
Pov di dalam rumah Amira
tok..tok..bunyi ketukan pintu
"Alex kamu kenapa?" tanya Amira sambil membuka pintu dan terkejut dengan kondisi Alex yang berantakan ditambah lagi memar disudut bibir Alex
"aku boleh masuk?" tanya Alex dengan murung
"boleh-boleh kamu masuk cepat, aku bakal obatin luka kamu"ucap Amira sambil menarik Alex.
(" Tuhan bantu aku supaya cepat selesai di sini, soalnya hawa setan di sini sangat kental"batin Alex)
"kamu duduk di sini dulu aku ambil kotak obatnya dulu" ucap Amira namun di tahan oleh Alex
"Amira boleh gak aku minta air putih, aku haus" ucap Alex sedih dan menahan tangan Amira
"boleh dong, kamu tunggu dulu ya aku ambil" ucap Amira dan pergi mengambil air
setelah beberapa menit Amira kembali dengan membawakan minuman
"nih Lex kamu minum dulu, aku bakal ambil kotak obat" ucap Amira
"please lo duduk di sini aja dulu sama gue" tahan Alex lagi dan di anggukin oleh Amira
"kamu kenapa sih" tanya Amira sambil melihat Alex yang sedang meneguk minumnya
"ceritanya panjang, boleh bantuin aku dulu buat bersihin luka ini" ucap Alex
"boleh, bentar ya aku ambil kotak obatnya dulu" ujar Amira dan pergi dari ruangan tamu
di saat Amira pergi untuk mengambil kotak obat, Alex langsung menuangkan obat tidur ke dalam air yang ia minum tadi dan kemudian dengan buru-buru ia menyimpan obat itu lagi dan kembali berpura-pura sakit
"awhhhh, sakit banget" ucap Alex yang berpura-pura
"sakit banget ya, sini aku obatin" ucap Amira yang ingin membersihkan sedikit darah di sudut bibir Alex, namun Alex menahan tangan Amira
"kenapa kamu masih tetap baik sama aku?, padahal aku udah terlalu jahat sama kamu" ucap Alex dengan menatap Amira
"itu karena aku cinta sama kamu Lex, mending kamu jangan banyak bicara dulu, biar aku obatin kamu dulu" ucap Amira
"makasih ya, oh ya mending kamu minum dulu, biar kamu fokus ngobatin aku" ucap Alex tersenyum
"tapi ini air bekas aku gak apa-apa kan?" tanya Alex lagi
"iya gak apa-apa lah, jangankan air bekas kamu yang ada di dalam gelas, air dalam mulut kamu aja aku mau" ucap Amira yang mengambil air di gelas Alex dan meminumnya
__ADS_1
("sumpah jijik banget gue, Tuhan jauhkanlah aku dari iblis wanita gila ini. bahkan dia tidak merasa malu sama sekali setelah mengatakan hal seperti itu kepada seorang laki-laki")batin Alex
"ha..... lega, air ini lebih manis Lex karena bekas kamu" ucap Amira setelah minum
"hehehe, iya" ucap Alex yang merasa jijik
"waoaaammm,aku ngantuk benget Lex" ucap Amira dan kemudian ia tertidur di sofa
Alex pun langsung menuju ke kamar yang di maksud oleh ayahnya Ica, ia langsung mengambil kotak kayu yang terletak di bawah kasur dan tak lupa pula ia masuk ke kamar ibu Endah untuk mencari sertifikat rumah milih ayahnya Ica.
setelah mendapatkan keduanya Alex langsung keluar, namun saat melewati ruang tamu ia melihat Amira yang masih tertidur karena pengaruh obat, kemudian Alex langsung mengambil ponsel Amira dan menghapus histori panggilannya.
selesai menghapusnya dan tak meninggalkan jejak apapun, Alex langsung pergi dari rumah tersebut dan menuju ke mobil.
blammm suara pintu mobil di tutup
"cepat jalan" ucap Alex
Azmi pun langsung menancap gas mobilnya.
