ARWAH PENUNGGU SEKOLAH

ARWAH PENUNGGU SEKOLAH
Episode 1


__ADS_3

Konon gedung itu bekas markas


besar pasukan Belanda pada masa penjajahan. Markas besar tempat penyimpanan


senjata dan tempat persediaan makanan. Di sana juga ada sebuah penjara dengan


terali-terali besi yang sangat kuat. Penjara itu kini dijadikan kantor kepala


sekolah. Ada ruang bawah tanah yang kini sudah ditutup rapat dengan pintu besi.


Ruang-ruang bawah tanah itu bekas para sandera dan para mata-mata Belanda. Ruang yang


ditakuti para manusia, gelap dan dingin. Ruang para sandera itu disebut juga


dengan ruang kematian!


Dinding-dinding sekolah itu berwarna


putih dengan paduan list berwarna abu-abu gelap. Pilar-pilar yang menyatukan antar


gedung dan koridor didesign sedemikian rupa. Bangunan itu sudah mengalami


beberapa perubahan dan revisi sesuai zamannya. Jendela-jendela besar di setiap


ruangan membuat sekolah itu terlihat sangat elegan. Lantainya terbuat dari


granit berwarna keabuan.


Sekolah itu memang tidak


terlihat angker, namun ada cerita lain yang membuat bulu kuduk merinding. Konon


sekolah itu ada penunggunya. Seorang kapten Belanda yang kejam dengan wajah


menyeramkan. Penampakan gadis Belanda tanpa kepala berlumuran darah juga sering


muncul di sana. Sosok itu sangat menakutkan. Sosok gadis Belanda abad


pertengahan dengan pakaian panjang ala kerajaan. Dari lehernya mengalir darah


segar yang memuakkan. Kuku-kukunya panjang kehitaman. Sosok itu muncul dikala


senja dan ia mencari-cari kepalanya yang dibuang entah kemana.


Konon gadis Belanda itu tewas


digorok orang tak dikenal pada masa penjajahan Belanda. Gadis itu putri seorang


kapten Belanda bernama Mark Gilbert.  Belum lagi sosok laki-laki berwajah mengerikan


yang sering muncul dengan suara-suara mendecit seperti rantai besi. Konon


laki-laki berwajah mengerikan itu seorang pengawal kapten Belanda yang


dipenggal kepalanya karena dianggap sebagai pemberontak. Kakinya dirantai


besi.


Kamar mandi di sekolah itu


memang baru beberapa tahun diperbaiki. Kamar mandi berukuran sedang dengan tiga


toilet di bagian laki-laki dan tiga di bagian perempuan. Lampu kamar mandi


sering mati walau sudah beberapa kali diganti. Dindingnya kini penuh


bercak-bercak merah kehitaman. Terlihat suram dan menakutkan. Tak jarang


seorang pelajar ketakutan ketika di kamar mandi. Mereka melihat sosok tanpa


kepala yang berdiri terbalik di langit-langit kamar mandi.


Siang itu seorang


pelajar berada di kamar mandi sekolah. Ia berdiri di urine sambil celingukan


kesana-kemari. Cerita tentang penampakan di sekolah pun sudah didengarnya.


Tiba-tiba saja terdengar suara pintu yang berderit.


Krek...


Suara itu


terdengar nyaring dan menakutkan. Seorang pelajar bertubuh sedikit kurus


memelototkan matanya sambil mengawasi toilet yang kosong. Ia berdiri di urine

__ADS_1


dengan jantung berdetak tidak menentu. Kamar mandi sekolah berukuran sedang


dengan tiga toilet itu terlihat temaram. Lampunya seperti hangus di bagian


pangkalnya. Tidak ada siapa-siapa di sana selain dirinya. Tiba-tiba saja bulu


kuduknya merinding tiada terkira. Ia tercekat ketika suara itu berbunyi lagi.


Kali ini suara decitan itu sangat mengerikan.


Kriek....


Pintu kamar mandi


itu terbuka sendiri. Pelajar itu manarik nafasnya dalam-dalam. Ia ingin berlari


namun kakinya terasa berat. Ia melirik pelan ke arah pintu di belakangnya.


Tiba-tiba saja tengkuknya merinding tiada terkira ketika sekelebatan bayangan


putih muncul dari toilet. Ia melihat sosok berbaju putih berdiri kaku sambil


menatapnya tajam. Pelajar berambut ikal itu memalingkan kembali wajahnya ke


depan dan melihat sosok itu dari cermin yang sudah buram. Di cermin terlihat


sosok laki-laki berwajah pucat, mata menghitam dan wajahnya hancur di bagian


kiri. Sebelah matanya terjuntai hampir copot dari kelopaknya. Terlihat


daging-daging busuk mengerikan masih berlumuran darah di matanya. Kontan saja


pelajar itu menjerit histeris.


“AAARGGGGHHH....”


