Antara Maghrib Dan Isya

Antara Maghrib Dan Isya
Meninggalnya Ayah


__ADS_3

“Nara Nara, tolong mama dulu”, saut mama gue panik


“kenapa ma?”, tanya gue dengan panik juga


“ayah Nara”, saut mama gue dengan wajah yang panik


“ayah kenapa ma? Kenapa bisa pingsan ma?”, tanya gue yang tak kalah panik dengan mama gue.


Gue gak tau kenapa ayah bisa pingsan. Tanpa berpikir panjang gue langsung minta bantuan pada petugas bandara. gue juga menelpon saudara gue yang berada di Surabaya.


Ayah gue langsung dibawak ke klinik bandara untuk pertolongan pertama. Gue sama sekali tidak memikirkan koper keluarga gue yang belum sempat kami ambil. Menurut gue, kesehatan dan pertolongan untuk ayah gue yang paling penting.


Tidak berapa lama tante sama om gue tiba di klinik bandara. kami langsung membawa ayah ke rumah sakit umum untuk pertolongan lebih lanjut.


Sekitar 15 menit kami tiba di salah satu rumah sakit umum kota Surabaya. Ayah gue langsung ditangani oleh beberapa suster.


“ayah kenapa bisa pingsan Nara?”, tanya tante gue


“Nara juga tidak tau tan, saat keluar dari pesawat tiba tiba ayah pingsan”, jelas gue


“Nara, Nara bisa kan ngurus koper kita di bandara sama tante?, biar mama yang jagai papa disini. Nanti mama juga nelpon bunda Zakia untuk nemenin mama disini”, pintah mama gue


“tapi mama gak papa disini?, Nara mau nemenin mama”, saut gue


“gak papa sayang. Kamu nemenin tante Mira aja untuk ngurus barang barang kita yang masih tertinggal dibandara. Soalnya tante Mira kan kurang tau. Ini tiket kita tadi”, jelas mama gue sambil menyodorkan 3 lembar tiket kami tadi sebagai bukti.


“ok kak, nanti aku sama bang Zay bantu ngurus yang di bandara”, saut tante Mira


“ok ma, Nara pergi dulu ya, kalau ada apa apa mama telpon Nara ya”, saut gue sambil mencium punggung tangan mama gue


Gue, tante dan om gue pun pergi meninggalkan mama gue yang sedang duduk menunggu dokter keluar dari rungan IGD tersebut.


Di perjalanan gue terus memikirkan kondisi ayah gue. Selama ini yang gue tau ayah tidak pernah ngalami sakit apa pun, ayah selalu sehat. “tenang Nara, ayah hanya pingsan biasa, ayah gue sehat, ayah gak mungkin ngidap penyakit yang parah”, saut gue dalam hati.


Setelah sampai di bandara, gue dan tante gue langsung menuju ke meja informasi untuk menanyakan soal pengurusan barang yang masih tertinggal. Kami pun diarah kan ke bagian yang lebih paham untuk soal ini.


Setelah cukup lama untuk mengurus barang barang gue, akhirnya selesai juga. Kami langsung pergi meninggalkan bandara tersebut dan menuju rumah sakit umum tempat ayah gue tadi dibawak.


“mamaaa…”, saut gue saat berada di rumah sakit


“ma gimana keadaan ayah? Baik baik aja kan, udah bisa pulang kan ma?”, lanjut gue dengan penasaran


“tenang sayang, ayah udah di bawak keruangan nginap, tapi belum bisa pulang, kita doain aja ya sayang”, jelas mama gue sambil memeluk gue


“Nara mau lihat ayah ma. Boleh kan ma?”, rengek gue

__ADS_1


“boleh sayang, yuk”, saut mama gue


Kami pun langsung pergi menuju ruangan ayah gue.


“ma, kenapa di pakai alat seperti itu?”, tanya gue penasaran saat melihat ayah gue yang dipenuhi dengan alat alat medis.


“ayah dipakai alat seperti itu biar cepat sembuh sayang”, jelas mama gue


“Nara nanti pulangnya sama tante Mira dan om Zay ya”, pintah mama gue


“enggak, Nara mau disini nemenin mama”, jelas gue


“Nara pulangnya sama tante aja ya, biar disini mama yang jaga ayah”, saut tante Mira


“enggak. Nara mau tetap disini”, rengek gue


“ok ok kalau begitu”, saut mama gue


***


Pagi pertama di kota kelahiran gue. Surabaya. Namun, tidak sesuai keinginan gue. Gue kira pagi pertama gue ini, gue udah berada di rumah, membalas rindu yang berapa tahun gue rasakan, bisa sport dan sarapan bareng ayah dan mama di meja makan rumah kesayangan. Ternyata gue salah.


“Nara, bangun sayang”, saut mama gue


“iya ma”, balas gue


Gue langsung terbangun saat mama gue berkata seperti itu.


