Annisa Dan Azzam

Annisa Dan Azzam
Kesedihan Hafiz


__ADS_3

Selesai Annisa bicara, Hafiz pun menangis sambil mengangguk setuju. Annisa tak tega melihat Hafiz seperti ini, Annisa pun entah kenapa luruh pertahannya dan ikut menangis bersama Hafiz. Annisa memeluk erat Hafiz, dia paham betul perasaan anaknya. Tak lama Azzam menghampiri mereka, Annisa dengan cepat menghapus air matanya karena tak ingin Azzam melihatnya namun terlambat karena Azzam sudah melihat nya.


Ummi dan Abah pun menyaksikan adegan Annisa dan Hafiz nangis bersama, Ummi terlihat menyeka sudut matanya begitu pun Abah terlihat memerah wajahnya. Annisa pun berdiri sambil menggandeng tangan Hafiz.


"Ayo nak, pamitan dulu sama ayah karena Hafiz mau istirahat dulu" Kata Annisa.


Hafiz pun menuju ayahnya sambil menangis, Azzam yang melihatnya langsung memeluk Hafiz.


"Maafin ayah ya nak, gabisa berada bersama Hafiz lama-lama" Kata Azzam sambil memeluk Hafiz.


"Iya gapapa ayah. Tapi ayah tetap sayang kan sama Hafiz?"


Annisa kaget mendengar ucapan anaknya, Hati Annisa nelangsa mendengarnya. Annisa pun menangis, Ummi menenangkan Annisa.


"Kok Hafiz ngomong gitu, sampai kapanpun Hafiz harus tau. Ga ada yang bisa menggantikan cinta ayah sama Hafiz. Ayah sayang banget sama Hafiz. Maafin ayah ya belum bisa jadi ayah seutuhnya untuk Hafiz tapi ayah janji setelah ini ayah akan selalu menyempatkan waktu untuk bermain sama Hafiz"


"Ayah Janji ya, kita main lagi"


"Iya ayah janji"


Azzam memeluk kembali Hafiz dengan erat, kemudian Hafiz pamit lalu kembali ke Annisa.


"Ayo Bunda kita istirahat, Ayah kan sudah janji sama Hafiz nanti main lagi. Hafiz sekarang udah ga sedih lagi deh" Jawab Hafiz dengan polosnya.


Annisa menghapus air matanya, dia pun mengangguk dan berpamitan dengan Abah, Ummi serta Azzam untuk kembali ke kamar.

__ADS_1


Setelah Hafiz dan Annisa bebersih, Hafiz pun tak lama tidur karena sudah seharian bermain dengan ayahnya. Annisa memandangi wajah Hafiz, Annisa mengingat kejadian tadi dan tak terasa air matanya menetes. Annisa merasa bersalah dengan Hafiz, seharusnya sekarang Hafiz merasakan kasih sayang seutuhnya bukan sebaliknya. Annisa pun terisak mengingat itu, lalu dia mencoba berwudhu dan sholat sunnah didalam kamar saja karena terasa berat malam ini meninggalkan Hafiz setelah kejadian tadi.


Annisa mengadu kepada Rabbnya tentang kejadian tadi.


"Ya Rabb, begini kah jalan takdir ku. Aku ikhlas kalau memang ini takdir ku, namun aku mohon izinkan Hafiz bahagia. Jangan kau renggut kebahagiaan nya walaupun hanya sebentar. Izinkan Hafiz merasakan keberadaan sang Ayah. Hafiz ku tak bersalah, kami orang tuanya yang begitu berdosa. Ya Rabb, bukakan pintu maafmu untuk kami orang tuanya yang penuh khilaf agar dosa kami tak menghalangi kebahagiaan anak-anak kami kelak"


Annisa terus terisak, tak kuat rasanya Annisa kalau harus menyaksikan adegan tadi. Annisa tak ingin air mata Hafiz menetes kembali. Hafiz masih terlalu kecil mengerti keadaan ini, dia harus merelakan kebahagiaan nya hilang sejenak. Annisa tak menyangka akan seberat ini.


Setelah puas mengadu, Annisa lelah dan tertidur sambil memeluk Hafiz.


Paginya, Annisa memulai aktivitas seperti biasa. Annisa mengajak Hafiz untuk sarapan, ketika menuju meja makan begitu kagetnya Hafiz dan Annisa ternyata disana ada Azzam sedang menunggu mereka berdua untuk sarapan bersama. Hafiz pun berlari menuju ayahnya. Hati Annisa takut sebenarnya kalau kejadian semalam akan terulang namun Annisa memohon dan terus berdzikir agar prasangka nya salah.


