
Mama
tercekat mengingat kejadian itu. Setelah makan malam di luar, mereka kembali
dan langsung masuk ke kamar. Papa mematikan lampu dan menyalakan lampu tidur. Kamar
terlihat temaram. Papa sudah tidur terlebih dahulu, sedangkan mama tidak bisa
memejamkan matanya.Kejadian itu masih bermain-main di benaknya. Belum lagi sosok perempuan
yang ada di dapur. Mama duduk di atas empat tidur, tiba-tiba mama mendengar
rintihan pilu dari atas lemari. Mama pun terkejut ketika sosok perempuan
berambut terbakar meringis padanya dan melompat menerkam mama. Mama menjerit
dan merontah-rontah hingga membangunkan papa.
“Mama…ada apa,
ma?” tanya papa sambil menyalakan lampu. Mama masih merontah-rontah seperti
dicekik dan memegang lehernya dengan kedua tangan.Papa buru-buru
mendekati mama sambil melepaskan kedua tangan mama yang mencekik lehernya
sendiri. Tangan mama pun terlepas dan mama tersengal.
“Istiqfar,
Ma...” kata papa. Mama masih mengatur pernafasannya. “Ada apa sebenarnya?”
tanya papa ingin tahu.
“Mama
taku, Pa. Ada sosok menakutkan yang mencekik mama.”
“Mama
bermimpi?”
“Enggak,
Pa. Mama takut.”
“Mama
baca doa ya. Baru jam dua belas malam. Kita tidur ya.”
Mama
mengangguk sambil ketakutan. Papa membaringkan tubuhnya dan memeluk mama agar
mama tidak merasa takut. Lampu kamar pun di matikan. Di sudut lemari sosok itu
berdiri kaku. Menatap mama dengan tajam.
Raisa kembali berada di sebuah rumah
sakit yang bentuknya sangat jadul. Rumah sakit dengan gaya Belanda. Raisa
bingung mengapa ia tiba-tiba bisa berada di tempat itu.
Saat itu suasana tegang. Ada beberapa
orang tak dikenal menganiaya dokter dan suster. Suster itu menjerit-jerit
ketika melihat seorang dokter digorok lehernya hingga mengucurkan darah segar.
Suster itu ketakutan dan berlari minta tolong. Ia berteriak di beberapa ruangan
__ADS_1
meminta tolong pada siapa saja. Namun, teriakannya terabaikan. Sister bernama Zirah
itu pun akhirnya tertangkap oleh seorang laki-laki tak dikenal. Wajahnya bengis
dan sangar. Tanpa rasa iba lak-laki itu menggorok leher Zirah hingga putus.
Darah berserakan di lantai. Tubuh suster itu kejang di lantai meregang
nyawa.
Raisa yang melihat kejadian itu
menjerit histeris dan berlari ketakutan. Ia bersembunyi di salah satu ruang
dengan bibir gemetar. Ia menggigit bibirnya yang bergetar dan berjongkok di
lantai.
Raisa keluar ketika keadaan sudah
sepi. Ia mengawasi koridor yang sunyi. Pandangannya terlihat nanar dan matanya
berair. Koridor merubah menjadi sangat sepi dan mencekam. Suasana berkabut dan
tidak ada siapa-siapa di sana. Kemana para dokter dan suster itu pergi? Pikirnya.
Lambat Raisa melangkahkan kaki di
koridor. Lamat-lamat ia melihat seorang suster berjalan di koridor menuju
tempat di mana Raisa berada. Karena kabut menutupi sebagian koridor, Raisa tak
bisa melihat wajah suster itu. Ia hanya melihat sebagian tubuhnya. Sang suster
semakin dekat dan Raisa tidak melihat bagian kepalanya. Suster itu berjalan
tanpa kepala.
“Akhhh...” Raisa menjerit dan berlari
Raisa berlari sekencang-kencangnya. Ia
membuka beberapa bangsal dan tidak menemukan seorang pun. Bangsal-bangsal itu
kosong dan tempat tidur berantakan.
Nafas Raisa tersengal dan ia
kelelahan. Tiba-tiba saja sebuah kepala menggelinding ke kakinya. Wajah
berlumuran darah dan matanya melotot ke Raisa.
“Akhhh...” Raisa kembali menjerit dan
minta tolong.
“Raisa! Bangun!” Melda membangunkannya
dan mengguncang tubuh Raisa. Raisa pun terbangun dengan nafas memburu.
“Ada apa, Raisa?” Tanya Melda
penasaran.
Raisa menarik nafasnya sejenak. “Aku
mimpi buruk, Mel.” Ucap Raisa sambil mengamati kamarnya.
“Sudah jam lima.” Kata Melda. Raisa
bangkit dari tempat tidurnya dan membasuh wajahnya. Ia mengambil air sembahyang
__ADS_1
dan sholat setelah adzan. Mimpi tadi benar-benar membuatnya semakin takut. Ia
penasaran dengan sekolah itu.
Pagi-pagi sekali Raisa terbangun dan
menemui pak Damsit. Laki-laki yang sudah lama mengabdi pada sekolah itu. Dia pasti tahu
kejadian-kejadian yang terjadi di sekolah. Laki-laki
tua yang sebagian rambutnya sudah memutih tampak di halaman sedang membersihkan
bunga-bunga dari rumput panjang. Raisa menghampiri laki-laki itu dengan ragu.
“Pagi pak Damsit.” Sapa nya sambil
mengulas senyum tipis. Laki-laki itu meletakkan peralatan kebunnya begitu saja.
“Bu Raisa? Ada apa?”
“Saya mau bertanya-tanya aja, Pak.”
“Nggak ada yang perlu ditanyakan lagi,
Bu.” Kata Damsit dingin. Laki-laki itu tidak mau terlibat dengan
kejadian-kejadian masa lalu. “Semuanya sudah saya ceritakan.”
“Tapi, Pak.”
“Sudahlah, saya sibuk. Sebaiknya ibu
segera ke ruang kelas.” Damsit meninggalkan Raisa begitu saja. Raisa pun
melangkahkan kakinya dengan berat menuju sekolah.
Lagi-lagi hawa di sekolah semakin
menakutkannya. Raisa memasuki ruang kelas sambil mengatur detak jantungnya yang
berdebar kencang. Kemarin seorang guru bercerita padanya, kalau ia melihat
penampakan seorang perawat di kamar mandi. Perawat itu berwajah pucat dan
menakutkan.
“Bu Raisa.” Panggil wakil kepala
sekolah, sebelum ia masuk ke ruang kelas. Raisa menghentikan langkahnya.
“Ya, ada apa, Bu?” tanyanya penasaran.
“Ibu masuk di jam 4 sore ya hari ini.
Guru yang mengajar tidak bisa mengajar. Ada sesuatu yang ingin diselesaikan.”
“Baik, Bu.” Jawab Raisa.
“Saya masuk dulu.”
Raisa menganguk dan masuk ke ruangan.
Masuk sore lagi, pikirnya.
Sore itu Raisa berada di lantai tiga.
Ia penasaran ada apa sebenarnya di lantai itu. Raisa melihat pintu yang sudah
diberi tanda dilarang masuk. Raisa mengerutkan keningnya dan ia membuka pintu
itu. Angin berhembus kencang menerpa wajahnya. Terdengar suara
__ADS_1
teriakan-teriakan pilu dari dalam ruangan itu. Suara siapa yang ada di dalam
ruangan itu?