selepas subuh, Annisa tadarus cukup lama. Hatinya terbayang-bayang Azzam. Rasanya hari ini dia ingin berlama-lama dalam sholat nya, ingin mengadukan semua yang dia rasa kepada Rabbnya namun hari ada bimbingan terakhir sebelum dirinya menghadapi sidang nanti.


Dengan langkah gontai Annisa melangkah kan kakinya ke kampus. Terasa berat harinya tanpa Azzam disamping nya. Ponsel Annisa berdering. Annisa melihat nama Fifi di ponselnya.


"Assalamu'alaikum. kenapa Fi?" Tanya Annisa


"Wa'alaykumussalam. Lo dimana Nis?"


"Ruang dosen nih, nunggu dosen pembimbing gue"


"Oke gue meluncur kesana"


Annisa menaruh kembali ponsel nya ke dalam tas namun Annisa menemukan benda asing didalam tasnya. Annisa pun mengeluarkan benda tersebut yang ternyata adalah tasbih yang kemarin Azzam berikan. Mata Annisa memanas melihat benda tersebut namun buru-buru Annisa masukkan kembali.


Dari kejauhan Fifi senyum-senyum melihat Annisa. Annisa pun heran dengan sikap temannya.


"Kenapa sih senyum-senyum? Kaya orang bener deh" Tanya Annisa.


"Emang ga boleh apa temennya seneng"


"Ya aneh aja, biasanya juga suntuk mulu kalau ke kampus"


"Gimana ga bahagia coba, tadi Kak Raihan nanya posisi gue. Dia mau ketemu gue berarti kan"


Annisa terdiam. Dia teringat akan permintaan Raihan kepada dirinya. Annisa bahkan belum membicarakan ini kepada Azzam.


Tak lama Raihan muncul. Fifi pun dibuat salah tingkah beda dengan Annisa. Annisa merasa tak enak hati dengan sahabatnya.


"Assalamu'alaikum. Lagi pada ngapain di depan ruang dosen?" Tanya Raihan

__ADS_1


"Wa'alaykumussalam. Ini kak, Annisa lagi mau bimbingan terakhir sebelum maju sidang" Jawab Fifi


"Oh Kamu mau sidang, selamat ya. Semoga semua lancar" Ucap Raihan


"Aamiin" Jawab Annisa


Puas basa basi tak lama ponsel Fifi berdering. Fifi sepertinya ada janji dengan orang lain karena terdengar Fifi akan menemui orang yang sedang menelponnya.


"Nis, Ka maaf ya kayanya Fifi pergi duluan. Lupa kalo ada janji sama temen. Kapan-kapan disambung lagi ya ngobrol nya" Kata Fifi


"Iya Gapapa Fi" Jawab Raihan


"Beb, maaf ya gabisa nemenin. Lain waktu deh ya" Ucap Fifi


"Iya selesain dulu aja urusan lo, dospem gue juga sebentar lagi dateng" Jawab Annisa


Fifi pun pergi meninggalkan Raihan dan Annisa. Mereka berdua terdiam cukup lama.


"Gimana kamu sama Pak Azzam?" Tanya Raihan


"Baik" jawab Annisa berbohong.


"Setelah lulus niatnya mau langsung kerja atau lanjut kuliah lagi?"


Padahal orang tua Annisa menginginkan Annisa segera ada yang meminang. Andai Annisa memberi tau keluarga jikalau Raihan meminta nya untuk menjadi istri pasti orang tua Annisa sangat lah senang namun di dalam hatinya hanya ada Azzam.


"Aku ada info beasiswa kuliah di luar negeri. Berminat ga? Nanti aku bantu persiapin semuanya"


"Untuk saat ini belum minat, tapi gatau kedepannya"


"Jangan kaku begini, aku gaenak. Aku paham kok, aku ga akan menanyakan mengenai jawabannya terkecuali kamu sendiri yang mengutarakan nya"


"Kamu pantas dapat yang lebih baik"


"Udah gausah bahas itu, aku tau kondisi kamu sedang tidak baik-baik saja"


"Terimakasih"


"Mau ke kantin ga? aku traktir deh"


"Maaf, aku puasa kak"

__ADS_1


"Maaf ya, aku gatau"


"Santai aja kak. Ke kampus ada urusan apa kak?"


"Mau ketemu kamu aja. Ini maunya hati aku ya, bukan mau ku"


"Hati kamu kan bagian dari organ tubuh kamu. Ga boleh Fitnah hati kak" Ledek Annisa


"Bisa aja kamu"


Mereka tertawa bersama. Ketika mereka sedang ngobrol tiba-tiba ada sosok yang menghampiri. Azzam ternyata. Annisa pun kaget sama halnya dengan Raihan. Annisa segera membuang pandangannya, Annisa sedang berusaha untuk menetralkan hatinya.


"Sedang apa kamu disini? bukannya sudah lulus?" Tanya Azzam pada Raihan


"Ini Mas, aku tadi abis ketemu temen dan ga sengaja ketemu Annisa disini juga" Jawab Raihan


"Ohiya selamat ya, Mas dengar kamu akan kerja di luar negeri. Jaga diri baik-baik. Semoga Allah mudahkan langkah kamu"


"Aamiin. Makasih do'a nya Mas. Yaudah saya pamit dulu Mas"


"Nis, saya pamit ya. Assalamu'alaikum" Sambung Raihan


"Wa'alaykumussalam" Jawab Annisa dan Azzam


Annisa mencoba menghindar, dia bangkit dari tempat duduknya namun Azzam menahannya.


"Jangan menghindar seperti ini. Aku benar-benar rapuh. Aku mohon" Kata Azzam


"Kalau aku terus disamping kamu, kamu ga akan berusaha untuk kembali pada keluarga kamu Mas"


"Tapi memang tak ada yang bisa diperbaiki. Tadi malam saja kami berdua ribut besar lagi. Lalu apa bedanya?"


Mereka berdua terdiam. Annisa kasian pada Azzam. Hari ini memang terlihat lesu tidak seperti biasanya. Seperti banyak hal yang dipikirkan.


"Aku ga suka lihat kamu dengan Raihan seperti tadi. Aku takut"


"Mas, ini dikampus. Aku gaenak kalo ada yang lihat kita seperti ini. Ga baik untuk kamu. lebih baik aku pergi, assalamu'alaikum"


Annisa pun bangkit dari duduknya. Annisa terus melangkahkan kakinya walaupun Annisa bingung mau kemana. Akhirnya Annisa menuju mushola, dia melaksanakan sholat sunnah dhuha agar hatinya tenang. Setelah selesai, Annisa kembali menunggu dospemnya di tempat tadi. Ketika sedang menunggu, ponsel Annisa berdering tanda pesan masuk.


'Hari ini saya sedang isi seminar di gedung sebelah. Nanti temui saya di lt. 9"

__ADS_1


Begitulah bunyi pesan sang dosen, Annisa langsung menuju gedung sebelah agar tak membuang-buang waktu. Di lt. 9 ternyata sangat sepi, Annisa risih juga kalau hanya duduk-duduk akhirnya Annisa memutuskan untuk mengikuti seminar yang sedang diisi oleh dosen pembimbing nya.


Annisa memasuki ruang auditorium, disana sudah ramai sekali mahasiswa. Annisa memilih duduk dipojok karena merasa asing datang seorang diri.


__ADS_2