ARWAH PENUNGGU SEKOLAH

ARWAH PENUNGGU SEKOLAH
Episode 32


__ADS_3

Mama


tercekat mengingat kejadian itu. Setelah makan malam di luar, mereka kembali


dan langsung masuk ke kamar. Papa mematikan lampu dan menyalakan lampu tidur. Kamar


terlihat temaram. Papa sudah tidur terlebih dahulu, sedangkan mama tidak bisa


memejamkan matanya.Kejadian itu masih bermain-main di benaknya. Belum lagi sosok perempuan


yang ada di dapur. Mama duduk di atas empat tidur, tiba-tiba mama mendengar


rintihan pilu dari atas lemari. Mama pun terkejut ketika sosok perempuan


berambut terbakar meringis padanya dan melompat menerkam mama. Mama menjerit


dan merontah-rontah hingga membangunkan papa.


“Mama…ada apa,


ma?” tanya papa sambil menyalakan lampu. Mama masih merontah-rontah seperti


dicekik dan memegang lehernya dengan kedua tangan.Papa buru-buru


mendekati mama sambil melepaskan kedua tangan mama yang mencekik lehernya


sendiri. Tangan mama pun terlepas dan mama tersengal.


“Istiqfar,


Ma...” kata papa. Mama masih mengatur pernafasannya. “Ada apa sebenarnya?”


tanya papa ingin tahu.


“Mama


taku, Pa. Ada sosok menakutkan yang mencekik mama.”


“Mama


bermimpi?”


“Enggak,


Pa. Mama takut.”


“Mama


baca doa ya. Baru jam dua belas malam. Kita tidur ya.”


Mama


mengangguk sambil ketakutan. Papa membaringkan tubuhnya dan memeluk mama agar


mama tidak merasa takut. Lampu kamar pun di matikan. Di sudut lemari sosok itu


berdiri kaku. Menatap mama dengan tajam.


Raisa kembali berada di sebuah rumah


sakit yang bentuknya sangat jadul. Rumah sakit dengan gaya Belanda. Raisa


bingung mengapa ia tiba-tiba bisa berada di tempat itu.


Saat itu suasana tegang. Ada beberapa


orang tak dikenal menganiaya dokter dan suster. Suster itu menjerit-jerit


ketika melihat seorang dokter digorok lehernya hingga mengucurkan darah segar.


Suster itu ketakutan dan berlari minta tolong. Ia berteriak di beberapa ruangan

__ADS_1


meminta tolong pada siapa saja. Namun, teriakannya terabaikan. Sister bernama Zirah


itu pun akhirnya tertangkap oleh seorang laki-laki tak dikenal. Wajahnya bengis


dan sangar. Tanpa rasa iba lak-laki itu menggorok leher Zirah hingga putus.


Darah berserakan di lantai. Tubuh suster itu kejang di lantai meregang


nyawa.


Raisa yang melihat kejadian itu


menjerit histeris dan berlari ketakutan. Ia bersembunyi di salah satu ruang


dengan bibir gemetar. Ia menggigit bibirnya yang bergetar dan berjongkok di


lantai.


Raisa keluar ketika keadaan sudah


sepi. Ia mengawasi koridor yang sunyi. Pandangannya terlihat nanar dan matanya


berair. Koridor merubah menjadi sangat sepi dan mencekam. Suasana berkabut dan


tidak ada siapa-siapa di sana. Kemana para dokter dan suster itu pergi? Pikirnya.


Lambat Raisa melangkahkan kaki di


koridor. Lamat-lamat ia melihat seorang suster berjalan di koridor menuju


tempat di mana Raisa berada. Karena kabut menutupi sebagian koridor, Raisa tak


bisa melihat wajah suster itu. Ia hanya melihat sebagian tubuhnya. Sang suster


semakin dekat dan Raisa tidak melihat bagian kepalanya. Suster itu berjalan


tanpa kepala.


“Akhhh...” Raisa menjerit dan berlari


Raisa berlari sekencang-kencangnya. Ia


membuka beberapa bangsal dan tidak menemukan seorang pun. Bangsal-bangsal itu


kosong dan tempat tidur berantakan.


Nafas Raisa tersengal dan ia


kelelahan. Tiba-tiba saja sebuah kepala menggelinding ke kakinya. Wajah


berlumuran darah dan matanya melotot ke Raisa.


“Akhhh...” Raisa kembali menjerit dan


minta tolong.


“Raisa! Bangun!” Melda membangunkannya


dan mengguncang tubuh Raisa. Raisa pun terbangun dengan nafas memburu.


“Ada apa, Raisa?” Tanya Melda


penasaran.


Raisa menarik nafasnya sejenak. “Aku


mimpi buruk, Mel.” Ucap Raisa sambil mengamati kamarnya.


“Sudah jam lima.” Kata Melda. Raisa


bangkit dari tempat tidurnya dan membasuh wajahnya. Ia mengambil air sembahyang

__ADS_1


dan sholat setelah adzan. Mimpi tadi benar-benar membuatnya semakin takut. Ia


penasaran dengan sekolah itu.


Pagi-pagi sekali Raisa terbangun dan


menemui pak Damsit. Laki-laki yang sudah lama mengabdi pada sekolah itu. Dia pasti tahu


kejadian-kejadian yang terjadi di sekolah. Laki-laki


tua yang sebagian rambutnya sudah memutih tampak di halaman sedang membersihkan


bunga-bunga dari rumput panjang. Raisa menghampiri laki-laki itu dengan ragu.


“Pagi pak Damsit.” Sapa nya sambil


mengulas senyum tipis. Laki-laki itu meletakkan peralatan kebunnya begitu saja.


“Bu Raisa? Ada apa?”


“Saya mau bertanya-tanya aja, Pak.”


“Nggak ada yang perlu ditanyakan lagi,


Bu.” Kata Damsit dingin. Laki-laki itu tidak mau terlibat dengan


kejadian-kejadian masa lalu. “Semuanya sudah saya ceritakan.”


“Tapi, Pak.”


“Sudahlah, saya sibuk. Sebaiknya ibu


segera ke ruang kelas.” Damsit meninggalkan Raisa begitu saja. Raisa pun


melangkahkan kakinya dengan berat menuju sekolah.


Lagi-lagi hawa di sekolah semakin


menakutkannya. Raisa memasuki ruang kelas sambil mengatur detak jantungnya yang


berdebar kencang. Kemarin seorang guru bercerita padanya, kalau ia melihat


penampakan seorang perawat di kamar mandi. Perawat itu berwajah pucat dan


menakutkan.


“Bu Raisa.” Panggil wakil kepala


sekolah, sebelum ia masuk ke ruang kelas. Raisa menghentikan langkahnya.


“Ya, ada apa, Bu?” tanyanya penasaran.


“Ibu masuk di jam 4 sore ya hari ini.


Guru yang mengajar tidak bisa mengajar. Ada sesuatu yang ingin diselesaikan.”


“Baik, Bu.” Jawab Raisa.


“Saya masuk dulu.”


Raisa menganguk dan masuk ke ruangan.


Masuk sore lagi, pikirnya.


Sore itu Raisa berada di lantai tiga.


Ia penasaran ada apa sebenarnya di lantai itu. Raisa melihat pintu yang sudah


diberi tanda dilarang masuk. Raisa mengerutkan keningnya dan ia membuka pintu


itu. Angin berhembus kencang menerpa wajahnya. Terdengar suara

__ADS_1


teriakan-teriakan pilu dari dalam ruangan itu. Suara siapa yang ada di dalam


ruangan itu?


__ADS_2