
Siang itu Hanna duduk di bangku yang ada di koridor. Ia
terpaku memperhatikan teman-teman sekolahnya yang bermain seperti anak-anak.
Aneh-aneh juga tingkah mereka. Hal itu membuat Hanna tersenyum sendiri.
“Hanna…” Sapa seseorang.
Hanna memalingkan wajahnya dan melihat Bu Sorta menatapnya.
“Ibu. Ada apa?” tanya Hanna penasaran.
Sorta duduk di sampingnya, kemudian ia bertanya ke Hanna.
“Hmm, bagaimana menurutmu sekolah ini?”
“Baik-baik aja, Bu.”
Sorta menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan.
“Maafkan ibu tadi membentakmu di kelas. Ibu tidak mau murid
yang ibu ajar tidak memperhatikan mata pelajaran.”
“Nggak apa-apa, Bu. Saya yang salah.”
“Tadi kalian membicarakan apa?” tanya Sorta.
“Hmm… seputar sekolah ini, Bu.”
Sorta terdiam sejenak lalu berujar. “Kenapa kamu masuk ke sekolah ini?”
Pertanyaan itu membuat Hanna bingung.
“Maksud ibu?”
“Kan masih ada sekolah lain yang lebih bagus. Ibu sih nggak
melarang kamu untuk sekolah disini, tapi…”
“Tapi apa, Buk.”
“Nggak apa-apa.”
“Nenek yang masukkan saya ke sekolah ini. Orang tua saya
berpisah dan saya dititipkan ke nenek. Memangnya ada apa sih, Bu. Kok kayaknya
rahasia banget?”
Sorta memandang halaman depan. Ia tak ingin Hanna menjadi
ketakutan atas pengakuannya.
“Sebenarnya ibu kasihan melihat murid-murid baru di sini.
Mereka tidak tahu apa-apa tentang sekolah ini.”
“Maksudnya?”
“Sekolah ini angker!” Kata Sorta sambil bergidik
Hanna terdiam sejenak. Ia sudah tahu kalau sekolah itu
memang angker.
“Kalau angker kenapa Ibu masih mengajar disini?”
“Ibu terpaksa, Han. Walau sebenarnya ibu juga takut. Tapi
demi kehidupan anak-anak ibu, terpaksa ibu mempertahankannya.”
Hanna hening sambil menarik nafasnya, kemudian bertanya
lagi ke Sorta.
“Sebenarnya ada apa sih di sekolah ini, Bu? Saya lihat semuanya baik-baik aja, tapi ada
sesuatu yang bikin saya takut. Saya melihat penampakkan, Bu.”
Sorta terkejut dan mengamati wajah Hanna. Ia diam sesaat sambil memperhatikan halaman depan. Kemudian Sorta menceritakan tentang sekolah itu.
“Banyak kejadian yang sudah terjadi di sekolah ini. Ibu
__ADS_1
nggak bisa cerita ke kamu. Lebih baik kamu cari sekolah lain saja.” Ujar Sorta.
“Hmmm…”
Sorta beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Hanna
yang penuh tanda tanya. Bell sekolah pun berdentang beberapa kali. Hanna
beranjak dan masuk ke ruangannya.
Di ruang guru terdengar perbincangan serius antara Sorta
dan Winda, guru Sejarah untuk kelas XI. Mereka membicarakan tentang suasana
sekolah yang semakin lama semakin menakutkan. Mengapa banyak murid yang tewas
sia-sia. Bukan itu saja. Sosok-sosok arwah penasaran pun gentayangan menakuti
para pelajar. Padahal pemilik sekolah sudah membuat upacara doa untuk arwah
agar tidak mengganggu.
“Saya jadi khawatir, Bu. Kenapa sekolah ini jadi
menyeramkan.”
“Saya juga tidak tahu harus berkata apa, Bu Winda.
Sebenarnya saya ingin meninggalkan sekolah ini dan pindah ke sekolah lain. Tapi
entah mengapa hati saya berat sekali untuk pergi.”
“Lama-lama saya takut sendiri, Bu. Saya juga pernah melihat
sosok mengerikan di sini. Suara-suara tangisan juga.
Sorta terdiam sejenak. Ia mengingat lagi kejadian lima
tahun lalu. Kejadian tragis yang membuatnya ketakutan dan shock.
