
Keesokan harinya, guru-guru terkejut ketika mendapat kabar
kalau kepala sekolah kecelakaan. Kepala sekolah mengalami patah leher dan
cidera berat di kepala. Ia koma di ruang ICU.
Sorta hanya diam terpaku, ketika Winda menceritakan
kecelakaan itu. Para guru semakin kasak-kusuk ketika mendengar berita kepala
sekolah. Bukan Sorta dan Winda saja yang pernah melihat penampakkan arwah
penasaran, guru-guru yang lain juga.
Hanna didatangi sosok Natalie
di kelasnya, pelajar putri yang tewas bunuh diri lima tahun lalu. Natalie hanya
berpesan ke Hanna bahwa ia minta maaf kepada ibunya. Ia memang salah tidak
mendengarkan nasehat sang ibu dan siang itu Hanna menemui Sorta di ruang guru.
“Bu, ada yang ingin saya
sampaikan.” Ucap Hanna.
Sorta menatap Hanna dengan
lekat.
“Apa yang ingin kamu sampaikan?”
Hanna menarik nafasnya
dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
“Natalie meminta maaf kepada
Ibu.”
Sorta mengerutkan keningnya.
“Kamu mengada-ada cerita?”
“Tidak, Bu. Ini beneran.
Kemarin saya didatangi arwah Natalie. Katanya dia memang salah tidak mendengar
nasehat itu. Dia minta maaf, Bu.”
Sorta tersenyum tipis sambil
menatap Hanna.
“Saya memang sudah lama tidak
menziarahi makam anak saya. Terima kasih, Han. Saya sudah memaafkannya.”
Hanna pun tersenyum lalu
permisi sambil beranjak.
“Saya permisi dulu, Bu.”
“Ya.”
Hanna keluar dari ruangan guru
dan menghembuskan nafas dengan lega.
Sepulang sekolah,
tiba-tiba Hanna merasa kepalanya sangat pusing. Rasanya mau muntah. Ia terbaring di tempat tidur neneknya sambil merintih
kesakitan. Sang nenek terlihat panik melihat cucunya sakit. Mama Hanna sudah
kembali ke Bandung pagi tadi. Mama mau mengurus berkas-berkas di Bandung untuk
pindah ke Medan. Hanna terlihat merintih-rintih sambil memegangi kepalanya.
“Kepala Hanna
pusing sekali, Nek...”
“Kamu tadi makan
apa di sekolah?”
“Nggak makan
apa-apa kok.”
“Sebentar nenek
buatin teh hangat ya.” Ujar sang Nenek.
Nenek keluar kamar
dan berlalu ke dapur. Hanna masih merasa sakit di kepalanya. Ia menatap
langit-langit kamar dan melihat sosok perempuan tua dengan rambutnya yang
kriyapan menatapnya dengan tajam. Hanna tidak sanggup untuk menjerit dan ia
hanya merasakan sakit di kepalanya.
Nenek masuk ketika
sosok itu turun dari atap dan berada di atas tubuh Hanna. Nenek terkejut dan
marah. Gelas di tangannya pun terjatuh dan berusaha mengusur perempuan jahan
itu dari atas tubuh cucunya.
“PERGI KAU SETAN!”
“GRHHHH.... AKU
INGINKAN DARAH ANAK INI..!”
“TIDAK!! AKU TIDAK
IZINKAN KAU MENYENTUH CUCUKU! PERGI KAU!!!” Sang nenek membaca apa saja yang
sudah menjadi ajiannya. Kemudian nenek mengambil air putih dengan gerakan
tergesa. Nenek menyiram ke sosok perempuan tua itu hingga sosok itu mennjerit
kepansan.
“ARRGHKKK... AKU
TIDAK AKAN PERNAH MELEPASKAN ANAK ITU..!!” Sosok itu hilang seperti terhembus
angin.
