
Hari minggu pagi yang cerah, Hanna duduk di teras depan
rumah. Kehadiran Mama tidak membuat Hanna gembira. Ia menganggap mama sudah
menelantarkannya dengan memindahkan ia ke Medan. Mama keluar dengan membawa
nampan berisi teh hangat dan cemilan. Kemudian meletakkan di atas meja, lalu
duduk di kursi sebelah Hanna.
“Han… Kamu masih marah sama mama? Mama tau ini berat buat
kamu, tapi mama tidak punya pilihan lain.”
“Sudahlah, Ma. Kita nggak perlu membahsa hal itu lagi.
Nggak ada gunanya juga.” Hanna menatap halaman depan.
Mama menuang teh hangan ke mug Hanna dan menyodorkan
minuman itu ke anak gadisnya yang masih berwajah kesal.
“Nih mama buatin teh upet. Biar pikiran kamu juga tenang.”
Hanna diam saja dan ia terpaku untuk beberapa saat. Mama
meneguk minumannya lalu meletakkan mug–nya di atas meja.
“Kata nenek, kamu mau pindah sekolah. Apa benar?”
“Hanna nggak tenang di sekolah itu.”
“Loh kenapa? Itu kan sekolah bagus, Han…”
“Baguas apanya? Sekolah itu berhantu, Ma. Mama mau Hanna
mengalami depresi karena ketakutan?” Ucap Hanna dengan nada masih kesal.
“Berhantu gimana sih? Dulu mama juga sekolah disana. Nggak
ada yang aneh kok.”
“Mama tau apa tentang sekolah itu? Nggak ada kan?”
Mama mengerutkan keningnya. Ia berusaha mengingat sekolah
itu dua puluh tahun yang lalu.
“Han... sebenarnya mama tidak
mau mengingat cerita itu.”
“Cerita apa?” Hanna penasaran.
Mama menghela nafas sejenak,
lalu berujar.
“Kamu nggak perlu tahu dengan
cerita itu. Lebih baik kita relaksasi aja yuk. Kita jalan atau keliling kota
Medan?”
“Hmmm...”
Nenek yang sedari tadi
mendengarkan pembicaraan Hanna dan Mama pun keluar dari dalam rumah.
“Betul itu, Han. Ini kan hari
minggu, enaknya jalan-jalan. Dari pada di rumah dan kamu mikirin hal-hal aneh,
lebih baik refresing.”
“Yuk...” Ajak Mama lagi.
Hanna mengangkat bahunya
pertanda setuju.
Hanna
memperhatikan bangunan-bangunan tua yang ada di kota Medan. Bangunan-bangunan
itu meninggalkan sebuah cerita mistis yang menakutkan. Bangunan yang ada di
jalan Kesawan juga bekas peninggalan zaman Belanda. Banyak bangunan yang sudah
dipugar dan direnovasi menjadi bangunan baru, namun ada beberapa yang masih
asli dan meninggalkan ketakutan bagi Hanna. Contohnya saja bagunan London
Sumatera yang didirikan pada tahin1918, bangunan itu tampak sangat fenomenal.
Gedung di depannya juga begitu terasa nuansa negatifnya.
“Hann... kamu jangan
melamun aja ah. Dari tadi bengong aja. Kamu lagi mikirin apa sih?”
“Nggak mikirin
apa-apa kok, Ma.”
Mama menggelengkan
kepalanya sambil nyetir mobil peninggalan kakek. Mobil itu memang sudah lama
dan masih bisa dipergunakan. Mama kembali nyetir dan ngobrol sama sang nenek.
Hanna hanya menikmati perjalanan itu lewat jendela kaca mobil.
Mobil yang
dikendarai mama memasuki pelataran parkir Merdeka Walk. Tempat itu pusat
jajanan yang asyik punya. Hanna turun sambil memperhatikan sudut-sudut kota
yang masih asing baginya. Kemudian mereka berjalan menuju sebuah cafe yang
berada di sejajaran Merdeka Walk.
Hanna lagi-lagi
melamun seraya duduk di kursinya. Mama sibuk memilih menu makanan yang
disodorkan pelayan. Setelah memesan makanan dan minuman, Mama kembali bertanya
ke Hanna.
“Han... kamu
kenapa sih? Kok jadi aneh gini?”
“Hmm, nggak
apa-apa kok, Ma.”
“Ada yang kamu
sembunykan dari mama?”
Hanna menggeleng.
“Nggak ada.”
__ADS_1
“Lantas kenapa
kamu melamun terus?”
Hanna menatap
wajah mamanya yang kelihatan semakin berkerut.
“Ma... sekolah
Hanna itu angker. Hanna mau tanya sama mama, apakah dulu sekolah itu memang
sudah angker?”
“Angker
bagaimana?”
“Hanna selalu
dinampakkin ama arwah penasaran. Temen Hanna juga.”
Mama terdiam
sejenak sambil menatap wajah anaknya dengan lekat. Mama nggak ingin menyimpan
cerita tragis dua puluh tahun lalu.
“Han... mama harap
kamu tidak semakin gelisah dengan cerita mama.”
“Mama punya cerita
juga di sekolah itu?”
Mama mengangguk.
“Ya. Dua puluh
tahun lalu saat mama masih seusiamu dan sekolah di sekolahmu, kejadian tragis
menimpa temen mama.” Mama mulai bercerita.
Hanna mendengarkan
dengan serius cerita dua puluh tahun lalu itu. Hanna memperhatikan bibir mama
yang begitu hidup menceritakan kisah tragis sahabatnya.
Dua puluh tahun
lalu, sekolah itu masih kelihatan rapi dan aman. Banyak murid-murid bersekolah
disana, termasuk mama Hanna. Mama memiliki seorang sahabat bernama Salama.
