
sesampai di rumah sakit jiwa, Irfan dan Lily pun langsung menemui seorang perawat yang memang sudah di hubungi oleh mama Divia. malam sebelum mereka akan pergi ke rumah sakit jiwa, Irfan menceritakan semuanya kepada mama dan papanya, makanya mamanya menelpon orang rumah sakit jiwa untuk mempermudah Lily dan Irfan mencari ayah Ica.
"Irfan anak dokter Divia ya?" tanya seseorang yang menghampiri mereka
"iya mas, saya Irfan anaknya dokter Divia" ucap Irfan
"oh kalau begitu perkenalkan saya Fino salah satu pekerja di RS ini" ucap perawat tersebut yang bernama Fino
tatapan Fino terhadap Lily yang tidak berkedip sama sekali membuat Irfan kesel
"saya Lily mas,mohon bantuannya untuk bertemu dengan pasien yang bernama pak Bramantyo" sahut Lily dengan sedikit senyum yang membuat Fino juga senyum
Irfan yang melihat hal tersebut pun langsung membawa Lily pergi untuk menuju ke tempat ayah Ica, dan meminta Fino menunjukan jalannya.
"mas tolong antar kan kami ke tempat pak Bramantyo" ucap Irfan yang memecahkan lamunan Fino
Lily yang terlihat risih pun di tatap Fino langsung memeluk lengan Irfan
"ayok sayang nanti kelamaan lagi" ucap Lily yang manja ke pacarnya
"iya sayang, ayok" jawab Irfan yang mengacak rambut kekasihnya
"ayok mas Fino" ucap Irfan
"eh iya..iya" ucap Fino dan berjalan menuju ke ruangan ayah Ica di rawat
di perjalanan Fino selaku perawat baru di RS jiwa tersebut, Fino menceritakan beberapa kelakuan pak Bramantyo selama di rawat olehnya.
"secara keseluruhan pak Bramantyo ini tidak seperti ODGJ lainnya, beliau mengetahui semua yang kita bilang, beliau terkadang juga menjawab pertanyaan dari kita dengan nyambung" ucap Fino sambil berjalan menuju Bangsalnya pak Bramantyo.
"tapi ya sesekali beliau sering mengamuk, bahkan jika melihat perempuan, makanya perawat yang merawat beliau para mantri" sambungnya lagi yang berdiri di depan bangsal pak Bramantyo.
"ini bangsal nya, saya harap kalian bisa mendapatkan apa yang kalian cari, dan buat kamu Lily, kamu kan cewe, jadi ya harus hati-hati" ucap Fino sambil membuka kunci bangsalnya pak Bramantyo
"saya permisi dulu jika kalian butuh pertolongan kalian bisa menekan tombol biru yang ada di dinding bangsal ini" ucap Fino dan beranjak pergi
Irfan dan Lily masih berdiri di depan bangsal tersebut, Irfan sangat ragu membawa Lily masuk kedalam apalagi setelah mendengar cerita perawat tadi
"aku aja ya yang masuk, kamu tunggu di sini" ucap Irfan
"gak mau Fan, aku mau masuk juga, aku mau lihat keadaan pak Bramantyo gimana" ucap Lily
"tapi aku takut kamu kenapa-napa sayang, kamu gak dengan tadi cerita dari perawat itu" bujuk Irfan sambil membekap pipi Lily
"Fan kan ada kamu, kamu bakal jagain aku kan" ucap Lily yang akhirnya meluluhkan hati Irfan
tanpa berfikir lama keduanya masuk kedalam, terlihat di dalam pak Bramantyo menetap kosong ke arah jendela besi yang ada di bangsal tersebut.
