ARWAH PENUNGGU SEKOLAH

ARWAH PENUNGGU SEKOLAH
Episode 7


__ADS_3

Siang itu Hanna duduk di bangku yang ada di koridor. Ia


terpaku memperhatikan teman-teman sekolahnya yang bermain seperti anak-anak.


Aneh-aneh juga tingkah mereka. Hal itu membuat Hanna tersenyum sendiri.


“Hanna…” Sapa seseorang.


Hanna memalingkan wajahnya dan melihat Bu Sorta menatapnya.


“Ibu. Ada apa?” tanya Hanna penasaran.


Sorta duduk di sampingnya, kemudian ia bertanya ke Hanna.


“Hmm, bagaimana menurutmu sekolah ini?”


“Baik-baik aja, Bu.”


Sorta menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan.


“Maafkan ibu tadi membentakmu di kelas. Ibu tidak mau murid


yang ibu ajar tidak memperhatikan mata pelajaran.”


“Nggak apa-apa, Bu. Saya yang salah.”


“Tadi kalian membicarakan apa?” tanya Sorta.


“Hmm… seputar sekolah ini, Bu.”


Sorta terdiam sejenak lalu berujar. “Kenapa kamu masuk ke sekolah ini?”


Pertanyaan itu membuat Hanna bingung.


“Maksud ibu?”


“Kan masih ada sekolah lain yang lebih bagus. Ibu sih nggak


melarang kamu untuk sekolah disini, tapi…”


“Tapi apa, Buk.”


“Nggak apa-apa.”


“Nenek yang masukkan saya ke sekolah ini. Orang tua saya


berpisah dan saya dititipkan ke nenek. Memangnya ada apa sih, Bu. Kok kayaknya


rahasia banget?”


Sorta memandang halaman depan. Ia tak ingin Hanna menjadi


ketakutan atas pengakuannya.


“Sebenarnya ibu kasihan melihat murid-murid baru di sini.


Mereka tidak tahu apa-apa tentang sekolah ini.”


“Maksudnya?”


“Sekolah ini angker!” Kata Sorta sambil bergidik


Hanna terdiam sejenak. Ia sudah tahu kalau sekolah itu


memang angker.


“Kalau angker kenapa Ibu masih mengajar disini?”


“Ibu terpaksa, Han. Walau sebenarnya ibu juga takut. Tapi


demi kehidupan anak-anak ibu, terpaksa ibu mempertahankannya.”


Hanna hening sambil menarik nafasnya, kemudian bertanya


lagi ke Sorta.


“Sebenarnya ada apa sih di sekolah ini, Bu? Saya lihat semuanya baik-baik aja, tapi ada


sesuatu yang bikin saya takut. Saya melihat penampakkan, Bu.”


Sorta terkejut dan mengamati wajah Hanna. Ia diam sesaat sambil memperhatikan halaman depan. Kemudian Sorta menceritakan tentang sekolah itu.


“Banyak kejadian yang sudah terjadi di sekolah ini. Ibu

__ADS_1


nggak bisa cerita ke kamu. Lebih baik kamu cari sekolah lain saja.” Ujar Sorta.


“Hmmm…”


Sorta beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Hanna


yang penuh tanda tanya. Bell sekolah pun berdentang beberapa kali. Hanna


beranjak dan masuk ke ruangannya.



Di ruang guru terdengar perbincangan serius antara Sorta


dan Winda, guru Sejarah untuk kelas XI. Mereka membicarakan tentang suasana


sekolah yang semakin lama semakin menakutkan. Mengapa banyak murid yang tewas


sia-sia. Bukan itu saja. Sosok-sosok arwah penasaran pun gentayangan menakuti


para pelajar. Padahal pemilik sekolah sudah membuat upacara doa untuk arwah


agar tidak mengganggu.


“Saya jadi khawatir, Bu. Kenapa sekolah ini jadi


menyeramkan.”


“Saya juga tidak tahu harus berkata apa, Bu Winda.


Sebenarnya saya ingin meninggalkan sekolah ini dan pindah ke sekolah lain. Tapi


entah mengapa hati saya berat sekali untuk pergi.”


“Lama-lama saya takut sendiri, Bu. Saya juga pernah melihat


sosok mengerikan di sini. Suara-suara tangisan juga.


Sorta terdiam sejenak. Ia mengingat lagi kejadian lima


tahun lalu. Kejadian tragis yang membuatnya ketakutan dan shock.


