
“Jangan dibuka ruangan itu!” Tiba-tiba
suara pak Damsit mengejutkan Raisa. Pak Damsit buru-buru menutup pintu itu dan
menatap Raisa dengan tajam. “Saya sudah memperingatkan kepada ibu!” kata Damsit ketus
“Maaf, Pak. Saya ingin tahu saja ada
apa di ruangan ini.”
“Di ruangan ini tidak ada apa-apa! Sebaiknya ibu segera turun!”
Raisa tampak ketakuan melihat pak Damsit marah.
Arwah-arwah dalam ruangan itu pun sudah terlepas. Raisa berlalu dan buru-buru
menuruni anak tangga.
Langit mendadak menghitam dan awan berarak gelisa. Kilat
menyambar nyambar dan membuat sebagian siswa ketakutan. Guru-buru pada
kasak-kusuk apa yang terjadi.
Langkah Raisa tampak terburu-buru dan
masuk ke ruang guru. Kemudia ia duduk dan terpaku. Ia bertanya-tanya ada apa di
ruangan itu? Mengapa Damsit begitu marah saat Raisa membukanya. Tiba-tiba ia
dikejutkan dengan suara teriakan-teriakan dari ruang kelas. Raisa terkeju dan
buru-buru keluar. Raisa menuju ruang kelas yang beberapa siswanya berteriak.
“Ada apa, Bu?” tanya Raisa kepada guru
yang mengajar di kelas itu. Guru bernama Tiara itu bingung tidak tahu.
“Saya tidak tahu, Bu. Tiba-tiba mereka
jejeritan.” Kata Tiara yang tujuh siswanya menjerit-jerit.
Guru-guru yang lain pun berdatangan
melihat apa yang terjadi. Mereka kasak-kusuk dan kebingungan. Salah satu guru
memanggil seorang ustad, sementara para siswa yang kesurupan terus saja menjerit-jerit.
Ada siswa yang matanya melotot tajam dan memerah. Ia menatap Raisa dengan
lekat.
“Aku akan menuntut balas!” Ucapnya
dengan suara yang berat dan menakutkan. Raisa bergidik dan ia memegang lengan
seorang guru.
Beberapa menit kemudian, seorang
laki-laki bersorban datang dan melihat keadaan kelas. Ia terus berucap dan
membaca ayat-ayat pendek. Laki-laki yang dipanggil ustad itu seperti
berkomunikasi dengan arwah-arwah yang menempel di para siswa. Arwa-arwah itu
ternyata siswa yang tidak lulus beberapa tahun lalu. Mereka bunuh diri dan kini
arwahnya gentayangan. Mereka hanya ingin diluluskan dalam ujian.
Pak Damsit datang dengan wajah tegang.
Ia tahu mengapa anak-anak itu kesurupan. Ia menatap Raisa dengan tajam.
__ADS_1
“Ini semua akibat ulah ibu!” Ucapnya
dengan nada tertahan. Raisa terkejut dan menelan ludahnya dengan pahit. “Ibu
sudah membuka pintu larangan itu. Sekarang ibu harus bertanggung jawab!”
Raisa bergidik mendengar kata-kata pak
Damsit. Sementara sang ustad berusaha mengusir arwah-arwah yang menganggu.
Sekitar lima belas menit anak-anak bisa dikendalikan.
Raisa terpaku di kamarnya sambil
membayangkan kejadian tadi. Kata-kata pak Damsit membuatnya bertanya-tanya, ada
apa sebenarnya dengan sekolah itu. Tiba-tiba Raisa tercekat ketika ada suara di
belakangnya yang menyebut namanya. Refleks ia menileh ke belakang dan tidak ada
siapa-siapa. Melda juga belum pulang dari sekolah. Raisa mulai begidik dan
tengkuknya merinding.
Melda berjalan di koridor. Hari sudah
semakin gelap dan suara binatang malam mulai terdengar. Bulu kudunya mulai
meremang ketika ia mencium bauh kemenyan. Aromanya sangat tajam tercium di
hidung Melda. Ia melirik ke kanan dan ke kiri. Suasana sunyi, sementara ia
berjalan dari ujung koridor. Ia terkejut ketika melinasi toilet perempuan. Ia
itu. Ia nulu kamar mandi dengan langkah perlahan. Kemudian ia membuka pintu
kamar mandi. Ia melihat ada lima pintu di dalamnya.
Melda memeriksa satu persatu pintu
itu. Tangisan itu tetap terdengar. Ia membuka pintu yang terakhir dan melihat
ada seorang siswa yang menangis di sana.
“Nak, kamu kenapa? Kenapa menangis
disini?” tanya Melda penasaran.
“Saya tidak punya teman, Bu.” Jawab gadis
berseragam sekolah itu.
“Teman kamu kemana?”
Siswi yang masih berseragam sekolah
itu menggeleng pelan. Melda ingin mendekatinya tapi ragu.
“Saya ingin punya teman, Bu.” Katanya.
“Sudah malam. Pulanglah, orang tuamu
pasti mencari kamu.”
“Orang tua saya tidak akan mencari
saya, Bu.”
__ADS_1
Melda bingung dan mengerutkan
keningnya.
“Sebaiknya kamu pulang. Yuk.” Kata
Melda lagi. Gadis itu hanya terdiam. Lama hingga Melda tidak sabar dan
mendekatinya. Melda menarik tubuh gadis itu dan ia pun terkejut alang-kepalang.
Kedua bola mata gadis itu berlubang.
“Akh...” Melda menjerit dan buru-buru
keluar dari kamar mandi. Ia sangat ketakutan dan berlari di koridor. Jantungnya
berdebar sangat kencang. Koridor terasa sangat panjang.
Melda menggigit bibir bawahnya sambil
ketakutan. Sepatunya terlepas karena ia berlari sangat kencang. Tidak ada
siapa-siapa di koridor itu. Para guru sudah pada pulang.
Sosok-sosok lain pun bermunculan di
koridor. Sosok-sosok menakutkan yang membuat Melda bergidik ngeri. Kakinya
mulai kebas dan lelah. Ingin menjerit tapi bibirnya terasa terkatup. Tengkuknya
terasa membesar.
“Akhhh...” Melda menjerit lagi saking
takutnya.
Ada tujuh arwah yang muncul malam itu.
Tepatnya malam jumat dan hujan baru saja reda. Arwah-arwah itu sangat
mengerikan. Ada yang kepalanya pecah berlumuran darah.
Melda terus berlari menuju asrama.
Nafasnya tersengal menaiki lantai dua dan ia buru-buru masuk ke kamar. Raisa
terkejut begitu Melda masuk dengan nafas tersengal dan keringan yang mengucur
deras dari kening. Raisa juga heran mengapa Melda masuk dengan keringat dan
nafas memburu.
“Kamu dari mana, Melda?” tanya Raisa
heran.
Melda masih mengatur pernafasannya dan
duduk di atas tempat tidur.
“Aku dari sekolah, Raisa.”
“Sekolah?” Raisa membelalakan matanya.
“Ini jam dua belas malam, Mel.”
“Hakh!” Melda terkejut. Jam dua belas
malam Melda berada di sekolah. Ia juga tidak tahu mengapa bisa berada di
sekolah jam segitu. Larut malam dan hujan rintik-rintik. Ia tidak percaya kalau
malam itu sudah jam 12 malam.
__ADS_1