
Malam pun tiba. Acara Majlis ta'lim pun akan segera dimulai.
"Nara mana sayang?", Tanya umi ke Dita dengan begitu panik.
"Kenapa umi? Nara ada disana bareng Lily", jawab Dita sambil menunjuk ke arah kursih penonton.
"Makasih nak", saut umi sebelum meninggalkan Dita
"Iya umi sama sama", jawab Dita
"Nara, tolong bantu umi. Kamu bisa kan bacakan terjemahan Al-Qur'an, soalnya santri putri yang ditugaskan untuk baca terjemahan Al-Qur'an itu tiba tiba sakit sayang. Mau ya sayang bantu umi", jelas Umi
"Hah? Iya umi Nara mau", saut gue yang masih bingung
"Yaudah yuk ikut umi ke belakang panggung. Disana udah ada Fachri yang akan membacakan ayat suci Al-Quran nya"
"Ok umi", jawab gue sambil mengikuti langkah kaki umi dari belakang
"Aduuhh sama A'a Fachri. Gue gak boleh gugup", gumam gue dalam hati.
"Ok, kalian bisa kan. Yaudah kalau gitu umi tinggal dulu ya", saut umi
"Insyaallah bisa umi. Iya umi", saut gue
"Assalamu'alaikum", saut umi sebelum meninggalkan gue dan A'a Fachri
"Wa'alaikumsalam", jawab gue dan A'a Fachri
Gue bingung mau ngapai, gue beneran gugup. Jantung gue berdebar tak karuan. "Kuat Nara, jangan pingsan. Gak lucu kalau gue pingsan", gumam gue dalam hati
"Antum gak papa kan?", Tanya A'a Fachri
"E... Enggak papa kok", jawab gue gugup
"Saya nanti akan baca surah An-nisa ayat 1 sampai 20. Jadi nanti antum bacakan artinya ya"
"Ok ok"
"Ni antum minum dulu biar gak gugup", saut A'a Fachri sambil memberikan sebotol air putih
"Eh iya, makasih", jawab gue sambil mengambil air putih yang diberikan
Acara pun siap di laksanakan. Rundown acaranya setelah pembukaan oleh MC, maka acara kedua nya ialah membacakan ayat suci Al-Quran. Penampilan gue dan A'a Fachri ni. Bagaimana caranya biar gue gak gugup hiks hiks hiks....
"Bismillahirrahmanirrahim", gumam gue dalam hati saat menaiki panggung
Akhirnya selesai juga. "Alhamdulillah", gumam gue dalam hati. Lancar dong guys hahahah
"Ni minum lagi", saut A'a Fachri sambil memberikan botol air putih.
"Makasih A'a", balas gue
"Gimana? Udah lega kan?"
"Alhamdulillah udah"
"Yaudah antum duduk disini aja dulu. Gak lucu kalau antum jalan sambil kakinya yang masih gemetaran hehehe"
"Hihihi Astaghfirullah. Iya A'a"
"Saya boleh nanyak gak?"
__ADS_1
"Boleh", balas gue
"Nama panjang antum siapa?"
"Naraya Zeina. Kenapa?"
"Gak papa. Izin ya mau nyebut nama antum dalam doa saya"
Deg...
Gue speechless mendengarnya. Gue beneran gak tau mau ngomong apa. Beneran kaget.
"Gak papa kan kalau saya nyebut nama antum dalam doa saya?", Tanya A'a Fachri
"Untuk apa menyebut nama saya?"
"Jodoh kan ada di tangan Allah, tapi ya sebagai manusia pasti punya impian jodoh yang diinginkan pastinya. Gimana? Boleh kan?"
"Hemmm... Iya boleh", jawab gue yang makin gugup dan jantung gue seperti lomba lari
"Makasih ya"
"Iya sama-sama"
"Gimana dong ini. Apa maksud dia? Apa dia ingin berjodoh dengan gue?", Gumam gue dalam hati
"Kalau boleh tau, antum masuk pesantren ini karena keinginan antum sendiri?", Tanya A'a Fachri
"Bukan, sebenarnya gue masuk sini karna wasiat ayah gue sebelum beliau meninggal"
"Oh gitu. Terus gimana sekarang? Udah mulai betah?"