“Sebaiknya kita cari pembahasan lain, Bu. Saya nggak ingin


Winda hanya mengangkat bahunya. Ia ingin mengundurkan diri


dari sekolah itu karena terus diganggu mahluk halus. Ia juga pernah mendengar


jeritan-jeritan pilu yang entah darimana asalnya. Seperti sore itu ketika


mereka selesai bicara dan Winda masih berada di ruangannya. Ia masih sibuk


menyusun soal-soal ujian untuk besok. Tiba-tiba saja ada sosok tangan hitam


menepuk pundaknya. Ia sempat melirik dan melihat jari-jari yang panjang dengan


kuku-kuku yang tajam menakutkan. Ia ingin menjerit, namun bibirnya terasa


seperti membesar dan terkatup.


Winda merasakan cengkraman tangan itu di pundaknya.


Tengkuknya merinding tiada terkira. Dengan sekuat tenaga ia beranjak dari


kursinya dan berlari keluar ruangannya. Winda sangat ketakutan dan baru


tersadar kalau dia hanya sendiri di ruangan itu. Para guru sudah pulang ke


rumah masing-masing. Winda bingung dan panik. Ia segera melangkahkan kakinya di


koridor. Ia mencari-cari penjaga sekolah.


“Bu Winda belum pulang?”


Tiba-tiba saja seseorang menyapanya. Winda terkejut


setengah mati dan hampir menjerit. Namun ia menghela lega ketika melihat


seseorang yang dicarinya.


“Pak Damsit… Belum, Pak.” Winda mengatur pernafasannya. Ia


tampak gugup dan wajahnya yang terlihat pias.

__ADS_1


“Ada apa, Bu Winda? Kelihatannya gelisah sekali?”


“Hmmm…” Winda malu untuk memberi tahu Pak Damsit.


Penjaga sekolah itu tersenyum lalu berkata.


“Pulanglah, Bu. Sudah sore, ayo saya temani.”


Winda terlihat enggan dan malu ketika Pak Damsit berkata


begitu. Damsit hanya tersenyum.


“Nggak apa-apa, Bu. Saya ngerti situasi disini.”


“Tapi, Pak…”


“Ayo saya antar.”


Winda gagup, namun melangkahkan kakinya sambil menunduk. Ia


memperhatikan ruangannya sebelum masuk. Tidak ada apa-apa disana. Winda


melangkahkan kakinya dengan tergesa dan memasukkan lembaran-lembaran kertas ke


dalam tas-nya, lalu ia meninggalkan ruangan itu tanpa memalingkan wajahnya ke


belakang. Di belakang kursinya sosok berambut panjang berdiri membelakangi


kursi.


“Terima kasih, Pak Damsit. Saya permisih dulu.”


Laki-laki paruh baya itu hanya mengangguk. Buru-buru Winda


keluar dari gedung sekolah. Tengkuknya masih merinding.



Hanna tiba di rumah saat sore. Sang nenek yang baik hati


sudah menyiapkan teh hangat dan beberapa cemilan kecil. Hanna meletakkan tasnya


di atas meja, lalu duduk dengan manis.


“Ngeteh dulu, Han. Kamu pasti capek.”


Hanna menarik nafasnya dalam-dalam. Ia kembali termenung.


“Kamu kenapa lagi?” Tanya sang Nenek.


“Hanna jadi penasaran sama sekolah itu, Nek. Tadi ibu guru


di sekolah juga nyuruh Hanna pindah.”


“Hmm… pindah? Ngapain lagi pindah sekolah. Kamu nggak usah


terpancing sama cerita-cerita itu, Han.”


“Tapi ini beneran terjadi, Nek. Hanna juga takut.”


Sang nenek memperhatikan


cucunya dengan lekat. Memang ada rasa ketakutan dalam diri Hanna. Sang nenek


berusaha menenangkan pikiran cucunya.


“Ya udah kita ngeteh dulu nih.”Ucap sang nenek.


Hanna mengambil mugnya di atas meja. Kemudian ia menyeruput


teh itu dengan perlahan. Ada sensasi tenang dalam pikirannya. Teh buatan nenek


memang enak. Nenek pintar meracik teh. Aroma melatinya sangat terasa dan


membuat pikiran Hanna menjadi tenang.


“Gimana? Enakkan teh buatan nenek?”


Hanna mengangguk dan tersenyum. Pikiran-pikiran yang


mengusiknya pun langsung hilang.


__ADS_1


__ADS_2