Annisa Dan Azzam

Annisa Dan Azzam
Haikal


__ADS_3

Annisa hari ini sudah berkali-kali mengeceh ponselnya, menanti pesan dari Azzam namun nampaknya Azzam tak akan menghubungi nya. Annisa segera berwudhu karena hatinya gelisah memikirkan Azzam. Annisa hanya bisa memeluknya dalam do'a.


Sore hari Annisa menemani Hafiz bermain di halaman pesantren. Ketika sedang asik bermain bola tiba-tiba tendangan Hafiz sangat kencang sehingga bola terlempar jauh dan mengenai seseorang. Hafiz pun menghampiri Bundanya.


"Hafiz ambil ya bolanya dan segera minta maaf karena tidak sengaja mengenai om itu"


Hafiz pun mengangguk dan segera menghampiri orang tersebut. Hafiz datang ke orang tersebut yang ternyata Haikal. Haikal pun tersenyum kepada Hafiz.


"Ini bola kamu ya?" Tanya Haikal.


"Iya Om, maafin Hafiz ya. Hafiz tidak sengaja"


"Iya gapapa, nanti mainnya pelan-pelan aja ya"


"Iya Om"


"Teman-teman yang lain mana?"


"Hafiz main sama Bunda Om, itu Bunda Hafiz" Kata Hafiz sambil menunjuk Annisa yang disebut Bunda oleh Hafiz.


Haikal tertegun, dia melihat Hafiz dalam-dalam.


"Itu bener Bunda Hafiz?"


"Iya Om bener. Om mau main sama Hafiz?"


"Maaf ya Hafiz, Om Haikal ada jam mengajar nanti. Gimana kalau besok kita main sekalian Om bawain bola baru?"


"Boleh Om, janji ya kita main bareng"

__ADS_1


Haikal pun mengusap kepala Hafiz karena gemas dengan kata-kata nya. Hafiz pun kembali ke Annisa.


"Sudah?" Tanya Annisa.


"Sudah Bunda, besok Om nya mau main bareng Hafiz. Boleh kan Bunda?"


"Boleh, asal Hafiz tetap jadi anak baik ya"


"Siap Bunda"


Annisa pun melanjutkan bermain dengan Hafiz. Setelah lelah bermain, Hafiz berkumpul dengan para santri sedangkan Annisa memilih masuk ke dalam rumah untuk bantu-bantu Ummi.


Di dalam Ummi sedang masak makan malam. Annisa pun mengambil alih tugas Ummi. Ummi pun berbincang-bincang dengan Annisa banyak hal, Annisa bersyukur masih banyak yang sayang dengan nya dan Hafiz.


"Nak, Azzam hari ini pergi Umroh. Kamu tau?"


"Tau bu, kemarin Mas Azzam memberi kabar ke Annisa"


Annisa tersenyum pahit. Karena menurut nya itu akan semakin menyiksa mereka. Menyiksa memendam rindu satu sama lain.


"Beritahu Azzam nak, dia kan ayahnya Hafiz"


"Iya Ummi nanti pasti Annisa akan beritau tapi tidak sekarang"


"Iya Ummi paham Nak. Ohiya kamu udah kenalan sama anaknya teman Abah yang akan mengajar disini juga?"


"Udah Ummi"


"Iya mereka itu anaknya temen Abah waktu Abah menimba ilmu di Madinah. Mereka keluarga yang sangat baik sekali, mereka pernah mau menjodohkan Azzam dengan anak perempuan nya namun Azzam menolak dan memilih kamu"

__ADS_1


Annisa tertegun dengan ucapan Ummi. Annisa merasa wanita beruntung sekali menjadi pilihan Azzam.


"Dulu, Abah itu kasian sama Azzam. Terutama dengan kondisi rumah tangga nya. Azzam tak pernah terlihat senang, yang terlihat hanya menyembunyikan luka sendiri Terkadang Ummi ajak ngobrol berdua untuk mencari tau apa masalah yang sedang dialami namun tak pernah sedikit pun terucap dari bibirnya. Sampai suatu ketika, Ummi dan Abah melihat perlakuan istrinya terhadap Azzam. Akhirnya kami paham. Esoknya Azzam dipanggil Abah, didesak menceritakan semuanya. Barulah dia cerita kan. Abah sampai menangis mendengar pengakuan Azzam. Kami gabisa berbuat apa-apa karena memikirkan nasib cucu. Akhirnya Abah membujuk untuk berdamai dahulu dengan sang istri namun terulang lagi. Akhirnya Ummi mengizinkan untuk Azzam menikah lagi dengan pilihan hatinya agar bahagia. Setelah bertemu kamu, Azzam terlihat bahagia sekali bahkan siapapun yang melihat nya akan heran dengan perubahan drastis nya. Ummi tak henti-henti mengucapkan banyak terimakasih sama kamu Nak. Mungkin kalau kamu ga hadir, Azzam masih seperti Azzam dahulu"


Ummi bercerita panjang lebar. Annisa mendengarkan dengan seksama sambil menyiapkan semuanya.


