
Besok.
Iya besok adalah hari yang ditunggu-tunggu. Insyaallah bakalan jadi hari berbahagia buat gue dan seluruh keluarga.
Gue telah menerima A'a Fachri dari 3 bulan yang lalu. Insyaallah dia bakalan jadi pilihan terbaik untuk gue yang Allah kirimkan.
Gue menerima dia bukan karna ketampanannya, melainkan dari akhlak dia dan kemantapan hati yang Allah berikan. Gue akui dia memang memiliki ketampanan yang Masya Allah adem ketika melihatnya. Kulitnya yang putih bukan karna skincare melainkan karna air wudhu dan rajin membaca Al-Qur'an, suaranya yang merdu, selalu menjaga pandangan, dan yang paling penting ketaatan dia kepada sang Pencipta.
Udah deh gak usah memuji dia. Ntar dia baper di puji terus hahaha...
Seluruh keluarga gue telah kumpul dirumah. Ya walaupun rumahnya sebenarnya kagak muat. Tapi yang namanya kebersamaan itu yang indah. Rumah yang sempit bakalan terasa sangat luas hahaha.
Persiapan untuk acara besok sudah hampir selesai. Pakaian, dekor, tinggal makanan yang masih di persiapkan.
Gue sedih, karena tidak semua sahabat gue ngumpul. Hanya Dita seorang. Achille, ya gue masih menyimpan rasa bersalah kepadanya. Dan yang membuat gue paling sedih ialah sosok ayah yang tidak menemani gue dihari berbahagia ini.
Tau gak sih kebiasaan pengantin dimalam sebelum acara? Ya apalagi kalau bukan menghias tangan dengan henna. Tau gak sih itu menjadi ciri khas disetiap acara pernikahan. Bukan hanya pengantin nya saja yang melakukannya, bahkan seluruh keluarga yang ikut berperan dalam acara tersebut. Itu hal seru....
Malam ini gue mulai deg deg an. Terus memikirkan tentang besok. Semoga besok berjalan lancar.
Gue dulu selalu mendoakan agar ayah panjang umur. Agar ayah lah yang berjabat tangan dengan calon imam gue saat mengucapkan ijab qobul. Namun, Allah berkehendak lain.
***
Pagi pun tiba. Beberapa jam lagi gue sudah menjadi milik orang lain. Begitu cepat waktu berlalu.
Pagi ini selesai sholat subuh gue langsung di make up in sama perias pengantin. Acara dimulai pukul 9 pagi.
"Naraa...gilak lo ya udah mau nikah aja. Tinggal gue sama Lily ni", saut Dita girang.
"Kalian bentar lagi tuh. Lagi di jalan jodoh kalian", balas gue.
__ADS_1
"Lo harus tampil cantik hari ini. Biar A'a Fachri gak kedip lihat kamu hahaha"
"Hemm.. udah deh, lo jangan gangguin gue. Ntar gak siap siap ni make up gue"
"Eh lo enggak deg deg an gitu?", Tanya Dita.
"Ya deg deg an lah. Pertanyaan lo itu", jawab gue.
"Yaudah deh gue mau keluar dulu. Mau bantui beres beres di luar. Daaahhh pengantin", ledek Dita sambil pergi meninggalkan gue.
"Dasar lo ya Dit".
Ya Allah semakin lama kok semakin deg deg an ya...
Setelah sekian lama, akhirnya make up gue selesai juga. Tinggal pakai pakaiannya saja. Lalu duduk manis.
"Nara... Udah datang pengantin cowok nya", saut Dita yang memasuki kamar gue.
"Eitss gak boleh. Tunggu nanti saat selesai ijab qobul lo baru boleh ketemu dia".
"Hemm ok deh. Lo temenin gue disini ya. Biar nanti pas keluar lo yang nganter gue", pinta gue.
"Ok, siap boss"
Acara siap di mulai. Gue yang masih setia didalam kamar di temani oleh Dita dan adik sepupu.
Sedangkan diluar acara sudah dimulai. Emang begitu seharusnya. Gue pernah baca kalau sebenarnya pengantin lelaki dan wanita itu seharusnya tidak disandingkan terlebih dahulu sampai akhir ijab qobul nanti. Tapi gue gak tau sih itu benar atau enggak. Menurut gue lebih bagus sih. Biar jadi surprise untuk di mempelai lelakinya, dan biar gak salfok saat mengucapkan ijab Qabul hahaha.
"Nara sayang...", Saut mama gue memasuki kamar.
"Iya ma", balas gue.
__ADS_1
"Waahh cantik banget anak mama. Udah mau jadi milik orang lain aja ni. Hemmm..."
"Mama... Nara gak akan ngelupain mama. Mama jangan sedih ya. Nara tetap jadi anak yang manja ke mama"
"Sayang...", Saut mama gue sambil memeluk gue.
Ketika gue nanti harus ngikut suami gue, pastinya gue akan berpisah dengan mama. Gue sedihhh....
"Udah jangan nangis lagi. Ntar make up luntur", ledek mama.
"Kita dengarkan dari sini aja sayang", lanjut mama.
"Iya ma".
"Bismillahirrahmanirrahim saya terima nikahnya Naraya Zeina.....", Suara A'a Fachri sangat jelas terdengar dari dalam kamar. Gue gak bisa ngungkapi nya, rasanya itu deg deg an, terharu, happy. Ntah lah.... Hingga selesai gue langsung seperti lega dan mengucapkan Alhamdulillah plus terharu, air mata gue langsung menetes. Gak sangka sekarang gue dah milik orang lain.
Waktu antara Maghrib dan Isya gue jadi nyata. Tak perlu lagi menunggu waktu itu seperti dulu di pesantren untuk mendengarkan lantunan ayat suci dari beliau, mulai dari sekarang gue bisa menikmati suara itu setiap saat. Gue bisa menciptakan waktu antara Maghrib dan Isya disetiap detik gue.
Setelah menghapus air mata gue. Dita dan mama pun membawa gue keluar dari kamar untuk mengantarkan gue ke suami baru gue. Eaakk suami baru bah hahahah....
Senyum yang terus gue tampilkan sambil berjalan dan tetesan air mata sepertinya masih mengalir. Hingga di hadapan suami gue. Gue langsung mencium punggung tangan beliau. Tau gak sih rasanya kek apa? Gue sama beliau belum pernah sentuhan. Masya Allah rasanya itu... Kalian akan ngerasain nya nanti hehehe. Mencium tangan seseorang yang sebelumnya tak pernah bersentuhan. Beliau langsung mencium kening gue dan mengucapkan doa yang di anjurkan Rasulullah.
Hari yang indah, bahagia, terharu dan sedih untuk hari ini.
Acara terus berlanjut sampai selesai. Sampai sore hari.
Di lokasi yang lain ada Dita yang sedang mengambil makanan. Dan dia melihat seseorang yang sepertinya dia mengenal orang itu.
Hayooo siapa orang itu?
*NEXT*
__ADS_1