
Mama menggigit bibirnya ketika
mengingat ia juga membunuh seorang gadis yang ingin melahirkan, karena ingin
merebut suaminya. Saat usia Raisa tiga tahun, papa ada hubungan dengan gadis
lain. Gadis itu hamil di luar nikah dan saat hendak melahirkan mama memberikan
suntikan yang mematikan. Gadis itu pun tewas bersama bayinya. Dan mama
menyimpan mayat gadis itu di lantai tiga dengan sebuah zimat agar arwahnya
tidak gentayangan. Tapi pintu itu sudah dibuka oleh Raisa.
“Sudah sampai, Bu.” Kata sopir taksi
mengejutkan lamunan mama. Mama menghapus airmatanya dengan tisu. Kemudian
keluar dari taksi setelah membayar argonya. Mama melangkahkan kakinya masuk ke
halaman rumah. Papa sudah menunggu di teras depan.
“Malam, Pa.” Sapa mama.
“Malam. Mama dari mana?” tanya papa
kemudian.
“Hmm... dari asrama Raisa, Pa.”
“Asrama Raisa? Untuk apa, Ma?”
Mama masuk ke dalam rumah diikuti papa
yang masih heran. Mama melepas syal di lehernya dan duduk di kursi tamu. Mama
menarik nafas sejenak dan meneguk air putih di atas meja.
“Mama hanya khawatir dengan Raisa,
Pa.”
“Raisa kan sudah dewasa, Ma. Biarlah
dia menemukan jati dirinya.”
“Tapi, Pa. Raisa mengajar di sekolah
berhantu.”
Papa terkejut dan menatap mama dengan
lekat.
“Sekolah berhantu? Maksud mama?” Papa
terlihat bingung. Kemudian mama menceritakan yang sebenarnya terjadi. Kejadian
sepuluh tahun yang lalu membuat papa sock dan lemas di kursi tamu. Papa tidak
menyangka kalau mama membunuh gadis simpanan papa dan menyimpanya di satu
ruangan yang tidak bisa dibuka.
__ADS_1
Masih terlalu pagi dan Adriano sudah
sampai di sekolah. Hari ini ada mata pelajaran olah raga dan ia ingin memakai
lapangan olah raga di lantai empat.
Adriano memeriksa lantai empat. Ada
lapangan olah raga yang sudah tidak terpakai. Ada gudang yang juga tidak
terpakai. Adriano mengamati gudang itu dengan seksama. Gudang itu sudah ditutup
sejak sepuluh tahun lalu, dan tidak pernah dibuka sama sekali. Adriano
bertanya-tanya apa isi gudang itu. Adriano pun menghampiri pintu yang segelnya
sudah terbuka. Pintu itu sudah dibuka Raisa beberapa hari lalu.
Adriano membuka pintu itu dan masuk ke
dalamnya. Bauh apek dan bakai tikus menyeruak di hidung Adriano. Ia menutup
hidungnya karena debu berterbangan ketika ia membuka pintu kedua. Kursi dan
meja rusak berantakan di sana. Tiba-tiba Adriano terkejut ketika mendengar
suara tangisan seorang bayi. Suara
tangisannya terdengar perih.
Adriano menelen ludahnya dan nyalinya
kapan di gudang itu ada seorang bayi? Pikirnya. Adriano semakin penasaran dan
ia terus masuk ke ruangan gelap. Di sana mata Adriano terbelalak, ketika
melihat sosok perempuan menggendong bayi. Bajunya penuh darah dari
selangkangannya.
Andriano menutup mulutnya sambil
berteriak. Ia buru-buru keluar ketakutan dan buru-buru menutup pintu. Di luar
gudang ia mengatur detak jantungnya yang berdebar kencang. Kemudian ia
buru-buru turun menuju ruang guru. Keringat mengucur deras dari keningnya.
Sesekali ia menghapus keringat dan sesekali ia melihat ke belakang.
Adriano masuk ke ruang guru dan duduk
di kursinya. Adriano tercekat kaget ketika Raisa masuk tiba-tiba.
“Raisa.”
“Pak Adriano? Kok bapak pagi sekali ke
sekolah?” tanya Raisa sambil meletakkan tas kerjanya di atas meja.
“Mm.. saya ada kelas pagi ini.” Jawab
__ADS_1
Adriano gugup.
“Bapak dari mana? Kok wajah bapak
pucat begitu?”
Adriano diam dan menelan ludah dengan
berat. Ia tidak mau Raisa juga merasa takut dengan ceritanya.
“Nggak dari mana-mana.”
“Nggak usah bohong, Pak. Saya tahu
bapak ada masalah. Apakah bapak melihat penampakan di sekolah ini?”
“Maksud kamu?” Adriano pura-pura tidak
tahu. Ia tidak mau dicap sebagai pengecut.
“Saya sering melihatnya, Pak. Saya
takut. Sebenarnya ada kejadian apa dulunya di sekolahan ini?”
Adriano bergeming. Ia menatap wajah
Raisa dengan lekat. “Sudahlah, mingin itu hanya perasaan kamu aja, Raisa.”
“Mengapa arwah-arwah itu mengejar
saya?”
“Mmm..” Adriano tidak menjawab. Ia
tertunduk sejenak lalu mendongak menatap Raisa. “Sebaiknya hal ini kita
rahasiakan saja, Raisa.”
“Rahasiakan bagaimana, Pak.
Akhir-akhir ini banyak murid yang kerasukan. Sekolah ini angker!”
Suasana tiba-tiba hening dan Adriano
terdiam. Memang ia juga pernah mengalami hal yang menakutkan di sekolah itu.
Sesuatu pernah terjadi di sana. Banyak cerita yang membuat bulu kuduk
merinding. Cerita tentang tujuh murid yang bunuh diri dan tentang tujuh murid
yang tewas karena dibully. Dan kejadian sepuluh tahun lalu, seorang dokter
dibakar hidup-hidup dan banyak kejadian yang membuat sekolah itu menjadi
angker.
Bel berbunyi beberapa kali. Guru-guru
mulai berdatangan dan mereka menghentikan pembicaraan tentang sekolah itu.
Raisa masuk ke kelas dan Adriano kembali mengajar olah raga.
__ADS_1