
Ternyata yang datang adalah Ummi dan Abah. Annisa senang sekali ternyata dia tak sendiri melewati masa-masa sakit seperti ini.
"Assalamu'alaikum. Ummi, Abah"
"Wa'alaykumussalam. Perbanyak dzikir Nak, semua santri juga udah Ummi dan Abah perintahkan untuk berdoa bersama demi kelancaran kamu"
"Makasih Ummi, Abah" Kata Annisa sambil meringis menahan sakit.
Annisa masih berharap Azzam hadir, namun sepertinya mustahil dan Annisa mencoba melapangkan dada karena Annisa harus fokus akan kelahirannya ini. Annisa tak henti berdzikir, semua keluarga sudah berkumpul kecuali Azzam.
Annisa dan Azzam dari jauh hari sebelum anak ini ada memang sepakat akan melahirkan di rumah dengan persetujuan dokter. Alasannya adalah biar di villa ini menyimpan segudang memori indah tentang rumah tangga Annisa dan Azzam yang kelak akan mereka cerita kan pada anak cucu kelak.
Annisa merasakan kontraksi yang semakin hebat, Annisa hanya bisa duduk sambil berdzikir. Annisa baru kali ini merasakan sakit yang luar biasa. Pantas surga ada dibawah telapak kaki ibu karena pada kenyataannya Ibu merasakan sakit yang luar biasa dan hanya memikirkan bagaimana anak ini bisa keluar dan lupa akan dirinya sendiri
Tak lama dokter dan bidan pun datang, mereka langsung memerintahkan Annisa untuk berbaring diatas kasur untuk dicek apakah sudah ada pembukaan.
"Ibu, Bapak.. Annisa sudah pembukaan 3 ya. Ayo isi tenaga dulu dengan makan atau minum karena melahirkan pun butuh tenaga" Begitulah pesan bidan.
Annisa pun senang karena sebentar lagi akan bertemu dengan anaknya. Dilubuk hati Annisa, Annisa masih berharap Azzam hadir di tengah-tengah kebahagiaan ini. Annisa pun mengecrk ponselnya namun tak ada jawaban, Annisa pun sedih namun berusaha tak menampilkan itu.
Tiba-tiba Ummi menghampiri Annisa.
"Nak, yang ikhlas ya. Disini ada Ummi, Abah, ibu dan ayah yang nemenin kamu. Do'akan semoga urusannya dipermudah jadi bisa segera kesini Azzam nya"
"Iya Ummi Annisa paham kok, Annisa ikhlas jika Mas Azzam tak ada disini"
Ummi mengusap-usap pinggang Annisa untuk sedikit meredakan sakit diarea tersebut. Abah terlihat disudut ruang tamu sedang sholat sunnah dilanjut berdzikir dengan khusyuk nya. Annisa yakin abah sedang mendoakan kebaikan untuk Annisa dan cucunya.
Annisa merasa lapar karena terakhir makan ketika bersama Azzam pagi tadi. Ibu pun menyuapi Annisa, Annisa makan sambil menahan sakit namun harus dipaksakan demi sang anak. Setelah selesai makan, Annisa mencoba memejamkan mata sebentar karena rasa kantuk melanda namun tak berlangsung lama karena kontraksi muncul kembali dan lebih hebat dari sebelumnya.
"Bu Bidan, Annisa ada hasrat untuk mengejan. Apa sudah waktunya?"
"Baik kita cek dulu ya"
__ADS_1
Bidan pun mengeceknya.
"Jangan mengejan dulu ya, sedikit lagi. Miring kanan dan kiri aja sementara untuk mempercepat lahiran"
Annisa pun menuruti kata bidan, dia bergantian miring kanan dan kiri. Annisa meremas tangan sang Ibu dengan eratnya karena menahan rasa sakit. Annisa membayangkan yang dia pegang adalah tangan Azzam untuk jadi sumber kekuatannya.
Ketika Annisa merasakan sakit yang luar biasa, diluar terdengar suara agak ramai. Annisa sudah tak menghiraukan lagi karena fokus menahan sakit dan berdzikir. Annisa memohon agar disegerakan agar dia segera bertemu dengan sang anak.
