
2 bulan kepergian Achille telah berlalu. Seminggu lagi gue akan di sunting oleh seseorang lelaki. Yang Insya Allah dia adalah pilihan terbaik untuk menemani hidup gue kelak. Gue sudah meminta petunjuk kepada Allah dengan sholat istikharah. Dan dengan keyakinan hati, gue memilih dia sebagai pelabuhan terakhir gue.
Segala persiapan sudah sepenuhnya selesai. Tinggal menunggu hari H saja.
Oh iya, gue juga menyuruh para sahabat gue untuk datang. Tapi seperti nya sahabat gue yang di Paris tidak bisa hadir karena faktor cuaca. Disana lagi musim salju jadi penerbangan ditutup.
Acara yang gue dan A'a Fachri buat terbilang sederhana. Kami mengusung konsep garden yang akan di laksanakan di rumah oma yang saat ini gue dan mama tempatin. Insyaallah akan dilaksanakan pada hari Jum'at. Karena ingin mengikuti sunnah Nabi Muhammad.
Hari ini Insyaallah Dita dan Lily akan datang. Tapi sepertinya sore hari nanti.
Dita : "Assalamu'alaikum Nar"
Nara : "Wassalamu'alaikum Dit"
Dita : "Nar tolong share loc dong"
Nara : "ok Dit. Sebentar ya... Udah sampe mana?"
Dita : "udah di Surabaya ni, cuman gak tau rumah mu yang mana"
Nara : "oh sebentar ya. Ni gue share"
Gue pun memberikan alamat rumah gue ke Dita. Tinggal Lily ni yang belum ada kabar.
Tak butuh waktu lama, akhirnya Dita pun sampai dengan diantar ayah nya.
"Assalamu'alaikum Nar", sapa Dita.
"Wa'alaikumsalam. Waaahh akhirnya kita ketemu lagi", balas gue.
"Iya ni. Gilak ya lo cepat banget dah mau nikah aja, gak nyangka gue".
"Heheheh.... Om masuk dulu ", saut gue sambil mencium punggung tangan ayah Dita.
"Maaf, om cuman nganter Dita aja. Om ada kerja lagi", jawab ayah Dita.
"Iya Nar. Bokap gue ada tugas di sini, makanya gue sekalian ikut", jelas Dita.
"Oh gitu. Yaudah deh om", balas gue.
"Yaudah kalau gitu om pamit dulu ya. Dita, ayah pamit. Assalamu'alaikum", saut ayah Dita sebelum meninggalkan rumah oma.
"Wa'alaikumsalam. Hati hati om", saut gue.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam, hati hati yah", lanjut Dita.
"Yaudah yuk masuk Dit", pinta gue.
"Mama... Dita datang ni", saut gue.
"Waaahh Dita. Sama siapa kesini?", Tanya mama gue.
"Sama ayah tante", jawab Dita sambil mencium punggung tangan mama.
"Jadi ayah kamu mana?"
"Ayah langsung pergi tan. Ada kerja lagi soalnya makanya gak bisa lama", jelas Dita.
"Oh gitu. Yaudah gak papa. Nara kamu bawak barang Dita ke kamar kamu ya sayang. Soalnya di kamar tamu nanti untuk keluarga umi Henny", jelas mama.
"Ok ma. Yuk Dit gue bantu bawak", pinta gue.
Gue dan Dita pun memasuki kamar. Gue seneng banget bisa sekamar dan tidur bareng lagi sama Dita. Tapi sayang, Lily belum ada kabar ni.
"Eh Lily gimana?", Tanya gue.
"Gak tau Nar, kita telpon aja yuk", jawab Dita.
"Assalamu'alaikum Ly", saut gue dan Dita berbarengan ketika Lily mengangkat telpon.
"Wa'alaikumsalam", balas Lily dari balik layar.
"Ly lo kok gak datang?", Tanya gue.
