
Sore itu, sebelum masuk kelas, Raisa sengaja melihat-lihat situasi sekolah.
Sejak ia tiba, ia belum melihat ke seluruh sekolah. Sekolah itu ada tiga lantai dan lantai
ketiga tidak dipakai.
Raisa memperhatikan bangunan sekolah itu dengan lekat, lalu berjalan di
koridor menuju sudut sekolah. Ruang-ruang kelas masih terbuka karena ada kelas sore. Tiba-tiba ia mencium bahu terbakar di
sekitar sekolah. Seperi
bahu daging bakar.
Raisa mencari asal bahu itu
hingga di ujung koridor. Di sana ia melihat sosok gadis remaja berseragam
sekolah yang terbakar. Tubuhnya
hangus mengeluarkan asap. Raisa hampir menjerit ketika melihat sosok itu, menoleh menatapnya
dengan tajam. Wajahnya melepuh dan bola matanya hampir copot. Sekonyong
saja Raisa berlari kecil di koridor dengan rasa takut dan hampir menjerit. Ia
menggigit bibirnya dan ingin berteriak. Di tengah koridor ia menubruk pak Damsit yang
keluar dari ruang kelas.
“Bu Raisa sedang apa?” tanya
Damsit penasaran.
“HH, lagi lihat-lihat aja,
Pak.” Jawab Raisa gugup.
“Oh… Jangan membuka
ruangan di lantai tiga ya, Bu.” Kata Damsit memberitahu.
“Memangnya kenapa?” tanya
Raisa penasaran.
“Ah nggak apa-apa, saya
cuma memperingatkan saja.”
“Baik, Pak.” Ucap Raisa
mengangguk. Raisa jadi penasaran tentang ruang di lantai tiga. Ruang apa?
Pikirnya. Raisa mengurungkan niatnya untuk menelusuri sekolah. Waktu sudah
menunjukan pukul empat dan dia akan segera ke ruangan 113 yang letaknya di
belakang sekolah. Tadi ada seorang guru yang meminta bantuannya untuk masuk ke
kelas itu. Padahal jadwal Raisa bukan di pukul empat dan bukan di hari itu.
Seperti hari-hari kemarin,
musim hujan sepertinya mulai berubah dari bulan lalu. Langit mendadak menghitam
dan gelap. Raisa berjalan di koridor menuju ruang 113. Ruangan itu terletak di
sudut dan terlihat sepi. Raisa menarik nafasnya perlahan untuk menenangkan
pikirannya. Berhadapan dengan siswa kelas tiga itu membuat ia grogi. Pasti
ada-ada saja tingkah para murid ABG yang menanjak dewasa.
“Selamat sore.” Sapa Raisa. Raisa duduk di kursi sebelum
memperhatikan para siswa yang hanya tiga
belas orang orang. Kemudian ia mendongak dan memperhatikan murid-murid yang
duduk dengan anteng. Pandangan mereka terlihat datar dan wajah mereka terlihat
pucat.
“Perkenalkan nama saya bu
Raisa. Saya guru pengganti sementara karena bu Irene tidak bisa masuk hari
ini.”
Tidak ada jawaban dari
mereka. Mereka hanya diam. Raisa melanjutkan pelajaran dan menulis di papan
tulis. Sementara suasana terasa tenang dan sepi. Raisa merasa tengkuknya
merinding. Seperti ada sesuatu yang ingin mencekiknya dari belakang. Ia mulai
__ADS_1
mengajar dan menulis pelajaran di papan tulis. Reflex ia menoleh ke belakang
dan melihat para murid yang duduk anteng dan diam. Senyap dan tidak seperti
biasanya. Kemudian Raisa menyuruh para murid untuk mengerjakan soal di buku.
Namun, pikiran Raisa mulai tak tenang. Ia melihat wajah-wajah pucat para murid
yang menatapnya dengan tajam. Raisa buru-buru beranjak dan keluar karena bulu
kuduknya sangat merinding.
Raisa buru-buru berjalan
di koridor dengan ketakutan. Di tikungan koridor ia bertemu dengan seorang guru
yang kebetulan mengajar hari itu.
“Bu, ada apa?” tanyanya
penasaran karena Raisa tergesa dan ketakutan.
“Ee… anu, Bu. Saya…”
Raisa terlihat gugup menjawab pertanyaan sang guru bernama Melati. “Saya
permisi dulu, Bu.”
Raisa masuk ke kamarnya
dan duduk di atas tempat tidur. Ia terpaku dan memikirkan kejadian tadi.
