ARWAH PENUNGGU SEKOLAH

ARWAH PENUNGGU SEKOLAH
Episode 13


__ADS_3

Hari minggu pagi yang cerah, Hanna duduk di teras depan


rumah. Kehadiran Mama tidak membuat Hanna gembira. Ia menganggap mama sudah


menelantarkannya dengan memindahkan ia ke Medan. Mama keluar dengan membawa


nampan berisi teh hangat dan cemilan. Kemudian meletakkan di atas meja, lalu


duduk di kursi sebelah Hanna.


“Han… Kamu masih marah sama mama? Mama tau ini berat buat


kamu, tapi mama tidak punya pilihan lain.”


“Sudahlah, Ma. Kita nggak perlu membahsa hal itu lagi.


Nggak ada gunanya juga.” Hanna menatap halaman depan.


Mama menuang teh hangan ke mug Hanna dan menyodorkan


minuman itu ke anak gadisnya yang masih berwajah kesal.


“Nih mama buatin teh upet. Biar pikiran kamu juga tenang.”


Hanna diam saja dan ia terpaku untuk beberapa saat. Mama


meneguk minumannya lalu meletakkan mug–nya di atas meja.


“Kata nenek, kamu mau pindah sekolah. Apa benar?”


“Hanna nggak tenang di sekolah itu.”


“Loh kenapa? Itu kan sekolah bagus, Han…”


“Baguas apanya? Sekolah itu berhantu, Ma. Mama mau Hanna


mengalami depresi karena ketakutan?” Ucap Hanna dengan nada masih kesal.


“Berhantu gimana sih? Dulu mama juga sekolah disana. Nggak


ada yang aneh kok.”


“Mama tau apa tentang sekolah itu? Nggak ada kan?”


Mama mengerutkan keningnya. Ia berusaha mengingat sekolah


itu dua puluh tahun yang lalu.


“Han... sebenarnya mama tidak


mau mengingat cerita itu.”


“Cerita apa?” Hanna penasaran.


Mama menghela nafas sejenak,


lalu berujar.


“Kamu nggak perlu tahu dengan


cerita itu. Lebih baik kita relaksasi aja yuk. Kita jalan atau keliling kota


Medan?”


“Hmmm...”


Nenek yang sedari tadi


mendengarkan pembicaraan Hanna dan Mama pun keluar dari dalam rumah.


“Betul itu, Han. Ini kan hari


minggu, enaknya jalan-jalan. Dari pada di rumah dan kamu mikirin hal-hal aneh,


lebih baik refresing.”


“Yuk...” Ajak Mama lagi.


Hanna mengangkat bahunya


pertanda setuju.



Hanna


memperhatikan bangunan-bangunan tua yang ada di kota Medan. Bangunan-bangunan


itu meninggalkan sebuah cerita mistis yang menakutkan. Bangunan yang ada di


jalan Kesawan juga bekas peninggalan zaman Belanda. Banyak bangunan yang sudah


dipugar dan direnovasi menjadi bangunan baru, namun ada beberapa yang masih


asli dan meninggalkan ketakutan bagi Hanna. Contohnya saja bagunan London


Sumatera yang didirikan pada tahin1918, bangunan itu tampak sangat fenomenal.


Gedung di depannya juga begitu terasa nuansa negatifnya.


“Hann... kamu jangan


melamun aja ah. Dari tadi bengong aja. Kamu lagi mikirin apa sih?”


“Nggak mikirin


apa-apa kok, Ma.”


Mama menggelengkan


kepalanya sambil nyetir mobil peninggalan kakek. Mobil itu memang sudah lama


dan masih bisa dipergunakan. Mama kembali nyetir dan ngobrol sama sang nenek.


Hanna hanya menikmati perjalanan itu lewat jendela kaca mobil.


