
"Yuk yuk, gue gak sabar pengen dengar suara merdu itu lagi", sambung gue
Kami bertiga pun kembali ke kamar untuk bersih bersih sebelum menunaikan shalat Maghrib.
Seperti biasanya, sholat Maghrib berjamaah lalu setelahnya mengaji membaca Al-Qur'an setelah itu mulai deh santri putra yang memiliki suara merdu itu beraksi dan selanjutnya melaksanakan sholat isya.
Gue jadi semakin nyaman dengar suaranya, walaupun wajah dia tidak pernah gue tau.
"Li, plis deh kasih tau kami siapa yang ngaji itu?", Rengek Dita ketika telah keluar dari areh mesjid
"Ok ok biar gue kasih tau. Mau tau banget ya??", Ledek Lili
"Iihh Lili mah, cepetan atuh", rengek Dita lagi
Gue yang mendengar rengekan Dita hanya bisa tertawa kecil. suara merdu santri putra itu selalu terngiang-ngiang di pikiran ku.
"Iya iya sabar atuh", saut Lili
"Dia itu adalah Fachri presiden PONPES. Dia itu terkenal karena kegantengan dan suara merdunya di ponpes ini", jelas Lili
"Tau gak orang yang kita jumpai di rumah umi saat kita mau izin beli martabak?, Nah itu dia", sambung Lili
Fachri Ar-Rayn. Santri putra yang dikenal sebagai presiden di PONPES ini. Cukup terkenal karena ketampanannya dan suara merdunya ketika melantunkan ayat suci Al-Quran. Dia merupakan hafiz Qur'an 30 juz. Pernah menjuarai lomba tingkat nasional di ajang Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) dan lomba DAI tingkat provinsi.
"Aaakkhh Masya Allah, pantes", jawab Dita
Gue yang mendengar penjelasan Lili hanya terdiam kaget.
"Nar kamu gak kenal sama dia? Dia dekat loh sama umi Henni dan abah Faiz", saut Lili
"Hah? Masa sih? Gue gak pernah tau soal itu", jawab gue
"Iya Nar, kalau gak salah ya dia itu anak dari temannya abah Faiz", jelas Lili
"Gue gak tau Li", jawab gue singkat
"Aaakkhh gue suka sama dia", saut Dita kegirangan
__ADS_1
Gue yang mendengar Dita berkata seperti itu hanya bisa terdiam. Gue juga gak ngerti sama perasaan gue. Gue memang udah jumpa sama dia 3 kali bahkan udah pernah gak sengaja tabrakan sama dia. Dan yang membuat gue bingung, setiap jumpa sama dia itu jantung gue berdebar. Gue tidak terlalu ahli dalam mengartikan bahasa tubuh apalagi soal cinta.
Sepanjang perjalan menuju kamar gue hanya terdiam. Kecuali pada saat mereka bertanya saja.
Gue gak mau kejadian di Paris terulang lagi disini. Gue gak mau persahabatan ini hancur hanya karena soal cinta dan perasaan.
Setelah sampai di kamar, kami bertiga langsung beristirahat. Gue yang masih terdiam seribu bahasa. Mungkin Dita dan Lili bakalan merasa heran ke gue.
***
"Dit kamu mau makan apa biar ana yang pesankan", tanya Lili pada Dita yang sedang duduk di kursih
kantin saat jam istirahat sekolah
"Ana mau siomay aja deh", jawab Dita
"Kalau kamu Nar?", Tanya Lili
"Gue mau mie ayam deh", jawab gue
"Ok sebentar ya biar gue pesankan", saut Lili
"Dit gue mau toilet bentar ya", saut gue
"Ok Nar", jawab Dita
Saat berjalan menuju toilet gue bertemu lagi dengan si presiden PONPES itu. Jantung gue kembali berdebar. "Aduuhh ada apa sih sama gue? Gue gak boleh suka sama dia, karena Dita suka sama dia. Gue gak mau kejadian di Paris terulang lagi disini. Gue gak mau persahabatan ini hancur", saut gue dalam hati sambil memandang diri gue di cermin toilet.
"Aduuhh Masya Allah ganteng banget calon ana", saut Dita saat dia melihat presiden PONPES itu.
"Ya ampun Dit, jaga pandangan, ingat zina mata", sambung Lili.
"Tuh kan, Dita beneran suka sama dia. Gue gak mau ngerusak impian dia, gue gak boleh suka sama dia, karena sahabat gue suka dengannya. Gue gak mau nyakitin hati sahabat gue", gumam gue dalam hati sambil memandangi mangkok mie ayam gue.
"Nar kamu gak papa? Kok belakangan ini kamu sering melamun sih?", Tanya Lili
__ADS_1
"Hah? E.. enggak papa kok", jawab gue
"Udah deh Nar jangan melamun terus, mending liat yang bening bening kayak A'a Fachri gitu", ledek Dita
Gue hanya tersenyum dan kembali menundukkan pandangan gue.
Kegiatan hari ini sama seperti biasa. Pulang sekolah, ngaji ya seperti itulah. Hanya saja tiba tiba kepala gue pening.
"Gue hari ini izin gak bisa ngaji ya we", saut gue sambil berbaring di kasur milik gue
"Loh kenapa kamu Nar?", Tanya Dita
"Kepala gue pening Dit", jawab gue
"Kamu kenapa Nar?", Tanya Lili
"Kepala gue pening Li", jawab gue
"Mau ana belikan obat gak? Obat apa biasanya?", Tanya Lili
"Ini Li, tolong belikan gue obat ini ya", jawab gue sambil memberikan selembar nama obat
"Ok ok, tunggu sebentar ya, mau ana panggilin umi Henni gak?", Tanya Lili lagi
"Gak usah Li. Gue udah biasa kayak gini kalau lagi datang bulan. Darah gue rendah jadi mudah kambuh kalau lagi datang bulan. Gue biasa minum obat itu aja sih. Sama butuh istirahat sebentar", jelas gue
Ya begitulah penderita darah rendah. Sering pusing, cepat kelelahan dan kadang bisa pingsan. Bagi yang menderita darah rendah harus tetap semangat ya guys, banyak makan makanan yang bergizi dan tetap jaga kesehatan dengan berolahraga.
"Oh gitu. Yaudah biar gue belikan dulu ya", saut Lili sebelum pergi meninggalkan gue dan Dita
"Lo istirahat aja Nar, udah makan kan. Nanti gue izinin ke ustadzah. Gak papa", saut Dita
"Makasih ya Dit"
"Iya sama sama. Gak usah berterima kasih, kan kita sahabat", jawab Dita
Hari ini gue hanya bisa berbaring di kasur gue, kepala gue hari ini tidak bisa di ajak bersahabat.
__ADS_1
*NEXT*