
Annisa pun ke dapur untuk membuat kan minuman yang Abah minta. Annisa melihat raut wajah Bu Minah seperti khawatir dengan keadaan Annisa namun Annisa mengisyaratkan kalau Annisa baik-baik saja.
Ketika membuatkan minum Annisa tak kuasa menahan tangisnya, Annisa pun memilih duduk untuk mengatur tangisnya agar tak semakin menjadi. Setelah dirasa sudah tenang, Annisa mengantarkan minuman ke belakang.
"Abah, silakan diminum. Maaf lama Bah"
"Duduk sini nak, temani Abah"
Annisa pun duduk di bangku samping Abah.
"Nak, Abah tau apa yang terjadi hari ini. Makanya Abah segera kesini. Kamu yang sabar ya, semua akan berlalu. Abah yakin kamu istri yang kuat, makanya Allah pilihkan kamu jadi istri Azzam"
Annisa pun hanya diam mendengar penuturan mertuanya. Annisa ingin menangis namun rasanya lelah dan tak enak jika harus didepan Abah. Annisa tak ingin menjadi beban orang lain.
Setelah itu Abah menyuruh Annisa istirahat, Abah akan pulang karena tujuan Abah kerumah Annisa memang hanya ingin menguatkan karena entah dari mana Abah tau kejadian hari ini.
Annisa menghabiskan malam dengan tahajud yang syahdu, dia menumpahkan segala beban yang ada dengan begitu bisa membuat Annisa sedikit lega. Dini hari tiba-tiba ada yang memeluk Annisa dari belakang ketika tidur, Annisa pun terbangun. Annisa tau pasti Azzam.
"Sayang, sabarlah ya demi aku dan anak kita. Aku sayang sama kamu. Aku gatau kalau kejadiannya akan begini" Ucap Azzam.
Annisa terdiam dan akhirnya isak tangis Annisa pun pecah memecah sepi. Azzam membalikkan tubuh Annisa dan mendekap Annisa erat. Azzam pun tak kuasa melihat kekasih hatinya menangis seperti itu.
"Maafin aku ya membawa kamu dalam situasi seperti ini" Kata Azzam.
"Ini udah takdir Mas, jangan kamu nyalahin diri sendiri. Aku pun minta maaf sama kamu, aku malah nambah beban pikiran kamu"
"Kamu itu tanggung jawab ku, bukan bebanku. Bahagia kamu itu bahagia ku sayang. Aku sedih melihat kamu begini. Maafin aku ya. Semoga Allah ampuni dosaku karena membuat salah satu bidadari nya menangis"
__ADS_1
Annisa pun mencoba menenangkan dirinya. Azzam pun mengusap punggung Annisa agar lebih tenang. Akhirnya mereka berdua terjaga untuk beberapa waktu, mereka saling menyelami pikiran Masing-masing.
Paginya Annisa bangun lebih dahulu karena dia ingin menyiapkan sarapan untuk Azzam. Semalam Annisa merasa bersalah karena kepikiran apakah Azzam sudah makan atau belum oleh sebab itu pagi-pagi buta Annisa sudah berjibaku didapur.
Ketika sedang membuat sarapan, Azzam memeluk Annisa dari belakang.
"Sayang, kamu istirahat aja. Biar aku yang masak untuk kamu"
"Mas, semalam kamu udah makan atau belum ya? Maaf ya semalam aku lupa"
"Gapapa sayang, semalam aku pun hanya ingin bersama dengan kamu"
"Yaudah kamu istirahat aja ya, biar aku yang kerjain ini semua"
"Mas, kamu hanya beberapa kali bertemu dengan masakan aku. Izinkan aku mendapatkan pahala dari menyiapkan makanan untuk kamu ya"
Azzam pun mencium kening Annisa.
Azzam pun membaca buku diruang tamu dengan posisi menghadap Annisa sehingga masih bisa melihat aktivitas Annisa.
Selesai sarapan, Azzam pun berbincang-bincang dengan Annisa dikebun belakang.
"Sayang, aku ingin bertanya kepada kamu. Jikalau aku di calonkan untuk naik menjadi orang nomor satu di kampus. apakah kamu ridho?"
"Kalau kamu sendiri bagaimana Mas?"
