ARWAH PENUNGGU SEKOLAH

ARWAH PENUNGGU SEKOLAH
Episode 18


__ADS_3

Keesokan harinya, guru-guru terkejut ketika mendapat kabar


kalau kepala sekolah kecelakaan. Kepala sekolah mengalami patah leher dan


cidera berat di kepala. Ia koma di ruang ICU.


Sorta hanya diam terpaku, ketika Winda menceritakan


kecelakaan itu. Para guru semakin kasak-kusuk ketika mendengar berita kepala


sekolah. Bukan Sorta dan Winda saja yang pernah melihat penampakkan arwah


penasaran, guru-guru yang lain juga.


Hanna didatangi sosok Natalie


di kelasnya, pelajar putri yang tewas bunuh diri lima tahun lalu. Natalie hanya


berpesan ke Hanna bahwa ia minta maaf kepada ibunya. Ia memang salah tidak


mendengarkan nasehat sang ibu dan siang itu Hanna menemui Sorta di ruang guru.


“Bu, ada yang ingin saya


sampaikan.” Ucap Hanna.


Sorta menatap Hanna dengan


lekat.


“Apa yang ingin kamu sampaikan?”


Hanna menarik nafasnya


dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


“Natalie meminta maaf kepada


Ibu.”


Sorta mengerutkan keningnya.


“Kamu mengada-ada cerita?”


“Tidak, Bu. Ini beneran.


Kemarin saya didatangi arwah Natalie. Katanya dia memang salah tidak mendengar


nasehat itu. Dia minta maaf, Bu.”


Sorta tersenyum tipis sambil


menatap Hanna.


“Saya memang sudah lama tidak


menziarahi makam anak saya. Terima kasih, Han. Saya sudah memaafkannya.”


Hanna pun tersenyum lalu


permisi sambil beranjak.


“Saya permisi dulu, Bu.”


“Ya.”


Hanna keluar dari ruangan guru


dan menghembuskan nafas dengan lega.



Sepulang sekolah,


tiba-tiba Hanna merasa kepalanya sangat pusing. Rasanya mau muntah. Ia terbaring di tempat tidur neneknya sambil merintih


kesakitan. Sang nenek terlihat panik melihat cucunya sakit. Mama Hanna sudah


kembali ke Bandung pagi tadi. Mama mau mengurus berkas-berkas di Bandung untuk


pindah ke Medan. Hanna terlihat merintih-rintih sambil memegangi kepalanya.


“Kepala Hanna


pusing sekali, Nek...”


“Kamu tadi makan


apa di sekolah?”


“Nggak makan


apa-apa kok.”


“Sebentar nenek


buatin teh hangat ya.” Ujar sang Nenek.


Nenek keluar kamar


dan berlalu ke dapur. Hanna masih merasa sakit di kepalanya. Ia menatap


langit-langit kamar dan melihat sosok perempuan tua dengan rambutnya yang


kriyapan menatapnya dengan tajam. Hanna tidak sanggup untuk menjerit dan ia


hanya merasakan sakit di kepalanya.


Nenek masuk ketika


sosok itu turun dari atap dan berada di atas tubuh Hanna. Nenek terkejut dan


marah. Gelas di tangannya pun terjatuh dan berusaha mengusur perempuan jahan


itu dari atas tubuh cucunya.


“PERGI KAU SETAN!”


“GRHHHH.... AKU


INGINKAN DARAH ANAK INI..!”


“TIDAK!! AKU TIDAK


IZINKAN KAU MENYENTUH CUCUKU! PERGI KAU!!!” Sang nenek membaca apa saja yang


sudah menjadi ajiannya. Kemudian nenek mengambil air putih dengan gerakan


tergesa. Nenek menyiram ke sosok perempuan tua itu hingga sosok itu mennjerit


kepansan.


“ARRGHKKK... AKU


TIDAK AKAN PERNAH MELEPASKAN ANAK ITU..!!” Sosok itu hilang seperti terhembus


angin.