__ADS_1
Nenek menghampiri
Hanna yang sudah tidak berdaya. Nenek memeriksa keadaan Hanna yang lemas. Suhu
tubuh Hanna naik beberapa derajat. Nenek panik dan segera memanggil dokter
terdekat ke rumahnya. Nenek berharap-harap cemas menunggu kedatangan sang
dokter. Kemudian ia menghubungi salah satu teman suaminya.
“Das... Ini aku
Winarti.” Ucap nenek melalui ponsel.
“Iya, Win... Ada
apa?” Tanya seorang laki-laki bernama Dasiman dari seberang.
“Bantu aku, Das.
Cucuku diikuti iblis.”
“Baik, Win. Aku
segera ke rumahmu.”
Klik. Nenek
mematikan ponselnya dan kembali duduk di atas ranjang dimana Hanna terbaring. Tubuh Hanna menggigil. Ia kedinginan dan bibirnya bergetar.
Sang nenek semakin
bingung. Tak berapa lama sang dokter pun datang dan memeriksa suhu tubuh Hanna. Dokter hanya memberikan obat penurun panas.
“Terima kasih pak
dokter.”
Sama-sama, Nek.
Jangan lupa obatnya diberikan ya.”
“Iya, dok.”
Sang dokter pun
pamit dari rumah nenek. Hanna tertidur pulas dengan selimut yang tebal.
Malam terus
beranjak semakin gelap. Dasiman datang menemui nenek yang sudah menantinya
beberapa jam lalu. Dasiman langsung saja masuk ke kamar dimana Hanna tertidur.
Ia memperhatikan gadis itu dengan lekat sambil manggut-manggut. Laki-laki
berusia enam puluh tahunan itu terlihat serius dengan tatapan tajam.
“Ini tidak bisa
dibiarkan, Win. Cucumu selalu diincar sosok tua itu.”
“Lantas bagaimana,
Das?”
Dasiman diam
“Tenang saja. Kita
lawan dia.Tidak usah bingung.”
“Aku khawatir
terjadi apa-apa dengamu.”
“Aku sudah banyak
berhutang budi kepada suamimu, Win. Ini saatnya aku membalaskan budiku untuk
cucumu.”
“Terima kasih,
Das.”
Nenek
berharap-harap cemas melihat keadaan kamarnya. Dan malam itu sosok iblis
berwujud perempuan tua itu datang lagi dengan sosoknya yang menakutkan.
Wajahnya pucat penuh kemarahan. Telinganya panjang dan dari kepalanya keluar
tanduk yang menjulang ke atas. Matanya memerah darah dengan kepolak yang hitam
pekat. Jari-jarinya panjang dengan kuku-kuku yang tajam. Giginya bertaring dan
siap menghisap dari perawan.
Hembusan angin
menyertai kehadirannya bersama lolongan anjing. Langit tampak menghitam dengan
awan yang gulita. Malam itu terasa mencekam dan sepi. Suara guntur membahana di
langit sana.
Nenek semakin
cemas sambil mengawasi kamarnya. Dasiman sudah bersiap dengan perlengkapannya.
Ia duduk bersila dan menghadap ke Hanna yang terbaring lemas.
BRAAAKKK...!
Tiba-tiba jendela
kamar tebuka dengan keras. Nenek terkejut dan memperhatikan jendela kamar yang
mengepak-ngepak tertiup angin.
KRENCAAANGG...
Kaca jendela pecah
sebelah. Gorden cokelat mudah melambai-lambai tertiup angin. Angin malam
berhembus dan masuk ke dalam kamar. Sosok perempuan tua berwajah mengerikan itu muncul di kamar sambil
melototkan matanya. Nenek terbelalak dan begidik. Sosok itu berubah wujud
semakin tinggi. Rambutnya kriyapan sampai ke lantai.
“PERGI KAU
__ADS_1
SETAN!!! JANGAN GANGGU CUCUKU!”
