
Keyla masuk ke kamarnya seraya meletakkan tas sekolah di
atas meja belajar. Dia duduk di atas tempat tidur sambil terpaku. Pandangannya
mengedar ke seluruh kamar. Dari lemari baju sampai buffet kecil. Di sana ada
sebuah vigura yang memajang fotonya bersama teman-teman sekolah. Keyla beranjak
dan menghampiri buffet kecil di dekat jendela. Kemudian ia mengambil vigura itu
dan mempehatikan foto disana. Foto Ziad, Nico, Ardan, Jardi, Mery dan dirinya.
Keyla menghapus foto itu dengan perlahan. Ia mengenang kembali sosok Jardi
setahun yang lalu. Cowok berkulit hitam itu sosok yang pendiam. Cowok itu
penakut dan memiliki paras tidak menarik. Tiba-tiba saja dari mata Jardi keluar
darah. Keyla terkejut dan menghempaskan bingkai foto itu begitu saja. Ia
bergerak mundur dan ketakutan. Ia meremas-remas jemari tangannya dan duduk di
atas tempat tidur. Keyla mulai gelisah. Ia menggigit bibirnya sambil terisak.
Keyla mengambil handycam dari laci buffet kecil
dan membuka layarnya. Setelah layar menyala, Keyla memperhatikan gambar yang
terus bergerak menayangkan rekaman dirinya dan teman-temannya. Di sana ada juga
Jardi dan Mery.
“Maafkan aku, Jar… Maafkan aku…” Gumamnya pelan.
Matanya berkaca-kaca.
Tiba-tiba saja pintu kamarnya diketuk dari
luar.
“Key…. Kamu di dalam?” tanya mama dari luar.
Keyla menghapus air matanya.
“Iya, Ma…” Sahutnya dengan suara serak.
Keyla beranjak dari tempat tidurnya dan menuju
pintu. Kemudian ia membuka pintu kamar dan mendapati mama yang tersenyum
padanya.
“Kita makan bareng yuk.” Ajak mama.
Keyla berusaha tersenyum.
“Sebentar, Ma. Keyla ganti baju dulu.”
“Mama tunggu di meja makan ya.”
Keyla mengangguk dan menutup pintu kamarnya.
###
Hanna memperhatikan lengannya yang masih
membekas lebam. Bekas itu sedikit memudar karena sudah diobati oleh nenek.
Lebam itu terlihat jelas karena kulit Hanna yang putih. Tiba-tiba ponselnya berdering
di atas meja. Hanna meraihnya dan menekan tombol OK.
“Halo, Key… Ada apa?” Tanya Hanna.
“Aku mau cerita ke kamu, Han.” Ucap Keyla
melalui ponselnya.
“Cerita apa?”
“Ada cerita di balik sekolah itu.”
“Hmm…?”
“Aku ke rumahmu sekarang.”
“Okey.” Hanna menutup ponselnya.
Hanna duduk di atas tempat tidur dengan rasa penasaran.
Apa yang ingin diceritakan Keyla mengenai sekolah mereka? Hanna tak sabar ingin
segera bertemu dengan Keyla.
Habis magrib Keyla tiba di rumah Hanna. Keyla
langsung saja ke kamar Hanna, lalu duduk di atas tempat tidur Hanna sambil
menundukkan kepala. Sejenak suasana menjadi hening. Hanna menunggu penuturan
Keyla, namun Keyla tetap diam.
“Hei… kenapa jadi melamun?” Tegur Hanna
mengejutkan Keyla.
Keyla tercekat dan mendongak ke Hanna.
“Ugh… Hanna ngejutin aja.”
“Katanya kamu mau cerita? Udah sampai sini kok
malah bengong. Kamu mau cerita apa?”
Keyla menarik nafasnya dalam-dalam lalu
__ADS_1
menghembuskannya dengan perlahan.
“Sebenarnya aku takut, Han… Aku nggak tahu
harus memulai ceritanya dari mana?”
Hanna duduk di samping Keyla.
“Key… Kamu cerita aja. Sebenarnya di sekolah
kita itu ada apa?”
Keyla terdiam sejenak lalu menceritakan sebuah
cerita yang sangat mengejutkan Hanna.
Setahun yang lalu, ketika mereka masih bersama.
Ziad, Nico, Ardan, Jardi, Mery dan Keyla. Mereka satu angkatan dan satu
permainan. Malam itu mereka melakukan sebuah permainan yang sangat menantang.
Mereka melakukan pemanggilan arwah di sekolah. Permainan itu dipicu karena
Jardi seorang penakut dan Ziad ingin menguji keberaniannya. Sesuatu yang tidak
mereka inginkan pun terjadi.
“Malam itu aku takut sekali, Han. Sekolah
sangat gelap dan mencekam. Ziad terus saja memaksaku untuk ikut dalam permainan
itu. Kami mengendap-endap masuk ke sekolah dan menuju lantai tiga. Di sebuah gudang
kami melakukan permainan itu, namun permainan belum selesai dan semuanya
menjadi kacau. Ada sosok mengerikan yang muncul disana.”
“Lantas?”
Keyla menghentikan ceritanya sejenak. Ia menapa
Hanna dengan tajam.
“Jardi lari lebih dulu karena ketakutan. Kami
pun panik dan ikut berlari. Aku nggak tau mau lari
kemana karena semuanya gelap. Tiba-tiba saja Jardi jatuh dari atap lantai tiga.
