
"Li. Gue pengen cerita dan pengen tau tanggapan kamu", saut gue
"Mau cerita apa Nar? Insyaallah kalau ana bisa bantu, ana kasih saran", jawab Lili
"Gini ni. Gue juga gak tau apa yang terjadi sama diri gue. Ntah kenapa setiap ketemu sama Fachri si presiden PONPES itu, jantung gue kayak berdebar kencang gitu. Padalan gue gak ada rasa sama dia. Dan gue juga belum kenal sama dia. Gue pernah gak sengaja tabrakan sama dia pas di kantin. Dan ya baru kali itu lah gue sama dia bicara. Hanya sebatas minta maaf aja sih. Itu kira kira kenapa ya? Gue gak mau Dita tau. Gue gak mau gara gara ini persahabatan ini hancur. Apa gue juga ada rasa ya sama Fachri?", Tanya gue ke Lili
Ngedebuk...
Suara benda jatuh dari arah pintu. Botol minum Dita.
"Dita", saut gue dan Lili berbarengan
"Nara... Kenapa lo gak bilang sama gue kalau lo punya rasa sama Fachri?", Tanya Dita
"Bukan gitu Dit. Lo jangan salah paham dulu", jawab gue
"Salah paham apa? Gue udah tau Nar", saut Dita dengan memotong pembicaraan gue
"Ok biar gue jelasin dari awal ya", saut gue menenangkan Dita
"Gini, gue saat ini belum ada rasa apa apa sama dia. Gue hanya terpukau dengan suara merdunya aja Dit. Gue dan dia juga belum saling kenal. Gue hanya gak tau apa yang terjadi dalam diri gue Dit. Ketika melihat dia jantung gue berdebar. Tapi kami memang belum saling kenal. Sumpah gue. Ya gitu aja sih", jelas gue
__ADS_1
"Dan, kalau lo suka sama dia, gue gak masalah. Gue gak mau persahabatan kita hancur hanya karna soal cinta kayak gini. Gue gak mau kejadian di Paris terulang lagi di sini", sambung gue
"Hemm gue minta maaf Nar. Gue memang suka sama dia, tapi kami juga belum saling kenal. Gue sama dia juga gak pernah jumpa berdua atau pun bicara berdua. Gue hanya kagum dengan ketampanan dan suara merdunya aja Nar", jelas Dita
"Tenang Nar, persahabatan kita lebih kuat dari sebuah rasa cinta", sambung Dita
"Nah gitu dong", saut Lili
Kami bertiga pun berpelukan
"Oh iya Nar. Kalau lo suka sama Fachri juga gak papa kok. Sepertinya lo lebih berpeluang deh untuk sama dia dari pada gue. Kalau gue mah kayak sebuah mimpi hahaha", saut Dita
"Gue sama dia gak ada rasa apa apa", jawab gue
"Jadi gini. Dulu pas di Paris, kami berlima bersahabat tuh. Ada namanya Achille, Blanche, Camille, Bella dan gue. Jadi si Achille ini suka sama gue. Dia gak ngomong gue suka sama lo, enggak. Cuman dia itu kayak nunjukin sikap suka dia gitu. Kayak lebih perhatian, peduli, gitulah pokoknya. Ya menurut gue itu wajar sebagai sahabat kan. Nah suatu hari pas kami berlima hangout gitu, dia ini nanyak kayak ada gak laki laki yang dekat sama gue, gitu lah pokoknya. Tiba tiba si Bella ini pergi gitu aja ninggali kami. Besoknya di tanyalah sama si Camille ini. Si Bella ini teman gue dari Indonesia juga. Nah terus pas di tanyak itu rupanya si Bella ini ada rasa sama si Achille. Yaudah sempat marah juga dia sama gue, tapi ya langsung gue jelasin ke dia kalau gue gak ada rasa sama Achille lebih dari sahabat. Yaudah akhirnya dia paham", jelas gue
"Oh gitu. Jadi kalian masih sahabat kan sampai sekarang?", Tanya Dita
"Masih, tapi ya gak bisa komunikasi, kan ponsel gue di pegang sama umi", jelas gue
"Tenang Nara, persahabatan kita itu lebih kuat. Gue ikhlasin Fachri untuk mu. Gue gak mungkin sama dia. Gue hanya kagum dengan ketampanan dan suara merdunya aja", jelas Dita
__ADS_1
"Sayang deh sama kalian", saut Lili sambil memeluk kami berdua
"Dit lo beneran gak marah kan sama gue?", Tanya gue ke dita
"Enggak Nar. Tenang aja", jawab Dita
"Kalian udah pada makan?", Tanya Dita
"Udah Dit. Antum?", Tanya Lili
"Belum. Ini gue ada beli rujak. Gue lagi pengen makan rujak", jawab Dita
"Waaahh mantap tuh", saut gue
" Ni yuk kita makan", ajak Dita sambil membuka bungkusan rujak yang dia beli tadi
"Lo tadi ke perpus ngapai? Tumben rajin lo baca buku", ledek gue
"Iya, gak papa hehehe", jawab Dita
Sepertinya ada yang Dita sembunyikan. Kira kira apa ya yang disembunyikan oleh Dita?
__ADS_1
*NEXT*