
“Nara bangun”, saut Lili
“hah… jam berapa ini?”, tanya gue
“sholat tahajud yuukk”, jawab Lili
“aduuhh gue masih ngantuk. Yodah kalian deluan aja”, jawab gue yang masih setia dengan balutan selimut bernuansa biru itu.
---
Allahu Akbar Allahu Akbar
Adzan subuh telah berkumandang.
“Nara ayuuk bangun, ntar kena marah ustadzah tidak sholat subuh”, jelas Lili
“iya iya ni gue bangun”, jawab gue
Setelah bersih bersih, kami bertiga berjalan menuju mesjid untuk sholat subuh berjama’ah. Setelah sholat berjama’ah, abah Faiz menyampaikan tausiah nya sampai pukul 6 pagi.
haii pagi… kali ini sapaan ku “morning mam dan morning yah” sudah tidak aku ucapkan lagi. Pagi masih sama seperti pagi sebelumnya. Matahari bersinar terang dari arah timur. Suara kicauan burung dan udara segar yang menambah semangat untuk memulai kegiatan hari ini. Embun yang masih terlihat jelas diatas daun daun hijau. Gue suka melihat butiran air diatas daun.
Pagi ini setelah keluar dari mesjid kami sarapan bareng-bareng di kantin pesantren.
“pagi Nara. Gimana pagi pertama kamu di pesantren nak?”, tanya umi Henni yang tak sengaja bertemu di kantin
“eh umi. Alhamdulillah umi”, jawab gue yang
sebenarnya merasa cukup kaget dengan kegiatan di hari pertama ini. Bangun tahajud, bangun sholat subuh sebelum adzan, mandi pagi sebelum sholat subuh, yang belum pernah gue lakukan sebelum ini.
“Alhamdulillah. Mau sarapan?”, tanya Umi lagi
“iya umi”
“makan yang banyak ya. Yaudah kalau gitu umi mau balik ke rumah dulu”, saut umi
“iya umi”
Setelah selesai sarapan, kami bertiga kembali ke kamar. Kami bertiga nyuci baju bareng bareng, hahaha lucu gak sih. Kamar mandi di kamar kami lumayan luas.
Sumpah, gue belum pernah nyuci baju sendiri. Tau gak sih, rasa nya ketika masuk ke pesantren ini, gue itu seperti merasa masuk ke dunia lain. Hal yang tidak pernah gue lakukan kini gue lakukan secara tiba tiba. Mau tidak mau ya harus dilakukan. Tubuh gue merasa lelah, baru juga di hari pertama. Gue pengen cerita ke mama, tapi ponsel gue di pegang oleh umi. Segan aja rasanya jika meminta ponselku, baru juga di hari pertama.
“ya Allah gue pengen pulang”, saut gue dalam hati.
“Dit, gue mau nanyak sama lo”, saut gue saat berada di bangku luar kamar
__ADS_1
“mau nanyak apa Nar?”, tanya Lili
“lo itu kan baru masuk pesantren ya. Hemm baru pertama ini kan?. Lo gak merasa capek atau terkejut gitu sama kegiatan di pesantren ini?”, tanya gue penasaran
“kenapa? lo terkejut ya?, kalau lo capek istirahat aja Nar, wajar itu”, jawab Dita
“enggak, gue mau nanyak aja”, balas gue
“oh gitu. Sebenarnya enggak sih. Gue kayak udah terbiasa aja sama kegiatan ini. Dirumah juga gue ngelakui hal yang sama seperti disini, misalnya aja kayak nyapu, cuci piring, sholat subuh, cuman kalau nyuci baju ya jarang sih karena kan kalau dirumah pakai mesin cuci terus kalau sholat tahajud gue juga jarang sih, paling kalau memang terbangun aja. gue udah di ajarkan sama kakak dan abang gue, mereka kan anak pesantren juga. Gue ya Nar, walaupun gaya gue tomboy tapi kalau urusan ginian mah ya gue lakui. Tenang aja Nar, lama kelamaan juga kamu bakalan terbiasa kok. Di hari hari pertama memang pasti tuh badan terkejut, kamu istirahat aja kalau capek, kan ini belum ada jadwal, belum masuk jadwal pelajaran. Nanti kalau udah masuk jadwal pelajaran waah kamu liat nanti, susah untuk bagi waktu, mana yang belajar, ngapal, bersih bersih kamar, dan kegiatan lainnya”, jelas Dita panjang lebar
“aduuhh gue sanggup gak ya. Jujur di hari pertama ini aja gue kayak uda nyerah gitu”, balas gue
“lo pasti bisa Nar. Kita sama sama berjuang ya”, saut Dita
“ada apa ini? Kalian bahas apaan sih. Kok sepertinya seru”, tanya Lili yang tiba tiba datang dari arah kamar
