
Acara pun dimulai, Annisa sebenarnya tidak tau seminar ini bertema apa. Yang dia tau, dosen pembimbing nya salah satu pengisi nya dan Annisa hadir hanya untuk mengisi waktunya sambil menunggu dosen.
Sejujurnya Annisa tak terlalu tertarik dengan seminar nya, akhirnya Annisa membuka salah satu sosmed miliknya. Saat sedang asik scroll sosmed, Tiba-tiba terdengar suara yang tak asing. Annisa pun kaget, dia mencari sumber suara dan ternyata Azzam. Annisa khawatir terlihat oleh Azzam, Annisa panik. Dia melihat situasi, apakah bisa keluar tanpa terlihat oleh Azzam namun nihil.
Annisa nekat. Dia tetap keluar namun sebelumnya Annisa menggunakan masker agar tak terlalu dikenali oleh Azzam. Annisa berhasil keluar dan sepertinya Azzam tidak sadar. Annisa segera menuju lt. 9 tempat dia janjian oleh dosennya walaupun Annisa tau dosennya belum ada.
Disana Annisa hanya seorang diri, rasa risihnya berganti dengan kesedihan. Disana Annisa menumpahkan air matanya, Annisa seperti pencuri harus ngumpet-ngumpet dari Azzam. Annisa belum bisa melupakan Azzam bahkan rasanya masih sama. Ketika melihat Azzam, jantung Annisa masih bergetar.
Ketika Annisa sedang nangis terisak, Tiba-tiba ada memberi Annisa sapu tangan. Annisa pun reflek membuka tangannya yang menutupi wajahnya. Annisa terkejut ternyata Azzam.
"Kenapa kamu Mas, kenapa harus kamu lagi" Tanya Annisa dengan penuh isak.
"Jangan nangis seperti ini, kamu ga pantas nangisi laki-laki seperti ku. Maaf kan aku, selalu buat kamu sedih"
Annisa makin terisak mendengar pernyataan Azzam. Annisa rasanya ingin berteriak kalau dia tak bisa jauh dari Azzam.
"Pergilah Mas, aku gamau ada yang lihat kita seperti ini"
"Kenapa dalam kondisi seperti ini kamu masih memikirkan aku?"
"Tolong, Pergilah Mas" Pinta Annisa
Azzam pun terdiam cukup lama namun akhirnya Azzam beranjak pergi dari tempat duduknya.
Setelah puas menumpahkan isi hatinya, Annisa pun menata hatinya dan wajahnya agar tak terlalu terlihat. Beberapa jam kemudian Annisa pun selesai bimbingan, ketika akan berdiri Annisa merasakan kepalanya sedikit agak pusing. Annisa mencoba mengendalikan dirinya.
Baru sampai lift, Annisa merasakan pusing yang luar biasa dan akhirnya Annisa memutuskan untuk mencari tempat duduk.
'Minta tolong siapa ya buat anter pulang. Mas Azzam ga mungkin. Ohiya Fifi' Batin Annisa.
Annisa mencoba sekuat tenaga untuk menghubungi Fifi karena pusing dikepala nya semakin tak tertahan. Namun panggilan Annisa tak mendapatkan jawaban dari Fifi, berkali-kali Annisa mencoba.
'Siapa lagi ya' Batin Annisa
Annisa ingin sekali menelpon Azzam namun Annisa tidak mau usahanya untuk menghindar dari Azzam sia-sia dan akhirnya Annisa memutuskan menghubungi Raihan.
"Assalamu'alaikum. Ka, aku boleh minta tolong?" Kata Annisa
"Wa'alaykumussalam. Silakan, InsyaAllah klo saya bisa bantu pasti bantu"
__ADS_1
"Alhamdulillah.. Ka, sekarang aku ada di kampus. Boleh aku minta tolong antarkan aku pulang Kak? Kepala aku pusing banget, ga kuat untuk dibawa jalan pun. Fifi aku telpon gabisa, maaf ya Kak aku ngerepotin"
"Sudah beritahu Mas Azzam, Nis?"
"Gausah Kak, beliau kan sibuk. Aku mohon bantuannya ya Kak"
"Oke Nis, ditunggu ya. Kuat kan?"
"InsyaAllah kuat ka"
Annisa pun mengakhiri panggilan telepon nya. Annisa mulai merasakan mual efek dari pusingnya.