__ADS_1


Nenek menghampiri


Hanna yang sudah tidak berdaya. Nenek memeriksa keadaan Hanna yang lemas. Suhu


tubuh Hanna naik beberapa derajat. Nenek panik dan segera memanggil dokter


terdekat ke rumahnya. Nenek berharap-harap cemas menunggu kedatangan sang


dokter. Kemudian ia menghubungi salah satu teman suaminya.


“Das... Ini aku


Winarti.” Ucap nenek melalui ponsel.


“Iya, Win... Ada


apa?” Tanya seorang laki-laki bernama Dasiman dari seberang.


“Bantu aku, Das.


Cucuku diikuti iblis.”


“Baik, Win. Aku


segera ke rumahmu.”


Klik. Nenek


mematikan ponselnya dan kembali duduk di atas ranjang dimana Hanna terbaring. Tubuh Hanna menggigil. Ia kedinginan dan bibirnya bergetar.


Sang nenek semakin


bingung. Tak berapa lama sang dokter pun datang dan memeriksa suhu tubuh Hanna. Dokter hanya memberikan obat penurun panas.


“Terima kasih pak


dokter.”


Sama-sama, Nek.


Jangan lupa obatnya diberikan ya.”


“Iya, dok.”


Sang dokter pun


pamit dari rumah nenek. Hanna tertidur pulas dengan selimut yang tebal.



Malam terus


beranjak semakin gelap. Dasiman datang menemui nenek yang sudah menantinya


beberapa jam lalu. Dasiman langsung saja masuk ke kamar dimana Hanna tertidur.


Ia memperhatikan gadis itu dengan lekat sambil manggut-manggut. Laki-laki


berusia enam puluh tahunan itu terlihat serius dengan tatapan tajam.


“Ini tidak bisa


dibiarkan, Win. Cucumu selalu diincar sosok tua itu.”


“Lantas bagaimana,


Das?”


Dasiman diam


“Tenang saja. Kita


lawan dia.Tidak usah bingung.”


“Aku khawatir


terjadi apa-apa dengamu.”


“Aku sudah banyak


berhutang budi kepada suamimu, Win. Ini saatnya aku membalaskan budiku untuk


cucumu.”


“Terima kasih,


Das.”


Nenek


berharap-harap cemas melihat keadaan kamarnya. Dan malam itu sosok iblis


berwujud perempuan tua itu datang lagi dengan sosoknya yang menakutkan.


Wajahnya pucat penuh kemarahan. Telinganya panjang dan dari kepalanya keluar


tanduk yang menjulang ke atas. Matanya memerah darah dengan kepolak yang hitam


pekat. Jari-jarinya panjang dengan kuku-kuku yang tajam. Giginya bertaring dan


siap menghisap dari perawan.


Hembusan angin


menyertai kehadirannya bersama lolongan anjing. Langit tampak menghitam dengan


awan yang gulita. Malam itu terasa mencekam dan sepi. Suara guntur membahana di


langit sana.


Nenek semakin


cemas sambil mengawasi kamarnya. Dasiman sudah bersiap dengan perlengkapannya.


Ia duduk bersila dan menghadap ke Hanna yang terbaring lemas.


BRAAAKKK...!


Tiba-tiba jendela


kamar tebuka dengan keras. Nenek terkejut dan memperhatikan jendela kamar yang


mengepak-ngepak tertiup angin.


KRENCAAANGG...


Kaca jendela pecah


sebelah. Gorden cokelat mudah melambai-lambai tertiup angin. Angin malam


berhembus dan masuk ke dalam kamar.  Sosok perempuan tua berwajah mengerikan itu muncul di kamar sambil


melototkan matanya. Nenek terbelalak dan begidik. Sosok itu berubah wujud


semakin tinggi. Rambutnya kriyapan sampai ke lantai.


“PERGI KAU

__ADS_1


SETAN!!! JANGAN GANGGU CUCUKU!”


