
Tiba-tiba brukkkk suara jatuh
"auwwww" teriak Lily
"nak kamu tidak apa-apa?, Sayang kamu gak apa-apa?" tanya ibu Wati dan Irfan bareng yang kaget melihat Lily tiba-tiba jatuh.
"kita balik aja ya, kita balik lagi ke sini kalau kamu udah sembuh"ujar Irfan yang khawatir terhadap kekasihnya
"iya nak Lily, kita kembali saja jika nak Lily sudah sembuh kita bakal pergi ke makam Lia"ucap ibu Wati yang juga khawatir melihat Lily
"aku gak apa-apa kok, paling ini cuma luka ringan. lagian kita udah mau dekatkan bu?, jadi rugi" jawab Lily yang masih terduduk di tanah
"kita udah perjuangan datang kesini dengan jalan kecil yang di penuhi ranting gini, masa kita pulang gitu aja, kita lanjut yok" ucap Lily sambil berusaha bangun
Irfan dan ibu Wati sangat salut melihat kegigihan Lily, demi membantu Ica rasa sakit ia abaikan.
melihat Lily yang sangat gigih tentunya ibu Wati dan Irfan pastinya tidak mau Lily kecewa. akhirnya mereka meneruskan perjalanan menuju ke makam ibu Lia, dengan Irfan yang menggendong Lily.
selang beberapa menit kemudian mereka sampai di makam ibu Lia, betapa syok nya Lily dan Irfan saat melihat makam itu benar-benar rapi, bersih dan banyak bertaburan bunga sangat berbeda jika di lihat dari jalan yang mereka lewati.
Irfan pun menurunkan Lily dari gendongannya.
"makam bu Lia sangat bersih" ujar Lily
"saya selalu membersihkannya, saya selalu datang ke tempat terakhir Lia" sahut ibu Wati
"ibu maaf mungkin saya lancang, tapi saya ingin tanya di mana keberadaan suami ibu Lia?, apakah beliau sudah tidak ada juga" tanya Irfan
"Bramantyo suami Lia dan ayah kandung Ica. saya menjadi bingung kenapa dia berselingkuh dengan Endah, padahal Bram sangat mencintai Lia dia dulu sangat berjuang untuk mendapatkan Lia, sejak saya mendapatkan surat dari Lia dan mengetahui Bram telah menyelingkuhi Lia saya sangat membenci Bram" cerita ibu Wati
"tapi setelah saya bertemu langsung dengan Bram pada saat Lia meninggal saya memiliki keyakinan baru pasti ada yang salah dengan Bram" ujar ibu Wati
"disaat dia melihat Ica menangis memanggil Lia Bram begitu kuat memeluk anaknya dan dia pun menangis juga, saya tidak melihat kepalsuan dari tangisan Bram pada saat itu" sambung ibu Wati
"dan selang beberapa hari setelah Lia meninggal dan Ica sakit parah karena trauma dan ibunya yang meninggal, membuat Bram semakin terpuruk, beberapa kali juga terdengar suara cekcok antara Bram dan Endah" ujar ibu Wati yang masih bercerita
"dan Endah menelpon pihak rumah sakit jiwa untuk Bram ke sana. di situ saya yakin bahwa ada hal yang tidak beres yang terjadi pada Lia dan Bram" ujar ibu Wati
"nak jika kalian ingin menemuinya maka kalian boleh datang ke rumah sakit jiwa di daerah sini dan tanya kan saja pada perawatnya pasien atas nama Bramantyo" ujar ibu Wati yang duduk di samping Lily dan mengusap rambut Lily
__ADS_1
mendengar hal tersebut Lily menganggukkan kepalanya.
"bu,, di depan makam ibu Lia saya berjanji dengan ibu bahkan dengan ibu Lia saya dan sahabat-sahabat saya akan menjaga Ica dan kami juga akan mencari tau kebenarannya" ucap Lily sambil memegang kedua tangan ibu Wati
"terimakasih nak,... terimakasih akhirnya daya bisa tenang melihat Ica yang begitu disayangi oleh kalian" ucap Ibu Wati sambil memeluk Lily sedangkan Irfan yang melihat hal tersebut benar-benar terharu, dia benar-benar tidak salah memilih Lily menjadi tuan putri di hati nya.
"ya udah nak sebaiknya kita pulang, kamu harus mengobati luka mu, jika kamu sudah sembuh kamu boleh ajak Ica ke sini" ucap Ibu Wati lagi dan di iyakan oleh Lily
"bu Lia kami pamit pulang dulu ya, kami janji bakal menjaga Ica untuk ibu" ucap Lily sambil mengusap batu nisan ibu Lia
Irfan pun menggendong Lily lagi dan mereka berjalan melewati jalan sempit dan penuh ranting tadi, setelah berjalan sambil ibu Wati menceritakan beberapa hal tentang Ica lagi akhirnya mereka sampai ke rumah ibu Wati kembali.
