Annisa Dan Azzam

Annisa Dan Azzam
Annisa pindah ke pesantren


__ADS_3

Annisa tak menjawab permintaan Azzam, Annisa hanya diam. Annisa pun bingung harus menjawab apa, dia ingin kembali bersama Azzam namun rasanya tak mungkin karena yang ada hanya akan menimbulkan masalah baru.


"Mas, kemungkinan aku dan Hafiz akan tinggal dirumah Abah. Abah dan Ummi mengkhawatirkan Hafiz, dia disini hanya bersama aku sedangkan disana Hafiz banyak temannya sehingga bisa mengalihkan jika dia rindu padamu"


"Iya aku juga setuju dengan Ummi dan Abah. Nanti biar aku carikan rumah juga dekat dengan Ummi dan Abah, hadiah Hafiz serta permohonan maaf ku sebagai ayah yang gagal"


"Kamu memang gagal sebagai seorang suami namun kamu tidak gagal menjadi sosok ayah. Buktinya, Hafiz selalu merindukan mu"


Tak lama Hafiz datang menghampiri Azzam, dia menarik tangan Azzam untuk ikut serta bermain dengan nya dan Raihan. Azzam pun menuruti mau Hafiz. Annisa pun membersihkan piring-piring bekas makan mereka dan memotongkan buah untuk pencuci mulut.


Tak lama adzan berkumandang, mereka menghentikan aktivitas bermainnya dan bergegas sholat berjamaah digubuk yang sudah berdiri kokoh tersebut. Gubuk tersebut dibangun untuk para santri namun sepertinya harus ditunda karena kondisi tak memungkinkan.


Annisa membawakan alat sholat untuk Azzam dan Raihan. Mereka pun sholat berjamaah. Kini Azzam yang menjadi imam sholat dzuhur, Annisa masih masih terpana dengan kewibawaan Azzam. Suara Azzam masih menggetarkan hati nya.


Setelah sholat mereka semua pamit pulang. Annisa pun harus melihat drama perpisahan Antara Hafiz dan Azzam. Hafiz tak ingin ditinggal oleh Azzam dan Azzam sendiri pun tak mau meninggalkan Hafiz. Mereka berpelukan lama membuat hati Annisa nelangsa.


Malam harinya Annisa membereskan barang-barangnya dan Hafiz. Annisa sudah mantap akan tinggal bersama dengan Ummi dan Abah. Annisa ingin memulai kehidupan serta lingkungan baru. Annisa begitu semangat, semoga ini adalah pilihan terbaik nya.


Keesokan paginya setelah sarapan, Annisa pamitan oleh Bu Minah dan Aish. Annisa sangat berterima kasih karena selama ini mereka begitu banyak membantu. Annisa ingin mengajak Bu Minah namun Bu Minah tak tega meninggalkan Anak-anak nya yang masih kecil disini.


Selama perjalanan Annisa terus berdzikir tak putus, Annisa pun belum memberi kabar perihal dirinya sudah menjadi janda pada orang tua nya. Annisa takut mereka tak Terima oleh karena itu Annisa tetap merahasiakan nya selama Annisa mampu.


Beberapa jam perjalanan mereka pun sampai di pesantren milik orang tua Azzam. Mereka begitu bahagia menyambut Hafiz. Hafiz pun tak kalah bahagia. Para santri pun bersalaman dengan ku, mereka seperti nya tau kalau aku adalah istri Mas Azzam. Ummi pun menunjukkan sebuah kamar yang ternyata adalah kamar Azzam jika dia pulang ke rumah orang tuanya.

__ADS_1


"Nak, kamu istirahat lah. Biarlah Hafiz bersama para santri"


"Iya Ummi, aku beberes bawaan dulu. Setelah selesai nanti aku temani Hafiz"


Ummi pun meninggal kan Annisa. Annisa melihat sekeliling kamar yang pemilik nya adalah kekasih hatinya. Annisa melihat foto Azzam disana selagi muda, Annisa tersenyum. Tiba-tiba dia rindu pada Azzam, rindu manja nya serta keromantisannya ketika memperlakukan dirinya. Annisa pun menitiskan air mata, namun segera dia tepis rasa ini. Annisa segera mengalihkan perasaan nya dengan merapikan barang bawannya kedalam lemari.


Setelah selesai, Annisa pun bergegas keluar menemui Hafiz. Hafiz sedang asik bermain dengan para santri, Hafiz terlihat sangat bahagia sekali. Annisa pun dihampiri Abah.