"permisi pak..." ucap Lily
pak Bramantyo yang mendengar suara perempuan pun langsung mengamuk dan menyerang Lily
"kurang ajar kamu endah, gara-gara kamu saya kehilangan istri tercinta saya, ini semua gara-gara kamu" amuk pak Bramantyo yang menarik-narik Lily yang beliau kira adalah Endah
__ADS_1
"pak lepaskan pacar saya" ucap Irfan yang berusaha melepaskan Lily dari tangan pak Bramantyo
"oh kamu sudah memiliki pacar lain, dulu kamu menjebak saya, kamu membuat saya jauh dari anak dan istri saya" ucap pak Bramantyo yang semakin emosi dan mencekik Lily
"pak lepasin Lily" ucap Irfan yang kemudian terhempas karena dorongan keras pak Bramantyo
"minggir kamu, hari saya juga akan membuat kamu mati endah, rasakan ini" ucap pak Bramantyo yang mencekik Lily semakin keras
"p..ak...sa.saya..bu..bukan..I..bu En..dah..., Sa..ya..saha..bat I...Ica a...nak ba..pak" ucap Lily terbata bata
mendengar hal tersebut pak Bramantyo langsung melepaskan Lily dan memeluknya, beliau mengira Lily adalah Ica
"Ica...Ica anak ayah, nak maafkan ayah nak, maafkan ayah" tangis pak Bramantyo sambil memeluk Lily
dengan pelan Lily pun berbicara dan membujuk pak Bramantyo
"pak, saya bukan Ica, saya Lily sahabat Ica" ucap Lily dengan lehernya yang merah.
"jadi kamu bukan anak saya?" ucap pak Bramantyo yang melepaskan pelukannya
"tolong..tolong...bawa saya bertemu dengan anak saya" ucap pak Bramantyo memohon
"pak, bapak tenang ya, Ica aman sama kami, Teman-teman kami semua menjaga Ica" ucap Irfan dan di anggukan oleh Lily
"makanya kami datang kesini untuk mencari tau kebenarannya, supaya kamu bisa menceritakan kepada Ica secara perlahan, karena kata ibu Wati Ica mengalami trauma masa lalunya sehingga membuat ia lupa akan masa kecilnya" jelas Irfan yang membuat pak Bramantyo sedih
"kalian kenal dengan Wati?" tanya pak Bramantyo untuk meyakinkan
"pak kami mohon, tolong bantu kami, untuk menghukum ibu Endah yang sudah begitu jahat terhadap Ica, Ica di siksa, di perbudakan di rumahnya sendiri" ucap Lily lagi sambil memohon dan memegang tangan pak Bramantyo
"apa anak saya di siksa" ucap pak Bramantyo dengan raut wajah panik
"pak, pak tenang dulu, sekarang Ica tidak tinggal di rumah itu lagi, dia sudah tinggal di tempat saya, dan dia aman sekarang" jelas Irfan
"dia terus mencari keberadaan bapak dan ibunya, makanya kamu kesini demi Ica" sambung Irfan lagi yang berhasil meluluhkan hati pak Bramantyo.
Pak Bramantyo melihat ke arah Lily dan menangis meminta maaf karena hampir membunuh Lily
"nak...maaf kan saya, nyawamu hampir saya hilang gara-gara saya" ucap pak Bramantyo sambil mengusap Lily
"pak,, gak apa-apa kok, saya tau bapak melakukannya karena tidak sengaja" ucap Lily menenangkan pak Bramantyo
"sini nak sini" ucap pak Bramantyo mengajak Irfan dan Lily untuk duduk di kasur nya
pak Bramantyo pun menceritakan kan semua kejadian yang sebenarnya pada Lily dan Irfan
"dulu saat saya bekerja di perusahaan yang besar, saya di tugasnya oleh atasan saya untuk menjadi direktur di perusahaan cabang di desanya Endah, dari desa Endah dengan desa saya dan Lia jaraknya memakan waktu 2 jam lebih, tapi saya tetap memilih untuk pulang ke rumah saya, karena saya tidak mau meninggalkan Lia sendiri dan Lia oun tidak mau pindah ke desa tempat saya kerja, selama satu tahun lebih saya bekerja di perusahaan tersebut semuanya masih aman-aman saja" cerita pak Bramantyo
"malam itu saya tidak balik ke rumah saya, saya menelpon Lia dan bilang saya akan menginap di kantor karena pekerjaan saya yang menumpuk" sambung Pak Bramantyo
