ARWAH PENUNGGU SEKOLAH

ARWAH PENUNGGU SEKOLAH
Episode 8


__ADS_3

Suara gemericik air terdengar di kamar mandi milik Keyla. Gadis


manis itu membasuh tubuhnya dengan air hangat sembari mengolesinya dengan sabun


cair. Wangi sabun mandi menyeruak di seluruh kamarnya yang berukuran sedang. Ia


bernyanyi-nyanyi kecil sambil menggosok lengannya. Tiba-tiba saja ia mendengar


suara desisan aneh hingga ia bergidik.


“AKU INGIN DARAHMU!”


Keyla tercekat. Ia menghentikan kegiatannya,


lalu memperhatikan kamar mandi yang berukuran dua kali tiga dengan seksama. Di


kamar mandi hanya ia sendiri, tidak ada siapa-siapa. Keyla mendegut ludahnya


yang getir. Buru-buru ia mengambil handuk di gantungan baju dan membalut


tubuhnya.


Keyla keluar dari kamar mandi dan mengenakan


pakaian dalam. Kemudian ia mengenakan towel dan mengikat tali di


pinggang. Keyla terkejut ketika menutup lemari baju. Ia melihat sosok


bertubuh pucat berdiri di depan jendela kamar. Sosok laki-laki memakai


seragam sekolah yang kotor dengan tanah. Wajahnya pucat dengan luka di wajah


sebelah kirinya.


Keyla ketakutan dan buru-buru keluar dari


kamar. Ia menuruni anak tangga dan menemui mama di dapur. Keyla melihat mama


yang sedang memasak, kemudian ia menghela dengan lega.


“Syukurlah mama sudah bangun.” Batinnya.


Keyla pun berlalu dari dapur dan ingin kembali


ke kamar. Takut-takut Keyla kembali ke kamar, namun belum sempat ia


menaiki anak tangga, pintu kamar mama terbuka. Dari dalam kamar mama keluar


sambil mengikat rambutnya.


“Mama…?” Sapa Keyla heran.


Mama menoleh ke Keyla juga dengan heran.


“Kamu sudah bangun, Key?” tanya Mama sambil mengerutkan


keningnya.


“Eee… Sudah, Ma.” Keyla tergagap.


“Kamu dari mana, kok basah-basah gitu?”


“Hmm… Key dari dapur, Ma.”


“Dapur? Ngapain?”


“Hm, nggak apa-apa, Ma.”


Keyla bingung.


Kalau ini mama lantas yang di dapur siapa? Batinya. Keyla mengurungkan niatnya


menaiki anak tangga. Ia melihat jam dinding di ruang tamu yang masih menunjukan


pukul 4 pagi. Ia


terkejut dan mengucek mata beberapa kali. Jam dinding masih menunjukan pukul


4 pagi?


“Jam empat?” Gumamnya.


“Iya, Key… Ini masih jam 4. Kamu pikir jam


berapa?” tanya Mama


menimpali.


Keyla semakin bingung lalu duduk di kursi tamu.


Mama menghampiri Keyla yang masih terbengong.


“Kamu kenapa? Kok jadi aneh gitu?” tanya Mama penasaran.


“Nggak ada apa-apa kok, Ma.” Jawab Keyla seadanya. Ia


nggak mau Mama merasa khawatir apa yang baru saja  dialami.


“Ya sudah kalau begitu, mama mau masak dulu.


Kamu ke kamar gih.”


“Nggak ah, Ma. Keyla disini aja.”


“Loh kok disini..?”


“Gimana kalau Keyla bantuin


mama masak sampai subuh?” Keyla menawarkan diri.


“Hmm... Ya udah, yuk…”


Keyla beranjak dari tempat duduknya dan mengikuti mama ke dapur. Kejadian tadi benar-benar membuat Keyla terlihat shock. Ia masih melamun ketika

__ADS_1


disuruh mama memotong sayur. Semua yang dikerjakan tidak sesuai dengan


harapan mama. Mama juga heran melihat Keyla.



Hanna membalut


tubuhnya dengan handuk, ketika keluar dari kamar mandi. Ia berhenti sejenak


ketika tak sengaja melihat sosok putih di balik lemari bajunya. Hanna bergidik


dan ketakutan. Bulu kuduknya merinding dan membesar. Ia tidak dapat bergerak


saking takutnya. Hanna ingin berteriak memanggil nenek, namun sosok itu


keluar bersama rambut yang awut-awutan. Wajah pucat itu terlihat


jelas di mata Hanna. Wajahnya sangat mengerikan. Matanya tajam menatap Hanna


yang ketakutan.


Sosok itu


mengangkat tangannya seolah ingin mencekik leher Hanna. Kuku-kuku tangannya


tajam dan runcing. Dari mulutnya keluar taring seperti vampire. Matanya hitam


pekat.


“Arrrghhh...


Neneeekkk!!!” Jerit Hanna akhirnya.


Hanna berlari


menuju pintu kamar dan berusaha membuka pintunya. Tangannya gemetar dan ia


tidak bisa membuka pintu itu.


“Nenek...


Tolooongg!!!” Teriak Hanna lagi.


Sosok itu mendekatinya


sambil mendesis menakutkan.


