
Azzam meraih tangan Annisa, digenggaman lah tangan tersebut dengan erat. Annisa hanya pasrah karena genggaman tersebut sedikit menyembuhkan sakitnya.
Ketika Azzam sedang menggenggam tangan Annisa, ibu dan ayah Annisa masuk kerumah dan kaget melihat mereka berdua.
"Loh, kamu anaknya Pak Kyai kan?Ada keperluan apa kerumah saya?" Tanya ayah kepada Azzam
"Ayah, Annisa sakit. Tadi diantar sama Mas Azzam" jawab Annisa
"Kamu pulang aja Mas, biar aku yang jelasin ke ayah dan Ibu" Sambung Annisa kepada Azzam
Azzam pun berpamitan kepada ayah dan ibu sedangkan Annisa tak bisa mengantar Azzam sampai depan.
Ibu mengantar Annisa kekamar untuk istirahat. Namun Annisa tau orang tuanya butuh penjelasan atas apa yang mereka lihat tadi tapi biarlah besok pasti akan Annisa jelaskan.
Keesokan harinya, Annisa sudah membaik. Annisa menuju meja makan, ternyata sudah ada ayah dan ibu. Annisa merasa tak enak hati, mereka pasti menunggu klarifikasi atas kejadian semalam.
Mereka makan dalam diam, tak ada perbincangan apapun. Ketika Annisa ingin mengangkat piring kotor, sang ayah menahan Annisa.
"Nak, tolong jelaskan semuanya sama Ayah dan Ibu" Kata Ayah
"Ayah, Ibu sebelum nya Annisa mohon maaf. Annisa dan Mas Azzam saling mencintai. Annisa mencintai Mas Azzam karna Allah yah, Ayah tau kan bagaimana lelaki idaman Annisa. Itu semua ada di Mas Azzam namun Annisa tau Annisa salah. Annisa mohon, biarlah Annisa memilih jalan sendiri untuk hal ini. Annisa mohon. Annisa mohon ridho ayah dan ibu"
"Yang ayah tau, dia sudah berkeluarga kan?"
"Mas Azzam sudah lama pisah ranjang dengan istrinya. Keluarga nya semua tau, bahkan Mas Azzam sudah berusaha memperbaiki namun nihil hasilnya. Ditengah frustasi nya, dia bertemu Annisa"
"Tapi mengapa harus dia nak?Ayah khawatir kamu ga akan kuat dengan ujian setelah nya"
"Annisa mohon ridho dan doa ayah ibu. Annisa dan Mas Azzam insyaallah siap menanggung semua resiko serta ujiannya"
"Ayah mohon, pertimbangkan lagi nak. Ayah hanya khawatir"
"Iya Ayah, Annisa hanya memohon kepada Allah. Semoga diberikan yang terbaik"
Annisa pun berlalu kedapur untuk melanjutkan menaruh piring kotor.
Di dalam kamar, Annisa merasa bingung. Apakah yang dia pilih sudah benar. Ketika sedang berpikir, telpon Annisa berdering. Azzam.
"Assalamu'alaikum. Dek, gimana kondisi kamu?" Tanya Azzam.
"Wa'alaykumussalam. Alhamdulillah sudah membaik Mas. Makasih ya Mas, kemarin sudah mau direpotkan"
"Alhamdulillah.. Dari semalam aku gabisa tidur kepikiran kamu. Andai aku bisa menjaga kamu setiap hari"
"Orang tua ku sudah tau Mas mengenai kita"
"Lalu bagaimana tanggapan mereka?"
"Mereka menyerahkan semua sama aku. Aku meminta doa mereka, agar diberikan jalan terbaik. Mereka pun berharap begitu"
"Aku kerumah kamu ya"
__ADS_1
"Mas, untuk saat ini biarlah kita memohon sama Allah untuk jalan terbaik. Alangkah baiknya, kita benar-benar tidak usah ketemu dulu Mas untuk menetralkan hati. Kita istikharah, meminta yang terbaik. Aku ga ingin Mas, bahagianya aku malah mendatangkan sakit untuk perempuan lain. Aku bahagia disamping kamu bahkan kamu tau sendiri kan kemarin aku sakit. Aku sakit karena jauh dari kamu Mas"
"Aku ga sanggup jauh dari kamu dek. Hidupku berapa hari tanpa kamu seperti tak berarah. Seperti kehilangan do'a-do'a mu"
"Mas, pasrahkan semua sama Allah"
"Dek, ikutlah dengan aku. Aku mau hidup bahagia bersama kamu"
"Mas pikirkan perasaan Anak-anak dan istrimu mas"
"Dia aja ga mikirin perasaan ku dek. Kamu tau, semalam dia pulang larut malam tanpa izin dari ku. Anak-anak dititipkan oleh pengasuh. Anak-anak tak mendapatkan kasih sayang dari sang ibu. Lalu, salah ku dimana, apalagi yang harus aku perbaiki kalau memang sudah tak bisa diperbaiki. Aku lelah kalau harus seperti ini. Sudah cukup aku rasa"
Suara Azzam mulai berat, seperti menahan beban yang selama ini dia rasakan. Annisa merasakan itu. Hati Annisa pun sakit mendengar pengakuan Azzam. Dia rasanya ingin segera pergi bersama.