Pintu kamar dibuka, Annisa terkejut ternyata yang masuk ke dalam kamar adalah Azzam bersama dengan kedua anaknya. Mereka menghampiri Annisa. Annisa tersenyum lebar bahkan hampir lupa rasa sakitnya kontraksi karena begitu bahagia.
"Maaf ya dek Mas ga nemenin kamu selama kamu kesakitan begini"
Annisa hanya tersenyum karena tenaga nya mulai melemah untuk berbicara banyak. Azzam memanggil kedua anaknya. Mereka pun bergantian menyalami Annisa.
"Bunda, ini Calon adiknya Sabil ya?" Kata anak pertama Azzam yang bernama Sabil.
"Iya nak benar, do'akan ya biar dia sesholeh kamu"
Annisa pun mengusap kepala Balqis. Annisa melihat Azzam, mereka tersenyum bahagia. Yang melihat pemandangan ini pun bahagia, mereka bak potret keluarga bahagia. Annisa merasakan kontraksi kembali, dan reflek meremas tangan Azzam dengan kencangnya.
"Ayo istighfar dek, banyak dzikir ya" begitu pesan Azzam.
Dari mulut Annisa tak lepas dzikir. Annisa meringis kesakitan dan dia sudah tak tahan lagi ingin mengejan sesegera mungkin memanggil bu bidan. Bu Bidan pun melakukan pengecekan.
"Ayo Bu, pembukaan sudah lengkap. Adeknya nunggu ayahnya datang ya, pinter. Bu Annisa kalau sakitnya datang lagi, langsung mengejan ya"
Tak butuh waktu lama, akhirnya anak ini lahir. Berjenis kelamin laki-laki. Semua keluarga bahagia, langsung mengucap syukur. Azzam memeluk Annisa, Annisa tersenyum dengan sisa-sisa tenaganya.
Setelah semua sudah rapi dan bersih, Bu bidan mempersilahkan untuk Azzam mengadzankan dilanjut Annisa melakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini) kepada sang bayi. Annisa merasa takjub pada ciptaan Allah ini. Annisa ditemani oleh Azzam dikamar, sedangkan yang lain diruang tamu. Mereka membiarkan Annisa untuk istirahat karena mereka tau betapa melelahkan nya pasca melahirkan.
"Makasih ya sayang sudah melahirkan anak kita. Semoga Allah balas semua usaha kamu selama ini"
"Aku juga berterimakasih ya Mas, kamu bisa hadir menemani aku padahal aku tau kamu begitu banyak urusan"
__ADS_1
"Aku sayang sekali sama kamu. Maaf aku masih banyak alfa selama jadi suami"
"Mas, yang terpenting anak kita saat ini sudah lahir dengan sehat, selamat. Sekarang, fokus kita adalah menjaga amanah ini sebaik-baiknya"
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Azzam pun membukakan pintu.
"Bunda, aku mau lihat adik bayi boleh?" Kata Balqis.
"Boleh sayang, sini. Adik bayi lagi nyusu"
Bilqis pun mendekati Annisa, Bilqis memegang tangan kecil bayi. Bilqis tersenyum ketika menyentuhnya.
"Lucu ya bunda. Akhirnya Bilqis nanti ga kesepian lagi kalau Kakak Sabil sekolah"
Annisa pun beradu pandang dengan Azzam. Tiba-tiba hati Annisa merasa sedih mendengar ucapan anak kecil tersebut. Betapa selama ini dia merasa kesepian.
"Sekarang Bilqis ga akan kesepian lagi karena akan ada adik yang nemenin Balqis. Bunda pun akan terus temani Bilqis tapi harus izin dulu ya ke Mama"
"Ayah nanti sampaikan ya ke Mama, aku mau disini aja sama adik bayi dan Bunda"
"Nanti Bilqis turuti kata Ayah ya. Kalau memang harus pulang dulu gapapa nanti kan bisa kesini lagi untuk main. Oke?"
"Oke Bunda"
"Bilqis, mau cium adik?"
"Mau"
Annisa pun menyodorkan sang bayi kepada Bilqis agar dapat mencium nya. Bilqis begitu bahagia dengan kehadiran bayi kecil ini. Tak lama Sabil pun masuk ke dalam kamar.
"Bunda, Sabil boleh main lagi kesini ga?"
"Boleh dong, kapan pun kamu mau boleh sayang tapi dengan catatan harus izin dulu ya sama Mama dan Ayah"
__ADS_1