Annisa Dan Azzam

Annisa Dan Azzam
Hafiz rindu ayah


__ADS_3

"Sudah coba menghubungi nya langsung, Nis?"


"Sudah Kak, tapi gaada jawaban. Aku bingung harus minta tolong sama siapa"


"Oke kamu tenang dulu ya. Aku coba bantu cari kabar Mas Azzam"


"Makasih banyak Kak, maaf selalu merepotkan"


"Aku selalu menanti dihubungi kamu, karena aku sesenang itu bisa membantu kamu"


Mereka pun mengakhiri percakapan nya. Annisa kembali fokus kepada Hafiz yang masih sejak tadi rewel. Annisa pun tambah gundah karena Azzam tak bisa dihubungi.


Tak lama Hafiz tertidur karena kelelahan menangis. Annisa tak tega sekali, Annisa pun sempat meneteskan air matanya karena bingung dengan keadaan saat ini.


Annisa masih menanti kabar dari Raihan namun sampai detik ini tak ada kabar juga.


'Ada apa ya sebenernya, apa mas Azzam baik-baik saja' Batin Annisa


Annisa memandangi anaknya, Hafiz. Hati Annisa sedih sekali, mungkin memang Hafiz rindu dengan sang Ayah karena sudah beberapa hari tak bertemu sekalinya bertemu Hafiz dalam kondisi tidur. Annisa merasa bersalah kepada anaknya karena sudah melibatkan dia dalam kondisi seperti ini.


"Sabar ya nak, kita harus kuat. Ada Allah yang selalu menjaga kita dikala ayah jauh dari kita. Maafkan Bunda, karena bunda lah kamu tak bisa selalu bersama dengan ayah" Kata Annisa kepada Hafiz yang sedang tertidur dalam pelukannya.


Annisa pun lelah, akhirnya ikut tertidur.


Pas Adzan shubuh Annisa terbangun, dia terlewat sholat tahajjud karena lelah sekali. Annisa segera mengambil wudhu dan sholat. Setelah sholat Annisa mengecek hpnya apakah ada panggilan dari Azzam maupun Raihan. Namun nihil, tak ada satupun panggilan.


Annisa yakin pasti ada yang tidak beres. Annisa sudah menyiapkan mentalnya apapun yang terjadi nanti. Annisa meminta pertolongan kepada Allah agar dikuatkan langkah nya. Annisa memohon kebaikan dari setiap masalah.


Annisa pun membereskan alat sholat, lalu melihat Hafiz. Hafiz masih tertidur, dia sepertinya juga lelah karena cukup lama menangis. Annisa mendekati Hafiz yang sedang tertidur, dia mengusap lembut pipinya dan Hafiz pun mengulat.


Tak lama terdengar suara mobil memasuki perkarangan. Annisa pun bangkit perlahan-lahan agar tak mengganggu tidur Hafiz. Annisa langsung melihat mobil siapa yang memasuki perkarangan. Ternyata Azzam. Annisa pun langsung menyambutnya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum. Sayang" Kata Azzam.


"Wa'alaykumussalam. Mas"


Annisa berderai air mata ketika memeluk Azzam, entah mengapa Annisa ingin menangis saat ini rasanya tak bisa dia tahan lagi. Annisa pun sesegukan didalam pelukan Azzam, Annisa lega melihat Azzam kembali.


"Maafin aku ya. Aku selalu buat kamu nangis. Aku memang egois tapi aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku sayang sama kamu dan Hafiz"


Annisa tak menjawab, dia masih mengeluarkan semua rasa yang dia simpan. Annisa entah mengapa ingin sekali menangis didepan Azzam kali ini. Biarlah kalau Azzam menganggap dia lemah.


"Mas, Hafiz rindu sama kamu"


"Itu juga yang aku rasakan. Makanya aku segera kesini setelah urusan selesai"


"Sebenarnya ada apa sih Mas? Kamu baik-baik aja kan?"


"Terus do'akan aku semoga Allah berikan jalan keluarnya. Selalu sematkan namaku didoamu. Kita pasti bisa melalui ini bersama sayang"


Annisa dan Azzam pun menuju kamar untuk melihat Hafiz. Hafiz masih tertidur namun ketika Azzam menciumnya dia langsung terbangun dan tersenyum melihat sang ayah yang datang. Annisa melihat nya menjadi terharu. Azzam pun langsung mengambil Azzam kedalam gendongannya.


