Antara Maghrib Dan Isya

Antara Maghrib Dan Isya
Sahabat Baru


__ADS_3

“gue belum pernah punya sahabat. Pengen deh punya sahabat”. Timpal Dita


“loh masa sih kamu tidak punya sahabat”, sambung Lili


“iya, jadi gue tuh dulu sebelum masuk pesantren, gue lebih suka menyendiri gitu. Gaya gue kan dulu tomboy, jadi orang ngeliat gue tuh kayak aneh aja. ya tapi tetap gue punya teman, tapi kalau sahabat gitu gue belum punya”, jelas Dita


“hemm.. kalau gitu sekarang kamu harus punya sahabat. Nanti gue kenalin”, saut gue


Lili dan Dita bingung dengan kata kata gue.


“hahahah mukanya biasa aja kali”, saut gue saat melihat wajah mereka berdua yang seperti orang bingung


“siapa sahabat baru gue Nar?”, tanya Dita penasaran


“ayuk gue kenalin. Ikut gue”, jawab gue sambil mengajak mereka berdua masuk kedalam kamar


“serius Nar, siapa sih?”, tanya Lili yang juga penasaran


“sini sini. Nah kelihatan gak sahabat baru lo?”, timpal gue


“hah? Sumpah Ana gak ngerti”, timpal Lili


“sahabat baru lo ya kami berdua. Gue dan Lili”, saut gue


“ooohhh… kalian mau jadi sahabat gue?”, tanya Dita


“tentu mau dong, yak an Li”, jawab gue semangat


“iya Dit. Pastinya. Kita kan udah sekamar nih, masa iya enggak jadi sahabat. Kita bakalan jadi sahabat sampai syurga”, lanjut Lili


“Aamiin”, jawab gue dan Dita

__ADS_1


“wah gue punya sahabat baru ni. Kita namain apa ya geng kita?”, tanya gue dengan penuh semangat


“hemmm apa ya?”, tanya Dita sambil mikir


“LITARA… LDN.. apa sih?”, saut Lili


“LDR aja. gabungan dari nama kita”, timpal gue


“kok LDR sih? Nama lo kan Nara”, sambung Dita


“jadi gue tuh kalau sama sahabat gue yang disana sering dipanggil Raya. Kan nama gue Naraya. Jadi kita ambil Raya nya aja. lucu juga sih nama geng nya LDR. Kayak status orang pacaran gitu gak sih hhahah”, jelas gue dengan sedikit ketawa


“oh gitu. Ok juga tuh”, timpal Dita


“ok Ana setuju”, sambung Lili


Menurut kalian gimana? Lucu gak sih nama geng nya LDR? Hahahha


Setelah kami berunding untuk menamai geng sahabat kami, kami meneruskan pekerjaan. Kami melaksanakan sholat zuhur berjama’ah di mesjid lalu kembali ke kantin untuk makan siang.


“waahh udah ramai santri yang kembali ke pondok”, ucap Dita


“iya Dit, kan besok udah mulai masuk”, saut Lili


“oh iya Li, pas masuk nanti kelas putri dan putra di pisah atau digabung?”, tanya gue penasaran


“dipisah Nar antara kelas putri dan putra. Kalau kelas putri di sebelah kanan, sedangkan kelas putra disebelah kiri.”, jelas Lili


“oh gitu. Dit lo nanti jangan salah masuk kelas hahaha”, canda gue


“iihh kok gue sih. Lo juga Nar jangan salah masuk”, jawab Dita

__ADS_1


“eh tapi kalau salah masuk mah gak papa juga sih. Bisa cuci mata sekalian, kesempatan dalam kesempitan hahaha”, sambung Dita dengan ketawa khas nya


“dasar kalau lo ya Dit”, jawab gue


Makan siang kami kali ini begitu ramai. Ada saja bahan candaan yang kami buat, yang pastinya candaan kami ini tidak menyinggung orang lain.


Setelah makan siang, kami kembali ke kamar untuk istirahat sejenak.


“gue mau tidur dulu ya, ntar kalau mau udah ngaji ngaji sholat asar bangunin ya”, pinta gue sambil membaringkan tubuh gue diatas kasur


“ok Nar”, jawab Lili


Setelah istirahat yang cukup. Gue membersihkan diri gue dan melasanakan sholat asar berjama’ah di mesjid.


“sebelum balik ke kamar kita jalan jalan sore yuk. Ke taman gitu kek atau kemana, keliling pesantren”, ajak gue yang masih penasaran dengan lingkungan pesantren


“yuk yuk. Gue juga penasaran dengan lingkungan pesantren”, sambung Dita


“ok biar gue temenin ya”, saut Lili


“kita ke taman belakang, enak disana”, lanjut Lili


“emang disana ada apa aja?”, tanya gue yang semakin penasaran


“ada deh, nanti kalian bakalan tau sendiri. Yuk”, ajak Lili


Kami bertiga pun berjalan menuju taman belakang. Betapa terkejutnya gue dan Dita ketika sampai ditaman belakang. Udara yang sejuk, nyaman, pepohonan yang rindang, ada tempat duduk dan ada juga seperti air mancur kecil yang di bawahnya itu ada ikan ikan kecil yang lucu disudut taman.


“waahh bagus banget tempatnya. Enak, gue suka tempat ini”, saut gue ketika sampai di taman belakang.


“ini cocok buat gue nenangi pikiran”, lanjut gue lagi

__ADS_1


Kami bertiga pun duduk di kursih yang berada didekat air mancur. Menikmati udara sejuk dan bercerita.


*NEXT*


__ADS_2