ARWAH PENUNGGU SEKOLAH

ARWAH PENUNGGU SEKOLAH
Episode 10


__ADS_3

Keyla masuk ke kamarnya seraya meletakkan tas sekolah di


atas meja belajar. Dia duduk di atas tempat tidur sambil terpaku. Pandangannya


mengedar ke seluruh kamar. Dari lemari baju sampai buffet kecil. Di sana ada


sebuah vigura yang memajang fotonya bersama teman-teman sekolah. Keyla beranjak


dan menghampiri buffet kecil di dekat jendela. Kemudian ia mengambil vigura itu


dan mempehatikan foto disana. Foto Ziad, Nico, Ardan, Jardi, Mery dan dirinya.


Keyla menghapus foto itu dengan perlahan. Ia mengenang kembali sosok Jardi


setahun yang lalu. Cowok berkulit hitam itu sosok yang pendiam. Cowok itu


penakut dan memiliki paras tidak menarik. Tiba-tiba saja dari mata Jardi keluar


darah. Keyla terkejut dan menghempaskan bingkai foto itu begitu saja. Ia


bergerak mundur dan ketakutan. Ia meremas-remas jemari tangannya dan duduk di


atas tempat tidur. Keyla mulai gelisah. Ia menggigit bibirnya sambil terisak.


Keyla mengambil handycam dari laci buffet kecil


dan membuka layarnya. Setelah layar menyala, Keyla memperhatikan gambar yang


terus bergerak menayangkan rekaman dirinya dan teman-temannya. Di sana ada juga


Jardi dan Mery.


“Maafkan aku, Jar… Maafkan aku…” Gumamnya pelan.


Matanya berkaca-kaca.


Tiba-tiba saja pintu kamarnya diketuk dari


luar.


“Key…. Kamu di dalam?” tanya mama dari luar.


Keyla menghapus air matanya.


“Iya, Ma…” Sahutnya dengan suara serak.


Keyla beranjak dari tempat tidurnya dan menuju


pintu. Kemudian ia membuka pintu kamar dan mendapati mama yang tersenyum


padanya.


“Kita makan bareng yuk.” Ajak mama.


Keyla berusaha tersenyum.


“Sebentar, Ma. Keyla ganti baju dulu.”


“Mama tunggu di meja makan ya.”


Keyla mengangguk dan menutup pintu kamarnya.


###


Hanna memperhatikan lengannya yang masih


membekas lebam. Bekas itu sedikit memudar karena sudah diobati oleh nenek.


Lebam itu terlihat jelas karena kulit Hanna yang putih. Tiba-tiba ponselnya berdering


di atas meja. Hanna meraihnya dan menekan tombol OK.


“Halo, Key… Ada apa?” Tanya Hanna.


“Aku mau cerita ke kamu, Han.” Ucap Keyla


melalui ponselnya.


“Cerita apa?”


“Ada cerita di balik sekolah itu.”


“Hmm…?”


“Aku ke rumahmu sekarang.”


“Okey.” Hanna menutup ponselnya.


Hanna duduk di atas tempat tidur dengan rasa penasaran.


Apa yang ingin diceritakan Keyla mengenai sekolah mereka? Hanna tak sabar ingin


segera bertemu dengan Keyla.


Habis magrib Keyla tiba di rumah Hanna. Keyla


langsung saja ke kamar Hanna, lalu duduk di atas tempat tidur Hanna sambil


menundukkan kepala. Sejenak suasana menjadi hening. Hanna menunggu penuturan


Keyla, namun Keyla tetap diam.


“Hei… kenapa jadi melamun?” Tegur Hanna


mengejutkan Keyla.


Keyla tercekat dan mendongak ke Hanna.


“Ugh… Hanna ngejutin aja.”


“Katanya kamu mau cerita? Udah sampai sini kok


malah bengong. Kamu mau cerita apa?”


Keyla menarik nafasnya dalam-dalam lalu

__ADS_1


menghembuskannya dengan perlahan.


“Sebenarnya aku takut, Han… Aku nggak tahu


harus memulai ceritanya dari mana?”


Hanna duduk di samping Keyla.


“Key… Kamu cerita aja. Sebenarnya di sekolah


kita itu ada apa?”


Keyla terdiam sejenak lalu menceritakan sebuah


cerita yang sangat mengejutkan Hanna.


Setahun yang lalu, ketika mereka masih bersama.


Ziad, Nico, Ardan, Jardi, Mery dan Keyla. Mereka satu angkatan dan satu


permainan. Malam itu mereka melakukan sebuah permainan yang sangat menantang.


Mereka melakukan pemanggilan arwah di sekolah. Permainan itu dipicu karena


Jardi seorang penakut dan Ziad ingin menguji keberaniannya. Sesuatu yang tidak


mereka inginkan pun terjadi.


“Malam itu aku takut sekali, Han. Sekolah


sangat gelap dan mencekam. Ziad terus saja memaksaku untuk ikut dalam permainan


itu. Kami mengendap-endap masuk ke sekolah dan menuju lantai tiga. Di sebuah gudang


kami melakukan permainan itu, namun permainan belum selesai dan semuanya


menjadi kacau. Ada sosok mengerikan yang muncul disana.”


“Lantas?”


Keyla menghentikan ceritanya sejenak. Ia menapa


Hanna dengan tajam.