"Aku ikut dengan kamu"
__ADS_1
"Loh, kamu ga nanya pendapat kepada Abah?"
"Baru kamu yang tau, kalau kamu ga ridho ya ga akan aku minta ridho kepada Abah. Ridho kamu paling utama. Aku selalu meninggalkan kamu dan anak kita, jadi aku gamau dengan naiknya aku membuat aku makin sulit bertemu dengan kalian namun jikalau kamu ridho aku akan jalani biar jalanku tidak gamang"
Annisa melihat jikalau suaminya begitu ingin berdakwah dengan caranya, Annisa tak ingin mengubur semangat dakwahnya walaupun dilubuk hati Annisa merasa pilu karena benar kata Azzam akan sedikit waktu untuk Annisa. Namun Annisa mengingat-ingat, menikah dengan Azzam berarti harus siap dengan konsekuensi nya apapun itu. Lagi pula, Azzam memang lah berdakwah bukan ingin mengejar kenikmatan dunia semata.
"Aku ridho Mas, jalanilah dengan sebaik mungkin Mas. Aku yakin kamu sangat dibutuhkan disana. Aku selalu mendoakan yang terbaik Mas. Do'akan aku juga, semoga aku dan anak ini selalu dalam penjagaan Allah saat ada kamu walaupun kamu sedang jauh dengan ku"
"Betapa beruntung nya aku memiliki kamu sayang. Maafin aku ya, aku belum jadi suami yang baik"
"Kamu adalah suami terbaik mas. Aku mencintaimu"
"Aku pun sangat mencintaimu dek"
Azzam siang ini harus kembali ke Jakarta karena tadi aku tak sengaja mendengar percakapan Azzam dengan asisten pribadinya. Azzam pun berpamitan. Annisa sendiri lagi kini.
Annisa tak tenang dengan perginya Azzam karena sepertinya ada masalah lagi karena jarang sekali Azzam menerima panggilan telepon jika sedang bersama dengan Annisa walaupun itu adalah asisten pribadinya.
Annisa bertanya-tanya, ada apakah ini. Apakah masih perkara kemarin. Annisa pun mencoba menghubungi Raihan untuk bertanya namun tak ada jawaban dan Annisa baru ingat jika Raihan mungkin tidak tau apa yang terjadi karena dia sedang tidak di Indonesia.
Annisa bingung harus bertanya dengan siapa. Ketika sedang bingung tiba-tiba perut Annisa terasa sakit, Annisa meringis kesakitan. Annisa berdzikir untuk menghilangkan rasa sakit. Annisa pun menghubungi Bu Minah untuk kerumah Annisa, untuk bersiaga jika memang sudah waktunya lahir.
Sakit perut Annisa masih hilang muncul, Annisa menghabiskan waktu dengan memperbanyak sholat dan dzikir meminta pertolongan dan mohon ampun jikalau sudah waktunya melahirkan tandanya Annisa akan berhadapan dengan hidup dan mati maka Annisa memohon ampun karena tak tau apakah masih Allah kasih kesempatan.
Ditengah sakitnya Annisa coba menghubungi Azzam, memberi kabar jikalau Annisa sudah merasakan tanda-tanda melahirkan. Annisa ikhlas jikalau nanti melahirkan hanya ditemani Bu Minah namun Annisa pun tetap harus memberi kabar kepada Azzam. Annisa tak lupa memberi kabar kepada sang Ibu.
Annisa hanya bisa duduk di kursi tamu, tenaga sudah mulai terkuras karena rasa sakitnya. Bu Minah yang melihat mencoba meredakan sakitnya dengan mengusap-usap pinggang Annisa. Annisa pun menitiskan air mata, dia senang karena sebentar lagi akan bertemu dengan anaknya sekaligus sedih karena tak ada Azzam disisinya.
__ADS_1
Tak lama terdengar suara mobil memasuki perkarangan, Annisa tak kuasa melihat karena rasa sakit nya yang akhirnya meminta tolong kepada Bu Minah untuk membukakan pintu. Tak lama terdengar suara Ibu. Annisa pun menyambut nya dengan senyuman walaupun merasakan kontraksi.
Tak lama terdengar lagi suara mobil memasuki perkarangan, Annisa bingung siapa yang datang. apakah Azzam.