
Annisa penasaran dengan apa yang terjadi namun dia tak tau harus bertanya pada siapa.
"Ada apa ya Kak kira-kira?" Tanya Annisa pada Raihan
"Entahlah, kita berdo'a aja yang terbaik untuk mereka"
Ponsel Raihan berdering, dia mengangkat sambil sedikit menjauh dari Annisa. Tak lama setelah mengangkat telpon, Raihan kembali.
"Nis, tunggu aku dimobil ya. Nanti kamu lansung masuk aja ke mobil"
"Oh baik Kak"
Annisa sedikit bingung dengan Raihan yang tiba-tiba mengajaknya pulang. Namun bagi Annisa lebih baik karena dia tak kuat lama-lama jika harus melihat Azzam bersedih seperti tadi.
Annisa pun menuju parkiran dimana tadi Raihan memarkirkan mobilnya. Dibenak Annisa masih memikirkan Azzam, dia ingin menghubungi Azzam namun khawatir memperkeruh suasana.
Kini Annisa sudah berdiri disamping mobil Raihan, namun bagaimana cara masuk kedalam mobil kalau Raihan belum datang. Annisa terdiam namun tiba-tiba pintu mobil terbuka. Annisa kaget, dia pikir Raihan belum sampai ternyata sudah. Annisa pun masuk tanpa rasa curiga.
Ketika menutup pintu mobil, Annisa dibuat kaget dengan adanya Azzam dikursi stir.
"Loh, kok kamu Mas?" Tanya Annisa.
Azzam tak menjawab, Azzam hanya segera memasang kan seatbelt seperti biasa untuk Annisa. Hati Annisa makin sakit dengan perlakuan Azzam yang seperti biasa tanpa bicara.
Mobil keluar dari rumah mewah Raihan. Entah akan kemana Annisa dibawah Azzam pergi. Dalam perjalanan mereka hanya diam, Annisa sesekali melihat Azzam. Pilu rasanya. Annisa memberanikan diri untuk menggenggam tangan Azzam karena tak kuasa melihat Azzam menderita sendiri seperti ini.
Azzam pun menepikan mobil Raihan yang dipakainya. Azzam langsung menundukkan kepala dalam-dalam sambil menggenggam erat tangan Annisa. Annisa tak kuasa menahan tangisnya namun segera dia seka air matanya. Annisa memeluk lengan Azzam. Dia hanya bisa menguatkan dengan cara itu.
Setelah puas Azzam menumpahkan amarah serta tangisnya dalam dia. Azzam segera memandang Annisa, dia mencium tangan Annisa lama seperti tak ingin dia lepaskan. Pertahanan Annisa runtuh, dia menangis didepan Azzam. Azzam menyeka air mata Annisa sambil berkata.
"Aku nyerah dek, aku bukan malaikat yang memiliki rasa sabar yang luas. Aku gabisa mengikuti mau mu untuk kembali bersamanya"
"Maafin aku Mas. Aku gatau kalau kamu begitu tersiksa nya dengan ini"
"Aku malu dengan kamu. Aku gagal mendidik istriku dengan baik bahkan didepan keluarga besarku"
__ADS_1
"Allah yang tau bagaimana usahamu untuk mempertahankan semua ini"
"Tenangkan dirimu Mas. Semua masalah akan selesai jika dihadapi dengan pikiran tenang" Sambung Annisa.
Setelah mereka berdiam diri dengan hanya menggenggam tangan satu sama lain. Kini Azzam sudah lebih tenang. Azzam pun menceritakan masalah yang terjadi malam ini. Azzam dan istrinya memang sudah tak se visi dan misi. Mereka sangat berbeda pandangan. Yang akhirnya meledak lagi hari ini.
Masalah yang terjadi malam ini sangat lah sepele yaitu hanya perkara Azzam berpamitan untuk ke acara tempat lain kepada istrinya namun sang istri tak mengizinkan dengan dalih Azzam tak punya waktu untuk dirinya padahal sang istri tau profesi serta tanggung jawab yang Azzam emban. Akhirnya sang istri meledak dengan menuduh yang tidak-tidak kepada Azzam. Azzam tak menghiraukan nya, dia tetap akan pergi karena ini menyangkut kebaikan banyak orang namun baru Azzam ingin melangkah sang istri meneriaki Azzam dengan kata-kata yang tak pantas istri ucapkan kepada suami. Azzam pun berubah sabar dengan menenangkan sang istri namun tak berhasil dan akhirnya orang-orang dengar suara ribut-ribut.