"Aku yang harusnya berterimakasih sama Ummi karena restu Ummi kepada kami"


"Ummi semenjak itu tidak ingin menjodohkan Azzam kepada siapapun. Ummi menyerahkan semuanya pada Azzam. Ummi selalu berdo'a agar Azzam diberikan pendamping yang sholehah. Agar rumah tangga nya selalu bahagia"


Annisa tersenyum. Hatinya semakin rindu dengan mendengar cerita tentang Azzam dari Ummi.


"Semoga kalian segera bersatu kembali ya. Ummi semakin sayang sama kamu Nak. Kamu dengan tenangnya menghadapi semua ujian dan cobaan ini yang bagi sebagian orang ini begitulah berat"


"Aamiin. Makasih ya Ummi"


Mereka pun melanjutkan menata semua hidangan yang sudah matang. Tak lama adzan maghrib pun berkumandang, Annisa segera mengambil wudhu dan menuju mushola.


Ketika sholat, Annisa sedikit hilang fokus dengan suara indah dari Imam sholat. Biasanya yang mengimami adalah Abah namun dari suaranya bukan Abah. Annisa pun mengumpulkan fokusnua untuk melanjutkan sholatnya. Setelah selesai sholat Annisa pun berdzikir, Abah tiba-tiba menuju mimbar dan memanggil sebuah nama. Haikal. Abah memperkenalkan Haikal didepan jamaah sholat. Haikal adalah guru baru sementara dipesantren nya dan sementara yang akan mengimami sholat dipesantren ini.


'Oh ternyata dia' Batin Annisa.


Annisa sekarang tau siapa pemilik suara merdu itu. Annisa jadi ingat dengan Azzam. Biasanya Azzam lah yang akan membacakan ayat-ayat suci dengan suara indah dan merdu nya sampai Annisa terlelap. Annisa semakin rindu kepada Azzam.


Dari kejauhan Haikal memperhatikan Annisa yang sedang melamun. Haikal penasaran dengan sosok Annisa karena ternyata dia sudah memiliki seorang anak namun yang jadi pertanyaan Haikal adalah siapa ayah dari anak tersebut karena Annisa terlihat selalu sendiri.


Annisa pun sadar dari lamunannya, dia melihat ke depan kembali namun matanya beradu dengan Haikal. Annisa bersikap biasa saja. Dia melanjutkan memperhatikan Abah yang sedang berdiri didepan.


Ketika jamaah mulai meninggalkan mushola, Annisa tidak. Dirinya terbiasa melanjutkan sholat sunnah dan sholat taubat setelahnya. Annisa senang berlama-lama berdzikir. Dulu sebelum Hafiz lahir, Annisa lama sekali beranjak dari tempat peraduan nya dengan Rabbnya namun kini berbeda sudah ada Hafiz yang menunggu nya. Annisa tak bisa berlama-lama seperti dahulu, dia tak tega membiarkan Hafiz tidur seorang diri. Annisa takut Hafiz semakin merasa kehilangan sosok orang tuanya. Jadi sebisa mungkin setelah dirasa cukup sholat dan dzikir, Annisa kembali ke kamar menina bobokan Azzam dan ikut istirahat. Bangun kembali di sepertiga malam.

__ADS_1


Annisa pun kembali ke kamar, Hafiz pasti sedang menunggu dirinya. Hafiz pun mandiri sekali, biasanya dia sudah dalam kondisi bersih. Sudah cuci tangan, kaki serta sikat gigi dan berwudhu. Annisa terkadang merasa sedih dengan sikap dewasa nya Hafiz. Seharusnya ayah lah yang menemani Hafiz saat ini.


Dulu, ketika bersama Azzam. Azzam lah yang memang mengajarkan semuanya sehingga Hafiz sudah terbiasa walaupun tak bersam dengan sang ayah tercinta.


__ADS_2