Annisa Dan Azzam

Annisa Dan Azzam
Hadir kembali


__ADS_3

"Ayah selalu do'ain untuk anak Ayah tercantik ini. Semoga semua Allah mudahkan jalan hidup kamu. Allah jodohkan kamu dengan lelaki baik dan sholeh. Aamiin"


"Aamiin.. Makasih ya yah do'anya" Ujar Annisa


Tak lama ibu Annisa pun gabung duduk di ruang keluarga.


"Ada apa sih, kok kalian sahut sahutan aamiin ibu denger" Ujar Ibu


"Ini loh bu, Ayah lagi mendoakan anak kita semoga dapet jodoh yang baik dan sholeh" Jawab Ayah


"Iya ibu juga selalu do'ain kamu kok Nis. Sama yang kemarin juga ibu setuju tuh. Ayah liat kan yang kemarin?"


"Tadi Ayah juga ngomong gitu sama Annisa, bu"


"Nah, yaudah bawa sini. Kenalin ke Ayah dan ibu"


"Ih Ibu to the point banget sihhh, aku sama dia tuh cuma senior dan junior bu. Aku baru kenal juga sama dia"


"Ya gapapa dong, emang salah klo junior dan senior?"


"Ih bukan begitu bu, yaudah Annisa mohon doa aja ya dari Ayah dan ibu. Annisa sekarang fokus lulus dulu, minggu ini jadwal sidang Annisa keluar. Mohon restu Ayah dan Ibu ya, biar Annisa dipermudah semua"


"Aamiin" Jawab Ayah dan ibu berbarengan


"Annisa masuk kamar dulu deh, klo kelamaan disini diteror jodoh mulu" Ucap Annisa


Ayah dan ibu yang mendengar perkataan Annisa pun tertawa.


Annisa pun masuk kamar dan mengecek ponselnya namun tidak ada panggilan ataupun pesan dari Azzam. Annisa risau, tak seperti biasanya Azzam sampai melewatkan bertukar kabar pada Annisa.


Annisa tak bisa memejamkan matanya walaupun rasa kantuk sudah Annisa rasakan. Sepertinya Annisa rindu, karena biasanya Azzam akan mengucapkan kata-kata indah untuk dirinya menjelang tidur namun hari ini tidak. Seperti ada yang hilang.


Annisa pun memilih untuk memejamkan matanya khawatir kesiangan sholat tahajjud.

__ADS_1


Seperti biasa alarm Annisa akan bunyi pada pukul 03.00. Annisa pun langsung terbangun dan mencoba mengumpulkan tenaga dahulu sebelum wudhu. Ditengah itu, Annisa teringat akan ponselnya. Ternyata tak ada. Annisa pun menaruh kembali ponselnya, namun tak lama ponsel Annisa berdering. Reflek Annisa langsung menekan tombol hijau.


"Assalamu'alaikum. Udah bangun?" ujar Azzam


"Wa'alaykumussalam. Kamu kemana Mas? kok gaada kabar?Aku rindu"


"Maaf ya, mas akan cerita kan semuanya. Mas juga rindu sama kamu"


"Kamu udah sholat tahajjud?"


"Belum, ini baru mau wudhu"


"Yaudah kamu sholat dulu, nanti aku telpon lagi ya. Aku sayang kamu, dek"


"Iya Mas"


Mereka pun memutuskan panggilan teleponnya. Annisa beranjak dari tempat tidur untuk segera wudhu dan sholat tahajjud.


Usai sholat tahajjud, Annisa melanjutkan sholat istikharah. Karena hati Annisa gamang, butuh campur tangan Allah untuk memutuskan jawaban. Annisa pun berdoa dengan khusyuk kepada Rabbnya, memohon petunjuk akan semua ini. Terlebih hari ini ada seorang lelaki sholeh yang meminta dirinya untuk menjadi pasangannya. Dalam agamanya, tak boleh menolak lelaki baik terlebih kita tau dia lelaki sholeh kecuali dengan udzur atau alasan syar'i.


Ponsel Annisa berdering, Annisa segera mengambil ponsel nya yang ada di atas nakas.


"Assalamu'alaikum. Udah selesai tahajjud nya?


