
Malam, mama tiba di sekolah. Tetes-tetes
air hujan masih membasahi rerumputan di halaman. Hawa dingin menusuk ke tulang
ari. Pandangannya nanar melihat bangunan di depannya. Bangunan itu berubah
menjadi rumah sakit yang berkabut dan sepi. Mama memperhatikan bangunan itu
dengan seksama. Keningnya berkerut. Kemudian ia melihat beberapa suster di
sana. Dokter Mariana juga ada di sana. Bukankah dokter itu sudah meninggal
dunia? Mama bergumam sendiri.
Damsyit tiba-tiba menegurnya.
“Salma?” tegur Damsyit terkejut.
“Damsyit?” mama juga terkejut. Saat
pertama kali mama ke asrama Raisa, mama tidak bertemu dengan Damsyit. Laki-laki
yang penuh dengan misteri. Pertemuan itu membuat mama mengingat lagi kejadian
sepuluh tahun lalu. Damsyitlah yang membakar bangsal itu. Bangsa 13 berisi dua
orang pasien perempuan yang hangus terbakar. Seorang dokter juga terbakar di
bangsal itu. Damsyit tidak mengaku saat polisi menyelidiki kebakaran itu. Tapi
arwah-arwah yang terbakar kini gentayangan.
“Mau apa kamu kemari?” tanya laki-laki
itu heran.
“Aku ingin menemui anakku.”
“Anakmu? Siapa?”
“Raisa.”
Tiba-tiba terdengar jeritan dari
lantai tiga. Itu jeritan Raisa. Damsyit dan Salma tercekat dan mengalihkan
pandang ke lantai tiga.
“Itu suara Raisa.” Kata mama buru-buru
berlari di koridor. Suara sepatu yang beradu terdengar membahana di malam yang
gelap. Pandangan Salma mulai nanar dan keringat mengucur deras. Salma mencari
asal suara Raisa. Salma berlari menaiki tangga, tapi ia terhenti ketika melihat
sosok perempuan berdiri kaku membelakanginya. Mama terkejut dan menelan ludahnya
dengan getir. Sosok perempuan berambut panjang dengan baju berlumuran darah
dari selangkangannya. Darah itu terus mengucur sampai ke lantai. Salma menjerit
__ADS_1
ketakutan dan memutar haluan. Ia mundur dan berlari.
“Tolooong...” Jerit mama histeris
dengan suara gemetar. Bulu kuduknya merinding tiada terkira.
Raisa, mengerjabkan matanya dan melihat
koridor yang berubah menjadi lorong rumah sakit. Ia melihat beberapa perawat
dengan wajah sinis merencanakan sesutu. Di antara perawat itu adalah Salma.
Mama Raisa waktu muda.
“Mama?” Gumam Raisa.
Dia juga melihat laki-laki yang
wajahnya tidak asing lagi baginya.
“Pak Damsyit?” Dahi Raisa berkerut.
Raisa melihat suster dan dokter lalu
lalang di depannya sementara Raisa duduk di koridor sambil ketakutan. Bibirnya
bergetar. Raisa melihat semua kejadian itu. Ia melihat Damsyit yang
mengendap-endap di salah satu bangsal. Di bangsal itu ada seorang perempuan
yang baru melahirkan dan seorang lagi tengah tertidur. Seorang dokter dan
setelah disirim bensin. Terdengar teriakan dan jeritan kematian di dalamnya.
Asab mengepul berwarna gelap. Api berkobar melahap sebagian bangsal.
Terlihat Damsyit dan Salma yang
merencanakan kebakaran itu. Tapi tidak sesuai yang direncanakan. Mereka hanya
ingin membakar seorang dokter, tapi sebangsal ikut terbakar.
Semua pasien berlari menyelamatkan
diri dan berusaha keluar dari kepulan asab. Pandangan Raisa terlihat nanar dan
matanya memerah. Ia menangis melihat kejadian itu. Ternyata mama nya seorang
pembunuh di masa lalu bersama suster Faridah yang tewas saat menjadi guru.
Mayat suster Faridah ada di dalam gudang lantai empat.
Raisa menutup matanya sambil menjerit
dan menangis. Ia terlihat shock atas semua yang terjadi. Gedung itu pun kembali
menjadi gedung sekolah yang senyap. Kepulan asap menghilang dan terdengar sisa
suara rintikan hujan. Raisa membuka matanya dan berusaha bangit dari duduknya.
__ADS_1
Ia berjalan gontai di koridor. Sedangkan Salma terus saja mencari Raisa. Ia
menaiki anak tangga dengan nafas tersengal. Sedangkan Damsyit juga menuju
lantai empat.
Salma menuju lantai empat dan ia ingin
ke gudang angker tempat ia menyimpan mayat seorang perempuan.
Melda yang mendengar teriakan Raisa
keluar dari kamar dan mencari Raisa. Melda mengamati ruang-ruang kelas yang
gelap. Ia juga sangat ketakutan. Di ujung koridor ia melihat sosok perempuan
menggendong anaknya dengan baju berlumur darah. Perempuan itu yang dibunuh
ibunya. Salma dan Hartati, ibu Melda telah membunuh perempuan itu saat menjadi
perawat. Salma meminta Hartati untuk tidak membongkar kematian perempuan itu
yang kehabisan darah saat melahirkan. Hartati lebih dulu tewas ketabrak truk
hingga kepalanya pecah.
Melda terkejut dan ketakutan. Ia ingin
kembali ke asrama tapi gedung sekolah tiba-tiba saja berkabut. Melda bingung
dan merinding. Ia tidak tahu mengapa ada kabut di sekolah itu. Gedung itu pun
berubah menjadi rumah sakit dalam penglihatannya. Melda melihat ibunya di ruang
bedah dengan Salma. Di atas meja bedah ada seorang perempuan yang hendak
melahirkan. Tapi karena sakit hati dan kesal melihat perempuan itu sebagai
pelakor, Salma sengaja membiarkanya kehabisan darah. Perempuan itu bluding.
Salma bersekongkol dengan Hartati.
Melda berlari di koridor saking
takutnya dan ia menubruk Andriano. Melda tidak tahu kalau Andriano sudah meninggal.
Laki-laki itu hanya berdiri dengan wajah pucat dan dingin. Melda terjatuh dan
terpuruk di lantai.
“Pak Andriano?” Gumamnya pelan. “Pak
saya takut, Pak. Temani saya kembali ke asrama”
“Apa yang kamu takutkan?” tanya
Andriano. Kini wajahnya kelihatan jelas di mata Melda. Melda pun melihat kepala
Andriano yang pecah dan mengeluarkan darah. Melda menelan ludahnya sambil
bergerak mundur. Ia mulai tahu kalau Andriano bukan lagi sosok manusia. Melda
__ADS_1
ketakutan dan berlari mencari pertolongan.