Antara Maghrib Dan Isya

Antara Maghrib Dan Isya
Wasiat Ayah


__ADS_3

Setelah urusan dirumah sakit selesai. Kami pun pergi meninggalkan rumah sakit tersebut.


"Mamaaa... ", Tangis gue belum juga berhenti saat berada di dalam mobil jenazah


Mama gue hanya membalas dengan pelukan eratnya


Setelah perjalanan yang cukup lama, akhirnya kami tiba di rumah. Rumah yang gue rindukan. Namun, bukan keadaan seperti ini yang gue mau.


"Ayah... Kita sudah sampai dirumah. Ayah janji kalau kita bakalan pulang kerumah bareng bareng. Ya, janji ayah sudah Nara penuhi, tapi bukan dengan kondisi seperti ini yang Nara inginkan. Ayaahhh... Nara ingin kita pulang kerumah dengan kondisi ayah yang baik baik saja, kita sama sama membuka pintu, sama sama memasuki barang. Nara ingin dengar suara ayah ketika ayah memanggil Nara untuk bantu nurunin koper. Tapi kenapa yah, kenapa ayah malah pergi deluan. Kemana suara ayah. Kenapa ayah pergi tanpa bilang ke Nara", saut gue dalam hati


Fardhu kifayah pun sesegera mungkin di lakukan. Hari ini juga ayah gue akan di kebumikan.


Rasulullah SAW bersabda dalam hadits riwayat Abu Hurairah RA:


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: أَسْرِعُوا بِالْجِنَازَةِ فَإِنْ تَكُ صَالِحَةً فَخَيْرٌ تُقَدِّمُونَهَا وَإِنْ يَكُ سِوَى ذَلِكَ فَشَرٌّ تَضَعُونَهُ عَنْ رِقَابِكُمْ


"Segeralah mengurus jenazah. Karena jika jenazah itu adalah orang shalih, berarti kalian telah mempercepat kebaikan untuknya. Dan jika jenazah tersebut selain orang shalih, berarti kalian telah meletakkan kejelekan di pundak kalian." (HR Bukhari no 1315 dan Muslim no 944).


Setelah selesai di mandikan dan di sholatkan, kami pun pergi untuk mengantarkan ke tempat peristirahatan yang terakhir.


"Gue masih belum percaya. Apakah ini mimpi?", Saut gue dalam hati sambil mencubit cubit tangan gue untuk memastikan apakah ini mimpi atau tidak.


Tak pernah gue lepaskan pelukan mama gue. Mama gue juga pastinya masih belum percaya kalau ayah pergi secepat ini tanpa berpamitan.


"Kita sama sama tetap doain ayah ya sayang. Semoga ayah ditempatkan ditempat yang terbaik di sisi Allah SWT", saut mama gue menguatkan gue.


"Iya ma", saut gue yang masih setia dengan air mata gue


Setelah pemakaman selesai, kami pun berziarah sebelum meninggalkan tempat tersebut.


"Aayaaahhh... Nara kangen ayah. Nara minta maaf, Nara pernah marah sama ayah, Nara pernah tidak mendengarkan kata kata ayah, Nara juga minta maaf karena sikap Nara yang suka buat ayah marah. Nara selalu doain ayah", saut gue sambil memegang nisan ayah gue.

__ADS_1


Mama gue kembali memeluk gue dengan begitu erat. "Udah sayang. Nara harus ikhlasin ayah ya biar ayah tenang disana. Udah yuk kita pulang", pinta mama gue


Kami pun pergi meninggalkan tempat tersebut namun tangisan gue masih setia menemani gue.


***


Pagi masih sama, matahari masih bersinar dari arah timur. Namun, di pagi ini gue tidak mendengar sapaan dari ayah gue. Biasanya kami selalu sarapan bareng, ngobrol di meja makan, rebutan smoothies. "Morning ayah" kalimat itu kini tidak akan aku ucapkan lagi.


"Nara, ayok sarapan dulu kita sayang. Kamu dari semalam belum ada makan kan", saut mama gue


Tak ada balasan dari mulut gue. Gue masih setia memandangi pemandangan di luar jendela. Tapi lebih tepatnya mengkhayal masa masa saat bersama ayah gue.


Mama gue kembali kedalam kamar untuk menyuapin gue.


"Nara ayok makan dulu. Nanti ayah sedih kalau lihat Nara sakit", saut mama gue.


"Ma... Nara kangen ayah. Kenapa sih ayah pergi tanpa bilang sama Nara dulu", rengek gue


"Nara ingatkan pesan ayah yang terakhir ke Nara. Nara harus bisa belajar ilmu agama lebih banyak lagi", sambung mama gue


"Iya ma. Tapi Nara belum tau bisa atau enggak wujudkan keinginan ayah", jawab gue


"Yaudah, nih Nara sarapan dulu ya", saut mama gue sambil menyuapi gue


***


Setelah seminggu kepergiaan ayah.


"Nara mama mau nanyak. Nara jadinya mau sekolah dimana?", Tanya mama gue


"Nara belum tau ma", jawab gue.

__ADS_1


"Nara ingatkan pesan ayah? Gimana? Nara mau gak? Itu keinginan ayah yang terakhir sayang. Nara mau kan ayah tenang dan bahagia disana?", Jelas mama gue


"Mau ma, tapi Nara mau sekolah di sekolah umum ma", jawab gue


"Pilihan orang tua adalah pilihan yang terbaik untuk anaknya sayang. Pesantren itu milik kakek kamu. Jadi kamu nanti disana bakalan aman sayang. Nara mau ya...", Pinta mama gue


"Baik lah ma jika itu keinginan mama dan alm. Ayah. Nara mau ayah bahagia disana", saut gue sedikit cemberut


"Makasih sayang. Mama yakin Nara juga bakalan senang berada dipesantren nanti. Besok mama bakalan nelpon umi Henni untuk didaftarkan ke pesantren", jawab mama gue sambil mencium kening gue


"Nanti kalau Nara disana mama sama siapa disini?", Tanya gue


"Kamu tidak perlu khawatirin mama. Mama bisa jaga diri. Ntar mama bisa tinggal dirumah oma. Biar rumah ini mama sewain biar ada pendapatan kita", jelas mama gue


"Oh gitu. Mama tinggal dirumah oma yang masih didaerah Surabaya ini kan?", Tanya gue lagi


"Iya sayang", jawab mama gue


"Oh iya ma. Nara mau nanyak. Ayah sebenarnya sakit apa sih ma?", Tanya gue penasaran


"Mungkin ini saatnya kamu tau yang sebenarnya sayang. Sebenarnya ayah mengidap penyakit gagal jantung sayang. Udah setahun belakang ini ayah menahan sakitnya sayang. Maaf kan kami karena tidak memberitahu mu, karna kami takut kamu jadi kepikiran. Udah ya sayang, yang penting ayah udah tidak menahan sakitnya lagi disana. Kita doakan yang terbaik ya untuk ayah", jelas mama gue


"Mama... Kenapa mama gak beritahu Nara sih ma?", Tanya gue lagi sambil memeluk mama gue


"Maafkan kami sayang", jawab mama gue


"Ayah... Nara bakalan wujudkan keinginan ayah agar ayah bahagia disana. Nara juga akan menjaga mama disini. Nara yakin pilihan ayah dan mama adalah yang terbaik untuk Nara", saut gue dalam hati


"Pilihan orang tua adalah pilihan yang terbaik untuk anaknya. Karena ridho Allah terletak pada ridho orang tua"


*NEXT*

__ADS_1


__ADS_2