ARWAH PENUNGGU SEKOLAH

ARWAH PENUNGGU SEKOLAH
Episode 33


__ADS_3

“Jangan dibuka ruangan itu!” Tiba-tiba


suara pak Damsit mengejutkan Raisa. Pak Damsit buru-buru menutup pintu itu dan


menatap Raisa dengan tajam. “Saya sudah memperingatkan kepada ibu!” kata Damsit ketus


“Maaf, Pak. Saya ingin tahu saja ada


apa di ruangan ini.”


“Di ruangan ini tidak ada apa-apa! Sebaiknya ibu segera turun!”


Raisa tampak ketakuan melihat pak Damsit marah.


Arwah-arwah dalam ruangan itu pun sudah terlepas. Raisa berlalu dan buru-buru


menuruni anak tangga.


Langit mendadak menghitam dan awan berarak gelisa. Kilat


menyambar nyambar dan membuat sebagian siswa ketakutan. Guru-buru pada


kasak-kusuk apa yang terjadi.


Langkah Raisa tampak terburu-buru dan


masuk ke ruang guru. Kemudia ia duduk dan terpaku. Ia bertanya-tanya ada apa di


ruangan itu? Mengapa Damsit begitu marah saat Raisa membukanya. Tiba-tiba ia


dikejutkan dengan suara teriakan-teriakan dari ruang kelas. Raisa terkeju dan


buru-buru keluar. Raisa menuju ruang kelas yang beberapa siswanya berteriak.


“Ada apa, Bu?” tanya Raisa kepada guru


yang mengajar di kelas itu. Guru bernama Tiara itu bingung tidak tahu.


“Saya tidak tahu, Bu. Tiba-tiba mereka


jejeritan.” Kata Tiara yang tujuh siswanya menjerit-jerit.


Guru-guru yang lain pun berdatangan


melihat apa yang terjadi. Mereka kasak-kusuk dan kebingungan. Salah satu guru


memanggil seorang ustad, sementara para siswa yang kesurupan terus saja menjerit-jerit.


Ada siswa yang matanya melotot tajam dan memerah. Ia menatap Raisa dengan


lekat.


“Aku akan menuntut balas!” Ucapnya


dengan suara yang berat dan menakutkan. Raisa bergidik dan ia memegang lengan


seorang guru.


Beberapa menit kemudian, seorang


laki-laki bersorban datang dan melihat keadaan kelas. Ia terus berucap dan


membaca ayat-ayat pendek. Laki-laki yang dipanggil ustad itu seperti


berkomunikasi dengan arwah-arwah yang menempel di para siswa. Arwa-arwah itu


ternyata siswa yang tidak lulus beberapa tahun lalu. Mereka bunuh diri dan kini


arwahnya gentayangan. Mereka hanya ingin diluluskan dalam ujian.


Pak Damsit datang dengan wajah tegang.


Ia tahu mengapa anak-anak itu kesurupan. Ia menatap Raisa dengan tajam.

__ADS_1


“Ini semua akibat ulah ibu!” Ucapnya


dengan nada tertahan. Raisa terkejut dan menelan ludahnya dengan pahit. “Ibu


sudah membuka pintu larangan itu. Sekarang ibu harus bertanggung jawab!”


Raisa bergidik mendengar kata-kata pak


Damsit. Sementara sang ustad berusaha mengusir arwah-arwah yang menganggu.


Sekitar lima belas menit anak-anak bisa dikendalikan.



Raisa terpaku di kamarnya sambil


membayangkan kejadian tadi. Kata-kata pak Damsit membuatnya bertanya-tanya, ada


apa sebenarnya dengan sekolah itu. Tiba-tiba Raisa tercekat ketika ada suara di


belakangnya yang menyebut namanya. Refleks ia menileh ke belakang dan tidak ada


siapa-siapa. Melda juga belum pulang dari sekolah. Raisa mulai begidik dan


tengkuknya merinding.



 


Melda berjalan di koridor. Hari sudah


semakin gelap dan suara binatang malam mulai terdengar. Bulu kudunya mulai


meremang ketika ia mencium bauh kemenyan. Aromanya sangat tajam tercium di


hidung Melda. Ia melirik ke kanan dan ke kiri. Suasana sunyi, sementara ia


berjalan dari ujung koridor. Ia terkejut ketika melinasi toilet perempuan. Ia


itu. Ia nulu kamar mandi dengan langkah perlahan. Kemudian ia membuka pintu


kamar mandi. Ia melihat ada lima pintu di dalamnya.


Melda memeriksa satu persatu pintu


itu. Tangisan itu tetap terdengar. Ia membuka pintu yang terakhir dan melihat


ada seorang siswa yang menangis di sana.


“Nak, kamu kenapa? Kenapa menangis


disini?” tanya Melda penasaran.


“Saya tidak punya teman, Bu.” Jawab gadis


berseragam sekolah itu.


“Teman kamu kemana?”


Siswi yang masih berseragam sekolah


itu menggeleng pelan. Melda ingin mendekatinya tapi ragu.


“Saya ingin punya teman, Bu.” Katanya.


“Sudah malam. Pulanglah, orang tuamu


pasti mencari kamu.”


“Orang tua saya tidak akan mencari


saya, Bu.”

__ADS_1


Melda bingung dan mengerutkan


keningnya.


“Sebaiknya kamu pulang. Yuk.” Kata


Melda lagi. Gadis itu hanya terdiam. Lama hingga Melda tidak sabar dan


mendekatinya. Melda menarik tubuh gadis itu dan ia pun terkejut alang-kepalang.


Kedua bola mata gadis itu berlubang.


“Akh...” Melda menjerit dan buru-buru


keluar dari kamar mandi. Ia sangat ketakutan dan berlari di koridor. Jantungnya


berdebar sangat kencang. Koridor terasa sangat panjang.


Melda menggigit bibir bawahnya sambil


ketakutan. Sepatunya terlepas karena ia berlari sangat kencang. Tidak ada


siapa-siapa di koridor itu. Para guru sudah pada pulang.


Sosok-sosok lain pun bermunculan di


koridor. Sosok-sosok menakutkan yang membuat Melda bergidik ngeri. Kakinya


mulai kebas dan lelah. Ingin menjerit tapi bibirnya terasa terkatup. Tengkuknya


terasa membesar.


“Akhhh...” Melda menjerit lagi saking


takutnya.


Ada tujuh arwah yang muncul malam itu.


Tepatnya malam jumat dan hujan baru saja reda. Arwah-arwah itu sangat


mengerikan. Ada yang kepalanya pecah berlumuran darah.


Melda terus berlari menuju asrama.


Nafasnya tersengal menaiki lantai dua dan ia buru-buru masuk ke kamar. Raisa


terkejut begitu Melda masuk dengan nafas tersengal dan keringan yang mengucur


deras dari kening. Raisa juga heran mengapa Melda masuk dengan keringat dan


nafas memburu.


“Kamu dari mana, Melda?” tanya Raisa


heran.


Melda masih mengatur pernafasannya dan


duduk di atas tempat tidur.


“Aku dari sekolah, Raisa.”


“Sekolah?” Raisa membelalakan matanya.


“Ini jam dua belas malam, Mel.”


“Hakh!” Melda terkejut. Jam dua belas


malam Melda berada di sekolah. Ia juga tidak tahu mengapa bisa berada di


sekolah jam segitu. Larut malam dan hujan rintik-rintik. Ia tidak percaya kalau


malam itu sudah jam 12 malam.

__ADS_1



__ADS_2