Dengan tergesa


pelajar itu berlari tunggang langgang keluar dari toilet dan melewati beberapa


koridor. Ia sangat ketakutan hingga berlari keluar gerbang sekolah yang masih


terbuka. Nafasnya tersengal dan ia tidak melihat jalanan yang ramai kenderaan.


Tiba-tiba saja terdengar suara deritan roda hingga suara dentuman keras yang


CIIIIITTTT....


BRAAAKKKK...!!! KRECAAANGG....!!!


BRUUGGG...


Tubuh pelajar itu


terhempas dan terlindas roda sebuah truk pengangkut material. Darah mengucur


deras dari kepalanya yang pecah. Perutnya terburai berserakan di jalan aspal.


Potongan-potongan daging tubuhnya juga tercerai berai di aspal dan roda truk. Pelajar


itu tewas seketika!


Siang itu suasana


sekolah menjadi heboh karena suara dentuman keras dan kecelakaan seorang pelajar


dari SMU yang banyak dikagumi muridnya. Siswa-siswi berkerumun melihat apa yang


terjadi. Mereka bergidik ngeri melihat tubuh pelajar itu yang mengenaskan.


Darahnya masih begitu kental dan mengeluarkan bau amis yang memuakan!


Sekolah itu kini


terlihat mencekam. Satu lagi sosok arwah penunggu sekolah bertambah. Masih ada


cerita lain yang sangat menakutkan di sekolah itu. Ada sosok penunggu yang


sangat jahat. Sosok bertubuh besar berkepala binatang dan bertanduk runcing


ke atas. Tubuhnya berwarna merah dengan bulu-bulu hitam di tangannya.


Gigi-giginya runcing, matanya tajam dan merah. Ia haus akan darah manusia!


Hujan baru saja reda ketika enam orang pelajar berada di


sebuah atap sekolah. Mereka mengendap-endap sambil membawa senter dan papan

__ADS_1


permainan. Permainan pemanggilan arwah yang sangat menakutkan. Setelah sampai


di sebuah gudang yang sangat gelap, mereka membentangkan papan itu di lantai. Suasana


menjadi sangat mencekam. Suara lolongan anjing yang entah dari mana asalnya


terdengar menyeramkan. Hawa dingin juga membuat beberapa di antara mereka


bergidik dan ketakutan.


“Aku takut… Sudah ah, nggak usah main.” Ujar seorang gadis


berkulit sawo matang sambil bergidik.


“Aku ingin membuktikan kalau di sini tidak ada arwah


gentayangan.” Ucap seorang cowok berkulit putih kepada teman-temannya.


Mereka pun memulai dengan menyebutkan beberapa arwah


di sana. Angin berhembus lembut. Malam itu terasa sangat senyap. Hanya dengusan


nafas mereka yang terdengar. Semuanya saling pandang ketika mereka mendengar


suara desisan aneh.


“HGGGRRRR… HAAARRGGG…”


Seorang gadis berambut sebahu bergidik


sambil memegang lengan temannya dengan erat.


“Kita harus melanjutkan permainan ini.” Kata yang lain.


Degup jantung beberapa di antara mereka berdetak kencang. Permainan


pun terus berlanjut sampai tangan mereka merasakan ada gerakan pada papan


permainan itu. Mereka terbelalak dan saling pandang. Papan itu kembali


bergerak-gerak membuat huruf-huruf yang tidak teratur.


JEDAAARRR…!


Tiba-tiba saja pintu ruangan tertutup tertiup angin. Seorang


cowok berkulit hitam tampak ketakutan. Wajahnya berubah pias sambil


memperhatikan sekelilingnya. Ia memang seorang penakut hingga selalu diperolok


oleh teman-temannya.


“Aku takut. Aku nggak mau main!” Ucapnya sambil melepaskan


tangannya.


“Dasar banci! Begitu aja kau takut?!”


BRAAAKKK…


Angin bertiup kencang dan menjatuhkan sesuatu di ruangan


itu. Cowok berkulit hitam itu ketakutan dan ia berlari keluar. Permainan itu


menjadi kacau ketika sosok menakutkan muncul di ruangan itu. Sosok bertubuh


besar berbulu dan memiliki tanduk di kepalanya. Sosok itu muncul di ruang gelap


dan tubuhnya mengeluarkan api. Permainan belum selesai dan mereka berhambur


berlari ketakutan.


Mereka berlari menyelamatkan diri. Suara-suara desisan itu


mengejar mereka. Tiba-tiba saja mereka mendengar suara teriakan dan benda jatuh


di halaman sekolah. Mereka tercekat dan melihat apa yang jatuh. Ternyata


seorang cowok berkulit hitam jatuh dari atap lantai tiga. Kepalanya pecah


mengeluarkan darah yang amis memuakkan! Suasana menjadi hening


dan mencekam. Suara lolongan anjing bersahutan silih berganti. Di sudut gedung ada sosok


bertubuh tinggi besar berbulu lebat, matanya merah menyala dan kepalanya bertanduk!Sosok itu


menatap tajam  ke tubuh para pelajar itu.

__ADS_1


Darah yang mengalir pun lesab entah kemana.


__ADS_2