
Suara gemericik air terdengar di kamar mandi milik Keyla. Gadis
manis itu membasuh tubuhnya dengan air hangat sembari mengolesinya dengan sabun
cair. Wangi sabun mandi menyeruak di seluruh kamarnya yang berukuran sedang. Ia
bernyanyi-nyanyi kecil sambil menggosok lengannya. Tiba-tiba saja ia mendengar
suara desisan aneh hingga ia bergidik.
“AKU INGIN DARAHMU!”
Keyla tercekat. Ia menghentikan kegiatannya,
lalu memperhatikan kamar mandi yang berukuran dua kali tiga dengan seksama. Di
kamar mandi hanya ia sendiri, tidak ada siapa-siapa. Keyla mendegut ludahnya
yang getir. Buru-buru ia mengambil handuk di gantungan baju dan membalut
tubuhnya.
Keyla keluar dari kamar mandi dan mengenakan
pakaian dalam. Kemudian ia mengenakan towel dan mengikat tali di
pinggang. Keyla terkejut ketika menutup lemari baju. Ia melihat sosok
bertubuh pucat berdiri di depan jendela kamar. Sosok laki-laki memakai
seragam sekolah yang kotor dengan tanah. Wajahnya pucat dengan luka di wajah
sebelah kirinya.
Keyla ketakutan dan buru-buru keluar dari
kamar. Ia menuruni anak tangga dan menemui mama di dapur. Keyla melihat mama
yang sedang memasak, kemudian ia menghela dengan lega.
“Syukurlah mama sudah bangun.” Batinnya.
Keyla pun berlalu dari dapur dan ingin kembali
ke kamar. Takut-takut Keyla kembali ke kamar, namun belum sempat ia
menaiki anak tangga, pintu kamar mama terbuka. Dari dalam kamar mama keluar
sambil mengikat rambutnya.
“Mama…?” Sapa Keyla heran.
Mama menoleh ke Keyla juga dengan heran.
“Kamu sudah bangun, Key?” tanya Mama sambil mengerutkan
keningnya.
“Eee… Sudah, Ma.” Keyla tergagap.
“Kamu dari mana, kok basah-basah gitu?”
“Hmm… Key dari dapur, Ma.”
“Dapur? Ngapain?”
“Hm, nggak apa-apa, Ma.”
Keyla bingung.
Kalau ini mama lantas yang di dapur siapa? Batinya. Keyla mengurungkan niatnya
menaiki anak tangga. Ia melihat jam dinding di ruang tamu yang masih menunjukan
pukul 4 pagi. Ia
terkejut dan mengucek mata beberapa kali. Jam dinding masih menunjukan pukul
4 pagi?
“Jam empat?” Gumamnya.
“Iya, Key… Ini masih jam 4. Kamu pikir jam
berapa?” tanya Mama
menimpali.
Keyla semakin bingung lalu duduk di kursi tamu.
Mama menghampiri Keyla yang masih terbengong.
“Kamu kenapa? Kok jadi aneh gitu?” tanya Mama penasaran.
“Nggak ada apa-apa kok, Ma.” Jawab Keyla seadanya. Ia
nggak mau Mama merasa khawatir apa yang baru saja dialami.
“Ya sudah kalau begitu, mama mau masak dulu.
Kamu ke kamar gih.”
“Nggak ah, Ma. Keyla disini aja.”
“Loh kok disini..?”
“Gimana kalau Keyla bantuin
mama masak sampai subuh?” Keyla menawarkan diri.
“Hmm... Ya udah, yuk…”
Keyla beranjak dari tempat duduknya dan mengikuti mama ke dapur. Kejadian tadi benar-benar membuat Keyla terlihat shock. Ia masih melamun ketika
__ADS_1
disuruh mama memotong sayur. Semua yang dikerjakan tidak sesuai dengan
harapan mama. Mama juga heran melihat Keyla.
Hanna membalut
tubuhnya dengan handuk, ketika keluar dari kamar mandi. Ia berhenti sejenak
ketika tak sengaja melihat sosok putih di balik lemari bajunya. Hanna bergidik
dan ketakutan. Bulu kuduknya merinding dan membesar. Ia tidak dapat bergerak
saking takutnya. Hanna ingin berteriak memanggil nenek, namun sosok itu
keluar bersama rambut yang awut-awutan. Wajah pucat itu terlihat
jelas di mata Hanna. Wajahnya sangat mengerikan. Matanya tajam menatap Hanna
yang ketakutan.
Sosok itu
mengangkat tangannya seolah ingin mencekik leher Hanna. Kuku-kuku tangannya
tajam dan runcing. Dari mulutnya keluar taring seperti vampire. Matanya hitam
pekat.
“Arrrghhh...
Neneeekkk!!!” Jerit Hanna akhirnya.
Hanna berlari
menuju pintu kamar dan berusaha membuka pintunya. Tangannya gemetar dan ia
tidak bisa membuka pintu itu.
“Nenek...
Tolooongg!!!” Teriak Hanna lagi.
Sosok itu mendekatinya
sambil mendesis menakutkan.
“AKU INGIN
DARAHMU!”