“Jardi lari lebih dulu karena ketakutan. Kami


pun panik dan ikut berlari. Aku nggak tau mau lari


kemana karena semuanya gelap. Tiba-tiba saja Jardi jatuh dari atap lantai tiga.


Dia tewas, Han.”


Hanna menarik nafasnya dengan berat ketika


Keyla selesai menceritakan semuanya. Keyla menggigit bibir bawahnya.


“Kenapa itu kalian lakukan, Key?”


“Aku hanya mengikuti permainan mereka saja,


“Dan sekarang arwah Jardi gentayangan?”


Keyla kembali menunduk.


“Ziad sudah mengunci arwah Jardi agar tidak


gentayangan. Tapi kenapa ia muncul di sekolah?”


“Hmm…”


Keyla melirik arloji di pergelangan kirinya.


Sudah kam Sembilan malam.


“Aku pulang dulu, Han. Sudah malam. Aku nggak


mau mama mencari-cariku.”


Hanna mengangguk. Keyla beranjak dari tempat


duduknya dan pamit ke Hanna. Kemudian ia keluar dari kamar Hanna. Hanna


mengantar Keyla sampai pintu depan.


“Hati-hati di jalan, Key.”


Keyla megangguk sekenahnya. Hanna menarik


nafasnya dengan berat. Cerita itu bermain-main di benaknya. Permainan mereka


belum selesai.


“Loh… temenmu kemana?” Tanya nenek yang sudah


menyiapkan teh hangat.


“Sudah pulang, Nek.”


“Lah, ini nenek buatin teh loh.”


“Ya udah nenek aja yang minum.” Hanna tersenyum


melihat wajah neneknya yang cemberut.


“Kamu ini ya.”


“Hehehe… Hanna tidur di kamar nenek lagi ya.


Hanna takut di kamar sendirian.”


“Iya-iya.”


Nenek berlalu ke dapur.


Malam itu sangat

__ADS_1


gelap dan dingin. Tidak ada suara binatang malam sama sekali. Langit juga


terlihat hitam tanpa ada bintang yang bertaburan. Sunyi dan sepi seperti berada


pada sebuah tempat yang sangat jauh dari peradaban manusia.


Nico berdiri


dengan ketakutan. Ia memperhatikan gedung sekolah di depannya. Gedung sekolah


itu terlihat mencekam dan gelap. Tidak ada penerangan sedikit pun. Nico, cowok


berambut cepak dengan fostur tubuh sedang keheranan ketika ia tiba-tiba saja berada


di situasi seperti itu. Pandangannya mengedar di halaman sekolah yang sangat


gelap. Nico ketakutan karena tidak menemukan siapa-siapa di sana. Tiba-tiba saja


ia mendengar seseorang mencakul tanah di belakang sekolah. Nico mempertajam


pendengarannya sambil berjalan perlahan. Ia berjalan menuju belakang sekolah.


Disana ia melihat seseorang sedang mencakung tanah.


“Hei... Kau sedang


apa?” tanya Nico penasaran.


Orang itu tidak


perduli dan terus saja mencangkul tanah itu hingga berlubang. Nico mendekatinya


dan melihat lubang yang digali orang itu.


“Apa yang kau


cari?” tanyanya lagi.


Orang itu berhenti


ketika lubang itu ternganga dan disana terlihat seragam sekolah.


“Ada orang dikubur


disini.” Ucapnya datar.


Nico terkejud dan


penasaran. Ia segera menghampiri orang itu dan melihat apa yang ditemukan. Nico


melihat seorang pelajar masih berseragam putih abu-abu di dalam lubang itu.


Nico kenal betul dengan pelajar itu.


“Jardi...?”


Orang itu menoleh


ke Nico dan itu membuat Nico sangat ketakutan. Seseorang yang menggali tanah


itu tak lain adalah Jardi. Jardi yang terkubur di dalam lubang yang ia gali


sendiri. Kontan aja Nico kalang labut dan berlari menjauh dari gedung sekolah.


Angin bertiup


kencang hingga menerbangkan daun-daun kering yang berserakan. Nico terus berlari


dengan nafas tersengal. Tiba-tiba saja suara-suara jeritan dan rintihan


memenuhi gendang telinganya.


“Tolong aku,


Niiiccc.... Aku nggak bisa bernafas!"


Nico terus saja


melewati koridor sekolah dan menuju gerbang. Tapi sayang, gerbang sekolah


terkunci rapat memakai rantai besi. Sosok Jardi yang pucat dengan wajah hancur


muncul dari balik gedung sekolah.


Tangan Nico


bergertar sambil berusaha membuka gerbang setinggi tiga meter. Keringat dingin


mulai mengucur dari keningnya. Nico mencari apa saja untuk membuka gembok yang


menempel di gerbang.


“Kau tak bisa


lari, Niccooo.... Kau akan bersamaku...” Suara desisan itu semakin membuat Nico


merinding.


Sosok mengerikan


itu pun terus saja mendekati Nico. Bahkan sosok-sosok yang lain keluar dari


dalam tanah dan mengais-ngais ingin meraih tubuh Nico. Nico semakin ketakutan


dan ia terjatuh. Ia menjerit sekuat-kuatnya.


“TIDAK...


TIDAAAAAKKK...”


Akhirnya Nico


terbangun dari tidurnya. Ia memperhatikan kamarnya yang masih berantakan.


Nafasnya masih tersengal dan sosok itu masih melekat di benaknya.

__ADS_1


__ADS_2