ARWAH PENUNGGU SEKOLAH

ARWAH PENUNGGU SEKOLAH
Episode 40


__ADS_3

Gedung rumah sakit berkabut. Raisa


berlari di lorong rumah sakit. Keringat bercucuran. Seorang suster dengan kulit


melepuh mengejarnya. Raisa ketakutan dan berusaha menyelamatkan diri. Raisa


terus berlari hingga ujung koridor. Di sana terdapat sebuah pintu yang entah


kemana. Pintu itu adalah penghubung dunia manusia dan dunia arwah. Raisa


membukanya dan berlari menuju cahaya putih. Nafasnya ngos-ngosan dan ia kembali


ke gedung sekolah. Keringat mengucur deras dari keningnya.


Sementara Salma terus mencari Raisa.


Damsyit pergi mencari bantuan seorang ustad yang mengerti dunia arwah. Melda


terjebak di dunia lain. Ia melihat lorong-lorong rumah sakit dan bangsal dengan


beberapa perawat. Pandangannya terlihat nanar dan matanya berair. Lorong-lorong


rumah sakit tampak gelap dan hanya sebuah lampu yang menyala di sudut lorong.


Tertatih Melda berjalan dan mendekati


ruang jaga perawat. Ada dua orang perawat di sana. Melda menghampiri ruangan


itu dan ia terkejut, di sana tidak ada siapa-siapa. Ruangan itu kosong. Kemana


dua perawat yang tadi masuk ke ruangan itu. Melda mulai panik dan ia buru-buru


keluar. Sekujur tubuhnya merinding. Melda mencari pintu keluar dari lorong itu.


Ia tidak tahu mengapa tiba-tiba saja gedung sekolah berubah menjadi sebuah


rumah sakit.



“Raisa... Kamu di mana, Sayang. Ini


mama...” Teriak Salma terus mencari Raisa. Salma melihat ruang-ruang kosong


yang gelap. Raisa kini berada di lantai empat dan ia melihat arwah-arwah


gentayangan berdiri kaku di sudut gedung. Arwah tujuh pelajar yang tewas di


gedung sekolah itu dan tujuh pelajar yang juga tewas karena tidak lulus


sekolah. Wajah mereka pucat dan kepalanya mengeluarkan darah bercampur nanah.


Raisa menggigit bibirnya ketika


melihat sosok itu terjun bebas dari lantai empat. Tempat di mana mereka bunuh


diri. Kemudian sosok perempuan menggendong anaknya keluar dari gudang dengan

__ADS_1


wajah yang mengerikan. Wajahnya rusak dan darah membasahi bajunya. Raisa  menjerit-jerit ketakutan. Disaat itulah Salma


menemukan Raisa dan ia melihat perempuan yang dulu dibunuhnya. Perempuan itu


selingkuhan suaminya.


“Jangan sakiti dia!” Teriak Salma. “Aku


yang membunuhmu. Bawalah aku bersamamu!”


Sosok itu menatap Salma dengan penuh


kemarahan. Ia menyerang Salma hingga Salma terpelanting. Benda-benda yang ada


di lantai empat bertebangan dan membuat Raisa semakin takut. Ia terkejut dengan


apa yang sudah diperbuat arwah perempuan itu. Tubuh Salma melayang di udara.


“Mama...” Teriak Raisa.


Angin berhembus sangat kencang


sehingga mampu menerbangkan meja rusak dan kursi. Tubuh Salma berputar-putar di


udara. Salam menjerit-jerit.


“Jangan sakitin mamaku!!” Raisa


berteriak lagi.


semakin membara. Arwah itu ingin menuntut balas atas apa yang sudah dilakukan


Salma.


Beberapa menit kemudian, Damsyit dan


seorang ustad pun datang. Damsyit terbelalak melihat pemandangan yang


mengerikan itu. Tiba-tiba saja tubuhnya terpelanting ketika sosok perempuan


yang terbakar muncul dari dalam gudang. Sosok perempuan itu ada seorang dokter


yang dulu dibakar hidup-hidup. Damsyit menjerit dan memohon maaf kepada Arwah


Saidah. Dokter yang menangani ibu melahirkan. Dia adalah anak pemilik rumah


sakit yang tewas kecelakaan.


Sang ustad terlihat kalang kabut


melihat kejadian itu. Dan ia meminta semua diakhiri dengan perdamaian. Arwah


itu tidak terima dan menghempaska Salma hingga ia terjerembam dan berguling


dilantai empat. Tubuhnya pun jatuh terjerembab di lantai dasar. Jeritan Salma


terdengar perih dan membuat Raisa histeris. Kepala Salma pecah dan mengalir

__ADS_1


darah segar. Salma tewas.


Damsyit yang meminta tolong pun


terjerembab di dinding gedung. Tubuhnya tertusuk besi tajam hingg tembus ke


jantungnya. Ia pun tewas bersimbah darah. Arwah itu belum puas dan ingin


menyakiri Raisa. Melda tiba-tiba muncul dari gudang. Wajahnya terlihat pucat.


“Melda?” Gumam Raisa pelan.


“Raisa...” Melda menangis dan berdiri


dengan derai airmata. Ternyata Melda sudah meninggal dunia. Ia terpeleset di


tangga hingga kepalanya berlumuran darah. Tubuh Melda pun lebur bersama tiupan


angin.


“Jangan ganggu anak itu!” Kata ustad


dengan suara yang lantang. “Kembalilah engkau ke alammu.”


“Arrhhhgg...” Arwah itu menjerit


hingga memekakkan gendang telinga.


Angin yang bertiup kencang tiba-tiba


berhenti. Sosok arwah-arwah itu pun menghilang, setelah hilangnya nyawa Salma


dan Damsyit.


Raisa bangkit dengan gontai dan ia


terus menangis tersedu. Sang ustad berusaha memberi pengertian ke Raisa. Hidup


dan mati ada di tangan Tuhan. Ikhlaskanlah atas kepergian mereka.



Raisa mengepak barang-barangnya


setelah pihak polisi mengurus jenazah Salma dan Damsyit. Ia masih tidak percaya


atas kejadian yang menimpa mamanya. Semua perbuatan itu ada balasannya.


Kejadian di gedung sekolah itu menjadi pengalaman yang mengerikan baginya.


Ternyata sebagain guru-guru di sana sudah meninggal dunia. Sekolah pun ditutup


dan saat ini menjadi bangunan kosong yang menakutkan.


TAMAT


__ADS_1


__ADS_2