“TIDAAAKK!”
BRAAAK...
Pintu kamar terbuka dan nenek masuk ke kamar Hanna. Nenek membelalakkan matanya
“Iblis laknat!
Pergi kau!” Pekik nenek keras.
Hanna segera bersembunyi
di balik tubuh nenek.
“AKU INGIN DARAH
ANAK ITU!”
“TIDAK! KAU TIDAK
BERHAK ATAS CUCUKU! PERGI!” Sergah nenek mengusir dengan
lantang.
Hanna masih
ketakutan sambil menggigit bibirnya. Sang nenek menyiram garam yang tadi
dibawanya dari dapur. Sosok itu pun menjerit kesakitan dan hilang bersama
jeritannya. Hanna sesenggukan sambil terduduk.
“Hanna takut,
Nek...”
“Sudah. Mahluk
itu sudah pergi!”
Hanna menangis
lagi.
“Sekarang ganti
bajumu. Nenek sudah siapkan sarapan pagi.”
Hanna menghampus
air matanya dan bangkit dari duduknya.
Kemudian ia beranjak ke lemari baju. Tangannya masih gemetar ketika
mengambil seragam sekolah dari dalam lemari. Cepat ia mengambil bajunya dan
mengenakannya. Kemudian keluar dari kamar.
Keyla memasuki halaman sekolah seperti biasa.
__ADS_1
Lagi-lagi ia menatap gedung sekolah yang terlihat semakin menakutkan di
matanya. Ia berjalan perlahan sambil mengawasi halaman. Pagi itu ia tidak
melihat Hanna yang biasanya sudah datang lebih dulu. Keyla menaiki anak tangga
dan berjalan di koridor yang masih terlihat sepi. Sejenak ia mendegut ludah
melihat koridor yang begitu panjang. Ia melihat ada seorang pelajar masuk ke
ruangan kelas. Keyla merasa tenang. Ia mempercepat langkah dan memasuki
ruangan kelas, namun ia terkejut. Keyla tidak menemukan siapa-siapa di sana.
Mata Keyla terbelalak sambil mendegut ludah
beberapa kali. Ia mengawasi ruangan yang terlihat kosong. Kemudian setengah
berlari ia menuju meja belajar dan meletakkan tas sekolah di atas meja.
Begitu Keyla berbalik ingin keluar, ia melihat sosok pelajar di sudut ruangan
berdiri membelakanginya. Keyla menghentikan langkahnya dan terpaku melihat
sosok itu.
Sosok pelajar cowok dengan pakaian lusuh penuh
tanah dan lumpur. Tangannya terlihat pucat dan membiru. Keyla melangkahkan
kakinya dengan gemetar. Ia sangat ketakutan. Kemudian sosok itu menoleh ke arah
Keyla dengan perlahan. Keyla terkejut ketika melihat wajah sosok itu yang
hancur mengerikan.
“ARRGGHKK!” Keyla menjerit histeris dan
berlari keluar ruangan.
Nafasnya tersengal dan hampir terjatuh.
Buru-buru Keyla menuruni anak tangga dan menuju kursi taman. Keyla mengatur
pernafasannya sambil menangis. Bibirnya bergetar saking takutnya.
“Keyla? Kamu kenapa?” Tiba-tiba saja seseorang
menegurnya.
Keyla mendongak dan mendapati Hanna yang berdiri
di depannya. Keyla langsung saja berhambur dan memeluk sahabatnya itu.
“Aku takut, Han. Takut…”
“Apa yang terjadi, Key?” tanya Hanna penasaran.
“Tadi aku melihat sosok mengerikan di kelas.”
Keyla masih terisak.
Hanna melepaskan rengkuhan Keyla. Ia menatap
wajah sahabatnya itu dengan lekat. Wajah Keyla terlihat kacau.
“Sebenarnya apa yang terjadi di kelas kita,
Key?” tanya Hanna ingin tahu.
Keyla menghapus air matanya. “Aku nggak tahu, Han.” Ucapnya singkat.
“Lantas kenapa sosok itu selalu berada di sana?”
Keyla mendongak menatap Hanna.
“Maksudmu?”
“Aku juga melihatnya kemarin. Dia berdiri di
sudut ruangan.”
Keyla terdiam sambil mengingat menatap Hanna
dengan lekat. Sebenarnya ia tahu apa yang terjadi di sekolah itu. kejadian
setahun yang lalu. Ia tidak ingin mengungkit kisah itu apa lagi bercerita ke
Hanna.
“Sudah ah, jangan membahas itu. Saat ini yang
aku butuhkan adalah seorang teman, Han. Aku takut sendirian.”
“Aku kan temanmu.”
Keyla tersenyum tipis.
“Kita masuk yuk.” Ajak Hanna kemudian.
Keyla terlihat ragu dan takut.
“Sudah, nggak usah takut. Sudah siang kok.”
Ucap Hanna lagi.
Kemudian mereka berjalan menuju ruangan kelas
mereka. Seperti biasa, murid-murid baru berdatangan setelah pukul tujuh pagi,
namun Keyla merasa tenang berada dekat sahabatnya.
__ADS_1