Abah tadi menyuruh Azzam untuk menenangkan diri, sang istri biarlah jadi urusan abah dan saudara-saudaranya. Dan, meminta Azzam untuk setelah ini diselesaikan berdua di rumah.
"Aku antar kamu pulang ya" Kata Azzam
"Iya Mas"
Annisa sebenarnya masih ingin bersama Azzam, ingin menemani nya sampai semua selesai namun itu tak mungkin. Dalam perjalanan pulang, Azzam hanya diam. Tak seperti biasanya.
Mobil Raihan sampai depan rumah Annisa. Annisa pun pamit dengan mencium tangan Azzam. Azzam pun sama.
"Kamu harus tenang ya Mas dalam menyelesaikan masalah ini. Libatkan Allah biar hati kamu tak dikuasai setan dalam kondisi marah. Aku terus mendoakan kamu yang terbaik. Apapun itu"
Annisa pun turun dari mobil. Dia masuk kedalam rumah dan seperti biasa langsung masuk kamar dan bebersih.
Annisa berniat ingin menghubungi Raihan, untuk berterimakasih atas kelapangan hatinya. Dia mengambil ponsel dan menekankan tombol telpon.
"Assalamu'alaikum. Kak, makasih banyak ya untuk tadi" Ucap Annisa
"Wa'alaykumussalam. Iya sama-sama. Kalau yang minta Mas Azzam aku gabisa nolak nis"
"Tapi aku senang bisa kenal kamu Kak, lelaki sholeh yang berhati lapang"
"Tapi sayang jomblo nis dan ditolak lagi sama wanita sholehah"
"Semoga Allah jodohkan Kakak dengan wanita sholehah, Baik. Aamiin"
"Aamiin. Aku memohon yang seperti kamu Nis"
__ADS_1
"Harus lebih baik dari aku Kak"
"Cukup seperti kamu"
"Aamiin deh, makasih ya do'a nya"
"Tadi Mas Azzam gimana kondisinya?"
"Sudah lebih tenang Alhamdulillah"
"Tuh, aku yakin kalau kamu bisa menenangkan Mas Azzam makanya aku izinkan pakai mobil ku"
"Atas izin Allah Kak"
"Kamu selalu merendah. Pantas saja, lelaki mana yang tak jatuh hati sama kamu Nis"
"Duh, aku gaada receh Kak dari tadi dipuji terus nih. Bayarnya pake apa dong"
"Pake do'a"
"Oke oke nanti aku hadiahin do'a ya"
"Terima kasih"
"Sama-sama. Yaudah Kak itu aja yang mau aku sampein. Maaf ya ganggu waktunya. Sekali lagi terimakasih banyak ya kak, semoga Allah balas kebaikan kakak berkali-kali lipat. Aamiin. Assalamu'alaikum"
"Wa'alaykumussalam"
Annisa teringat Azzam, bagaimana ya situasi terkini. Apakah Azzam baik-baik saja. Annisa ingin bertanya kabar dengan Azzam namun ia urungkan. Annisa memilih mendoakan dari jauh saja yang terbaik untuk lelakinya beserta keluarganya.
Pagi ini Annisa fokus mengulang materi sidangnya karna besok dia akan sidang. Azzam belum Annisa beri tahu. Situasi semalam tak tepat menurut Annisa. Annisa membuka laptopnya yang akan dipakai besok untuk presentasi. Disana ternyata ada foto Azzam saat pertama kali bertemu dengan Annisa. Ya, di acara seminar. Azzam terlihat gagah sekali dan wibawanya menawan kaum hawa. Annisa pun tak sadar menyentuh wajah Azzam yang terpampang dilayar laptop.
'Kamu kenapa menawan banget sih Mas. Kamu tuh paket lengkap. Sholeh, berwibawa, bapakable' batin Annisa.
Annisa pun tertawa mendengar ucapan dirinya sendiri. Baru pertama kali Annisa merasakan yang namanya jatuh cinta. Padahal banyak lelaki yang mendekati nya namun hanya Azzam yang bisa menyentuh hatinya. Padahal mereka tidak pernah berinteraksi sebelum nya namun Allah hadirkan rasa itu sampai sebesar sekarang.
__ADS_1
Rasa syukur Annisa lantunan, karena Allah hadirkan Azzam didalam hidupnya. Walaupun Annisa yakin akan banyak pro dan kontra dalam pilihannya ini namun Annisa yakin ketika kita melibatkan Allah dalam hal apapun maka akan Allah pilihkan yang terbaik dari yang baik.