Antara Maghrib Dan Isya

Antara Maghrib Dan Isya
Perpisahan


__ADS_3

Jam berganti hari, hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Tak terasa gue sudah sampai di penghujung hari dimana gue harus tinggal di pesantren.


Sudah saatnya gue pergi meninggalkan pesantren ini dan memulai kehidupan gue selanjutnya.


Seperti yang sudah gue ceritakan sebelumnya. Bahwa gue lulus beasiswa di universitas di Turki. Hari ini gue telah menerima surat kelulusan dari pesantren.


Tiiinn...


Suara klakson mobil.


"Mama..." Teriak gue


Mama pun keluar dari dalam mobil. Kali ini mama jemput gue dengan kereta api dan menuju pesantren di jemput oleh abah Faiz.


"Eh sayang. Gimana? Lulus?", Tanya mama gue


"Alhamdulillah lulus ma"


"Assalamu'alaikum umi", sapa mama gue saat memasuki rumah umi.


"Wa'alaikumsalam, eh mama Nara. Masuk Ma", jawab umi


Gue bantui oma gue untuk berjalan masuk ke rumah umi.


Perbincangan yang begitu hangat menambah suasana harmonis dalam sebuah keluarga.


"Ma, sebentar ya, Nara mau ke kamar dulu. Soalnya Dita hari ni mau pulang", saut gue memecah pembicaraan.


"Iya nak. Yaudah sana gih", balas mama gue


Gue pun pergi meninggalkan rumah umi.


"Assalamu'alaikum Dit", sapa gue saat memasuki kamar


"Wa'alaikumsalam", balas Dita


"Lo hari ni jadi pulang?"


"Insyaallah jadi Nar. Bokap gue udah di jalan tadi katanya"


"Lo udah kemasin semuanya?"


"Udah Nar. Tinggal nunggu aja ni. Oh iya mama kamu udah datang?"


"Udah Dit. Tuh lagi di rumah umi"


"Gue gak sangka bisa lulus dari pesantren. Gue bakalan rindu sama lo dan Lily"


"Gue juga Dit. Gue juga bakalan rindu kalian"

__ADS_1


"Kita kan punya grup, nah nanti bisa deh kita saling komunikasi di grup itu. Eh tapi lo mau ke Turki ya?"


"Iya Dit. Ya paling gue ada waktu sekitar 2 bulan lah di sini. Habis itu gue mau cabut ke Turki"


"Hemmm... Beda waktu soalnya kita Nar nanti. Bakalan susah deh"


"Tenang aja, kalo gue ada waktu, gue bakalan ngabarin kalian"


"Kita telpon Lily yuk"


"Yuk"


Kami pun menelpon Lily dengan via video call. Kami berbincang-bincang, membahas yang gak penting dan masih banyak lagi.


Aku ingin persahabatan ini sampai ke syurga.


"Eh bokap gue udah sampai. Udah dulu ya Li, nanti kita sambung lagi. Assalamu'alaikum", saut Dita menutup telponnya


"Wa'alaikumsalam, hati hati kalian ya", jawab Lily dari balik layar ponsel.


"Nar temenin gue ke rumah umi ya", pinta Dita


"Ok Dit"


Gue, Dita dan bokap Dita pun mengunjungi rumah umi untuk berpamitan.


"Dahh Dita. Hati hati lo ya. Nanti kita telponan lagi", saut gue


"Wa'alaikumsalam. Hati hati Dit", saut gue sambil melambaikan tangan ke arah mobil Dita


Gue sedih, gue harus berpisah lagi dengan sahabat sahabat gue. Akankah gue menemukan sahabat baru lagi nanti?


Mama dan oma gue untuk malam ini tinggal di rumah umi Henny dulu. Besok kami baru pulang bareng bareng.


"Nara, jadi gimana dengan si presiden PONPES itu?", Tanya mama gue saat kami semua berada di meja makan untuk makan malam


"Hah? Maksud mama A'a Fachri?, Dia udah keluar dari Pesantren ini setahun yang lalu ma, kan dia lebih tua dari Nara", jelas gue


"Bukan itu maksud mama. Jadi gak ada apa apa antara kamu dan dia?"


