
"Aku juga Mas"
"Sabar ya, aku akan segera pulang setelah urusan disini selesai"
"Mas, ga perlu mengkhawatirkan aku. Aku kan kemarin sudah bersama kamu. Biarlah sekarang waktunya kamu dengan anak-anak"
"Yaudah, aku sebentar lagi ada meeting. Kamu baik-baik ya disana. Kalau ada sesuatu langsung hubungi aku"
"Iya Mas, kamu jaga kesehatan ya"
"Iya sayang, kamu juga. Jangan sampai telat makan"
Mereka mengakhiri telponnya. Annisa menlanjutkan aktivitasnya. Baru beberapa jam ditinggal Azzam, Annisa merasakan rindu yang akhirnya membuat Annisa melakukan aktivitas agar mengalihkan rasa rindu nya.
Hari berlalu begitu lambat, rasanya sedih sekali. Annisa sering menangis ketika rindu dengan Azzam namun tak pernah dia ceritakan bagaimana rasa rindu yang menyiksa ini kepada Azzam khawatir hanya akan menambah pikiran Azzam.
Malam hari Annisa mendengar suara mobil memasuki perkarangan villa. Annisa yakin, itu Azzam. Annisa segera memakai pakaian bagus, wangi dan bersolek sedikit ketika menyambut Azzam. Annisa ingin ketika Azzam melihatnya semua lelahnya hilang.
Annisa keluar kamar menyambut Azzam. Dan langsung memeluk Annisa lama. Annisa menghirup aroma Azzam dalam untuk mengobati rindunya. Azzam menghujani Annisa ciuman, Annisa sampai tak berkutik.
"Mas, udah dong. Kamu mandi dulu ya. Aku udah siapin air hangatnya"
"Masih kangen"
"Nanti keburu dingin airnya. Kamu udah makan?"
"Belum, sengaja. Mau makan masakan istri sholehah ku"
"Yaudah, aku masakin makan malam dulu ya buat kamu. Kamu mandi sana Mas"
"Oke. Kamu cantik banget. Menggoda Mas tau"
Annisa pun tersenyum. Annisa menuju ke dapur untuk membuat kan Azzam makan malam. Setelah selesai, Annisa menata semua dan kembali kekamar untuk menyiapkan pakaian Azzam.
Azzam sudah rapi kemudian mereka berdua menuju dapur. Azzam makan masakan Annisa dengan lahap bak orang kelaparan.
"Makannya pelan-pelan Mas"
"Akhirnya aku menikmati makanan ku. Selama jauh dari kamu, makan terasa hambar"
"Jangan seperti itu Mas, kamu jangan menyiksa diri"
"Kan gara-gara kamu"
Annisa hanya menggeleng-geleng kan kepala karena heran dengan kebucinan suaminya.
Selesai makan malam, Azzam mengajak Annisa ke kamar. Azzam mengambil sebuah kotak dari dalam kopernya lalu menyerahkan kepada Annisa.
"Dek, ini" Kata Azzam sambil menyerahkan kotak tersebut.
"Buat aku?"
__ADS_1
"Iya. Bukalah dan pakai"
Annisa pun membuka kotak tersebut. Ternyata isi kotak tersebut adalah sebuah perhiasan kalung emas yang ber liontin nama Annisa.
"Mas, kenapa kasih aku kalung? Perhiasan ketika menikah saja sudah banyak loh"
"Biar kamu selalu ingat aku. Dimana pun dan kapanpun"
"Tanpa adanya kalung ini pun hanya kamu lelaki yang ada dalam ingatan ku"
"Aku percaya itu. Aku pakein ya"
Azzam pun memasangkan kalung tersebut di leher Annisa. Kalung tersebut sederhana namun cantik ketika dipakai Annisa.
"Cantik banget Mas. Makasih ya, semoga Allah limpahkan rezeki yang halal senantiasa untuk mu Mas"
"Aamiin"
Mereka melanjutkan edisi rindu dengan bertukar cerita tentang apa saja yang dilakukan selama mereka berjauhan. Mereka berbincang sampai larut dan Annisa tertidur didada bidang Azzam. Azzam yang melihatnya jadi tak tega ingin merubah posisinya. Akhirnya Azzam pun ikut tidur karena merasa lelah.
Ba'da shubuh, mereka tadarus bersama. Annisa tilawah terlebih dahulu agar bacaannya diperbaiki oleh Azzam.
