
Keyla menolak ajakkan Hanna untuk nonton
bareng. Ia tidak mau mengganggu hubungan sahabatnya itu yang masih baru tumbuh
dan berkembang. Ia pulang lebih dulu dan ingin di rumah saja.
Terdengar suara
canda dan tawa dari sebuah handycam milik Keyla. Gadis itu melihat lagi rekaman
setahun yang lalu. Rekaman saat mereka masuk ke sekolah itu. Keyla tersenyum
tipis sambil tiduran. Tiba-tiba saja ponselnya berdering. Keyla meletakkan
handycamnya di atas meja dan mengambil ponselnya. Dari Mery. Keyla mengerutkan
keningnya.
“Ya, halo, Mer...
Ada apa?”
“Key... Aku
ngelihat sosok itu.” Kata Mery dengan suara masih ketakutan.
“Hmm... Maksudmu?”
“Jardi.” Jawab Mery.
Keyla terkejut. “Lantas?”
“Aku nggak tau apa
yang harus aku lakukan, Key.”
“Kita harus
menghentikan semuanya, Mer. Aku nggak mau terus-terusan ditakuti sama arwah
itu.”
“Bagaimana caranya?”
“Aku juga nggak
tahu. Lebih baik kita tanyakan saja masalah ini ke Ziad dan Nico. Mereka pasti
tahu.”
“Kamu yakin?”
“Aku yakin, mereka
pasti tahu mengatasinya. Atau kita cari aja dukun yang kuat, Mer.”
Mery terdiam
sejenak di seberang sana.
“Dukun? Kamu masih
percaya sama dukun?”
“Lantas siapa?”
“Kita cari seorang
Kyai, Key.” Kata Mery kemudian.
“Kamu tau seorang
Kyai di mana?”
“Kita harus cari
tahu.”
“Ya udah, besok
kita bicarakan lagi masalah ini.”
“Ya.”
“Dag.”
Keyla mematikan
ponselnya. Pikirannnya kembali kacau dengan cerita Mery. Keyla mengambil
handycamnya yang sudah mati. Kemudian menutup layar LCDnya, lalu meletakknya di
__ADS_1
atas buffet meja belajarnya.
Keyla beranjak
dari kamarnya dan menemui mama di ruang tamu. Mama dan Papa asyik nonton tv.
Keyla ikut duduk sambil menonton acara yang ditonton papa dan mamanya.
“Loh, kok belum
tidur, Key?”
“Keyla belum
ngantuk, Ma.”
“Udah malem nih.”
“Sebentar lagi.”
Ucap Keyla.
Meski matanya
sudah terasa berat namun Keyla memaksakan menonton acara tv yang isinya hanya
berita. Ia terkantuk-kantuk dan sesekali kepalanya tertunduk ke bawah.
“Key... mata kamu
sudah merah sekali. Kamu tidur sana, gak usah dipaksain.”
“Tapi, Ma...”
“Tidur, Key. Besok
kamu kan sekolah.” Timpal papa.
“Ugh, Papa.”
Akhirnya Keyla
beranjak dengan berat. Ia kembali ke kamarnya dengan rasa ketakutan. Pelan ia
membuka pintu kamar dan mengawasi isinya. Setelah itu ia masuk dan naik ke
tempat tidur. Ia mengambil selimut dan menutupi seluruh wajahnya. Keyla pun
###
Sehabis nonton, Hanna terusik lagi dengan cerita
Anton. Benarkah sekolah itu meminta tumbal? Rasanya itu tidak mungkin. Dan
malam itu Hanna menghubungi Anton lewat ponselnya. Nyambung dan Anton
menjawabnya dengan bercanada.
“Halo, Honey...
Kamu pasti kangen kan?” Tanya Anton dari seberang sana.
“Igh, kegeeran
deh. Baru aja kita nonton bareng.”
“Trus ada apa kamu
nelpon aku malam-malam gini?”
“Huh, aku masih
penasaran sama ceritamu itu.”
“Udah ah, nggak
usah dibahas. Udah malem. Lebih baik kamu tidur aja.”
“Aku nggak bisa
tidur.”
“Nanti kamu malah
lebih nggak bisa tidur lagi, Han.”
“Makanya kamu
ceritain ke aku apa yang terjadi di sekolah itu?”
Anton menghela
__ADS_1
nafasnya yang terdengar dari ponsel Hanna.
“Okey, tapi kalau
kamu ketakutan aku nggak tanggung jawab.”
“Iya. Udah
resiko.”
“Huh, sok berani.”
“Udah ah, cepetan
cerita. Kamu kan bisa ngelihat hantu.”
“Hanna... bisa
ngelihat hantu itu kamu pikir enak?”
“Setidaknya kamu
nggak ketakutan kayak aku dan temen-temen lain.”
“Tapi janji jangan
salahin aku.”
“Iya-iya, bawel
banget.”
Anton mulai
bercerita tentang penampakkan-penampakan di sekolah. Konon arwah-arwah
penasaran itu masih ingin hidup, namun mereka dibunuh secara sadis. Gedung
sekolah itu juga dulu bekas tempat pembantaian.
Ada sosok yang
sangat jahat haus akan darah manusia. Sosok kasat mata yang sangat menakutkan.
Hanna merinding mendengarkan cerita Anton. Ia semakin ketakutan di kamar.
“Kamu pasti sedang
ketakutan saat ini.” Kata Anton.
“Uugh, Anton.
Nggak lucu ah.”
“Tidur gih, udah
malem.”
“Iya. Dag...”
Hanna mematikan
ponselnya dan kembali memperhatikan kamarnya. Ia tak mau tidur sendirian dan
kembali ke kamar neneknya. Sang nenek tersenyum ketika melihat Hanna membuka
pintu kamar.
“Kamu masih
takut?” tanya nenek sambil tersenyum.
Hanna mengangguk.
“Sini.” Ucap
Nenek.
Hanna menghampiri
neneknya yang duduk di atas tempat tidur.
“Sekarang
tidurlah, udah larut malam.”
“Iya, Nek.” Hanna
menganggu.
Hanna naik ke
__ADS_1
tempat tidur dan tidur di sebelah neneknya.