'Yaa Rabb kuatkanlah aku, angkatlah rasa sakit ini'
Annisa hanya menyandarkan tubuhnya dikursi, karna untuk posisi tegak pun Annisa merasa berat sekali kepalanya. Tak lama ada orang yang menghampiri Annisa. Annisa berpikir kalau itu adalah Raihan jadi Annisa mencoba menegakkan tubuh nya.
Namun Annisa terkejut bukan main, kalau itu bukan Raihan melainkan Azzam ku.
"Kamu kenapa, kata Raihan kamu sakit. Kenapa ga menghubungi ku?" Tanya Azzam
"Raihan mana?"
"Aku bisa minta bantuan Fifi"
Annisa mencoba merogoh tas untuk mencari ponsel nya namun ditahan oleh Azzam.
"Jangan menyiksa dirimu seperti ini. Biarkan aku yang antar kamu"
"Terimakasih, aku bisa sendiri Mas"
Annisa mencoba bangkit dari duduknya namun Annisa merasakan lemas seluruh tubuhnya ditambah pusing yang sangat.
"Kamu tunggu sini, saya panggil mahasiswi dulu untuk bawa kamu ke mobil" Kata Azzam dengan tegas
Sepertinya Azzam marah karena dia terlihat lebih tegas dan menyebut dirinya 'saya'. Annisa hanya menuruti perintah Azzam karna tak mau membuat nya semakin marah.
Tak selang berapa lama, ada 2 mahasiswi yang membantu Annisa menuju mobil Azzam. Mobil Azzam pun sudah siap di depan lobby kampus. Annisa sudah duduk mobil Azzam dengan bantuan dua mahasiswi tadi.
"Terimakasih ya, ohiya Pak Azzam ini saudara saya. Jangan salah paham ya" Kata Annisa kepada 2 mahasiswi yang membantu nya.
__ADS_1
Dua mahasiswi tadi hanya mengangguk paham. Azzam pun berterimakasih dan memberi sedikit uang kepada 2 mahasiswi tadi. Setelah nya Azzam masuk dan memasang kan seatbelt untuk Annisa.
"Kamu masih bisa ya dalam kondisi sakit gini melindungi saya" Kata Azzam
Annisa tak menggubris Azzam. Annisa memejamkan matanya karena pusing nya.
"Kita mampir ke apotik dulu ya untuk beli obat" Kata Azzam
"Aku puasa"
"Jangan dipaksakan, kamu lagi sakit. Besok aja ya puasa nya"
"Aku masih kuat, InsyaAllah"
"Kamu dzolim sama tubuh sendiri. Allah ga suka. Ini kan puasa sunnah, jadi kalau pun dibatalkan tak mengapa"
Annisa pasrah, entah kalau Azzam yang bicara Annisa tak kuasa menolaknya. Azzam pun mampir sebentar ke apotik, sedangkan Annisa menunggu didalam mobil.
Mereka kini sampai dirumah Annisa, Azzam pun membantu menopang tubuh Annisa ketika turun mobil. Annisa berjalan lambat sekali karena merasakan pusing ketika tubuhnya bergerak.
Azzam mengantar Annisa sampai dalam rumahnya karna tak tega melihat kekasih hatinya sakit. Didalam rumah Annisa ternyata sepi, Ibu dan Ayah Annisa sepertinya sedang pergi. Azzam meletakkan Annisa dikursi ruang tamu.
"Dimana dapurnya, aku mau ambil minum untuk kamu minum obat" Tanya Azzam
"Disana" Kata Annisa sambil menunjuk arah dapur.
Azzam pun bergegas ke dapur, setelah mengambil air Azzam menyiapkan obat untuk Annisa namun tiba-tiba Annisa merasa mual hebat akhirnya Annisa menuju kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.
Azzam khawatir diluar kamar mandi, dia mau membantu namun pintu nya dikunci oleh Annisa. Tak lama Annisa keluar, tubuhnya hampir jatuh namun Azzam dengan cepat meraih tubuh Annisa dan membantu Annisa jalan.
"Minum obatnya dulu ya" Kata Azzam
Annisa pun meminum obat yang tadi Azzam beli. Kemudian Azzam mengoleskan minyak angin disekitar pelipis agar sedikit menghilangkan rasa pusing dan mual.
"Makasih ya Mas udah bantu aku" Kata Annisa.
"Kamu ga perlu makasih, kamu sakit juga karna aku. Aku yang harusnya minta maaf"
"Pulanglah Mas, kasian kamu pasti lelah"
__ADS_1
"Mana bisa aku pulang sedangkan kamu sakit begini sendirian. Yang ada hanya menyiksa aku saja"