“AKU INGIN


DARAHNYA!”


“TIDAK!!! AKU


TIDAK MENGIJINKANMU!”


“AARRRGHHH...!!!”


Sosok itu mengamuk dan menimbulkan angin kencang di kamar itu.


Dasiman terus saja


membaca ayat-ayat alquran seraya mengeluarkan seluruh ilmunya. Ilmu kebathinan


yang juga didapat dari seorang guru sakti. Dasiman menggenggam garam yang sudah


ditirakati lalu dihembuskan beberapa kali. Garam itu ia lemparkan ke sosok jahat


di depannya.


“AAARRRGHHKKK...”


Jeritan itu memenuhi kamar berukuran sedang.


Tempat tidur


bergerak-gerak dan sedikit terbang ke atas. Nek Winarti membelalakkan matanya


lalu membaca beberapa ajian yang sudah ia pelajari dari sang suami.


Sosok iblis perempuan


yang haus akan darah itu memporak-porandakan seisi kamar Nek Winarti. Hanna


masih tertidur dengan pulas ketika tempat tidurnya melayang di udara. Winarti


dan Dasiman terus konsentrasi mengusir perempuan iblis itu dengan ajian-ajian


yang mematikan. Permpau iblis itu beberapa kali terpelanting dan tersungkur,


namun ia bangkit lagi.


Angin kembali


berhembus kencang menerbangkan dedaunan di sekitarnya. Suara halilitar beberapa


kali mengagetkan Winarti. Hujan turun dibarengi dengan angin yang kencang.


Malam semakin larut dan dingin. Sosok iblis terus saja melawan Dasiman dan


Winarti. Winarti tampak kewalahan namun Dasiman terus menyemangati Winarti.


“Jangan menyerah,


Win! Kita harus melenyapkan iblis itu!”


“Iya, Das. Tapi


kekuatanku sudah mulai melemah.”


Dasiman kemudian


mengambil beberapa batu keramat yang sudah diisi ajiannya. Kemudian ia membaca


beberapa ayat suci alquran dan beberapa dzikir pengusil jin dan iblis. Setelah


itu ia melemparkan tepat di tubuh iblis permpuan itu. Sosok itu pun menjerit


kepanasan ketika tubuhnya mulai terbakar.


“AAARRRGHHKKK....


PANAAASSSS... TIDAAAKKK...” Jeritan itu membahana di kegelapan malam yang


dingin.


Suara gemuruh dan


hujan melenyapkan jeritannya hingga anggin berhenti bertiup. Sosok itu pun


lenyap terbakar bersama jeritannya. Tempat tidur Hanna kembali ke posisi


semula. Winarti menarik nafas dengan lega. Kini cucunya selamat dari ganguan


iblis terkutuk yang ingin menghisap darah cucunya. Winarti menghampiri Hanna


dan memeluknya dengan erat. Ia mengelus rambut Hanna dengan lembut lalu menatap


Dasiman yang sudah kelelahan.


“Terima kasih,


Das...”


Dasiman mengangguk


sambil menghembuskan nafasnya.


“Tidak perlu


berterima kasih, Win. Aku cukup berhutang budi kepada suamimu. Aku akan


memberikan cincin ini kepada cucumu agar mahluk itu tidak berani


mengangganggunya.” Dasiman memberikan batu cincing berwarna merah delima kepada


Winarti untuk Hanna.


Winarti


menyematkan cincin itu ke jemari cucunya hingga merekat pas di pangkkal


jarinya.


Malam terus


merangkak tua dan dingin. Winarti menutup jendela kamar dan menguncinya.


Dasiman pamit karena tugasnya sudah selesai.


“Aku pamit dulu,


Win. Kalau ada apa-apa hubungi saja aku.”


“Terima kasih,


Das.”


Dasiman beranjak


meninggalkan kamar dan segera pergi dari rumah Winarti.


__ADS_1


__ADS_2