"Alhamdulillah udah. Ya awalnya memang cukup sulit bagi gue. Apalagi gue yang masih minus kalau soal agama"
"Iya"
"Yaudah kalau gitu gue mau ke depan dulu ya. Gue mau duduk bareng teman gue", saut gue
"Emang kenapa kalau duduk sama saya?"
"Gak papa sih, cuman gue takut ada yang salah paham sama takut ada yang lihat. Gue gak enak aja"
"Oh gitu. Masya Allah. Yaudah gak papa"
"Assalamu'alaikum", saut gue sebelum pergi meninggalkan A'a Fachri
"Wa'alaikumsalam. Hati hati", jawab A'a Fachri
Gue merasa gak enak kalau duduk berdua dengan lawan jenis. Apalagi dia merupakan presiden PONPES yang di gila gilai banyak santri putri. Gue juga merasakan tadi seperti nya ada yang memperhatikan gue sama A'a Fachri.
Gue kembali mencari keberadaan Lily, kalau Dita pasti dia lagi sama Rayyan. Soalnya mereka belum tampil.
"Nah itu dia", saut gue saat melihat keberadaan Lily
"Hai Li", sapa gue saat berada di samping Lily
"Eh Nar. Gimana tadi? Masih gugup?", Tanya Lily
"Udah enggak Li. Tapi tadi kelihatan ya gue gugupnya?"
"Enggak kok. Bagus banget mala. Tapi ana tau, antum pasti gugup"
__ADS_1
"Hehehe iya Li. Gugup banget"
"Oh iya Li, gue mau nanyak. Tadi A'a Fachri bilang kalau dia mau minjam nama gue untuk disebutnya dalam doa dia. Itu maksudnya apa ya?", Sambung gue
"Hah? Serius? Masya Allah. Itu tandanya dia mau serius sama kamu Nar. Cuman ya sebagai umat muslim kan gak ada yang namanya pacaran. Jadi untuk tidak terkena yang namanya zina, ya itu caranya. Meminta langsung sama yang mahakuasa. Itu keren banget tau Nar. Ana aja pengen digituin", jelas Lily
"Aduuhh jadi gue harus gimana? Tenang Li, mungkin ada seseorang yang sudah mendoakan mu secara diam-diam"
"Ya kalau misalnya antum juga demen sama dia, ya doakan juga dianya. Ya soal jodoh kan gak ada yang tau, tapi ya apa salahnya kan usaha. Usaha untuk mendapatkan orang itu tanpa jalur pacaran tapi sama sama menunggu sampai waktu yang tepat datang"
"Oh gitu. Makasih ya Li"
Gue dan Lily pun kembali mendengarkan kegiatan acara. Hingga pak ustadz Syahrul Ar-Rayn menyampaikan tausiahnya.
Tausiah kali ini tentang kemuliaan seorang wanita.
Kemuliaan kaum wanita ini, Allah berikan pada semua fase kehidupannya dan diberikan hak khusus. Bahkan dalam Al-Qur'an sendiri ada surat An-Nisa yang artinya wanita.
Selain menjamin hak-hak perempuan , Islam pun menjaga kaum wanita ini dari segala hal yang dapat menodai kehormatannya, menjatuhkan wibawa dan merendahkan martabatnya. Bagai mutiara yang mahal harganya, Islam menempatkan wanita sebagai makhluk yang mulia yang harus dijaga.
Di masa jahiliyah tersebar di kalangan bangsa Arab khususnya, kebiasaan menguburkan anak perempuan hidup-hidup karena keengganan mereka memelihara anak perempuan. Lalu datanglah Islam mengharamkan perbuatan tersebut dan menuntun manusia untuk berbuat baik kepada anak perempuan serta menjaganya dengan baik. Ganjaran yang besar pun dijanjikan bagi yang mau melaksanakannya. Rasulullah shallallahu alihi wa sallam memberikan anjuran dalam sabda-Nya: “Siapa yang memelihara dua anak perempuan hingga keduanya mencapai usia baligh maka orang tersebut akan datang pada hari kiamat dalam keadaan aku dan dia1 seperti dua jari ini.” Beliau menggabungkan jari-jemarinya. (HR. Muslim dari Anas bin Malik ra)
Islam memuliakan perempuan semasa kecilnya, ketika remajanya dan saat ia menjadi seorang ibu. Allah Ta'ala mewajibkan seorang anak untuk berbakti kepada kedua orang tuanya, ayah dan ibu.
