Antara Maghrib Dan Isya

Antara Maghrib Dan Isya
Pulang


__ADS_3

Tak terasa bulan Ramadhan udah mau pergi, sudah di penghujung Ramadhan. Dita dan Lily pada ngemasin barang untuk kembali ke kampung mereka masing-masing.


“Dit, lo kapan balik?”, tanya gue


“besok Nar. Besok bokap gue jemput gue”, jawab Dita


“kalau kamu Li?”


“besok juga Nar”, jawab Lily


“yaa besok kalian udah pada balik. Hemm… gue sendirian dong disini”, saut gue


“kamu tinggal di rumah umi aja Nar, biar gak sendirian”, pinta Dita


“gak ada kalian gak seru puasanya”, rengek gue


“kami bakalan balik lagi kok Nar. Kami hanya pulang 2 minggu aja”, saut Lily


“jangan lama lama ya di kampungnya kalian”, rengek gue lagi


“kamu gak balik ke Surabaya Nar?”, tanya Lily


“balik, tapi sepertinya lebaran pertama gue bakalan di ponpes ini, karena kan kakek gue disini. Mungkin lebaran kedua gue baru balik ke Surabaya. gue kangen ayah, pengen cerita di makam ayah”, jelas gue


Setelah mengemasin barang-barang Dita dan Lily, kami bertiga pun terlelap dalam dunia mimpi.


***


اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ، لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ واللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ وَِللهِ الحَمْدُ


Suara takbiran telah berkumandang. Dita dan Lily sudah kembali ke kampung mereka masing-masing. Tinggal gue dan beberapa santri yang masih tinggal di ponpes ini. Ya termasuk juga si presiden ponpes.


“umi, katanya mama mau datang ya malam ini?”, tanya gue ke umi


“iya nak, mungkin sebentar lagi sampai”, jawab umi


“hemm ok umi. Nara keluar bentar ya umi, pengen duduk diluar sambil dengerin takbiran”, saut gue


“ok sayang”


Suara takbiran dapat mengalahkan kuatnya debaran jantung gue saat melihat A’a Fachri. Gue senang banget mendengar suara takbiran, ada rasa yang berbeda. Terharu, bahagia, semua bercampur. Air mata bisa langsung turun ketika suara takbiran dilantunkan.


Gue menutup mata gue sambil menikmati indahnya suara takbiran ini. Dan ketika gue membuka gue kembali setelah beberapa menit, ternyata…


“Astaghfirullah”, saut gue kaget


“eh maaf kalau saya ngagetin kamu”, saut A’a Fachri

__ADS_1


“iya gak papa. Ada apa A’a kesini?”, tanya gue


“saya mau ketemu sama abah Faiz, abah ada didalam kan?”


“oh abah. Abah ada didalam. Masuk aja”


“ok, makasih ya”


“iya sama sama”


“aduuhh tuh orang suka banget ngagetin gue. Huh, spot jantung gue setiap ketemu sama dia”, saut gue dalam hati


Tiin..tiin..


Suara klekson mobil


“mama…”, saut gue girang saat melihat mama gue keluar dari dalam mobil


“Nara sayang”, balas mama gue sambil memeluk gue


“kamu baik baik aja kan sayang. Gimana disini? Enak kan”


“Alhamdulillah baik ma, Nara kangen mama”


Gue membawak mama gue masuk kedalam rumah umi Henny.


“Wa’alaikumsalam, eh mama Nara udah sampai”, balas umi Henny


Mama gue datang bareng om Zay, tante Mira dan oma. Gue senang banget semuanya pada ngumpul disini. Meskipun ayah tidak ada disini, tapi ayah tetap selalu ada didalam hati gue.


“hemm.. abah, umi, Fachri balik ke Mesjid dulu ya”, saut A’a Fachri


“eh iya Fachri, maaf ya nak, nanti kita bicarai lagi”, jawab abah Faiz


“iya abah, gak papa bah. permisi, Assalamu’alaikum”, saut A’a Fachri sebelum meninggalkan rumah umi


“Wa’alaikumsalam”, jawab kami barengan


“itu siapa umi? Ganteng”, saut mama gue


“itu Fachri, santri putra disini. Dia jadi idaman loh di ponpes ini”, jelas umi Henny


“waahh bisalah dijodohkan ke Nara”, ledek mama


“ih mama ini apaan sih. Nara belum mau”, sambung gue


Mama dan umi Henny hanya tertawa kecil.