Mobil yang


dikendarai mama memasuki pelataran parkir Merdeka Walk. Tempat itu pusat


jajanan yang asyik punya. Hanna turun sambil memperhatikan sudut-sudut kota


yang masih asing baginya. Kemudian mereka berjalan menuju sebuah cafe yang


berada di sejajaran Merdeka Walk.


Hanna lagi-lagi


melamun seraya duduk di kursinya. Mama sibuk memilih menu makanan yang


disodorkan pelayan. Setelah memesan makanan dan minuman, Mama kembali bertanya


ke Hanna.


“Han... kamu


kenapa sih? Kok jadi aneh gini?”


“Hmm, nggak


apa-apa kok, Ma.”


“Ada yang kamu


sembunykan dari mama?”


Hanna menggeleng.


“Nggak ada.”

__ADS_1


“Lantas kenapa


kamu melamun terus?”


Hanna menatap


wajah mamanya yang kelihatan semakin berkerut.


“Ma... sekolah


Hanna itu angker. Hanna mau tanya sama mama, apakah dulu sekolah itu memang


sudah angker?”


“Angker


bagaimana?”


“Hanna selalu


dinampakkin ama arwah penasaran. Temen Hanna juga.”


Mama terdiam


sejenak sambil menatap wajah anaknya dengan lekat. Mama nggak ingin menyimpan


cerita tragis dua puluh tahun lalu.


“Han... mama harap


kamu tidak semakin gelisah dengan cerita mama.”


“Mama punya cerita


juga di sekolah itu?”


Mama mengangguk.


“Ya. Dua puluh


tahun lalu saat mama masih seusiamu dan sekolah di sekolahmu, kejadian tragis


menimpa temen mama.” Mama mulai bercerita.


Hanna mendengarkan


dengan serius cerita dua puluh tahun lalu itu. Hanna memperhatikan bibir mama


yang begitu hidup menceritakan kisah tragis sahabatnya.


Dua puluh tahun


lalu, sekolah itu masih kelihatan rapi dan aman. Banyak murid-murid bersekolah


disana, termasuk mama Hanna. Mama memiliki seorang sahabat bernama Salama.


Gadis bersuku Melayu dan rama. Parasnya manis dengan tahi lalat di dagunya.


Kulitnya tidak terlalu putih dan tidak terlalu cokelat. Gadis itu bunuh diri


setelah diputuskan kekasihnya dengan cara melompat dari lantai tiga. Salama


tewas seketika dan sangat mengenaskan. Sejak kejadian itu arwah Salama selalu


gentayangan di sekolah sampai mereka tamat dari sekolah.


Ternyata


Salama  hamil dua bulan sejak bunuh diri.


Laki-laki yang tidak bertanggung jawab itu akhirnya dipindahkan orang tuanya ke


Jakarta. Laki-laki itu kembali lagi dan menikah dengan gadis lain. Konon mereka


memiliki anak yang juga bersekolah disitu.


“Anaknya sekolah


Mama hanya


mengangguk.


“Mama dengar


cerita dari teman mama.”


“Siapa namanya,


Ma?”


“Keyla.”


“Keyla?” Hanna


terkejut.


Mama heran melihat


reaksi Hanna yang terlihat berlebihan.


“Memangnya kenapa?


Kamu kenal sama dia?”


“Dia temen aku,


Ma. Pantas saja dia selalu dihantui sosok mengerikan di sekolah.”


“Hmm...” Mama


mengerutkan dahinya.


“Ma... Hanna


pindah aja ya dari sekolah itu? Lama-lama sekolahnya menakutkan. Ternyata ada


kejadian lain selain kejadian yang Hanna tau.”


“Maksud kamu


kejadian apalagi?”


“Ma... lima tahun


lalu ada tujuh pelajar yang nekat bunuh diri karena tidak lulus ujian. Mereka


melompat dari atap lantai tiga. Setahun yang lalu juga ada kejadian tragis yang


bikin Hanna merinding. Seorang pelajar tewas karean didorong Keyla dari atap


lantai tiga.”