“AKU INGIN


DARAHMU!”


“TIDAAAKK!”


BRAAAK...


Pintu kamar terbuka dan nenek masuk ke kamar Hanna. Nenek membelalakkan matanya


“Iblis laknat!


Pergi kau!” Pekik nenek keras.


Hanna segera bersembunyi


di balik tubuh nenek.


“AKU INGIN DARAH


ANAK ITU!”


“TIDAK! KAU TIDAK


BERHAK ATAS CUCUKU! PERGI!” Sergah nenek mengusir dengan


lantang.


Hanna masih


ketakutan sambil menggigit bibirnya. Sang nenek menyiram garam yang tadi


dibawanya dari dapur. Sosok itu pun menjerit kesakitan dan hilang bersama


jeritannya. Hanna sesenggukan sambil terduduk.


“Hanna takut,


Nek...”


“Sudah. Mahluk


itu sudah pergi!”


Hanna menangis


lagi.


“Sekarang ganti


bajumu. Nenek sudah siapkan sarapan pagi.”


Hanna menghampus


air matanya dan bangkit dari duduknya.


Kemudian ia beranjak ke lemari baju. Tangannya masih gemetar ketika


mengambil seragam sekolah dari dalam lemari. Cepat ia mengambil bajunya dan


mengenakannya. Kemudian keluar dari kamar.



Keyla memasuki halaman sekolah seperti biasa.

__ADS_1


Lagi-lagi ia menatap gedung sekolah yang terlihat semakin menakutkan di


matanya. Ia berjalan perlahan sambil mengawasi halaman. Pagi itu ia tidak


melihat Hanna yang biasanya sudah datang lebih dulu. Keyla menaiki anak tangga


dan berjalan di koridor yang masih terlihat sepi. Sejenak ia mendegut ludah


melihat koridor yang begitu panjang. Ia melihat ada seorang pelajar masuk ke


ruangan kelas. Keyla merasa tenang. Ia mempercepat langkah dan memasuki


ruangan kelas, namun ia terkejut. Keyla tidak menemukan siapa-siapa di sana.


Mata Keyla terbelalak sambil mendegut ludah


beberapa kali. Ia mengawasi ruangan yang terlihat kosong. Kemudian setengah


berlari ia menuju meja belajar dan meletakkan tas sekolah di atas meja.


Begitu Keyla berbalik ingin keluar, ia melihat sosok pelajar di sudut ruangan


berdiri membelakanginya. Keyla menghentikan langkahnya dan terpaku melihat


sosok itu.


Sosok pelajar cowok dengan pakaian lusuh penuh


tanah dan lumpur. Tangannya terlihat pucat dan membiru. Keyla melangkahkan


kakinya dengan gemetar. Ia sangat ketakutan. Kemudian sosok itu menoleh ke arah


Keyla dengan perlahan. Keyla terkejut ketika melihat wajah sosok itu yang


hancur mengerikan.


“ARRGGHKK!” Keyla menjerit histeris dan


berlari keluar ruangan.


Nafasnya tersengal dan hampir terjatuh.


Buru-buru Keyla menuruni anak tangga dan menuju kursi taman. Keyla mengatur


pernafasannya sambil menangis. Bibirnya bergetar saking takutnya.


“Keyla? Kamu kenapa?” Tiba-tiba saja seseorang


menegurnya.


Keyla mendongak dan mendapati Hanna yang berdiri


di depannya. Keyla langsung saja berhambur dan memeluk sahabatnya itu.


“Aku takut, Han. Takut…”


“Apa yang terjadi, Key?” tanya Hanna penasaran.


“Tadi aku melihat sosok mengerikan di kelas.”


Keyla masih terisak.


Hanna melepaskan rengkuhan Keyla. Ia menatap


wajah sahabatnya itu dengan lekat. Wajah Keyla terlihat kacau.


“Sebenarnya apa yang terjadi di kelas kita,


Key?” tanya Hanna ingin tahu.


Keyla menghapus air matanya. “Aku nggak tahu, Han.” Ucapnya singkat.


“Lantas kenapa sosok itu selalu berada di sana?”


Keyla mendongak menatap Hanna.


“Maksudmu?”


“Aku juga melihatnya kemarin. Dia berdiri di


sudut ruangan.”


Keyla terdiam sambil mengingat menatap Hanna


dengan lekat. Sebenarnya ia tahu apa yang terjadi di sekolah itu. kejadian


setahun yang lalu. Ia tidak ingin mengungkit kisah itu apa lagi bercerita ke


Hanna.


“Sudah ah, jangan membahas itu. Saat ini yang


aku butuhkan adalah seorang teman, Han. Aku takut sendirian.”


“Aku kan temanmu.”


Keyla tersenyum tipis.


“Kita masuk yuk.” Ajak Hanna kemudian.


Keyla terlihat ragu dan takut.


“Sudah, nggak usah takut. Sudah siang kok.”


Ucap Hanna lagi.


Kemudian mereka berjalan menuju ruangan kelas


mereka. Seperti biasa, murid-murid baru berdatangan setelah pukul tujuh pagi,


namun Keyla merasa tenang berada dekat sahabatnya.


__ADS_1


__ADS_2