Allah juga berfirman tentang hak wanita:
وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi laki-laki, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Baqarah [2]: 228)
Atas dasar inilah kemudian sejumlah aturan ditetapkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Dan agar berikutnya, kaum wanita dapat menjalankan peran strategisnya sebagai pendidik umat generasi mendatang.
Muhammad Thâhir ‘Asyûr rahimahullah berkata, “Agama Islam sangat memperhatikan kebaikan urusan wanita. Bagaimana tidak, karena wanita adalah setengah dari jenis manusia, pendidik pertama dalam pendidikan jiwa sebelum yang lainnya, pendidikan yang berorientasi pada akal agar ia tidak terpengaruh dengan segala pengaruh buruk, dan juga hati agar ia tidak dimasuki pengaruh setan…
Islam adalah agama syariat dan aturan. Oleh karena itu ia datang untuk memperbaiki kondisi kaum wanita, mengangkat derajatnya, agar umat Islam (dengan perannya) memiliki kesiapan untuk mencapai kemajuan dan memimpin dunia.” (al Tahrîr wa al Tanwîr: 2/400-401)
Wanita pun diperintah oleh Allah untuk menjaga kehormatan mereka di hadapan laki-laki yang bukan suaminya dengan cara tidak bercampur baur dengan mereka, lebih banyak tinggal di rumah, menjaga pandangan, tidak memakai wangi-wangian saat keluar rumah, tidak merendahkan suara dan lain-lain.
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.” (QS. Al Ahzâb [33]: 33)
Aisyah radhiyallahu'anha berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya seorang gadis itu malu (untuk menjawab bila dimintai izinnya dalam masalah pernikahan).” Beliau menjelaskan, “Tanda ridhanya gadis itu (untuk dinikahkan) adalah diamnya.” (HR. Al-Bukhari)
Semua syariat ini ditetapkan oleh Allah dalam rangka menjaga dan memuliakan kaum wanita, sekaligus menjamin tatanan kehidupan yang baik dan bersih dari prilaku menyimpang yang muncul akibat hancurnya sekat-sekat pergaulan antara kaum laki-laki dan wanita. Merebaknya perzinahan dan terjadinya pelecehan seksual adalah diantara fenomena yang diakibatkan karena kaum wanita tidak menjaga aturan Allah diatas dan kaum laki-laki sebagai pemimpin dan penanggungjawab mereka lalai dalam menerapkan hukum-hukum Allah atas kaum wanita.
Setelah mendengarkan tausiah dari ustadz Syahrul Ar-Rayn, acara selanjutnya ialah hiburan. Saatnya Dita dan Rayyan tampil.
"Uuuhhh Dita", saut gue yang begitu riang
Mereka berdua menyanyikan lagu sholawatan yang di populerkan oleh Grup Sabyan Gambus yang berjudul Aisyah istri Rasulullah dan Deen Assalam.
Para penonton sangat menikmati acara hari ini.
"Kamu yang kaum wanita. Ayo dong jaga kemuliaan diri kamu, Jaga martabat diri kamu, jagalah kehormatan kamu. Agama Islam sangat menghargai seorang wanita, sangat memuliakan seorang wanita"
"Wanita adalah madrasah pertama bagi anak-anak nya"
"Syurga ada dibawah telapak kaki ibu"
"Banyak pintu menuju syurga untuk mu Kaum wanita, tapi Bukan tak mungkin untuk bisa masuk neraka. Sebagai yang saya ketahui bahwa wanita adalah penghuni neraka terbanyak. Allahuakbar. Nauzubillah"
__ADS_1
*NEXT*