
Achille pergi dengan rasa kecewanya. Gue merasa bersalah, tapi gue harus mengungkapkan itu semua.
"Loh Achille nya mana sayang?", Tanya mama gue saat baru pulang dari pasar.
"Dia udah pergi ke hotel ma", jawab gue lesuh.
"Kamu kenapa sayang?", Tanya mama gue ketika melihat wajah gue yang merasa bersalah.
"Ma, tadi Nara bilang semua ke Achille. Nara bilang kalau Nara lagi menjalani masa ta'aruf. Nara ngelakuin itu karena Nara tau kalau dia suka sama Nara sejak lama. Dan sekarang dia lagi mendalami tentang Islam, ya walaupun belum masuk Islam. Jadi Nara ceritain semuanya ke dia tadi. Terus respon dia itu kayak kecewa gitu ma. Nara takut dia ngelakuin hal yang aneh di hotel. Gimana ini ma?", Jelas gue ke mama.
"Yaudah kamu berdoa aja semoga dia baik baik saja dihotel. Mungkin dia mau nenangin diri dia sendiri dulu", jawab mama gue
***
Jam 3 sore.
Kriiingg... Kriiingg..
Bel ponsel gue berbunyi
"Assalamu'alaikum Bel"
"Apa? Kamu gak bercanda kan Bel?"
"Ok ok gue langsung kesana sekarang. Masih disana dia kan?"
"Ok Bel. Makasih ya Bel"
Telpon dari Bella membuat gue kaget dan langsung siap siap. Tapi gue bingung kesana naik apa.
"Mama...", Teriak gue mencari keberadaan mama.
"Iya sayang. Ada apa?", Jawab mama gue yang keluar dari kamar.
"Ma.. Nara mau ke hotel Achille"
"Kenapa sayang? Kamu pergi sama siapa?"
"Nanti Nara ceritain, Nara juga gak tau mau pergi sama siapa"
Tok.. tok.. tok
"Assalamu'alaikum", sapa seseorang dari luar
"Wa'alaikumsalam", jawab kami serentak
"Nah ada A'a Fachri. A' bisa tolong bantu Nara gak?", Tanya gue langsung.
"Kenapa Nara?", Tanya A'a Fachri.
"Tolong temenin Nara".
"Oh bisa bisa. Mau kemana?".
__ADS_1
"Udah ayuk pergi aja dulu. Nanti Nara tunjukin jalannya".
"Ma Nara berangkat dulu ya, Assalamu'alaikum", saut gue sebelum meninggalkan mama.
"Tante ini ada makanan titipan dari umi Fachri. Yaudah tan, Fachri pergi dulu ya. Assalamu'alaikum", saut A'a Fachri sambil memberikan bungkusan ke mama.
"Yaudah nak. Makasih banyak ya nak Fachri. Kalian hati hati ya. Wa'alaikumsalam", jawab mama gue.
Gue sangat panik. Diatas kereta gue hanya beristighfar dan memohon doa ke Allah. Sambil menunjukan jalan ke A'a Fachri. Gue gak perduli apa yang terjadi saat ini. Ya walaupun ini kali pertama gue boncengan dengan A'a Fachri heheheh.
Kami menuju hotel tempat Achille menginap. Tapi Achille ternyata sudah dibawak ke rumah sakit kata karyawan hotel.
"Yaudah mbak makasih ya mbak", saut gue ke karyawan hotel.
"Eh bentar mbak, ini saya dapat surat diatas meja di kamar korban. Tadi ada yang bilang tolong surat ini diberikan ke Naraya Zeina. Mbak tolong kasihkan ya ke orangnya. Mbak kerabatnya kan?", Tanya karyawan hotel.
"Iya mbak. Saya temannya disini. Makasih ya mbak", jawab gue sebelum meninggalkan hotel.
Tanpa berpikir panjang. Gue pun langsung pergi ke rumah sakit yang dibilang sama karyawan hotel tadi. Dan surat yang dikasih tadi, gue simpan di kantong rok gue.
Sampai di rumah sakit, gue langsung ke meja informasi untuk mengetahui ruang Achille di rawat. Dan ternyata Achille masuk ruang ICU.
Tiba di depan ruang ICU, gue masih bingung apa yang terjadi dengan Achille. "Ini semua salah gue", gumam gue pelan.
"Kamu tenang Nara. Coba cerita sebenarnya ini ada apa?", Tanya A'a Fachri.