"Ayah, kok tumben pagi-pagi disini? Emang kerjanya udah selesai?" Tanya Hafiz.


"Siap ayah, Hafiz janji ga akan sedih lagi dan akan jaga Bunda"


Annisa pun senang sekali melihat Hafiz dengan wajah bahagia nya. Ternyata begitu sederhana sekali membuat Hafiz bahagia, cukup bertemu, bermain bersama sang ayah.


Mereka pun sarapan bersama seperti keluarga kecil yang bahagia, Annisa terharu dengan penampakan pagi ini. Setelah selesai sarapan, Azzam menyuruh Hafiz menyiapkan diri sedangkan Azzam izin kepada Annisa untuk membawa Hafiz.


"Aku izin bawa Hafiz pergi boleh?"


"Kemana dan kapan akan kembali?"


"Aku mau ajak Hafiz kemana aja hari ini yang Hafiz ingin kunjungi, untuk menebus salah ku"

__ADS_1


Annisa terdiam.


"Maafin aku ya, aku selalu membuat kamu dan Hafiz menangis. Aku mungkin benar bukan ayah dan suami yang baik untuk kamu dan Hafiz" Lanjut Azzam.


"Tetap lah jadi ayah yang baik untuk Hafiz. Terbukti kan dengan rindunya Hafiz dengan kamu. Kalau kamu bukan ayah yang baik, mana mungkin Hafiz akan sesedih seperti semalam"


"Makasih ya sudah jadi Bunda terbaik untuk Hafiz. Aku masih sangat mencintaimu, bahkan makin bertambah" Jawab Azzam dengan lesunya.


Annisa hanya diam, karena dia tak mau terbawa suasana kembali. Sulit membangun semangat kalau sudah terbawa suasana seperti ini. Annisa pun segera mengalihkan.


"Yaudah mas, nanti jangan malam-malam ya baliknya. Dan tolong diperhatikan makannya Hafiz, aku titip Hafiz ya Mas. Aku ada jam ngajar pagi ini jadi aku gabisa anter Azzam ke mobil. Aku siapin kebutuhan Hafiz dulu ya"


Annisa pun menyiapkan kebutuhan Hafiz selama berpergian dengan Azzam nanti. Annisa meneteskan air mata kembali, karena bahagia bercampur sedih. Bahagia karena Azzam meluangkan waktu nya untuk Hafiz namun kebahagiaan ini ga akan lama. Hafiz akan ditinggal kembali yang entah kapan Azzam akan kembali ke pondok untuk bermain bersama dengan Hafiz.


Setelah dirasa sudah cukup persiapannya, Annisa menyerah kan tas perlengkapan Hafiz kepada Azzam dan tak sengaja Annisa menyentuh tangan Azzam. Hati Annisa ternyata masih sama seperti dahulu karena getaran yang dirasakan sama pula saat pertama kali bersentuhan dengan Azzam. Azzam pun memandang Annisa dalam sekali, seperti tak ingin pergi hanya berdua. Seharusnya mereka bisa menikmati berjalan bersama layaknya keluarga bahagia, namun pupus harapan untuk saat ini.


Azzam dan Hafiz pun berpamitan, sedangkan Annisa kembali ke kelas karena ada jadwal pagi. Di dalam kelas Annisa banyak melamun karena kepikiran Hafiz. Annisa ingin menanyakan kabar Hafiz namun sungkan sekali. Tak lama ponselnya bergetar, dia pun membuka sebuah pesan masuk. Ternyata Azzam, dia mengirim kan foto Hafiz yang sedang bermain wahana anak-anak. Terlihat bahagia sekali, Annisa terharu melihatnya.


'Maafin Bunda ya nak' Batin Annisa.


Tak lama sebuah pesan masuk lagi.


"Nanti Insya Allah Jalan-jalan nya bareng sama kamu ya"


Annisa mengaminkan omongan Azzam. Annisa pun tak memungkiri dia pun ingin merasakan kebahagiaan bersama Azzam dan Hafiz. Ketika sedang asik melamun dengan angan-angan bersama Azzam dan Hafiz. Pintu kelas diketuk seseorang, Annisa pun berdiri membukakan pintu dan ternyata Haikal.

__ADS_1


__ADS_2