Hafiz pun ketawa riang ketika diajak bicara oleh Azzam walau sebenarnya Hafiz belum paham apa yang dikatakan oleh ayahnya namun yang hafiz rasakan adalah rindunya terbayar kan ketika melihat sang ayah.


Annisa pun menyiapkan sarapan. Azzam dan Hafiz asik bermain dikebun belakang. Jika Azzam sedang dirumah, pasti menghabiskan waktu bersama Hafiz ditaman belakang. Mereka betah berlama-lama disana, Azzam begitu menyayangi Hafiz dan sebaliknya. Hafiz tak kehilangan sosok ayah walaupun tak setiap hari bertemu namun Azzam selalu menyempatkan bertemu walau paginya dia harus pergi lagi. Yang terpenting adalah sudah bertemu dan bermain dengan Hafiz.


"Mas, ayo sarapan dulu. Biar Hafiz aku pegangi" Kata Annisa.


"Kamu sarapan duluan ya, biar sarapan kamu tenang. Biar aku mandiin Hafiz"


Begitulah Azzam, selalu memberikan aku waktu walau hanya untuk makan tenang. Annisa pun sarapan dengan tenang karena biasanya ketika tidak ada Azzam maka sarapannya ala kadarnya dengan kecepatan tinggi. Karena kalau berlama-lama Hafiz takut rewel.


Ketika Annisa sudah mau membawa piring bekas makannya tiba-tiba Azzam datang membawa Hafiz yang sudah rapi dan wangi.

__ADS_1


"Piring nya jangan dibawa, aku mau makan di piring bekas kamu makan tadi" Kata Azzam.


"Kan banyak piring yang bersih Mas"


"Rasulullah dulu kalau makan bersama istrinya satu wadah"


Annisa pun kedapur hanya cuci tangan karena piring bekasnya tak diizinkan dicuci. Setelah nya Annisa mengambil Hafiz dalam gendongan Azzam.


"Sama bunda dulu ya nak, nanti kita main lagi sampai puas" Kata Azzam.


Annisa tersenyum melihat kebersamaan Hafiz dan Azzam. Azzam pun mengambil nasi dan ditaruh nya diatas piring bekas Annisa tadi dan Annisa merasa sungkan karena khawatir Azzam jijik namun melihat Azzam lahap sekali makannya Annisa pun membiarkan Azzam.


Annisa membawa Hafiz bermain diruang tamu, Annisa membacakan beberapa buku tentang kisah Nabi dan Rasul. Ketika sedang asik membaca, Azzam datang dan langsung bermain dan bercanda dengan Hafiz.


"Ayo nak kita serbu Bunda, abis bunda cantik banget sih. Bikin kangen terus" Kata Azzam.


Hafiz yang masih kecil pun hanya ketawa mendengar perkataan Azzam. Hafiz begitu senang bersama Azzam, tidak seperti semalam dia hanya menangis.


Azzam pun membiarkan Hafiz bermain Azzam tiduran dikaki Annisa. Mereka berdua memperhatikan tingkah laku dari Hafiz yang menggemaskan dari hari ke hari. Azzam pun tak kalah bahagia ketika sedang bersama dengan Hafiz. Seperti hilang semua masalah yang terjadi didepan mata.


Ketika sedang asik, tiba-tiba ponsel Azzam berbunyi. Dia pun bangkit, Annisa paham. Setelah melihat ponselnya, Azzam melihat Annisa.


"Sayang, aku izin angkat telpon dari anak-anak ya. Boleh"


"Silakan Mas, aku tak pernah memberi jarak antara anak dan ayahnya"


"Makasih sayang"


Azzam mencium kening Annisa. Azzam mengangkat panggilan telpon tersebut dan raut muka Azzam berubah. Tadi dia begitu bahagia namun berubah menjadi cemas. Azzam melirik Hafiz dan Annisa. Setelah nya dia mengakhiri panggilan telponnya.


"Sayang, ikut aku ke rumah Ummi dan Abah ya. Aku gamau ninggalin kalian lagi. Aku mohon"

__ADS_1


"Iya Mas, aku siapin keperluan Hafiz dulu ya"


Annisa pun bergegas ke kamar dan mengambil tas untuk menyiapkan semua kebutuhan Hafiz yang akan dibawa.


__ADS_2