__ADS_1


Setelah bercakap cakap dan melepas lelah. Gue membantu bawak barang-barang mama dan oma ke kamar, biar mama bisa bersih bersih dan beristirahat setelah perjalanan jauh dari Surabaya.


***


Pagi pun tiba. Kami semua bersiap siap untuk melaksanakan sholat ied di mesjid dengan pakaian yang terbaik sebagai penyambutan 1 syawal, hari kemenangan. Setelah melaksanakan sholat ied, kami kembali kerumah untuk saling maaf memaafkan di hari yang fitri.


1 syawal, merupakan hari yang fitri. Setelah sebulan melaksanakan ibadah puasa, menahan hawa nafsu, menggandakan kebaikan. Hari ini adalah hari kemenangannya. Semua umat muslim bersuka riah menyambut bulan ini, semua umat muslim kembali fitri, kembali bersih dari dosa dosa yang telah diperbuat, semua umat muslim seperti terlahir kembali layaknya seorang bayi yang belulm memiliki dosa.


Setelah saling bermaaf maafan, kami pun menyantap hidangan yang sudah dibuat semalam. Makanan yang dihidangkan ada opor ayam, gudeg khas Yogya, lontong, dan masih banyak lagi. Semua makanannya lezat lezat.


“Assalamu’alaikum”, saut beberapa orang dari luar rumah


“Wa’alaikumsalam, masuk masuk”, jawab abah Faiz


“minal aidzin wal faizin bah”, saut mereka bergantian


Ada sekitar 5 santri yang memilih untuk lebaran di ponpes. Gue gak tau apa alasan mereka kenapa mereka tidak kembali ke keluarga mereka saat lebaran kayak gini.


“loh kok masih ada yang di pondok mi?”, tanya mama gue


“iya, mereka gak pulang. Karena ada 2 orang dari mereka yang yatim piatu, 2 orang lagi karena keluarganya gak mampu untuk biayai mereka pulang dan yang 1 laki laki itu yang presiden ponpes itu dia anaknya teman abah Faiz jadi memang lebaran pertama ngumpul disini, mungkin sebentar lagi orang tuanya datang”, jelas umi Henny


“bukannya kami gak mau biayai mereka pulang, hanya saja mereka yang menolak. Jadi ya mereka hanya bisa rayainya dari telepon saja”, sambung umi


“oh gitu. Kasihan banget mereka”, jawab mama


“bersyukurlah kalian yang masih memiliki keluarga lengkap. Yang masih bisa merayai hari nan fitri seperti ini bersama keluarga lengkap, makanan yang lezat, dan pakaian yang bagus. Kalian juga harus melihat orang-orang disekitar kalian. Bantulah mereka jika mereka memang layak untuk di bantu. Mereka juga berhak mendapat kebahagiaan di hari nan fitri seperti ini. Ini adalah hari kemenangan untuk umat muslim”


Hari pertama di hari idul Fitri ini gue lalui dengan begitu suka ria. Banyak hal dan pelajaran yang bisa gue petik.


Hingga tiba hari lebaran kedua. Ini waktu gue untuk balik ke Surabaya. Kampung halaman gue. Gue gak sabar mau ke makam ayah. Sekitar pukul 10 siang gue pergi meninggalkan halaman rumah umi Henny.


“umi, Nara pulang dulu ya”, saut gue sambil menciup punggung umi Henny


“iya nak, semoga selamat sampai tujuan, dan kembali lagi ya ke ponpes”, jawab umi


“Insya Allah umi”


Bukan hanya umi yang gue salam. Abah Faiz dan kakek pun tidak lupa gue salam sebagai tanda penghormatan dan meminta izin untuk pulang kerumah.


“daaahh semuanya… Assalamu’alaikum”, saut kami yang berada didalam mobil


“hati hati ya… Wa’alaikumsalam”, saut umi dan abah


“ayah… Nara udah dijalan, besok Nara bakalan datang ke makam ayah”, saut gue dalam hati.


*NEXT*

__ADS_1


__ADS_2