
Gedung rumah sakit berkabut. Raisa
berlari di lorong rumah sakit. Keringat bercucuran. Seorang suster dengan kulit
melepuh mengejarnya. Raisa ketakutan dan berusaha menyelamatkan diri. Raisa
terus berlari hingga ujung koridor. Di sana terdapat sebuah pintu yang entah
kemana. Pintu itu adalah penghubung dunia manusia dan dunia arwah. Raisa
membukanya dan berlari menuju cahaya putih. Nafasnya ngos-ngosan dan ia kembali
ke gedung sekolah. Keringat mengucur deras dari keningnya.
Sementara Salma terus mencari Raisa.
Damsyit pergi mencari bantuan seorang ustad yang mengerti dunia arwah. Melda
terjebak di dunia lain. Ia melihat lorong-lorong rumah sakit dan bangsal dengan
beberapa perawat. Pandangannya terlihat nanar dan matanya berair. Lorong-lorong
rumah sakit tampak gelap dan hanya sebuah lampu yang menyala di sudut lorong.
Tertatih Melda berjalan dan mendekati
ruang jaga perawat. Ada dua orang perawat di sana. Melda menghampiri ruangan
itu dan ia terkejut, di sana tidak ada siapa-siapa. Ruangan itu kosong. Kemana
dua perawat yang tadi masuk ke ruangan itu. Melda mulai panik dan ia buru-buru
keluar. Sekujur tubuhnya merinding. Melda mencari pintu keluar dari lorong itu.
Ia tidak tahu mengapa tiba-tiba saja gedung sekolah berubah menjadi sebuah
rumah sakit.
“Raisa... Kamu di mana, Sayang. Ini
mama...” Teriak Salma terus mencari Raisa. Salma melihat ruang-ruang kosong
yang gelap. Raisa kini berada di lantai empat dan ia melihat arwah-arwah
gentayangan berdiri kaku di sudut gedung. Arwah tujuh pelajar yang tewas di
gedung sekolah itu dan tujuh pelajar yang juga tewas karena tidak lulus
sekolah. Wajah mereka pucat dan kepalanya mengeluarkan darah bercampur nanah.
Raisa menggigit bibirnya ketika
melihat sosok itu terjun bebas dari lantai empat. Tempat di mana mereka bunuh
diri. Kemudian sosok perempuan menggendong anaknya keluar dari gudang dengan
__ADS_1
wajah yang mengerikan. Wajahnya rusak dan darah membasahi bajunya. Raisa menjerit-jerit ketakutan. Disaat itulah Salma
menemukan Raisa dan ia melihat perempuan yang dulu dibunuhnya. Perempuan itu
selingkuhan suaminya.
“Jangan sakiti dia!” Teriak Salma. “Aku
yang membunuhmu. Bawalah aku bersamamu!”
Sosok itu menatap Salma dengan penuh
kemarahan. Ia menyerang Salma hingga Salma terpelanting. Benda-benda yang ada
di lantai empat bertebangan dan membuat Raisa semakin takut. Ia terkejut dengan
apa yang sudah diperbuat arwah perempuan itu. Tubuh Salma melayang di udara.
“Mama...” Teriak Raisa.
Angin berhembus sangat kencang
sehingga mampu menerbangkan meja rusak dan kursi. Tubuh Salma berputar-putar di
udara. Salam menjerit-jerit.
“Jangan sakitin mamaku!!” Raisa
berteriak lagi.
semakin membara. Arwah itu ingin menuntut balas atas apa yang sudah dilakukan
Salma.
Beberapa menit kemudian, Damsyit dan
seorang ustad pun datang. Damsyit terbelalak melihat pemandangan yang
mengerikan itu. Tiba-tiba saja tubuhnya terpelanting ketika sosok perempuan
yang terbakar muncul dari dalam gudang. Sosok perempuan itu ada seorang dokter
yang dulu dibakar hidup-hidup. Damsyit menjerit dan memohon maaf kepada Arwah
Saidah. Dokter yang menangani ibu melahirkan. Dia adalah anak pemilik rumah
sakit yang tewas kecelakaan.
Sang ustad terlihat kalang kabut
melihat kejadian itu. Dan ia meminta semua diakhiri dengan perdamaian. Arwah
itu tidak terima dan menghempaska Salma hingga ia terjerembam dan berguling
dilantai empat. Tubuhnya pun jatuh terjerembab di lantai dasar. Jeritan Salma
terdengar perih dan membuat Raisa histeris. Kepala Salma pecah dan mengalir
__ADS_1
darah segar. Salma tewas.
Damsyit yang meminta tolong pun
terjerembab di dinding gedung. Tubuhnya tertusuk besi tajam hingg tembus ke
jantungnya. Ia pun tewas bersimbah darah. Arwah itu belum puas dan ingin
menyakiri Raisa. Melda tiba-tiba muncul dari gudang. Wajahnya terlihat pucat.
“Melda?” Gumam Raisa pelan.
“Raisa...” Melda menangis dan berdiri
dengan derai airmata. Ternyata Melda sudah meninggal dunia. Ia terpeleset di
tangga hingga kepalanya berlumuran darah. Tubuh Melda pun lebur bersama tiupan
angin.
“Jangan ganggu anak itu!” Kata ustad
dengan suara yang lantang. “Kembalilah engkau ke alammu.”
“Arrhhhgg...” Arwah itu menjerit
hingga memekakkan gendang telinga.
Angin yang bertiup kencang tiba-tiba
berhenti. Sosok arwah-arwah itu pun menghilang, setelah hilangnya nyawa Salma
dan Damsyit.
Raisa bangkit dengan gontai dan ia
terus menangis tersedu. Sang ustad berusaha memberi pengertian ke Raisa. Hidup
dan mati ada di tangan Tuhan. Ikhlaskanlah atas kepergian mereka.
Raisa mengepak barang-barangnya
setelah pihak polisi mengurus jenazah Salma dan Damsyit. Ia masih tidak percaya
atas kejadian yang menimpa mamanya. Semua perbuatan itu ada balasannya.
Kejadian di gedung sekolah itu menjadi pengalaman yang mengerikan baginya.
Ternyata sebagain guru-guru di sana sudah meninggal dunia. Sekolah pun ditutup
dan saat ini menjadi bangunan kosong yang menakutkan.
TAMAT
__ADS_1