"Waduuh maaf Nar. Ana gak bisa. Orang tua Ana lagi sakit. Jadi Ana harus jagain mereka. Maaf ya Nar", jelas Lily.
"Oh gitu. Yaudah gak papa Ly. Semoga cepat sembuhnya orang tua kamu"
"Aamiin... Makasih Nar. Oh iya Nar, Ana jadi penasaran kok bisa sih antum di ajak ta'aruf sama A'a Fachri?"
"Heheheh bisa dong....", Gue pun menceritakan semuanya secara lengkap ke Lily dan Dita tentang kisah gue.
"Waaahhh mantap kali, jadi lo langsung bilang iya gitu?", Tanya Dita disamping gue setelah mendengarkan cerita panjang gue.
"Ya enggak, gue awalnya ya kaget. Jadi gue minta waktu seminggu. Ya gue juga minta petunjuk dengan sholat istikharah. Dan entah kenapa hati gue kek yakin aja gitu kalau dia adalah yang terbaik untuk gue. Doain ya we...", Jelas gue.
"Masya Allah Nara. Tuh Dit dengerin Nara. Iya Nar kita pasti doain antum kok. Semoga lancar sampai hari H dan langgeng sampai ke syurga".
__ADS_1
"Aamiin... Makasih Ly doanya", balas gue.
"Eh Dit. Antum gimana dengan Rayyan?", Tanya Lily.
"Oh iya tau gak kalian, gue sama Rayyan kemaren satu kampus lagi. Dan ini kami satu tempat kerja lagi. Ya ampun... Bosen banget gue liat muka dia mulu", jelas Dita.
"Masa sih Dit? Jangan jangan kalian jodoh", balas Lily.
"Kok bisa satu tempat kerja juga?", Tanya gue.
"Iya, gue awalnya gak tau kalau dia kerja disitu juga. Awalnya gue ya hanya nyoba nyoba aja masuk situ kan, eh keterima. Pas masuk kerja di hari pertama gue ketemu sama dia. Yaudah rupanya dia lamar disitu juga", jelas Dita.
"Cie... Cie... Dita", ledek gue.
"Ih apaan sih lo Nar. B aja kali. Malah gue bosen liat wajah dia mulu", balas Dita
"Eh we udah dulu ya. Ana mau beli obat dulu. Nanti kita telponan lagi. Assalamu'alaikum", saut Lily sebelum mematikan telponnya.
"Wa'alaikumsalam. Ok Ly. Cepat sembuh ya orangtua kamu", jawab gue dan Dita.
Gue dan Dita pun meneruskan kegiatan kami. Karena hari ini belum terlalu banyak yang dikerjakan, jadi gue dan Dita pun pergi jalan-jalan keliling kota Surabaya sekalian mengambil baju untuk hari H nanti di tukang jahit.
"Keluarga abah Faiz kapan datang Nar?", Tanya Dita.
"Sepertinya hari Rabu nanti Dit. Soalnya pesantren belum libur Dit", jelas gue.
"Oh gitu. Ketemu lagi sama umi. Kangen banget gue sama umi".
"Heheh iya Dit. Nanti bakalan ketemu kok".
"Oh iya kamu gak ada ketemuan sama A'a Fachri selama masa ta'aruf ini?", Tanya Dita.
"Dia sering juga kok kerumah, ya paling kek cuman nganter makanan gitu dari uminya. Terus kemaren pas sahabat gue dirumah sakit, dia bantu nganterin gue plus temenin gue disana. Itu kali pertama gue boncengan sama dia plus ketemu berdua dalam waktu yang lama hahaha", jelas gue.
"Iiihh mantap kali. Aaakkkhhh gue jadi pengen tau rasanya kek apa?".
"Kamu juga bakalan ngerasain hal itu kok nanti. Yang sabar ya bestie. Nanti datang itu pangeran berkuda eaakk", saut gue.
Kami pun saling bercerita sambil melepas rindu di taman kota sambil meminum es kelapa muda.
Seminggu lagi....
*NEXT*
__ADS_1