"Ya Allah ma, ya enggak lah", jawab gue


Bukan hanya membicarakan soal gue saat di meja makan, tapi membicarakan hal hal lainnya. Kehangatan keluarga dapat dilihat saat saling terbuka untuk saling mengobrol walaupun bisa dibilang bukan sesuatu yang penting.


Sampai selesai makan, gue membereskan yang ada di meja makan. Mencuci piring bekas makan tadi, membersihkan meja dan menutup makanan yang masih tersisa di meja makan.


Gue dan mama gue pun duduk di luar rumah umi sambil berbincang-bincang. Menikmati udara malam di pesantren untuk yang terakhir kalinya sebelum besok gue harus kembali ke Surabaya dan bahkan pergi ke Turki untuk melanjutkan pendidikan gue.


Hingga umi Henny datang memecah pembicaraan gue dengan mama.

__ADS_1


"Mama Nara, mama di panggil kakek tuh di ruang tamu", saut Umi Henny memecah pembicaraan gue dengan mama


"Oh iya umi", jawab mama


"Bentar ya sayang", saut mama gue


Gue yang penasaran pun mengikuti dan menguping pembicaraan mereka. Disitu ada mama, umi, abah, kakek dan oma. Gue jadi penasaran kenapa mereka gak mengajak gue untuk mengobrol dengan mereka? Dan apa sih yang mereka rahasiakan dari gue?.


Gue mulai menguping dari dalam kamar. Gue hanya mendengar samar samar, tidak jelas.


"A'a Fachri? Kenapa mereka menyebut nama A'a Fachri?, Mama setuju? Setuju apa sih?, Aduuhh gak jelas dengarnya. Kakek pelan banget sih ngomongnya. Gue lulus kuliah? Pulang dari Turki? Apasih maksud mereka? Aaakkhhh gak jelas", gue pun mencoba lebih dekat lagi, membuka pintu kamar, dan berjalan kearah mereka dengan sangat pelan agar mereka tidak mengetahui. Dan akhirnya ya...


Dbuuukkk...


Buku yang berada di atas meja tak sengaja tersenggol lengan gue. Jatuh deh.


Pembicaraan mereka pun terhenti saat mendengar suara itu. Gue pun kembali ke kamar sebelum mereka mengetahui.


"Nara", sapa mama gue saat memasuki kamar


"Eh mama", saut gue


"Kamu lagi ngapain sayang?"


"Ini lagi main game ma", jawab gue yang lagi berbohong


"Oohh"


"Mama tadi ngomongin apa sih? Kok Nara gak di ajak?"


"Akan mama ceritai nanti. Pokoknya kamu harus tetap terus semangat dalam melanjutkan pendidikan kamu di Turki", jelas mama gue yang sepertinya memang betul ada yang dirahasiakan.


***


Pagi pun tiba. Gue membereskan barang-barang gue untuk dibawak pulang. Sebagian barang gue masih ada di kamar pesantren. Gue pun pergi ke kamar gue untuk mengemas. Sekitar 20 menit gue pun selesai, dan kembali ke rumah umi Henny sambil membawa barang gue.


Kereta kami berangkat pukul 14:30. Jadi kami berangkat dari rumah sehabis sholat zuhur.


"Makasih banyak ya umi. Udah membimbing Nara menjadi yang sekarang ini", saut gue saat berpamitan dengan Umi.


"Sama sama sayang. Semoga Istiqomah ya nak", balas umi


"Aamiin umi"


"Oh iya ma. Sekarang Nara udah hafiz 30 juz", saut gue ke mama


"Masya Allah sayang. Alhamdulillah mama bangga banget. Ayah kamu juga bakalan bangga sama kamu nak", jawab mama gue sambil memeluk dan mencium kening gue.


Setelah selesai berpamitan, gue, mama dan oma pun pergi meninggalkan lingkungan pesantren. Sedih rasanya, gue sudah betah tinggal di pesantren ini.

__ADS_1


Kalian mau tau apa yang para orang tua rencanakan untuk Naraya Zeina? Akan gue kasih tau di bab berikutnya.


*NEXT*


__ADS_2