"Wa'alaykumussalam. Baru banget"


"Aku rindu dengar suara kamu, dengar doa dari lisan kamu. Kenapa Allah menciptakan jarak ya untuk kita"


"Ga boleh ngomong gitu Mas. Allah ingin kita bersabar dahulu"


Annisa tau, Azzam mengalami sesuatu yang berat hari ini. Makanya Annisa menahan diri untuk tidak bercerita tentang Raihan, Annisa membiarkan Azzam untuk mengeluarkan segala keluh kesahnya terlebih dahulu.


"Hari ini Ibunya anak-anak kembali kerumah. Mas harus apa dek?Hati mas udah terpaut sama kamu. Mas tersiksa seharian ga dengar suara dan do'a kamu. Bagaimana dalam waktu lama. Mas ga kuat dek"

__ADS_1


"Kembalilah Mas dengan keluarga mu, sungguh aku ikhlas. Aku pun sama tersiksa nya Mas tapi ada anak Mas yang menantikan kehadiran Ibu nya. Berilah kesempatan untuk memperbaiki semua nya"


"Aku gabisa jauh dari kamu dek, aku juga gatau bisa memperbaiki atau tidak. Semua seperti sia-sia bagi Mas. Mas sayang sama kamu. Baru kali ini Mas memiliki rasa ini. Dulu Mas berusaha mencari rasa ini sama ibunya anak-anak namun nihil. Semua terjadi atas dasar bakti, dia pun begitu. Jadi, tolong jangan pinta aku untuk kembali dengan nya"


"Ada perasaan anak-anak yang harus Mas jaga. Mas ga boleh egois"


"Menikah lah dengan aku dek, sungguh aku ga kuat jauh dari kamu"


"Mas, bukan waktu yang tepat untuk bicara seperti ini. Mas mungkin ini maunya Allah atas doa doa kita selama ini"


Annisa pun mulai terisak mengucapkan kata-kata itu, karna maunya Annisa Azzam lah yang menjadi labuhannya. Annisa pun tak bisa membayangkan, sehari tanpa Azzam mungkin sangat menyiksa.


"Kamu jangan nangis, kita berjuang sama-sama ya"


"Apa yang harus kita lakukan Mas. Sungguh aku sayang sama kamu Mas namun tak sampai hati kalau ingat wajah anak-anak yang masih butuh kasih sayang ibunya Mas. Mas harus berpikir jernih, fokus mas hari ini adalah anak-anak"


"Tolong jangan bicara seperti itu lagi. Aku gatau bisa menjalankan hari tanpa kamu atau tidak. Selama bersama kamu, Hari-hari ku terasa ringan mungkin karena doa-doa kamu. Jalan karir ku sangat baik, karena kamu mendukung aku. Jadi semua terasa mudah. Entah kalau kamu ga di sisi aku lagi"


"Mas, semua takdir Allah. semua maunya Allah. Hubungan kita pun sebenarnya tak sepenuhnya benar, mungkin ini hukuman untuk kita walaupun aku rasanya ingin menukar hukuman lain. Aku ingin di sisi kamu terus, tapi aku mohon berilah kesempatan untuk ibunya anak-anak memperbaiki semua. Manusia bukankah tempat salah dan khilaf, Mas? aku yakin kamu lebih paham "


Mereka pun terdiam dalam isak. Annisa tak kuasa menahan air matanya untuk berhenti. Hati Annisa sungguh sakit mendengar semua ini.


'Ya Rabb, apakah ini jawaban dari semua pintaku. Jikalau ini memang sudah takdir ku, aku ikhlas. Hati ini sungguh sakit, tanamkan terus rasa ikhlas di hati ini ya Rabb. Aku hanya manusia, yang banyak pinta. Pinta ku, bahagiakan lah lelakiku. Aku sayang dia, biarkan rasa ini bersemayam lama, tak apa bila rasa sakit yang aku dapat' Batin Annisa


"Mas"


"Ya, dek"


"Istirahat lah, kamu pasti lelah menghadapi hari ini"


"Aku masih rindu gadisku"


"Mas, jangan begitu. Aku makin berat harus pergi dari kamu"

__ADS_1


"Tetaplah di sisi Mas, sampai kapanpun hanya kamu yang ada di sisi Mas"


__ADS_2