"Bacaannya udah bagus, suara kamu indah dek. Sering-sering baca didepan Mas ya"
"Aku malu Mas, masih harus belajar banyak sama kamu. Bimbing aku terus ya"
"Iya sayang, kita belajar bersama ya"
"Pasti aku bakal rindu banget dengerin tilawah Mas"
"Aku pun sama dek"
Pagi harinya Annisa menyiapkan pisang goreng dan segelaa teh hangat untuk Azzam. Annisa menyiapkan semuanya ditaman belakang, tempat favorit mereka.
"Mas, Ummi dan Abah apa kabarnya?"
"Alhamdulillah baik, Ummi rindu sama kamu"
"Abah bagaimana Mas?Masih belum ridho ya atas pernikahan kita?"
"Sabar ya, Abah baru ketemu sama kamu 1 kali. Abah pasti ridho kalau aku menikah dengan orang seperti kamu. Abah belum mengenal kamu dengan baik aja sayang"
"Semoga hati Abah Allah lembut kan ya, agar segera memberi ridho untuk kita"
"Aamiin. Aku berencana mengajak kamu kerumah ummi dan Abah. Nanti kita juga bermalam dirumah orang tua kamu. Aku tau, kamu rindu mereka kan?"
Annisa tiba-tiba meneteskan air mata. Benar kata Azzam, Annisa rindu pada kedua orang tuanya. Annisa pun langsung memeluk Azzam.
"Makasih ya Mas"
"Aku juga terimakasih ya, tidak rewel selama menemani aku padahal kamu rindu pada orang tua mu"
__ADS_1
Ketika mereka sedang berpelukan, tiba-tiba Raihan datang.
"Assalamu'alaikum. Ekhem, aduh masih pagi nih Mas udah nempel-nempel aja"
"Wa'alaykumussalam" Jawab Annisa dan Azzam bersamaan.
"Gapapalah, udah halal ini Han" kata Azzam.
"Kak, silakan duduk" Kata Annisa sambil menyodorkan kursi.
"Mau teh hangat juga Kak?" sambung Annisa.
"Boleh"
Annisa pun pergi ke dapur untuk menyiapkan teh hangat untuk Raihan. Setelah itu Annisa menberikan teh hangat itu kepada Raihan.
"Silakan diminum Kak"
"Terimakasih ya"
"Sama-sama. Mas, Kak. Aku pamit ke dalam dulu ya"
"Iya sayang" Kata Azzam.
Annisa memilih masuk kedalam kamar karena khawatir mengganggu perbincangan mereka. Didalam kamar Annisa membaca buku, bertukar kabar dengan orang tuanya serta Fifi.
Beberapa jam kemudian Azzam masuk kedalam kamar.
"Loh, kirain aku kamu tidur sayang" Kata Azzam.
"Bantalnya gaada, jadi gabisa tidur"
"Loh itu bantal dek"
"Bantal aku itu" Kata Annisa sambil menunjuk dada bidang Azzam.
"Wah kamu mancing Mas berbuat lebih nih sama kamu"
"Ih Mas, kan emang dada kamu bantal aku. Selama kita bersama, aku paling sering tidur didada Mas kan?"
"Bisa aja kamu ngelesnya"
Azzam pun menghujani kelitikan kepada Annisa, Annisa pun tak tahan. akhirnya mereka saling berpelukan karena lelah tertawa. Azzam pun memandang Annisa dan akhirnya membawa Annisa kepada surga dunia untuk kesekian kalinya.
Setelah itu Azzam menggendong tubuh Annisa kekamar mandi dan dengan telatennya Azzam membersihkan tubuh Annisa. Annisa ditangan Azzam seperti ratu, tak pernah sekali pun Azzam berbuat dan berkata kasar kepada Annisa walaupun dalam kondisi marah.
Setelah selesai bersih-bersih mereka sholat dzuhur berjamaah dan dilanjut makan siang. Setelah makan siang, Tiba-tiba bel berbunyi dan Annisa bergegas untuk membukakan pintu gerbang. Ternyata, warga sekitar. Dia sedang butuh pekerjaan untuk anak perempuannya. Aish namanya.
"Assalamu'alaikum. Neng, kenalin. Nama Ibu Minah. Ibu lagi cari kerjaan neng buat anak ibu. Ini anak ibu, namanya Aish" Kata Ibu paruh baya sambil memperkenalkan anaknya.
Aish pun menyalami Annisa dengan sopan.
__ADS_1