Mama dan nenek


saling berpandangan. Nenek masih cemas melihat cucu satu-satunya itu. Mereka


kemudian diam sejenak sambil berpikir keras.


“Jangan gegabah


dulu, Hanna. Itu kan masih cerita aja.”


“Cerita itu


sungguhan, Ma. Malah Hanna pernah melihat ketujuh pelajar itu.”


“Dimana?”


“Waktu itu Hanna

__ADS_1


tengah berada di dalam toilet, tapi tiba-tiba saja suasana di luar berubah


sepi. Trus Hanna mendengar keributan di ruang guru, lalu ketujuh pelajar itu


keluar dengan wajah kesal. Tak lama berselang itu Hanna mendengar mereka


berteriak sambil melompat dari atap lantai tiga.”


Mama terdiam dan


lagi-lagi memandang nenek dengan cemas.


“Apakah ini


kejadian beruntun, Bu?” Tanya Mama ke nenek.


“Entahlah... Ibu


juga nggak tahu.” Nenek memelas tidak tahu-menahu.


Seorang pelayan


datang dan membawakan pesanan mereka. Sepertinya mereka mengurungkan niat makan


siang bersama, namun pesanan sudah dihidang dan mereka harus menikmatinya.


Pikiran mama jadi


kacau mendengar cerita Hanna. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Apakah sosok


Salama akan membas dendam kepada anak dari laki-laki itu?



Hanna mengambil


ponselnya dari atas meja. Sore itu ia menghubungi Anton dan ingin bercerita


panjang lebar mengenai cerita mamanya dua puluh tahun lalu. Beberapa kali


ponsel Anton tulalit sampai Hanna menghubunginya berkali-kali. Nada sambung pun


terdengar di telinga Hanna.


“Ya halo, Han..?”


“Halo, Ton. Kamu


dimana?”


“Lagi di rumah?


Ada apa?’


“Aku mau cerita ke


kamu.”


“Cerita apa?”


“Ada kejadian


tragis dua puluh tahun lalu di sekolah kita.”


“Maksudmu?”


“Kamu ke rumah ku


aja deh, biar enak ngobrolnya.”


“Oke.”


Klik. Hanna


mematikan ponselnya.


Satu jam kemudian


Anton pun datang mengendarai sepeda motornya. Hann menunggunya di teras depan


sambil membaca beberapa buku pelajaran. Anton memarkirkan motornya. Kemudian ia


menghampiri Hanna di teras. Hanna mengumbar senyum manisnya.


“Ada apa sih, Nona


manis?”


“Ada aku disini.”


“Heheheh...”


Anton duduk di


sebelah Hanna. Gadis itu meletakan bukunya di atas meja lalu menatap wajah


Anton.


“Ton... Mamaku


pernah sekolah disitu dan ada kejadian tragis dua puluh tahun lalu.”


“Oh ya?” Anton


memperlihatkan wajah congeknya.


“Aku serius,


Ton...”


“Trus..? Aku mau


bilang apa lagi?”


“Kamu dengerin


dong.”


“Baik, Nona cerewet.”


“Huh. Kamu nggak


pernahserius deh.”


“Aku udah seriusnih. Ayo lanjutin ceritanya.”


Hanna sedikit


sewot.


“Begini.Dua puluh tahun yang lalu temen mama bunuh diri di sekolah


itu.”


“Trus?”


“Sepertinya sekolah itu kena kutukan deh.”


“Hmmm… Jangan suujon dulu.”


“Bukan suujon, tapi kenyataan. Buktinya tujuh


pelajar itu juga mati bunuh diri di sekolah itu.”


“Kebetulan aja kali, Han. Udah ah, nggak usah


nyeritain itu. Ntar kamu sendiri lagi yang ketakutan.”


Bibir Hanna manyun. Anton menggoda Hanna agar

__ADS_1


tidak bête. Ia membuat wajah-wajah lucu dan senyum Hanna pun mengembang.



__ADS_2