ARWAH PENUNGGU SEKOLAH

ARWAH PENUNGGU SEKOLAH
Episode 39


__ADS_3

Malam, mama tiba di sekolah. Tetes-tetes


air hujan masih membasahi rerumputan di halaman. Hawa dingin menusuk ke tulang


ari. Pandangannya nanar melihat bangunan di depannya. Bangunan itu berubah


menjadi rumah sakit yang berkabut dan sepi. Mama memperhatikan bangunan itu


dengan seksama. Keningnya berkerut. Kemudian ia melihat beberapa suster di


sana. Dokter Mariana juga ada di sana. Bukankah dokter itu sudah meninggal


dunia? Mama bergumam sendiri.


Damsyit tiba-tiba menegurnya.


“Salma?” tegur Damsyit terkejut.


“Damsyit?” mama juga terkejut. Saat


pertama kali mama ke asrama Raisa, mama tidak bertemu dengan Damsyit. Laki-laki


yang penuh dengan misteri. Pertemuan itu membuat mama mengingat lagi kejadian


sepuluh tahun lalu. Damsyitlah yang membakar bangsal itu. Bangsa 13 berisi dua


orang pasien perempuan yang hangus terbakar. Seorang dokter juga terbakar di


bangsal itu. Damsyit tidak mengaku saat polisi menyelidiki kebakaran itu. Tapi


arwah-arwah yang terbakar kini gentayangan.


“Mau apa kamu kemari?” tanya laki-laki


itu heran.


“Aku ingin menemui anakku.”


“Anakmu? Siapa?”


“Raisa.”


Tiba-tiba terdengar jeritan dari


lantai tiga. Itu jeritan Raisa. Damsyit dan Salma tercekat dan mengalihkan


pandang ke lantai tiga.


“Itu suara Raisa.” Kata mama buru-buru


berlari di koridor. Suara sepatu yang beradu terdengar membahana di malam yang


gelap. Pandangan Salma mulai nanar dan keringat mengucur deras. Salma mencari


asal suara Raisa. Salma berlari menaiki tangga, tapi ia terhenti ketika melihat


sosok perempuan berdiri kaku membelakanginya. Mama terkejut dan menelan ludahnya


dengan getir. Sosok perempuan berambut panjang dengan baju berlumuran darah


dari selangkangannya. Darah itu terus mengucur sampai ke lantai. Salma menjerit

__ADS_1


ketakutan dan memutar haluan. Ia mundur dan berlari.


“Tolooong...” Jerit mama histeris


dengan suara gemetar. Bulu kuduknya merinding tiada terkira.



Raisa, mengerjabkan matanya dan melihat


koridor yang berubah menjadi lorong rumah sakit. Ia melihat beberapa perawat


dengan wajah sinis merencanakan sesutu. Di antara perawat itu adalah Salma.


Mama Raisa waktu muda.


“Mama?” Gumam Raisa.


Dia juga melihat laki-laki yang


wajahnya tidak asing lagi baginya.


“Pak Damsyit?” Dahi Raisa berkerut.


Raisa melihat suster dan dokter lalu


lalang di depannya sementara Raisa duduk di koridor sambil ketakutan. Bibirnya


bergetar. Raisa melihat semua kejadian itu. Ia melihat Damsyit yang


mengendap-endap di salah satu bangsal. Di bangsal itu ada seorang perempuan


yang baru melahirkan dan seorang lagi tengah tertidur. Seorang dokter dan


setelah disirim bensin. Terdengar teriakan dan jeritan kematian di dalamnya.


Asab mengepul berwarna gelap. Api berkobar melahap sebagian bangsal.


Terlihat Damsyit dan Salma yang


merencanakan kebakaran itu. Tapi tidak sesuai yang direncanakan. Mereka hanya


ingin membakar seorang dokter, tapi sebangsal ikut terbakar.


Semua pasien berlari menyelamatkan


diri dan berusaha keluar dari kepulan asab. Pandangan Raisa terlihat nanar dan


matanya memerah. Ia menangis melihat kejadian itu. Ternyata mama nya seorang


pembunuh di masa lalu bersama suster Faridah yang tewas saat menjadi guru.


Mayat suster Faridah ada di dalam gudang lantai empat.


Raisa menutup matanya sambil menjerit


dan menangis. Ia terlihat shock atas semua yang terjadi. Gedung itu pun kembali


menjadi gedung sekolah yang senyap. Kepulan asap menghilang dan terdengar sisa


suara rintikan hujan. Raisa membuka matanya dan berusaha bangit dari duduknya.

__ADS_1


Ia berjalan gontai di koridor. Sedangkan Salma terus saja mencari Raisa. Ia


menaiki anak tangga dengan nafas tersengal. Sedangkan Damsyit juga menuju


lantai empat.


Salma menuju lantai empat dan ia ingin


ke gudang angker tempat ia menyimpan mayat seorang perempuan.


Melda yang mendengar teriakan Raisa


keluar dari kamar dan mencari Raisa. Melda mengamati ruang-ruang kelas yang


gelap. Ia juga sangat ketakutan. Di ujung koridor ia melihat sosok perempuan


menggendong anaknya dengan baju berlumur darah. Perempuan itu yang dibunuh


ibunya. Salma dan Hartati, ibu Melda telah membunuh perempuan itu saat menjadi


perawat. Salma meminta Hartati untuk tidak membongkar kematian perempuan itu


yang kehabisan darah saat melahirkan. Hartati lebih dulu tewas ketabrak truk


hingga kepalanya pecah.


Melda terkejut dan ketakutan. Ia ingin


kembali ke asrama tapi gedung sekolah tiba-tiba saja berkabut. Melda bingung


dan merinding. Ia tidak tahu mengapa ada kabut di sekolah itu. Gedung itu pun


berubah menjadi rumah sakit dalam penglihatannya. Melda melihat ibunya di ruang


bedah dengan Salma. Di atas meja bedah ada seorang perempuan yang hendak


melahirkan. Tapi karena sakit hati dan kesal melihat perempuan itu sebagai


pelakor, Salma sengaja membiarkanya kehabisan darah. Perempuan itu bluding.


Salma bersekongkol dengan Hartati.


Melda berlari di koridor saking


takutnya dan ia menubruk Andriano. Melda tidak tahu kalau Andriano sudah meninggal.


Laki-laki itu hanya berdiri dengan wajah pucat dan dingin. Melda terjatuh dan


terpuruk di lantai.


“Pak Andriano?” Gumamnya pelan. “Pak


saya takut, Pak. Temani saya kembali ke asrama”


“Apa yang kamu takutkan?” tanya


Andriano. Kini wajahnya kelihatan jelas di mata Melda. Melda pun melihat kepala


Andriano yang pecah dan mengeluarkan darah. Melda menelan ludahnya sambil


bergerak mundur. Ia mulai tahu kalau Andriano bukan lagi sosok manusia. Melda

__ADS_1


ketakutan dan berlari mencari pertolongan.



__ADS_2