"nak obati dulu luka Lily" ucap ibu Wati pada Irfan dan di anggukin oleh Irfan
"gak perlu, sebaiknya kita balik aja dulu, nanti kita bersihin lukanya di markas aja" jawab Lily
"oh ya bu Wati, Ica sekarang tinggal di markas Irfan dan teman-temannya dan sekarang Ica juga di jagain oleh teman-temannya Irfan juga, kalau ibu mau ke sana ibu boleh, pasti Ica akan senang" ucap Lily
"iya bu, kalau perlu ibu tinggal saja di sana soalnya terkadang Ica juga sendiri kalau teman-teman pada pulang" ucap Irfan lagi
"ibu sangat merindukan Ica nak, tapi kalian duluan saja dulu, saya masih harus memantau Endah di sini, nanti saya akan kabarin kalian jika ada hal y g mencurigakan" jelas ibu Wati dan di iyakan oleh Lily dan Irfan
akhirnya Lily dan Irfan pamit dan menuju ke mobilnya. sesampainya di mobil Irfan langsung menancap gas mobilnya supaya tidak dilihat oleh Amira dan ibu Endah
"aku gak apa-apa kok Fan, hari ini rasa sakit yang aku rasakan tidak akan sebanding dengan rasa sakit yang Ica rasakan nanti saat kita memberi taukan semuanya ke Ica" ucap Lily sedih
"hey.. sayang kamu jangan sedih gini, besok kita ke RS jiwa ya, kita ketemu sama ayah Ica mungkin kita bisa tau alasan ayah Ica berselingkuh dan jika kita melihat ayah Ica di hasut ataupun semacamnya kita bisa ajak Ica ketemu sama ayahnya juga" ucap Irfan lembut dan di iyakan oleh Lily
"kamu mau pulang ke rumah atau gimana" tanya Irfan lagi
"aku ke markas Fan, aku juga udah kabarin sama mama dan papa buat nemenin Ica malam ini" ujar Lily
setelah hampir satu jam mereka melakukan perjalanan pulang ke markas akhirnya mereka sampai juga dengan Lily yang ketiduran di mobil karena menahan rasa sakit di kakinya. Irfan pun menggendong Lily dalam keadaan tertidur dan membawanya masuk ke dalam markas ataupun rumah yang di tepati oleh Ica.
melihat Lily yang berada di dalam gendongan Irfan dalam keadaan mata terpejam dan kaki yang luka sontak membuat yang lain terkejut dan khawatir.
"ya ampun Fan, Lily kenapa" tanya Rita panik
"kok bisa gini sih, kalian habis dari mana?" tanya Ica yang juga panik
__ADS_1
"ceritanya panjang, tolong ambil kota obat di laci dong" ujar Irfan yang menidurkan Ica di kamar
Irfan membersihkan luka Lily dengan telaten dan setelah membersihkan luka Lily dia meninggalkan Lily di kamar untuk beristirahat. Irfan juga mengajak temannya dan teman Lily untuk keluar dari kamar yang ditepati oleh Lily.
"pak bos, ibu bos kenapa?" tanya Azmi yang melihat Irfan menyandarkan diri di sofa
"dia gak apa-apa kok, tadi terjatuh pas lari-lari di taman" bohong Irfan, karena ia belum bisa menceritakan semuanya apalagi ada Ica di sana
"ya ampun Irfan kenapa gak hati-hati sih, teru kenapa gak bawa Lily ke rumah sakit" ucap Lisa
"dia gak mau" ucap singkat Irfan
"azab itu udah azab, pacaran gak ingat waktu sampai kita nunggu lama di sini, tuh paling kalau Lily engga jatuh gak mungkin si bos mau gak mau balik-balik" sarkas Azmi
"Lex loe kunci bentar mulut rombeng ni anak, sebelum gue tendang dari sini" ucap Irfan yang memejamkan matanya
"udah diam Mi" sahut Alex yang berdiri di samping Ica.
keesokan harinya para cowok sudah berada di markas untuk menjemput para cewek, sedangkan Irfan dan Lily hari ini tidak ke sekolah dengan alasan ingin ke acara pesta sepupu Irfan.
"Fan loe kok pakai baju bebas sih?" tanya Harris yang melihat Irfan baru sampai ke markas
"gue hari ini izin mau ke tempat sepupu gue" jawab Irfan
"sama Lily juga" tanya Ica
dan di anggukan oleh Irfan yang membuat Ica sedih karena kalau tak ada Lily pasti di akan di bully
"udah loe tenang aja ada Alex sama yang lain, loe gak bakal di bully" sahut Irfan yang melihat raut wajah Ica
"hey.. kan ada aku" jawab Alex dan di anggukan oleh Alex
Alex,Ica,Rani,Harris,Rizky,Lisa,Azmi dan Rita oun berangkat ke sekolah. sedangkan Irfan dan Lily hari ini akan pergi ke RS jiwa untuk mencari tau tentang ayah Ica. Lily yang kakinya masih sakit pun berjalan pelan-pelan menghampiri Irfan yang sudah menunggunya.
"ayok berangkat" aja Lily
"yok sayang" jawab Irfan
akhirnya Irfan dan Lily pun pergi menuju ke RS jiwa. di mobil Lily dan Irfan membahas tentang rencana mereka, Lily menjelaskan kepada Irfan panjang lebar, sedangkan Irfan mendengarnya dengan baik.
__ADS_1
sesekali Irfan melirik kearah Lily yang sedang berbicara, dia benar-benar beruntung mendapatkan Lily. dari kemaren Lily sangat semangat dalam mencari tau tentang keluarga Ica, bahkan kakinya sakit saat menuju ke makam ibunya Ica dan hari ini kakinya belum sembuh pun dia pergi menemui ayahnya Ica.
ini benar-benar perjuangan besar Lily untuk Ica. akhirnya hampir satu jam lebih perjalanan akhirnya mereka sampai ke tempat tujuan mereka.