“ayah”, saut gue berada di samping ranjang ayah gue


“ayah baik baik aja kan. Kita bisa pulang hari ini kan”, sambung gue


Sebenarnya gue juga heran, tiba tiba saja alat medis yang tadinya berada di tubuh ayah gue sudah tidak ada lagi. Ah sudah lah, yang penting ayah gue sudah membaik. Udah bisa pulang kerumah.


“iya sayang. Nanti kita pulang sama sama kerumah ya”, saut ayah gue dengan suara yang masih belum stabil.


“yeeeaahhh…. Nara kangen rumah”


“iya sayang. Sebentar lagi ayah udah bisa pulang. Nara nanti mau lanjut sekolah dimana? Anak ayah kan udah besar, udah mau jadi anak SMA”, tanya ayah gue


“Nara ikut ayah aja. karena pilihan ayah itu adalah pilihan yang terbaik”, jawab gue


“ayah mau Nara lanjut di pesantren tempat kakek kamu di Yogya. Nara harus perdalam lagi ilmu agamanya. Kan udah bisa tuh untuk ilmu umum seperti bahasa Inggris, bahkan bahasa Prancis Nara udah pinter. Ini saatnya kamu fokus untuk akhirat mu nak. Karena usia tidak ada yang tau, dan hanya iman yang bisa menyelamatkan kita di akhirat nanti. Kamu mau ya..”, jelas ayah gue


“tapi yah, kalau Nara masuk pesantren mama sama siapa yah?, Nara juga belum paham soal agama yah, nanti disana Nara di bully”, jelas gue

__ADS_1


“mama kan bisa ikut kamu tinggal di Yogya atau mau tetap tinggal di Surabaya juga gak papa. Makanya dari itu Nara harus banyak belajar tentang agama”, jelas ayah gue


“iya sayang. Ayah kamu itu benar. Kamu tidak perlu mikirin mama, mama bisa jaga diri. Tenang aja sayang”, saut mama gue


“hemmm.. Nara pikir pikir dulu ya yah. Udah deh, yang penting ayah sehat dulu. Ayah mau makan apa, biar Nara suapin”, saut gue


Kehangatan kami pun mulai terasa kembali. Gue hanya ingin ayah gue sehat.


Namun, kehangatan itu kembali sirna. Tiba-tiba ayah gue drop lagi. Gue dan mama gue langsung memanggil suster dan dokter dengan begitu panik.


“maaa… Nara gak mau ayah kenapa kenapa”, saut gue sambil menangis dari luar ruangan dengan mama gue


“kita doain yang terbaik aja ya untuk ayah”, saut mama gue sambil memeluk erat gue


Tangisan gue pecah. “ya Allah, aku hanya ingin ayah sembuh dan sehat seperti biasanya”, saut gue dalam hati.


“maaa.. ayah sebenarnya sakit apa sih?”, tanya gue penasaran


Seketika mama gue terdiam sejenak. Seperti ada yang disembunyikan. “ayah baik baik aja sayang. Kita tetap doain yang terbaik untuk kesembuhan ayah ya sayang”


Setelah cukup lama kami menunggu diluar, dokter yang menangani ayah gue keluar dengan wajah yang tidak bisa diartikan.


“bagaimana keadaan suami saya dok?”, tanya mama gue dengan begitu penasaran.


“saya mohon maaf buk, kami udah berusaha semaksimal mungkin. Namun, sebaik baik penyembuh adalah yang Maha Kuasa. Mungkin ini udah takdirnya. Saya mengucapkan turut berduka cita. Suami ibu tidak bisa kami tolong. Saya mohon maaf yang sebesar besarnya”, jelas pak dokter


“enggak.. enggak.. suami saya baik baik aja, dia pasti bisa sembuh”, saut mama gue dengan tangisan yang pecah


Gue dan mama gue pun langsung masuk kedalam ruangan. “ayaaahhh…. Ayah udah janji kita bakalan pulang kerumah sama sama, ayah bilang baik baik aja. Ayah bangun yah... ayah gak boleh ninggalin Nara”, saut gue dengan tangisan yang tak bisa gue tahan lagi.


Tante dan om gue pun datang untuk membantu kami mengurus keadaan ini.


“ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya”


“separuh jiwa anak perempuan hilang ketika ayahnya telah tiada”


“kita tidak bisa memprediksi kapan kematian itu tiba.


Tidak kenal usia, derajat, atau pun kedudukan yang dimiliki


Adjal akan selalu datang saat waktunya sudah tiba”


“ibu, dari tanganmu aku belajar banyak tentang kasih sayang. Ayah, dari tanganmu aku belajar tentang cara menjaga kasih sayang itu”


Hadis Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas bahwa Rasulullah bersabda:

__ADS_1


"Bahwa malaikat maut memperhatikan wajah manusia di muka bumi ini 70 kali dalam sehari. Ketika Izrail datang merenungi wajah seseorang, didapati orang itu sedang bergelak-ketawa. Maka berkata Izrail: Alangkah herannya aku melihat orang ini, padahal aku diutus oleh Allah untuk mencabut nyawanya kapan saja, tetapi dia masih terlihat bodoh dan bergelak ketawa."


*NEXT*


__ADS_2