“gak papa Li. Ini si Nara dia terkejut sama kegiatan hari ini”, jawab Dita
“oh gitu. Kamu kan kuat Nar. Ana yakin kamu bisa”, saut Lili menyemangatiku
“bagaimana kalau kita buat daftar piket untuk bersih bersih kamar? Mau gak?”, tanya Lili
“boleh juga tuh”, jawab gue dan Dita serentak
“ok kalau begitu mulai hari senin kita mulai ya”, jelas Lili
“kamu aja Li”, jawab gue
“ok kalau begitu Ana mulai hari senin yang bersih bersih kamar. Yang kedua Dita dan yang terakhir Nara. Jadi jadwalnya itu diulang ulang gitu. Ok, setuju?”, jelas Lili
“setuju”, jawab gue dan Dita kompak dan semangat
“ok”
“oh iya, sepertinya hari ini para santri udah pada berdatangan. Kan besok senin udah mulai aktif pesantren kita”, jelas Lili
“disini santri putri dan santri putra di gabung?”, tanya Dita
“enggak. Kalau santri putri di lingkungan kita ini, nah sedangkan santri putra itu di belakang sana. Pokoknya mesjid kita itu pembatasnya, arah mesjid kesana itu bagian pria”, jelas Lili sambil menunjuk kearah yang dibilangnya
“oh gitu”, jawab Dita
“lo mau liat santri putra ya?”, tanya gue sambil ketawa kecil
“yakan lumayan Nar bisa cuci mata. Kalau gitu gue sering sering lah ke mesjid biar bisa cuci mata liat santri putra”, timpal Dita yang diikuti dengan ketawa khasnya
__ADS_1
“ih kamu itu ya Dit, awas zina loh”, sambung Lili
“Astaghfirullah”, saut Dita
“oh iya, disini kalau mau manggil wanita atau cowok gitu beda ya?”, tanya gue
“iya Nar. Disini nanti kamu bakalan sering dengar kayak ukhti untuk wanita dan akhi untuk laki-laki. Jarang orang manggil kayak nama gitu”, jelas Lili
“waaahh akhi.. aakhhh”, sambung Dita dengan muka yang senyum senyum sendiri
“lo kenapa Dit? Kamasukan lo? Senyum senyum sendiri”, saut gue
“gue lagi berkhayal akhi akhi yang ganteng, pakai peci, kulit putih, pakai sarung. I’am future husband”, saut Dita
Gue dan Lili pun hanya bisa tertawa lepas mendegar sautan Dita yang sedang berkhayal.
“my future husband kali Dit”, timpal gue
“eh iya salah”, balas Dita yang kalah malu
“bahasa Inggris lo udah mahir Nar?” tanya Dita
“lumayan Dit. Jadi dulu itu pas di Paris, gue itu home schooling karena kan awalnya gue belum bisa bahasa Inggris apalagi bahasa Prancis. Jadi selama gue home schooling itu, gue disuruh harus pakek bahasa Inggris sama guru gue. Gak boleh bahasa Indonesia, tapi beda lagi kalau diluar jadwal home schooling ya. Dan syukurnya itu teman teman gue disana bisa bahasa Inggris, jadi setiap ketemu ya pakai bahasa Inggris. Mereka tidak paham bahasa Indonesia, ada sih 1 teman gue dari Indonesia juga, jadi ya sama dia juga sih gue banyak belajar. Hemm jadi kangen sahabat gue disana”, jelas gue panjang lebar
“waahh hebat banget lo Nar. Gue ya, bahasa Inggris aja nilai gue 50, apalagi harus bahasa lain kayak bahasa Prancis, bisa meledak otak gue “, timpal Dita
“gak hebat kali juga sih, gue juga sering salah bicara kok”, saut gue
“gue belum pernah punya sahabat. Pengen deh punya sahabat”. Timpal Dita
“loh masa sih kamu tidak punya sahabat”, sambung Lili
“iya, jadi gue tuh dulu sebelum masuk pesantren, gue lebih suka menyendiri gitu. Gaya gue kan dulu tomboy, jadi orang ngeliat gue tuh kayak aneh aja. ya tapi tetap gue punya teman, tapi kalau sahabat gitu gue belum punya”, jelas Dita
“hemm.. kalau gitu sekarang kamu harus punya sahabat. Nanti gue kenalin”, saut gue
Lili dan Dita bingung dengan kata kata gue.
Bukan yang bermakotahkan berlian tapi bermakotahkan peci
Bukan yang berkulit putih karena skincare tapi karena air wudhu
Bukan yang datang karena gombalan tapi yang datang dengan kepastian
Bukan dia yang mengajak ke jalan maksiat tapi dia yang mengajak ke jalan halal
__ADS_1
My future husband
*NEXT*