ARWAH PENUNGGU SEKOLAH

ARWAH PENUNGGU SEKOLAH
Episode 28


__ADS_3

Sore itu, sebelum masuk kelas, Raisa sengaja melihat-lihat situasi sekolah.


Sejak ia tiba, ia belum melihat ke seluruh sekolah. Sekolah itu ada tiga lantai dan lantai


ketiga tidak dipakai.


Raisa memperhatikan bangunan sekolah itu dengan lekat, lalu berjalan di


koridor menuju sudut sekolah. Ruang-ruang kelas masih terbuka karena ada kelas sore. Tiba-tiba ia mencium bahu terbakar di


sekitar sekolah. Seperi


bahu daging bakar.


Raisa mencari asal bahu itu


hingga di ujung koridor. Di sana ia melihat sosok gadis remaja berseragam


sekolah yang terbakar. Tubuhnya


hangus mengeluarkan asap. Raisa hampir menjerit ketika melihat sosok itu, menoleh menatapnya


dengan tajam. Wajahnya melepuh dan bola matanya hampir copot. Sekonyong


saja Raisa berlari kecil di koridor dengan rasa takut dan hampir menjerit. Ia


menggigit bibirnya dan ingin berteriak. Di tengah koridor ia menubruk pak Damsit yang


keluar dari ruang kelas.


“Bu Raisa sedang apa?” tanya


Damsit penasaran.


“HH, lagi lihat-lihat aja,


Pak.” Jawab Raisa gugup.


“Oh… Jangan membuka


ruangan di lantai tiga ya, Bu.” Kata Damsit memberitahu.


“Memangnya kenapa?” tanya


Raisa penasaran.


“Ah nggak apa-apa, saya


cuma memperingatkan saja.”


“Baik, Pak.” Ucap Raisa


mengangguk. Raisa jadi penasaran tentang ruang di lantai tiga. Ruang apa?


Pikirnya. Raisa mengurungkan niatnya untuk menelusuri sekolah. Waktu sudah


menunjukan pukul empat dan dia akan segera ke ruangan 113 yang letaknya di


belakang sekolah. Tadi ada seorang guru yang meminta bantuannya untuk masuk ke


kelas itu. Padahal jadwal Raisa bukan di pukul empat dan bukan di hari itu.


Seperti hari-hari kemarin,


musim hujan sepertinya mulai berubah dari bulan lalu. Langit mendadak menghitam


dan gelap. Raisa berjalan di koridor menuju ruang 113. Ruangan itu terletak di


sudut dan terlihat sepi. Raisa menarik nafasnya perlahan untuk menenangkan


pikirannya. Berhadapan dengan siswa kelas tiga itu membuat ia grogi. Pasti


ada-ada saja tingkah para murid ABG yang menanjak dewasa.


“Selamat sore.” Sapa  Raisa. Raisa duduk di kursi sebelum


memperhatikan para siswa  yang hanya tiga


belas orang orang. Kemudian ia mendongak dan memperhatikan murid-murid yang


duduk dengan anteng. Pandangan mereka terlihat datar dan wajah mereka terlihat


pucat.


“Perkenalkan nama saya bu


Raisa. Saya guru pengganti sementara karena bu Irene tidak bisa masuk hari


ini.”


Tidak ada jawaban dari


mereka. Mereka hanya diam. Raisa melanjutkan pelajaran dan menulis di papan


tulis. Sementara suasana terasa tenang dan sepi. Raisa merasa tengkuknya


merinding. Seperti ada sesuatu yang ingin mencekiknya dari belakang. Ia mulai

__ADS_1


mengajar dan menulis pelajaran di papan tulis. Reflex ia menoleh ke belakang


dan melihat para murid yang duduk anteng dan diam. Senyap dan tidak seperti


biasanya. Kemudian Raisa menyuruh para murid untuk mengerjakan soal di buku.


Namun, pikiran Raisa mulai tak tenang. Ia melihat wajah-wajah pucat para murid


yang menatapnya dengan tajam. Raisa buru-buru beranjak dan keluar karena bulu


kuduknya sangat merinding.


Raisa buru-buru berjalan


di koridor dengan ketakutan. Di tikungan koridor ia bertemu dengan seorang guru


yang kebetulan mengajar hari itu.


“Bu, ada apa?” tanyanya


penasaran karena Raisa tergesa dan ketakutan.


“Ee… anu, Bu. Saya…”


Raisa terlihat gugup menjawab pertanyaan sang guru bernama Melati. “Saya


permisi dulu, Bu.”


Raisa masuk ke kamarnya


dan duduk di atas tempat tidur. Ia terpaku dan memikirkan kejadian tadi.


“Siapa pelajar-pelajari


itu?” batinnya.


Raisa membiarkan senja merambat


pekat. Melda juga tidak banyak bertanya dan ia sibuk mengurus soal-soal untuk


muridnya.


Raisa memperhatikan gedung lantai


tiga bercat abu-abu di depannya. Bangunan megah itu terletak di sebuah sudut


jalan. Dekat persimpangan, namun sepertinya banyak yang tidak tahu dengan


bangunan itu. Gedung berlantai tiga yang sudah lama ditinggalkan, sejak sepuluh


tahun yang lalu. Gedung putih itu mulai kusam dan hancur. Dindingnya mulai


Membasahi lantai semen yang kini mulai menjamur. Kelihatan gersang, suram dan


kotor. Sebagian gedung ditumbuhi pohon-pohon liar dan rimbun. Cat putih yang


mulai usang dan terkelupas membuat orang merinding melihatnya. Kayu-kayu tua


yang berserakan di sebagian gedung itu membuat suasana semakin angker!