"gimana Lex?tanya Irfan
"aman, gue dapat semuanya dan tadi gue juga udah hapus log panggilan gue ke Amira" jelas Alex yang merasa lega
"syukurlah, semoga kita bisa membantu om Bramantyo dan Ica ya" ucap Lily
"gue ngos-ngosan , lo berdua boleh gak, gak usah pamer kemesraan dulu" ucap Alex sewot
"suka-suka gue" ucap Irfan singkat
"lo baru segitu lihat aja udah kesel, lah gue dari tadi liatin mereka gitu mulu, apa gak trauma ini mata gue" celetuk Azmi
"makanya punya pacar dong, biar gak iri mulu sama orang" ejek Lily
"PDKT elit disaat ngungkapin sulit" ejek Lily lagi yang membuat Irfan tertawa sedangkan Azmi dan Alex saling pandang-pandangan
"eh gue mah baru mulai, ni bocah nih yang udah lama tapi masih di situ-situ aja gak ada perkembangan" ujar Azmi
"jangan sampai lu jadian sama monyet tanpa bulu tadi" celetuk Azmi lagi
"eh amit-amit gue, makanya lo bantuin gue buat ngungkapin perasaan gue sama Ica" sahut Alex
"gak gentleman banget jadi cowok" ejek Lily yang bersender di bahu Irfan
"kayak gue dong, sat set sat set" ucap Irfan sombong
__ADS_1
"eh Lex lo serius mau nembak Ica, kalau ia gua bakal kasih tau tempat terbaik buat lo"ucap Azmi yang fokus nyetir
"gue serius Mi, please bantuin gue" ucap Alex dengan penuh harapan
"Azmi lo percaya" ucap Irfan cuek
"gue beneran" sahut Azmi yang meyakinkan Alex
"ini, gue kasih tau sama lo tempat yang paling cocok, di gedung pencakar langit, di tingkat paling atas" ucap Azmi
"wihh tinggi banget gilak" sahut Alex sedangkan Irfan dan Lily menyimak
"nah makanya, tempat itu paling cocok buat lo, nih misalnya lo di terima sama Ica lo bakal mendapatkan momen paling bahagia plus keren banget untuk hari jadian lo berdua.dan kalaupun lo di tolak, lo gak akan merasakan sedih sepanjang hati ataupun berbula-bulan"jelas Azmi
"gue bakal sedih banget sih kalau Ica nolak gue, meskipun gu..." ucap Alex dan langsung di sela oleh Azmi
"percaya sama gue lo gak akan sedih dalam waktu yang lama, karena kalau lo di tolak sama Ica lo tinggal loncat tuh dari atas ke bawah, udah mati lu kan jadi gak ngerasain sedih lagi" hahahhahhahha ucap Azmi sambil ketawa
hahahhahaha"ketawa Irfan dan Lily
"sialan lo, gue udah serius" ucap Alex yang kesel.
akhirnya mereka pun sampai ke markas lagi,lalu segera menemui om Bramantyo dan menyerahkan kotak dan sertifikat rumahnya.
om Bramantyo sangat syok saat melihat Alex berhasil mengambil kotak tersebut, bahkan bukan hanya kotak tapi juga sertifikat rumah miliknya dan almarhumah istrinya dulu.
ketika semuanya sibuk mengobrol sambil melihat foto-foto kenangan dari almarhumah ibunya Ica, kemudian om Bramantyo mengatakan sesuatu kepada Lily dan teman-temannya. sehingga membuat Ica menangis.
"nak...
......................
......................
......................
Hai guys dukung terus author ya
jangan lupa follow, like,comment, dan tambahkan ke daftar favorit kalian, supaya kalian mendapatkan notifikasi saat author update.
maaf jika ada kata-kata yang typo
byebye....
...----------------...
__ADS_1
......................