"Mas, beri aku waktu sampai sidang nanti"
"Baiklah, aku akan memohon kepada Allah semoga dimudahkan jalan kita"
"Aamiin"
"Mengenai Raihan, aku tau dia ada perasaan lebih ke kamu. Apa kamu tau?"
"Sebenarnya ada hal yang aku ingin ceritakan ke kamu mengenai Raihan"
"Apa?"
"Beberapa waktu lalu, Raihan meminta ku untuk menjadi istrinya karena dalam waktu dekat dia akan kerja diluar negeri sehingga dia membutuhkan jawaban ku segera"
"Sepertinya kamu ga perlu menanyakan hal itu Mas, kamu tau kan bagaimana perasaan kita. Andai ku ga cinta kamu, aku sudah jawab iya karena wanita mana yang tidak suka dengan pribadinya"
"Kamu milik aku seorang dek, hanya aku yang boleh miliki kamu"
Annisa dan Azzam berbincang cukup lama, mereka membayar rindu nya dengan membicarakan banyak hal yang terlewat saat mereka berpisah beberapa hari.
Setelah puas, Annisa dan Azzam mengakhiri telponnya. Annisa melaksanakan sholat dzuhur. Kemudian terdengar suara ketukan pintu kamar.
"Nis, ibu boleh masuk?" Tanya ibu
"Masuk bu"
"Itu di depan ada temen kamu yang ketemu di pondok pesantren katanya mau jenguk kamu"
"Raihan maksud ibu?"
"Entahlah, ibu udah suruh masuk. Sepertinya dia ada rasa ya sama kamu"
"Aku ga tau bu, kita cuma temen doang kok"
"Nis, Ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kamu. Minta ridho Allah dalam setiap keputusan"
"Iya bu. Makasih ya bu atas do'a nya"
__ADS_1
"Yaudah kamu segera temui temen kamu. Ibu mau siapin air sama hidangan"
"Iya bu"
Annisa segera bergegas keluar kamar dan menemui Raihan.
"Assalamu'alaikum. Nis, gimana kondisi nya?"
"Wa'alaykumussalam. Alhamdulillah, udah sehat Kak"
"Kemarin maaf ya"
"Iya gapapa Kak, aku yang harusnya minta maaf karena ngrepotin Kakak"
"Aku terpaksa telpon Mas Azzam karena beliau lah yang paling dekat posisinya dengan kamu saat itu. Sama-sama sedang di kampus"
"Iya aku paham Kak. Semoga Allah balas kebaikan kakak ya. Aamiin"
"Aamiin. Mas, Azzam ga kesini?"
"Aku ga izinkan. Semalam pun karena terpaksa"
"Aku dengar, Mas Azzam dan istrinya sudah satu rumah lagi kamu yang sabar ya. Tapi aku yakin cintanya hanya untuk kamu"
"Biarlah, aku mendoakan ada hal baik yang terjadi diantara mereka"
"Kamu wanita sholehah Nis, pantes Mas Azzam cinta sama kamu"
"Mujinya berat nih, gabisa bayarnya"
Mereka pun tertawa bersama. Tak lama Ibu datang membawa minum dan beberapa potong kue.
"Silakan diminum nak" Kata Ibu Annisa
"Iya ibu terimakasih" Jawab Raihan
Ibu pun kembali ke dapur.
"Kapan berangkat Kak?"
"Rasanya ga ingin berangkat karena wanita sholehah ku ga mau ikut bersama ku"
"Jangan gitu Kak, kesempatan ga akan datang dua kali loh"
"Kamu ga mau kasih hadiah kenang-kenangan buat aku Nis?"
"Hmm apa ya. Nanti deh, aku pikirkan mau kasih apa"
"Oke aku tunggu loh"
"Iya insyaallah"
__ADS_1