Memang yang dirumah sakit hanya ada gue dan A'a Fachri. Tadinya sih ada karyawan hotel yang mengantarkan Achille tapi setelah kami datang, mereka pun langsung pergi. Mereka juga berkata kalau mereka gak tau apa yang terjadi dengan Achille. Mereka hanya mengetahui bahwa ada jeritan dari kamar Achille dan ketika pintu kamar di buka, Achille sudah pingsan di dekat meja. Tapi Achille sempat berpesan untuk memberikan surat yang ada diatas meja ke Naraya Zeina.
"Dia adalah teman saya di Paris. Jadi semalam dia baru aja tiba di Indonesia dengan teman saya yang satu lagi. Cuman teman saya yang satu lagi itu langsung pergi ke Malang karena ada kegiatan", jelas gue
"Hemm.. kamu jangan marah ya ke saya".
"Kenapa saya harus marah ke antum?. Coba ceritain yang sebenarnya".
"Jadi tadi siang saya bilang ke dia kalau saya lagi menjalani masa ta'aruf dengan kamu. Saya ngelakuin itu karena saya tau kalau dia suka sama saya. Saya gak mau dia berharap lagi ke saya. Jadi saya ceritain semuanya ke dia tadi. Tapi setelah itu respon dia kayak kecewa gitu, dia langsung mau balik ke hotel katanya", jelas gue.
"Hemm... Yaudah kalau gitu kita berdoa yang terbaik aja ya untuk dia. Orang tua dia dimana?".
"Orang tua dia lagi di Belanda kalau gak salah katanya".
"Waduuhh jauh banget".
"Kamu udah telpon teman kamu yang di Malang itu?", Lanjut A'a Fachri.
"Udah tadi. Besok katanya dia mau balik kesini. Dia mau batalkan kegiatan dia yang disana", jawab gue.
"Oh iya A'. kalau A'a mau pulang gak papa. Saya biar disini aja. Kasihan gak ada yang nemenin disini. Makasih banyak ya udah mau nganterin saya kesini", lanjut gue.
"Saya nemenin antum disini aja".
"Nanti abi nyariin A'a gimana?".
"Tadi saya udah ngabarin abi kok. Tenang aja, gak papa kok".
__ADS_1
"Oh gitu. Sekali lagi makasih banyak ya A".
"Iya sama-sama. Kayak kesiapa aja".
Gue terus memanjatkan doa untuk Achille. Gue takut Achille meninggal.
Setelah berapa lama menunggu, akhirnya dokter keluar dari ruangan.
"Maaf, kalian kerabat pasien?", Tanya pak dokter.
"Iya dok", jawab gue.
"Gimana keadaannya dok?", Tanya A'a Fachri.
"Sebelumnya saya mohon maaf. Saya hanya perantara, saya tidak bisa merubah kehendak yang Maha Kuasa. Dan sebaik baik penyembuh ialah kuasa dari Allah SWT. Saya mohon maaf, pasien tidak bisa ditolong lagi. Pasien terlalu banyak memakan obat obatan. Itu yang menyebabkan terjadinya keracunan. Saya mohon maaf, yasudah kalau begitu saya permisi", jelas pak dokter.
"Baik dok. Terimakasih banyak dok", saut A'a Fachri.
Gue tidak bisa berkata kata lagi. Air mata gue semakin banyak yang keluar.
"Assalamu'alaikum", saut pak dokter sebelum meninggalkan kami berdua.
"Wa'alaikumsalam", jawab A'a Fachri.
Gue langsung menelpon Bella. Dan Bella pun akan kembali besok pagi. Gue gak tau gimana perasaan kedua orang tuanya, udah pasti sangat hancur.
"Ini salah gue", gumam gue sambil meringis nangis.
"Antum gak boleh nyalahin diri sendiri. Ini sudah kehendak Allah. Antum harus ikhlas", jawab A'a Fachri menenangi gue.
***
Pagi pun tiba. Bella dan Achille pun sudah berangkat ke Paris. Gue mau ikut kesana, tapi keadaan gue yang gak memungkinkan.
Yaudah deh, gue nitip doa dari sini aja. Hemm sedih banget rasanya melihat sahabat gue seperti itu.
Gue kembali mengingat ngingat kenangan gue bersama Achille di balik jendela kamar. Sangat indah walau pun hanya beberapa tahun saja.
Gue baru ingat dengan surat Achille.
dear Raya
someone i used to like Until now I still have feelings for you. until I learned a lot about Islam to be with you. but my heart was broken when I heard that you were going through the process of ta'aruf with someone. maybe you choose him the best to be your partner. but sorry i still can't get it.
Thank you for being the best friend in my life. has taught me many things. Thank you for coloring my life. I have never regretted knowing you.
once I say thank you and sorry
bye
Tangis gue kembali pecah. "Maaf kan gue Chill", gumam gue
"You are a friend who feels more than a friend to me"
__ADS_1
*NEXT*