Annisa Dan Azzam

Annisa Dan Azzam
Setelah sidang


__ADS_3

Raihan pun pamit pulang setelah dirasa cukup ngobrol dengan Annisa.


Annisa kembali ke kamar, Annisa menghabiskan waktu dengan membaca buku. HP Annisa berdering sebuah notifikasi dari group. Annisa membaca seksama dan ternyata jadwal sidang yang sedang diumum kan oleh salah satu temannya. Annisa senang, karena ternyata dia masuk kloter pertama yang tandanya tinggal menghitung hari.


Annisa ingin mengabarkan pada Azzam namun dia teringat bahwa dirinya dalam masa menetralkan hatinya akhirnya Annisa urungkan. Annisa akhirnya memilih untuk menyiapkan bahan-bahan sidang agar tak repot lagi jika ingin belajar. Setelah lelah berkutik dengan perlengkapan untuk sidang Annisa memilih untuk tidur yang sebelumnya Annisa melaksanakan sholat isya terlebih dahulu.


Alarm ponsel Annisa berdering tepat pukul 03.00. Annisa pun segera menunaikan sholat tahajjud dan dilanjut sholat istikharah. Annisa dalam sholatnya memohon, untuk diberi jawaban atas hubungan nya dengan Azzam.


'Yaa Rabb, aku mohon petunjuk Mu. Jika memang Mas Azzam jodohku, mudahkanlah kami dalam bersama namun jikalau bukan maka pisahkan kami dengan cara yang baik. Kami dua insan yang saling mencintai namun cinta ku kepada Mu lebih besar ya Rabb. Berilah jawaban atas do'a ku ini. Aku tak ingin Engkau tak ridho akan semuanya, hidup ku akan hancur jika ridho Mu tak dapat ku gapai'


Setelah selesai sholat, Annisa melirik ponselnya. Ada sebuah pesan masuk.


'Assalamu'alaikum. Jangan lupa sholat tahajjud lalu dilanjutkan dengan sholat istikharah ya. Bawa namaku dalam do'a mu'


Begitu lah pesan Azzam. Annisa tak membalas pesan Azzam, Annisa tak mau mencampur adukkan lagi perasaannya. Kini Annisa pasrah, Annisa menyerah kan semua kepada Rabbnya.


Pagi ini Annisa tak ada aktifitas berarti, dia hanya menghabiskan waktunya dengan membaca buku. Ditengah asik membaca, telpon Annisa berdering.


"Assalamu'alaikum. Nis, aku ganggu kamu ga?" Tanya Raihan


"Wa'alaykumussalam. Engga kok, aku lagi baca buku aja. Ada apa Kak?"


"Aku tau, kamu sudah menolak permintaan aku secara tidak langsung tapi aku gapapa kok karena aku ditolak nya karena saingan aku berat jadi ga sakit hati. Nah untuk menghibur hati aku biar ga galau banget, bisa kamu turuti permintaan ku Nis?"


"Apa Kak?Pasti aku turuti sebagai permintaan maaf"


"Hari ini Ummi ku ulang tahun. Aku mau kamu hadir. Bisa?"


"Tapi.. "


"Yah, sedih deh dapet penolakan dua kali"


"Oke oke aku bisa. Kapan acaranya?"


"Malam ini. Sore nanti aku jemput. Oke?"


"Oke"


"Oke, sampai ketemu nanti. Assalamu'alaikum"


"Wa'alaykumussalam"

__ADS_1


Sore harinya Annisa bersiap-siap, Annisa membawa kue buatan sang Ibu karena kebetulan Ibu lagi ada pesenan kue banyak. Tak menunggu waktu lama, Raihan pun sampai dan langsung meminta izin kepada orang tua Annisa untuk mengajak Annisa pergi.


Mereka pun sampai di kediaman Raihan, Annisa tak kaget lagi dengan rumah besar itu seperti pertama masuk dahulu. Sebelum masuk Raihan menanyakan sesuatu.


"Nis, nanti kalau Mas Azzam dateng gimana?" Tanya Raihan.


"Ya gapapa, nanti tolong jangan tinggalin aku sendiri ya pas acara"


"Siap"


Mereka pun memasuki rumah, di dalam sudah ramai. Makanan pun sudah terpampang rapi. Annisa melihat sekitar, hati Annisa sebenarnya deg deg an karena khawatir ada Azzam. Mereka menghampiri ummi Raihan dan Annisa menyerahkan kue dari sang Ibu.