“Sebaiknya kita cari pembahasan lain, Bu. Saya nggak ingin
Winda hanya mengangkat bahunya. Ia ingin mengundurkan diri
dari sekolah itu karena terus diganggu mahluk halus. Ia juga pernah mendengar
jeritan-jeritan pilu yang entah darimana asalnya. Seperti sore itu ketika
mereka selesai bicara dan Winda masih berada di ruangannya. Ia masih sibuk
menyusun soal-soal ujian untuk besok. Tiba-tiba saja ada sosok tangan hitam
menepuk pundaknya. Ia sempat melirik dan melihat jari-jari yang panjang dengan
kuku-kuku yang tajam menakutkan. Ia ingin menjerit, namun bibirnya terasa
seperti membesar dan terkatup.
Winda merasakan cengkraman tangan itu di pundaknya.
Tengkuknya merinding tiada terkira. Dengan sekuat tenaga ia beranjak dari
kursinya dan berlari keluar ruangannya. Winda sangat ketakutan dan baru
tersadar kalau dia hanya sendiri di ruangan itu. Para guru sudah pulang ke
rumah masing-masing. Winda bingung dan panik. Ia segera melangkahkan kakinya di
koridor. Ia mencari-cari penjaga sekolah.
“Bu Winda belum pulang?”
Tiba-tiba saja seseorang menyapanya. Winda terkejut
setengah mati dan hampir menjerit. Namun ia menghela lega ketika melihat
seseorang yang dicarinya.
“Pak Damsit… Belum, Pak.” Winda mengatur pernafasannya. Ia
tampak gugup dan wajahnya yang terlihat pias.
__ADS_1
“Ada apa, Bu Winda? Kelihatannya gelisah sekali?”
“Hmmm…” Winda malu untuk memberi tahu Pak Damsit.
Penjaga sekolah itu tersenyum lalu berkata.
“Pulanglah, Bu. Sudah sore, ayo saya temani.”
Winda terlihat enggan dan malu ketika Pak Damsit berkata
begitu. Damsit hanya tersenyum.
“Nggak apa-apa, Bu. Saya ngerti situasi disini.”
“Tapi, Pak…”
“Ayo saya antar.”
Winda gagup, namun melangkahkan kakinya sambil menunduk. Ia
memperhatikan ruangannya sebelum masuk. Tidak ada apa-apa disana. Winda
melangkahkan kakinya dengan tergesa dan memasukkan lembaran-lembaran kertas ke
dalam tas-nya, lalu ia meninggalkan ruangan itu tanpa memalingkan wajahnya ke
belakang. Di belakang kursinya sosok berambut panjang berdiri membelakangi
kursi.
“Terima kasih, Pak Damsit. Saya permisih dulu.”
Laki-laki paruh baya itu hanya mengangguk. Buru-buru Winda
keluar dari gedung sekolah. Tengkuknya masih merinding.
Hanna tiba di rumah saat sore. Sang nenek yang baik hati
sudah menyiapkan teh hangat dan beberapa cemilan kecil. Hanna meletakkan tasnya
di atas meja, lalu duduk dengan manis.
“Ngeteh dulu, Han. Kamu pasti capek.”
Hanna menarik nafasnya dalam-dalam. Ia kembali termenung.
“Kamu kenapa lagi?” Tanya sang Nenek.
“Hanna jadi penasaran sama sekolah itu, Nek. Tadi ibu guru
di sekolah juga nyuruh Hanna pindah.”
“Hmm… pindah? Ngapain lagi pindah sekolah. Kamu nggak usah
terpancing sama cerita-cerita itu, Han.”
“Tapi ini beneran terjadi, Nek. Hanna juga takut.”
Sang nenek memperhatikan
cucunya dengan lekat. Memang ada rasa ketakutan dalam diri Hanna. Sang nenek
berusaha menenangkan pikiran cucunya.
“Ya udah kita ngeteh dulu nih.”Ucap sang nenek.
Hanna mengambil mugnya di atas meja. Kemudian ia menyeruput
teh itu dengan perlahan. Ada sensasi tenang dalam pikirannya. Teh buatan nenek
memang enak. Nenek pintar meracik teh. Aroma melatinya sangat terasa dan
membuat pikiran Hanna menjadi tenang.
“Gimana? Enakkan teh buatan nenek?”
Hanna mengangguk dan tersenyum. Pikiran-pikiran yang
mengusiknya pun langsung hilang.
__ADS_1