“AKU INGIN
DARAHNYA!”
“TIDAK!!! AKU
TIDAK MENGIJINKANMU!”
“AARRRGHHH...!!!”
Sosok itu mengamuk dan menimbulkan angin kencang di kamar itu.
Dasiman terus saja
membaca ayat-ayat alquran seraya mengeluarkan seluruh ilmunya. Ilmu kebathinan
yang juga didapat dari seorang guru sakti. Dasiman menggenggam garam yang sudah
ditirakati lalu dihembuskan beberapa kali. Garam itu ia lemparkan ke sosok jahat
di depannya.
“AAARRRGHHKKK...”
Jeritan itu memenuhi kamar berukuran sedang.
Tempat tidur
bergerak-gerak dan sedikit terbang ke atas. Nek Winarti membelalakkan matanya
lalu membaca beberapa ajian yang sudah ia pelajari dari sang suami.
Sosok iblis perempuan
yang haus akan darah itu memporak-porandakan seisi kamar Nek Winarti. Hanna
masih tertidur dengan pulas ketika tempat tidurnya melayang di udara. Winarti
dan Dasiman terus konsentrasi mengusir perempuan iblis itu dengan ajian-ajian
yang mematikan. Permpau iblis itu beberapa kali terpelanting dan tersungkur,
namun ia bangkit lagi.
Angin kembali
berhembus kencang menerbangkan dedaunan di sekitarnya. Suara halilitar beberapa
kali mengagetkan Winarti. Hujan turun dibarengi dengan angin yang kencang.
Malam semakin larut dan dingin. Sosok iblis terus saja melawan Dasiman dan
Winarti. Winarti tampak kewalahan namun Dasiman terus menyemangati Winarti.
“Jangan menyerah,
Win! Kita harus melenyapkan iblis itu!”
“Iya, Das. Tapi
kekuatanku sudah mulai melemah.”
Dasiman kemudian
mengambil beberapa batu keramat yang sudah diisi ajiannya. Kemudian ia membaca
beberapa ayat suci alquran dan beberapa dzikir pengusil jin dan iblis. Setelah
itu ia melemparkan tepat di tubuh iblis permpuan itu. Sosok itu pun menjerit
kepanasan ketika tubuhnya mulai terbakar.
“AAARRRGHHKKK....
PANAAASSSS... TIDAAAKKK...” Jeritan itu membahana di kegelapan malam yang
dingin.
Suara gemuruh dan
hujan melenyapkan jeritannya hingga anggin berhenti bertiup. Sosok itu pun
lenyap terbakar bersama jeritannya. Tempat tidur Hanna kembali ke posisi
semula. Winarti menarik nafas dengan lega. Kini cucunya selamat dari ganguan
iblis terkutuk yang ingin menghisap darah cucunya. Winarti menghampiri Hanna
dan memeluknya dengan erat. Ia mengelus rambut Hanna dengan lembut lalu menatap
Dasiman yang sudah kelelahan.
“Terima kasih,
Das...”
Dasiman mengangguk
sambil menghembuskan nafasnya.
“Tidak perlu
berterima kasih, Win. Aku cukup berhutang budi kepada suamimu. Aku akan
memberikan cincin ini kepada cucumu agar mahluk itu tidak berani
mengangganggunya.” Dasiman memberikan batu cincing berwarna merah delima kepada
Winarti untuk Hanna.
Winarti
menyematkan cincin itu ke jemari cucunya hingga merekat pas di pangkkal
jarinya.
Malam terus
merangkak tua dan dingin. Winarti menutup jendela kamar dan menguncinya.
Dasiman pamit karena tugasnya sudah selesai.
“Aku pamit dulu,
Win. Kalau ada apa-apa hubungi saja aku.”
“Terima kasih,
Das.”
Dasiman beranjak
meninggalkan kamar dan segera pergi dari rumah Winarti.
__ADS_1