Gadis bersuku Melayu dan rama. Parasnya manis dengan tahi lalat di dagunya.
Kulitnya tidak terlalu putih dan tidak terlalu cokelat. Gadis itu bunuh diri
setelah diputuskan kekasihnya dengan cara melompat dari lantai tiga. Salama
tewas seketika dan sangat mengenaskan. Sejak kejadian itu arwah Salama selalu
gentayangan di sekolah sampai mereka tamat dari sekolah.
Ternyata
Salama hamil dua bulan sejak bunuh diri.
Laki-laki yang tidak bertanggung jawab itu akhirnya dipindahkan orang tuanya ke
Jakarta. Laki-laki itu kembali lagi dan menikah dengan gadis lain. Konon mereka
memiliki anak yang juga bersekolah disitu.
“Anaknya sekolah
Mama hanya
mengangguk.
“Mama dengar
cerita dari teman mama.”
“Siapa namanya,
Ma?”
“Keyla.”
“Keyla?” Hanna
terkejut.
Mama heran melihat
reaksi Hanna yang terlihat berlebihan.
“Memangnya kenapa?
Kamu kenal sama dia?”
“Dia temen aku,
Ma. Pantas saja dia selalu dihantui sosok mengerikan di sekolah.”
“Hmm...” Mama
mengerutkan dahinya.
“Ma... Hanna
pindah aja ya dari sekolah itu? Lama-lama sekolahnya menakutkan. Ternyata ada
kejadian lain selain kejadian yang Hanna tau.”
“Maksud kamu
kejadian apalagi?”
“Ma... lima tahun
lalu ada tujuh pelajar yang nekat bunuh diri karena tidak lulus ujian. Mereka
melompat dari atap lantai tiga. Setahun yang lalu juga ada kejadian tragis yang
bikin Hanna merinding. Seorang pelajar tewas karean didorong Keyla dari atap
lantai tiga.”
Mama dan nenek
saling berpandangan. Nenek masih cemas melihat cucu satu-satunya itu. Mereka
kemudian diam sejenak sambil berpikir keras.
“Jangan gegabah
dulu, Hanna. Itu kan masih cerita aja.”
“Cerita itu
sungguhan, Ma. Malah Hanna pernah melihat ketujuh pelajar itu.”
“Dimana?”
“Waktu itu Hanna
__ADS_1
tengah berada di dalam toilet, tapi tiba-tiba saja suasana di luar berubah
sepi. Trus Hanna mendengar keributan di ruang guru, lalu ketujuh pelajar itu
keluar dengan wajah kesal. Tak lama berselang itu Hanna mendengar mereka
berteriak sambil melompat dari atap lantai tiga.”
Mama terdiam dan
lagi-lagi memandang nenek dengan cemas.
“Apakah ini
kejadian beruntun, Bu?” Tanya Mama ke nenek.
“Entahlah... Ibu
juga nggak tahu.” Nenek memelas tidak tahu-menahu.
Seorang pelayan
datang dan membawakan pesanan mereka. Sepertinya mereka mengurungkan niat makan
siang bersama, namun pesanan sudah dihidang dan mereka harus menikmatinya.
Pikiran mama jadi
kacau mendengar cerita Hanna. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Apakah sosok
Salama akan membas dendam kepada anak dari laki-laki itu?
Hanna mengambil
ponselnya dari atas meja. Sore itu ia menghubungi Anton dan ingin bercerita
panjang lebar mengenai cerita mamanya dua puluh tahun lalu. Beberapa kali
ponsel Anton tulalit sampai Hanna menghubunginya berkali-kali. Nada sambung pun
terdengar di telinga Hanna.
“Ya halo, Han..?”
“Halo, Ton. Kamu
dimana?”
“Lagi di rumah?
Ada apa?’
“Aku mau cerita ke
kamu.”
“Cerita apa?”
“Ada kejadian
tragis dua puluh tahun lalu di sekolah kita.”
“Maksudmu?”
“Kamu ke rumah ku
aja deh, biar enak ngobrolnya.”
“Oke.”
Klik. Hanna
mematikan ponselnya.
Satu jam kemudian
Anton pun datang mengendarai sepeda motornya. Hann menunggunya di teras depan
sambil membaca beberapa buku pelajaran. Anton memarkirkan motornya. Kemudian ia
menghampiri Hanna di teras. Hanna mengumbar senyum manisnya.
“Ada apa sih, Nona
manis?”
“Ada aku disini.”
“Heheheh...”
Anton duduk di
sebelah Hanna. Gadis itu meletakan bukunya di atas meja lalu menatap wajah
Anton.
“Ton... Mamaku
pernah sekolah disitu dan ada kejadian tragis dua puluh tahun lalu.”
“Oh ya?” Anton
memperlihatkan wajah congeknya.
“Aku serius,
Ton...”
“Trus..? Aku mau
bilang apa lagi?”
“Kamu dengerin
dong.”
“Baik, Nona cerewet.”
“Huh. Kamu nggak
pernahserius deh.”
“Aku udah seriusnih. Ayo lanjutin ceritanya.”
Hanna sedikit
sewot.
“Begini.Dua puluh tahun yang lalu temen mama bunuh diri di sekolah
itu.”
“Trus?”
“Sepertinya sekolah itu kena kutukan deh.”
“Hmmm… Jangan suujon dulu.”
“Bukan suujon, tapi kenyataan. Buktinya tujuh
pelajar itu juga mati bunuh diri di sekolah itu.”
“Kebetulan aja kali, Han. Udah ah, nggak usah
nyeritain itu. Ntar kamu sendiri lagi yang ketakutan.”
Bibir Hanna manyun. Anton menggoda Hanna agar
__ADS_1
tidak bête. Ia membuat wajah-wajah lucu dan senyum Hanna pun mengembang.