"malam itu kejadian begitu cepat, Endah telah menyusun semuanya dengan matang, tiba-tiba Endah dan beberapa warga datang mereka menuduh saya menghamili Endah. saya sudah menjelaskan tapi Endah lebih pintar memutar balikkan fakta dia menangis sejadi-jadinya sehingga membuat warna membawa saya dan menikahi Endah secara siri malam itu juga" cerita pak Bramantyo
"malam itu saya benar-benar resah, saya kecewa kepada diri saya sendiri karena telah mengkhianati Lia, tapi saya bersumpah saya sama sekali tidak menyentuh Endah" sambung pak Bramantyo yang masih senantiasa menceritakan semua kepada Irfan dan Lily
__ADS_1
"beberapa bulan kemudian Endah melahirkan putrinya di saat Lia juga hamil 8 bulan, dan satu bulan kemudian Lia melahirkan anak pertama kami yaitu Ica Syakira, putri kecil kami, putri yang sangat saya nantikan. kami berdua sangat bahagia"ucap pak Bramantyo
"melihat kami bahagia Endah yang mengawasi kami, dia berencana menghabisi anak saya dan Lia. di situ saya sangat takut akan kehilangan Lia dan anak saya, mengetahui kelemahan saya adalah Istri saya Lia dan anak saya Ica, Endah memanfaatkan itu semua dengan selalu mengancam saya akan menghabisi anak saya dan istri sah saya.
sampai Ica berumur 2 tahun Endah datang ke rumah saya dan mengatakan bahwa anaknya adalah anak saya, dia juga mengatakan bahwa kami telah menikah siri. hal tersebut membuat Lia kecewa dengan saya, apa lagi Endah adalah orang yang pernah Lia tolong dulu, mengetahui hal itu saya juga sangat terkejut, tapi apa boleh buat semua nya telah terjadi, tapi saya berani bersumpah demi apapun bahwa saya tidak pernah menyentuh Endah selama ia menjadi istri siri saya"ujar pak Bramantyo
"tapi pak kata ibu Lia di surat ya g di kirimkan ke ibu Wati, katanya bapak melakukan kdrt ke pada ibu Lia" sahut Irfan
"kenapa bapak melakukan itu, kata bapak tadi, bapak sangat mencintai ibu Lia dan Ica tapi kenapa bapak selalu memukul ibu Lia" sambung Lily
"surat untuk Wati" ucap pak Bramantyo sambil sedikit tersenyum
"saya terpaksa melakukan hal tersebut, Endah tinggal di rumah saya dan Lia, Endah mengancam saya untuk memperlakukan dia lebih istimewa dari pada Lia dan Ica kalau tidak dia akan membunuh anak dan istri saya, tentu saja saya tidak peduli yang ada di dalam hati saya cuma Lia istri saya dan Ica anak saya, dan yang saya pikirkan pada saat itu ada bagaimana caranya agar Lia mau memaafkan saya.
melihat saya yang selalu perhatian kepada Ica dan sama sekali tidak peduli pada anak Endah, bahkan saya tidak tau nama anak Endah, Endah sangat marah dan menjatuhkan Ica dari tangga, untuk saat itu saya melihat dan dapat menolong Ica kalau tidak Ica sudah tiada.
melihat tingkah laku Endah yang benar-benar nekat, akhirnya saya mendengarkan kata dia, saya mulai menjauh dari anak saya, saya membentak istri saya, bahkan saya memukul istri saya atas suruhan Endah, saya tidak ada kekuatan untuk melawan Endah karena saya takut Endah akan menghabisi keluarga kecil saya.
apalagi setelah saya tau Endah telah jadi seorang psikopat dia menghabisi keluarga nya sendiri tanpa ampun, hal tersebut yang membuat saya takut kalau dia akan melakukannya kepada keluarga saya.
setelah saya melakukan kdrt kepada Lia saya sangat hancur, saya melihat Ica yang tertidur dengan mata bengkak karena menangis saat melihat ibunya saya tampar, dan pada saat itu pula saya melihat Lia di kamar sedang menulis selembar surat untuk seseorang, dan ia menyimpannya di laci.