Dia tewas, Han.”
Hanna menarik nafasnya dengan berat ketika
Keyla selesai menceritakan semuanya. Keyla menggigit bibir bawahnya.
“Kenapa itu kalian lakukan, Key?”
“Aku hanya mengikuti permainan mereka saja,
“Dan sekarang arwah Jardi gentayangan?”
Keyla kembali menunduk.
“Ziad sudah mengunci arwah Jardi agar tidak
gentayangan. Tapi kenapa ia muncul di sekolah?”
“Hmm…”
Keyla melirik arloji di pergelangan kirinya.
Sudah kam Sembilan malam.
“Aku pulang dulu, Han. Sudah malam. Aku nggak
mau mama mencari-cariku.”
Hanna mengangguk. Keyla beranjak dari tempat
duduknya dan pamit ke Hanna. Kemudian ia keluar dari kamar Hanna. Hanna
mengantar Keyla sampai pintu depan.
“Hati-hati di jalan, Key.”
Keyla megangguk sekenahnya. Hanna menarik
nafasnya dengan berat. Cerita itu bermain-main di benaknya. Permainan mereka
belum selesai.
“Loh… temenmu kemana?” Tanya nenek yang sudah
menyiapkan teh hangat.
“Sudah pulang, Nek.”
“Lah, ini nenek buatin teh loh.”
“Ya udah nenek aja yang minum.” Hanna tersenyum
melihat wajah neneknya yang cemberut.
“Kamu ini ya.”
“Hehehe… Hanna tidur di kamar nenek lagi ya.
Hanna takut di kamar sendirian.”
“Iya-iya.”
Nenek berlalu ke dapur.
Malam itu sangat
__ADS_1
gelap dan dingin. Tidak ada suara binatang malam sama sekali. Langit juga
terlihat hitam tanpa ada bintang yang bertaburan. Sunyi dan sepi seperti berada
pada sebuah tempat yang sangat jauh dari peradaban manusia.
Nico berdiri
dengan ketakutan. Ia memperhatikan gedung sekolah di depannya. Gedung sekolah
itu terlihat mencekam dan gelap. Tidak ada penerangan sedikit pun. Nico, cowok
berambut cepak dengan fostur tubuh sedang keheranan ketika ia tiba-tiba saja berada
di situasi seperti itu. Pandangannya mengedar di halaman sekolah yang sangat
gelap. Nico ketakutan karena tidak menemukan siapa-siapa di sana. Tiba-tiba saja
ia mendengar seseorang mencakul tanah di belakang sekolah. Nico mempertajam
pendengarannya sambil berjalan perlahan. Ia berjalan menuju belakang sekolah.
Disana ia melihat seseorang sedang mencakung tanah.
“Hei... Kau sedang
apa?” tanya Nico penasaran.
Orang itu tidak
perduli dan terus saja mencangkul tanah itu hingga berlubang. Nico mendekatinya
dan melihat lubang yang digali orang itu.
“Apa yang kau
cari?” tanyanya lagi.
Orang itu berhenti
ketika lubang itu ternganga dan disana terlihat seragam sekolah.
“Ada orang dikubur
disini.” Ucapnya datar.
Nico terkejud dan
penasaran. Ia segera menghampiri orang itu dan melihat apa yang ditemukan. Nico
melihat seorang pelajar masih berseragam putih abu-abu di dalam lubang itu.
Nico kenal betul dengan pelajar itu.
“Jardi...?”
Orang itu menoleh
ke Nico dan itu membuat Nico sangat ketakutan. Seseorang yang menggali tanah
itu tak lain adalah Jardi. Jardi yang terkubur di dalam lubang yang ia gali
sendiri. Kontan aja Nico kalang labut dan berlari menjauh dari gedung sekolah.
Angin bertiup
kencang hingga menerbangkan daun-daun kering yang berserakan. Nico terus berlari
dengan nafas tersengal. Tiba-tiba saja suara-suara jeritan dan rintihan
memenuhi gendang telinganya.
“Tolong aku,
Niiiccc.... Aku nggak bisa bernafas!"
Nico terus saja
melewati koridor sekolah dan menuju gerbang. Tapi sayang, gerbang sekolah
terkunci rapat memakai rantai besi. Sosok Jardi yang pucat dengan wajah hancur
muncul dari balik gedung sekolah.
Tangan Nico
bergertar sambil berusaha membuka gerbang setinggi tiga meter. Keringat dingin
mulai mengucur dari keningnya. Nico mencari apa saja untuk membuka gembok yang
menempel di gerbang.
“Kau tak bisa
lari, Niccooo.... Kau akan bersamaku...” Suara desisan itu semakin membuat Nico
merinding.
Sosok mengerikan
itu pun terus saja mendekati Nico. Bahkan sosok-sosok yang lain keluar dari
dalam tanah dan mengais-ngais ingin meraih tubuh Nico. Nico semakin ketakutan
dan ia terjatuh. Ia menjerit sekuat-kuatnya.
“TIDAK...
TIDAAAAAKKK...”
Akhirnya Nico
terbangun dari tidurnya. Ia memperhatikan kamarnya yang masih berantakan.
Nafasnya masih tersengal dan sosok itu masih melekat di benaknya.
__ADS_1