Raisa terpaku dengan pandangan tajam. Tak seorang pun yang dia dijumpai di


sana. Bagaikan bangunan tidak berpenghuni. Raisa bergidik ngeri melihat


keangkuhan bangunan itu. Perlahan ia melangkahkan kakinya dengan berat.


Berharap dia tidak salah melangkah. Karena gedung di depannya pantas disebut


bangunan tua, yang berdiri di atas tanah luas di pinggir jalan.


Raisa mengernyitkan kening sambil terus menatap tajam gedung di depannya.


Kembali dia memperhatikan sudut rumah yang mulai rusak. Bangku-bangku kayu


banyak berserakan dan rusak. Baru beberapa langkah saja Raisa berjalan mendadak


saja suasana rumah berubah. Hembusan angin menghalangi pandangannya, dengan


sekejap mata keadaan yang semula sepi dan gersang berubah menjadi suasana rumah


megah yang bersih dan mewah.


Raisa tertegun seketika. ‘Apakah aku bermimpi?’ pikirnya. Di taman dia


melihat sebuah keluarga yang harmonis. Dengan dua orang anaknya. Satu laki-laki


dan satu perempuan. Raisa memperhatikan mereka dengan lekat. Memperhatikan cara


berpakaian mereka yang seperti pakaian lama. Seorang wanita bayatersenyum padanya saat Raisa berjalan


masuk ke rumah mereka. Mereka mempersilahkan Raisa masuk sebagai tamu


kehormatan. Raisa tersenyum tipis. Dia menuju lantai dua, menaiki anak tangga


yang berlapis karpet merah bunga-bunga. Sebuah rumah megah seperti istana.


Mendadak saja suasana berubah

__ADS_1


gelap. Padahal hari masih sore. Raisa bingung dan gugup. Namun hanya sesaat. Raisa


membuka matanya lebar-lebar. Dia melihat rumah itu benar-benar berubah. Menjadi


sebuah rumah tua yang kotor dan berserakan.


‘Hei, di mana mereka.


Orang-orang yang ku lihat di taman?’ batinnya. Belum sempat Raisa berpikir


panjang, tiba-tiba saja dia mendengar sebuah jeritan dari dalam kamar. Raisa


kaget seraya bangkit dari duduknya. Berlari menghampiri sebuah kamar di mana


suara itu mendayu lirih, tapi Raisa tidak melihat siapa-siapa. Suasana gelap


seperti senja menapaki langit.


Raisa melihat seorang gadis


menangis dengan luka di punggunggnya. Dengan perlahan dia mendekati gadis itu.


Namun mendadak saja Raisa terkejut setengah mati. Wajah gadis itu hancur dan


busuk. Mengeluarkan bauh yang memuakan.


“Wuuaaak!”


Raisa mendadak saja merasa


mual dan mau muntah melihatnya. Dengan jantung yang terus bergemuruh kencang Raisa


buru-buru berlari dari tempat itu. Berusaha meminta tolong dengan bibir


bergetar. Namun suara itu seakan berlalu terbawa angin.


Dengan kalut dan keringat


bercucuran Raisa terus berlari melewati koridor. Ruangan-ruangan usang dan


berserakan. Namun lagi-lagi suasana rumah mendadak saja berubah dalam sekejap


mata. Suasana mendadak saja menjadi gelap. Awan putih berubah menjadi kelabu.


Angin berhembus sepoy namun basah.


Raisa melihat seseorang


meletakkan pistol di kepalanya. Raisa berusaha merelainya, tapi mendadak saja


kepala itu copot dari tubuhnya dan jatuh menggelinding di lantai.


Aggghhhkkkk….. jerit Raisa


histeris. Raisa terus berlari hingga nafasnya tersengal dan dia terpeleset pada


sebuah anak tangga.


Aaaaaaggggghhhhhkkkk….


“Raisa!! Banguunn!!” seseorang


membangunkannya dari tidur. Melda  mengguncang tubuh Raisa hingga dia terbangun


dan terlepas dari mimpi buruknya. Raisa membuka matanya dengan perlahan. Nafasnya


tersengal. Pandangannya nanar menatap ruangan kamarnya.


“Kamu kenapa sih, Raisa?


Teriak-teriak segala. Ini masih magrib, Raisa. Makanya jangan tidur di kala


senja. Pamali.”


Raisa masih ngos-ngosan dengan


nafas yang tersengal.


“Aku mimpi buruk, Mel.” ujarnya


sambil mengatur nafas.


“Ya, jelas saja kamu mimpi


buruk. Dari kemarin kamu masih mikirin hal-hal yang begituan.”


“Tapi kejadian itu seperti


nyata, Melda.”


“Sudah, ah. Aku lagi sibuk. Kamu


jangan teriak-teriak lagi.”


Raisa bangkit dari tempat


tidurnya. Melihat arloji yang masih menunjukan pukul setengah tujuh.

__ADS_1


“Syukurlah hanya mimpi.”


gumamnya pelan.


__ADS_2