ARWAH PENUNGGU SEKOLAH

ARWAH PENUNGGU SEKOLAH
Episode 15


__ADS_3

Keyla menolak ajakkan Hanna untuk nonton


bareng. Ia tidak mau mengganggu hubungan sahabatnya itu yang masih baru tumbuh


dan berkembang. Ia pulang lebih dulu dan ingin di rumah saja.


Terdengar suara


canda dan tawa dari sebuah handycam milik Keyla. Gadis itu melihat lagi rekaman


setahun yang lalu. Rekaman saat mereka masuk ke sekolah itu. Keyla tersenyum


tipis sambil tiduran. Tiba-tiba saja ponselnya berdering. Keyla meletakkan


handycamnya di atas meja dan mengambil ponselnya. Dari Mery. Keyla mengerutkan


keningnya.


“Ya, halo, Mer...


Ada apa?”


“Key... Aku


ngelihat sosok itu.” Kata Mery dengan suara masih ketakutan.


“Hmm... Maksudmu?”


“Jardi.” Jawab Mery.


Keyla terkejut. “Lantas?”


“Aku nggak tau apa


yang harus aku lakukan, Key.”


“Kita harus


menghentikan semuanya, Mer. Aku nggak mau terus-terusan ditakuti sama arwah


itu.”


“Bagaimana caranya?”


“Aku juga nggak


tahu. Lebih baik kita tanyakan saja masalah ini ke Ziad dan Nico. Mereka pasti


tahu.”


“Kamu yakin?”


“Aku yakin, mereka


pasti tahu mengatasinya. Atau kita cari aja dukun yang kuat, Mer.”


Mery terdiam


sejenak di seberang sana.


“Dukun? Kamu masih


percaya sama dukun?”


“Lantas siapa?”


“Kita cari seorang


Kyai, Key.” Kata Mery kemudian.


“Kamu tau seorang


Kyai di mana?”


“Kita harus cari


tahu.”


“Ya udah, besok


kita bicarakan lagi masalah ini.”


“Ya.”


“Dag.”


Keyla mematikan


ponselnya. Pikirannnya kembali kacau dengan cerita Mery. Keyla mengambil


handycamnya yang sudah mati. Kemudian menutup layar LCDnya, lalu meletakknya di

__ADS_1


atas buffet meja belajarnya.


Keyla beranjak


dari kamarnya dan menemui mama di ruang tamu. Mama dan Papa asyik nonton tv.


Keyla ikut duduk sambil menonton acara yang ditonton papa dan mamanya.


“Loh, kok belum


tidur, Key?”


“Keyla belum


ngantuk, Ma.”


“Udah malem nih.”


“Sebentar lagi.”


Ucap Keyla.


Meski matanya


sudah terasa berat namun Keyla memaksakan menonton acara tv yang isinya hanya


berita. Ia terkantuk-kantuk dan sesekali kepalanya tertunduk ke bawah.


“Key... mata kamu


sudah merah sekali. Kamu tidur sana, gak usah dipaksain.”


“Tapi, Ma...”


“Tidur, Key. Besok


kamu kan sekolah.” Timpal papa.


“Ugh, Papa.”


Akhirnya Keyla


beranjak dengan berat. Ia kembali ke kamarnya dengan rasa ketakutan. Pelan ia


membuka pintu kamar dan mengawasi isinya. Setelah itu ia masuk dan naik ke


tempat tidur. Ia mengambil selimut dan menutupi seluruh wajahnya. Keyla pun


###


Sehabis nonton, Hanna terusik lagi dengan cerita


Anton. Benarkah sekolah itu meminta tumbal? Rasanya itu tidak mungkin. Dan


malam itu Hanna menghubungi Anton lewat ponselnya. Nyambung dan Anton


menjawabnya dengan bercanada.


“Halo, Honey...


Kamu pasti kangen kan?” Tanya Anton dari seberang sana.


“Igh, kegeeran


deh. Baru aja kita nonton bareng.”


“Trus ada apa kamu


nelpon aku malam-malam gini?”


“Huh, aku masih


penasaran sama ceritamu itu.”


“Udah ah, nggak


usah dibahas. Udah malem. Lebih baik kamu tidur aja.”


“Aku nggak bisa


tidur.”


“Nanti kamu malah


lebih nggak bisa tidur lagi, Han.”


“Makanya kamu


ceritain ke aku apa yang terjadi di sekolah itu?”


Anton menghela

__ADS_1


nafasnya yang terdengar dari ponsel Hanna.


“Okey, tapi kalau


kamu ketakutan aku nggak tanggung jawab.”


“Iya. Udah


resiko.”


“Huh, sok berani.”


“Udah ah, cepetan


cerita. Kamu kan bisa ngelihat hantu.”


“Hanna... bisa


ngelihat hantu itu kamu pikir enak?”


“Setidaknya kamu


nggak ketakutan kayak aku dan temen-temen lain.”


“Tapi janji jangan


salahin aku.”


“Iya-iya, bawel


banget.”


Anton mulai


bercerita tentang penampakkan-penampakan di sekolah. Konon arwah-arwah


penasaran itu masih ingin hidup, namun mereka dibunuh secara sadis. Gedung


sekolah itu juga dulu bekas tempat pembantaian.


Ada sosok yang


sangat jahat haus akan darah manusia. Sosok kasat mata yang sangat menakutkan.


Hanna merinding mendengarkan cerita Anton. Ia semakin ketakutan di kamar.


“Kamu pasti sedang


ketakutan saat ini.” Kata Anton.


“Uugh, Anton.


Nggak lucu ah.”


“Tidur gih, udah


malem.”


“Iya. Dag...”


Hanna mematikan


ponselnya dan kembali memperhatikan kamarnya. Ia tak mau tidur sendirian dan


kembali ke kamar neneknya. Sang nenek tersenyum ketika melihat Hanna membuka


pintu kamar.


“Kamu masih


takut?” tanya nenek sambil tersenyum.


Hanna mengangguk.


“Sini.” Ucap


Nenek.


Hanna menghampiri


neneknya yang duduk di atas tempat tidur.


“Sekarang


tidurlah, udah larut malam.”


“Iya, Nek.” Hanna


menganggu.


Hanna naik ke

__ADS_1


tempat tidur dan tidur di sebelah neneknya.


__ADS_2