"Assalamu'alaikum. Ummi, ini temen Raihan. Namanya Annisa" Ujar Raihan


"Assalamu'alaikum. Ummi, barakallah fii umrik. Semoga Ummi Allah limpahkan kesehatan, kebaikan serta sebaik-baiknya perlindungan" Ucap Annisa


"Wa'alaykumussalam. Ma syaa Allah, makasih banyak nak do'anya"


"Oh iya ummi ada titipan kue dari Ibu. Semoga ummi suka ya"


"Ya Allah, makasih banyak ya. Sampaikan terimakasih ummi untuk Ibu ya"


"Iya ummi, InsyaAllah"


"Iya ummi" Jawab Raihan


Annisa pun mengekor kepada Raihan. Mereka makan kue sebagai pembuka sambil ngobrol. Annisa mendengar suara khas milik lelakinya. Azzam. Ternyata benar Azzam datang beserta rombongan keluarganya. Ada Abah, ummi, serta anak dan istrinya.


Para tamu pun menghampiri Pak kyai atau abah sebagai tanda hormat. Raihan menoleh ke arah Annisa.


"Maaf ya. Kalau kamu risih, kita pulang aja gapapa" Kata Raihan.


"Gapapa kok, aku mencoba biasa aja"


Mereka pun melanjutkan ngobrol walaupun pikiran Annisa kemana-mana. Annisa memperhatikan Azzam, dia begitu gagah memakai baju warna kesukaan Annisa. Wanita mana yang tak jatuh hati melihat Azzam seperti ini.


Annisa izin sama Raihan ingin ke toilet, Raihan pun menunjukkan arah toilet di rumahnya. Saat keluar dari toilet, Tiba-tiba ada yang menarik tangan Annisa. Annisa kaget, ketika ingin berteriak namun mulutnya langsung ditutup.


"Ini Aku" Kata Azzam


"Kamu.. "

__ADS_1


"Iya. Kamu datang sama Raihan?"


"Iya aku diundang Raihan. Mas kembalilah, aku takut nanti ada yang melihat kita"


"Sebentar, aku kangen kamu"


Ponsel Annisa berdering.


"Raihan telpon aku. Dia mungkin nyariin aku" Kata Annisa


"Sini aku yang angkat"


Annisa pun memberikan ponselnya kepada Raihan.


"Assalamu'alaikum. Han, Annisa bersama saya. Gausah khawatir"


"Wa'alaykumussalam. Oh iya Mas“


Azzam memberikan kembali ponselnya kepada Annisa.


"Gimana kondisi kamu?"


"Alhamdulillah sudah sangat baik"


"Alhamdulillah"


"Mas, aku kembali ya ke Raihan. Aku takut kamu juga dicariin sama anak dan istrimu"


"Baiklah, nanti pulang sama siapa?"


"Sama Raihan Mas"


"Oke, aku percaya sama dia. Yaudah see you ya honey"


Annisa pun pergi mencari Raihan, hati Annisa ternyata masih tersipu malu mendengar ucapan honey dari Azzam.


Annisa akhirnya bersama Raihan, Annisa melihat Azzam sudah bersama dengan anak-anak nya namun istrinya kemana. Mata Annisa mencari-cari, apakah mungkin pulang lebih dulu.


'Gausah kepo Nis'


Tak lama, Azzam pun hilang dari pandangan Annisa. Annisa yakin, pasti Azzam sedang mencari istrinya. Ada rasa cemburu namun segera Annisa tepis. Di Halaman belakang rumah Raihan terdengar suara ribut, beberapa keluarga menuju arah suara. Raihan pun begitu, mau ga mau Annisa mengekor.

__ADS_1


Sumber suara itu adalah suara istri Mas Azzam. Hati Annisa berdegup kencang, khawatir sumber marah nya adalah melihat Azzam bersama Annisa. Keluarga membawa istri Mas Azzam ke dalam, sedangkan Mas Azzam terlihat seperti pasrah aib keluarga nya jadi tontonan orang-orang.


Abah menghampiri Azzam, beliau mengusap pundak Azzam. Beliau sepertinya paham apa yang terjadi. Aku tak tahan melihat Azzam seperti ini, rasanya ingin ku peluk untuk menenangkan nya. Aku yakin pasti pikirannya sedang kalut saat ini. Akhirnya yang lain meninggalkan Azzam dan Abah, mereka mungkin paham pasti yang dibutuhkan Azzam saat ini adalah Abah. Aku dan yang lain masuk kembali ke dalam. Acaranya jadi hambar rasanya, padahal tadi terasa hangat


__ADS_2