keesokan harinya saya di tugaskan untuk pertemuan penting di luar kota, sebelum pergi saya menyempatkan pergi ke kamar Lia dan melihat Lia tertidur dengan pipi yang merah dan mata yang sembab, di situlah saya mencium istri saya untuk terakhir kalinya, kemudian saya melihat surat yang di tulis oleh Lia dan ternyata itu untuk Wati.
saya sendiri yang membawa surat itu untuk Wati, entah kenapa saya sangat khawatir meninggalkan istri dan anak saya dengan Endah, saya takut dia akan melukai anak dan istri saya. firasat dan ketakutan saya terbukti benar.
setelah saya berangkat pergi, saya mengirimkan surat untuk Wati yang dikirim oleh Lia, dan di saat saya sedang meeting dengan klien, saya mendapatkan telpon dari kepala desa bahwasanya istri saya meninggal dunia karena kecelakaan.
saya benar-benar hancur, saya langsung pulang tanpa peduli terhadap pekerjaan saya, sesampainya di rumah saya melihat Endah yang menangis di samping jasad Lia, dan sangat terlihat jelas bahwa itu adalah tangisan palsu. kemudian saya berlari mengambil Ica yang menangis di gendongan orang, dan mencium, memeluk Lia yang terbaring sudah tidak bernyawa.
beberapa saat kemudian Wati datang, menangis dan memeluk Lia, Wati juga mengambil Ica dari saya dan menggendongnya sampai ke pemakaman Lia"cerita pak Bramantyo panjang lebar dan air mata yang telah membasahi pipi nya.
mendengar cerita tersebut sontak membuat Irfan dan Lily sangat terkejut. bahkan Lily sampai mengeluarkan air matanya mendengar cerita dari pak Bramantyo. dia benar-benar tak habis pikir dengan jahatnya Endah di tambah lagi dengan anaknya juga sama.
"tapi pak, kenapa bapak bisa masuk kesini" tanya Irfan
"satu minggu setelah meninggalnya Lia dan Ica di rawat oleh Wati saya mulai berani melawan Endah. hal itulah yang membuat Endah menelpon pihak rumah sakit jiwa dan mengatakan saya gila karena kepergian istri saya. saya di suntik obat penenang tiap hari, dan sudah belasan tahun saya mencekam di rumah sakit ini"jelas pak Bramantyo
"kan pihak RS bakal memeriksa kalau bapak tidak sakit" ujar Lily
"heum, ada seseorang di sini yang bekerja sama dengan Endah untuk tetap mengurung saya di sini, bahkan mereka memberi saya obat-obat yang membuat saya sakit, pada akhirnya nak Fino datang dan menolong saya, dia berpura-pura memberi obat ke saya, padahal yang dia berikan adalah vitamin untuk kesembuhan saya" ucap pak Bramantyo
sungguh teriris hati Lily mendengar hal tersebut, dia benar-benar tak percaya ada manusia busuk seperti ibu Endah. dan apa yang di yakini oleh ibu Wati benar, ada hal yang tidak beres dengan masalah keluarga Ica.
Irfan pun yang melihat kekasihnya bersedih langsung merangkul Lily untuk menyemangati nya.
"heyyy, sayang kamu jangan nangis ya, aku bakal telpon mama buat bantuin pak Bramantyo supaya keluar dari sini dan bertemu Ica" ujar Irfan sambil mendekap Lily
mendengar penuturan Irfan sungguh membuat Pak Bramantyo senang, akhirnya setelah sekian lama ada orang yang menolongnya dan setelah penantian lama juga beliau akan melihat anaknya lagi.
Irfan kemudian menelpon mamanya dan menceritakan semuanya. dengan senang hati mama Divia akan membantu pak Bramantyo keluar dari rumah sakit jiwa dan bertemu anaknya. Lily dan Irfan menunggu kedatangan mama Divia yang datang.
satu jam kemudian mama Divia dengan mengajak beberapa perawat di rumah sakitnya sampai di rumah sakit jiwa yang merawat pak Bramantyo.
__ADS_1