ARWAH PENUNGGU SEKOLAH

ARWAH PENUNGGU SEKOLAH
Episode 37


__ADS_3

Mama menggigit bibirnya ketika


mengingat ia juga membunuh seorang gadis yang ingin melahirkan, karena ingin


merebut suaminya. Saat usia Raisa tiga tahun, papa ada hubungan dengan gadis


lain. Gadis itu hamil di luar nikah dan saat hendak melahirkan mama memberikan


suntikan yang mematikan. Gadis itu pun tewas bersama bayinya. Dan mama


menyimpan mayat gadis itu di lantai tiga dengan sebuah zimat agar arwahnya


tidak gentayangan. Tapi pintu itu sudah dibuka oleh Raisa.


“Sudah sampai, Bu.” Kata sopir taksi


mengejutkan lamunan mama. Mama menghapus airmatanya dengan tisu. Kemudian


keluar dari taksi setelah membayar argonya. Mama melangkahkan kakinya masuk ke


halaman rumah. Papa sudah menunggu di teras depan.


“Malam, Pa.” Sapa mama.


“Malam. Mama dari mana?” tanya papa


kemudian.


“Hmm... dari asrama Raisa, Pa.”


“Asrama Raisa? Untuk apa, Ma?”


Mama masuk ke dalam rumah diikuti papa


yang masih heran. Mama melepas syal di lehernya dan duduk di kursi tamu. Mama


menarik nafas sejenak dan meneguk air putih di atas meja.


“Mama hanya khawatir dengan Raisa,


Pa.”


“Raisa kan sudah dewasa, Ma. Biarlah


dia menemukan jati dirinya.”


“Tapi, Pa. Raisa mengajar di sekolah


berhantu.”


Papa terkejut dan menatap mama dengan


lekat.


“Sekolah berhantu? Maksud mama?” Papa


terlihat bingung. Kemudian mama menceritakan yang sebenarnya terjadi. Kejadian


sepuluh tahun yang lalu membuat papa sock dan lemas di kursi tamu. Papa tidak


menyangka kalau mama membunuh gadis simpanan papa dan menyimpanya di satu


ruangan yang tidak bisa dibuka.

__ADS_1



Masih terlalu pagi dan Adriano sudah


sampai di sekolah. Hari ini ada mata pelajaran olah raga dan ia ingin memakai


lapangan olah raga di lantai empat.


Adriano memeriksa lantai empat. Ada


lapangan olah raga yang sudah tidak terpakai. Ada gudang yang juga tidak


terpakai. Adriano mengamati gudang itu dengan seksama. Gudang itu sudah ditutup


sejak sepuluh tahun lalu, dan tidak pernah dibuka sama sekali. Adriano


bertanya-tanya apa isi gudang itu. Adriano pun menghampiri pintu yang segelnya


sudah terbuka. Pintu itu sudah dibuka Raisa beberapa hari lalu.


Adriano membuka pintu itu dan masuk ke


dalamnya. Bauh apek dan bakai tikus menyeruak di hidung Adriano. Ia menutup


hidungnya karena debu berterbangan ketika ia membuka pintu kedua. Kursi dan


meja rusak berantakan di sana. Tiba-tiba Adriano terkejut ketika mendengar


suara tangisan seorang bayi.  Suara


tangisannya terdengar perih.


Adriano menelen ludahnya dan nyalinya


kapan di gudang itu ada seorang bayi? Pikirnya. Adriano semakin penasaran dan


ia terus masuk ke ruangan gelap. Di sana mata Adriano terbelalak, ketika


melihat sosok perempuan menggendong bayi. Bajunya penuh darah dari


selangkangannya.


Andriano menutup mulutnya sambil


berteriak. Ia buru-buru keluar ketakutan dan buru-buru menutup pintu. Di luar


gudang ia mengatur detak jantungnya yang berdebar kencang. Kemudian ia


buru-buru turun menuju ruang guru. Keringat mengucur deras dari keningnya.


Sesekali ia menghapus keringat dan sesekali ia melihat ke belakang.


Adriano masuk ke ruang guru dan duduk


di kursinya. Adriano tercekat kaget ketika Raisa masuk tiba-tiba.


“Raisa.”


“Pak Adriano? Kok bapak pagi sekali ke


sekolah?” tanya Raisa sambil meletakkan tas kerjanya di atas meja.


“Mm.. saya ada kelas pagi ini.” Jawab

__ADS_1


Adriano gugup.


“Bapak dari mana? Kok wajah bapak


pucat begitu?”


Adriano diam dan menelan ludah dengan


berat. Ia tidak mau Raisa juga merasa takut dengan ceritanya.


“Nggak dari mana-mana.”


“Nggak usah bohong, Pak. Saya tahu


bapak ada masalah. Apakah bapak melihat penampakan di sekolah ini?”


“Maksud kamu?” Adriano pura-pura tidak


tahu. Ia tidak mau dicap sebagai pengecut.


“Saya sering melihatnya, Pak. Saya


takut. Sebenarnya ada kejadian apa dulunya di sekolahan ini?”


Adriano bergeming. Ia menatap wajah


Raisa dengan lekat. “Sudahlah, mingin itu hanya perasaan kamu aja, Raisa.”


“Mengapa arwah-arwah itu mengejar


saya?”


“Mmm..” Adriano tidak menjawab. Ia


tertunduk sejenak lalu mendongak menatap Raisa. “Sebaiknya hal ini kita


rahasiakan saja, Raisa.”


“Rahasiakan bagaimana, Pak.


Akhir-akhir ini banyak murid yang kerasukan. Sekolah ini angker!”


Suasana tiba-tiba hening dan Adriano


terdiam. Memang ia juga pernah mengalami hal yang menakutkan di sekolah itu.


Sesuatu pernah terjadi di sana. Banyak cerita yang membuat bulu kuduk


merinding. Cerita tentang tujuh murid yang bunuh diri dan tentang tujuh murid


yang tewas karena dibully. Dan kejadian sepuluh tahun lalu, seorang dokter


dibakar hidup-hidup dan banyak kejadian yang membuat sekolah itu menjadi


angker.


Bel berbunyi beberapa kali. Guru-guru


mulai berdatangan dan mereka menghentikan pembicaraan tentang sekolah itu.


Raisa masuk ke kelas dan Adriano kembali mengajar olah raga.


__ADS_1


__ADS_2