"Nak, selama ini bantu lah Abah untuk mengajarkan beberapa santri disini. Bisa?"


"Ilmu Annisa masih terlalu dini bah kalau untuk mengajar. Annisa malu, justru harusnya Annisa yang berguru pada mereka semua"


"Tawadhu sekali kamu. Abah yakin kamu bisa. Bantulah sesekali jika memang kamu belum percaya diri untuk mengajar. Biar kamu tidak berlarut dalam kesedihan. Abah tak tega melihat nya"


Abah pun mengajak Annisa sholat berjamaah karena penghuni rumah ini selalu berjamaah walaupun sesibuk apapun karena urusan akhirat yang utama. Ketika ingin sholat berjamaah, beberapa santri dan guru memperhatikan Annisa. Annisa menjadi pusat perhatian orang-orang.


'tu istri Gus Azzam. Cantik ya'


"Itu siapa?Cantik'


Begitulah yang Annisa dengar dari bisik orang-orang. Annisa pun hanya melempar senyum kepada siapapun yang berpapasan dengan nya.


Setelah selesai sholat, Annisa dan Hafiz pamit istirahat. Hafiz memang memiliki jadwal tidur siang yang teratur.

__ADS_1


Kamar Annisa letaknya paling utama dirumah ini, posisinya sangat dekat dengan pintu utama rumah sehingga masih bisa mendengar siapapun yang berbicara dan datang. Ketika Annisa menidurkan Hafiz, Tiba-tiba Annisa mendengar suara mobil yang tak asing baginya. Mobil itu milik Azzam. Jantung Annisa berdetak tak karuan. Dia bingung sekaligus senang karena dapat melihat Azzam kembali.


Annisa mengintip sedikit untuk memastikan yang datang itu adalah Azzam. Ternyata benar, dia datang bersama Sabil dan Balqis. Annisa melihat Anak-anak itu menjadi rindu, namun Annisa tak berani menemui mereka. Annisa tak ingin memberi tau Azzam, biarlah nanti dia tau dengan sendirinya.


Annisa pun menemani Hafiz tidur, Annisa lelah namun matanya tak bisa di pejamkan. akhirnya Annisa pun duduk dan tak sengaja mendengar percakapan Azzam dan Abah.


"Bah, Azzam tak kuat seperti ini. Azzam merindukan Mereka. Biar lah Azzam kembali kepada mereka"


"Nak, selesai kan masalah mu dengan istri mu. Jangan kamu libatkan Annisa lagi dalam masalah rumah tangga mu. Kasihan dia sudah terlalu banyak berkorban untuk mu. Abah tak ingin dia sakit lagi, dia anak baik zam"


Azzam pun terdiam. Annisa yang mendengar percakapan mereka pun menangis, betapa Annisa sedih mendengar pengakuan Azzam. Sepertinya dia sangat tertekan dengan kondisi ini. Annisa paham betul dengan Azzam, dia tak akan pernah mengeluh jika memang sudah dibatas kemampuannya. Annisa pun sama begitu menyayangi Azzam, Annisa masih merawat rasanya.


Annisa rasanya ingin keluar dan mengatakan hal serupa dengan Azzam kalau dia juga tak kuat jika tak bersamanya namun akal sehat Annisa masih di kedepan kan daripada emosi nya. Annisa tak ingin menimbulkan masalah baru.


Azzam dirumah Abah tak lama, mereka pun berpamitan. Sepertinya Abah dan Ummi sengaja tak memberi tahu keberadaan ku kepada Azzam, mereka ingin itu terjadi atas kemauan ku saja.


Annisa tak lama merasakan pusing kepala yang hebat, Annisa akhirnya mengajak dirinya untuk beristirahat agar badan nya fit kembali. Annisa pun berbaring disamping Hafiz.


Suara adzan ashar berkumandang, Annisa pun bangun dan tak lama Hafiz pun bangun. Annisa bergegas mengambil wudhu dan segera menuju mushola pesantren. Hafiz pun mengikuti Annisa.


Setelah usai sholat, Abah menghampiri Annisa.


"Nak, tadi Azzam datang. Dia belum Abah kasih tau tentang kamu disini"

__ADS_1


"Iya bah, biarlah sementara seperti ini. Kelak Mas Azzam pun akan tau namun sementara waktu biarlah demi kebaikan semua"


__ADS_2