“Siapa pelajar-pelajari
itu?” batinnya.
Raisa membiarkan senja merambat
pekat. Melda juga tidak banyak bertanya dan ia sibuk mengurus soal-soal untuk
muridnya.
Raisa memperhatikan gedung lantai
tiga bercat abu-abu di depannya. Bangunan megah itu terletak di sebuah sudut
jalan. Dekat persimpangan, namun sepertinya banyak yang tidak tahu dengan
bangunan itu. Gedung berlantai tiga yang sudah lama ditinggalkan, sejak sepuluh
tahun yang lalu. Gedung putih itu mulai kusam dan hancur. Dindingnya mulai
Membasahi lantai semen yang kini mulai menjamur. Kelihatan gersang, suram dan
kotor. Sebagian gedung ditumbuhi pohon-pohon liar dan rimbun. Cat putih yang
mulai usang dan terkelupas membuat orang merinding melihatnya. Kayu-kayu tua
yang berserakan di sebagian gedung itu membuat suasana semakin angker!
Raisa terpaku dengan pandangan tajam. Tak seorang pun yang dia dijumpai di
sana. Bagaikan bangunan tidak berpenghuni. Raisa bergidik ngeri melihat
keangkuhan bangunan itu. Perlahan ia melangkahkan kakinya dengan berat.
Berharap dia tidak salah melangkah. Karena gedung di depannya pantas disebut
bangunan tua, yang berdiri di atas tanah luas di pinggir jalan.
Raisa mengernyitkan kening sambil terus menatap tajam gedung di depannya.
Kembali dia memperhatikan sudut rumah yang mulai rusak. Bangku-bangku kayu
banyak berserakan dan rusak. Baru beberapa langkah saja Raisa berjalan mendadak
saja suasana rumah berubah. Hembusan angin menghalangi pandangannya, dengan
sekejap mata keadaan yang semula sepi dan gersang berubah menjadi suasana rumah
megah yang bersih dan mewah.
Raisa tertegun seketika. ‘Apakah aku bermimpi?’ pikirnya. Di taman dia
melihat sebuah keluarga yang harmonis. Dengan dua orang anaknya. Satu laki-laki
dan satu perempuan. Raisa memperhatikan mereka dengan lekat. Memperhatikan cara
berpakaian mereka yang seperti pakaian lama. Seorang wanita bayatersenyum padanya saat Raisa berjalan
masuk ke rumah mereka. Mereka mempersilahkan Raisa masuk sebagai tamu
kehormatan. Raisa tersenyum tipis. Dia menuju lantai dua, menaiki anak tangga
yang berlapis karpet merah bunga-bunga. Sebuah rumah megah seperti istana.
Mendadak saja suasana berubah
__ADS_1
gelap. Padahal hari masih sore. Raisa bingung dan gugup. Namun hanya sesaat. Raisa
membuka matanya lebar-lebar. Dia melihat rumah itu benar-benar berubah. Menjadi
sebuah rumah tua yang kotor dan berserakan.
‘Hei, di mana mereka.
Orang-orang yang ku lihat di taman?’ batinnya. Belum sempat Raisa berpikir
panjang, tiba-tiba saja dia mendengar sebuah jeritan dari dalam kamar. Raisa
kaget seraya bangkit dari duduknya. Berlari menghampiri sebuah kamar di mana
suara itu mendayu lirih, tapi Raisa tidak melihat siapa-siapa. Suasana gelap
seperti senja menapaki langit.
Raisa melihat seorang gadis
menangis dengan luka di punggunggnya. Dengan perlahan dia mendekati gadis itu.
Namun mendadak saja Raisa terkejut setengah mati. Wajah gadis itu hancur dan
busuk. Mengeluarkan bauh yang memuakan.
“Wuuaaak!”
Raisa mendadak saja merasa
mual dan mau muntah melihatnya. Dengan jantung yang terus bergemuruh kencang Raisa
buru-buru berlari dari tempat itu. Berusaha meminta tolong dengan bibir
bergetar. Namun suara itu seakan berlalu terbawa angin.
Dengan kalut dan keringat
bercucuran Raisa terus berlari melewati koridor. Ruangan-ruangan usang dan
berserakan. Namun lagi-lagi suasana rumah mendadak saja berubah dalam sekejap
mata. Suasana mendadak saja menjadi gelap. Awan putih berubah menjadi kelabu.
Angin berhembus sepoy namun basah.
Raisa melihat seseorang
meletakkan pistol di kepalanya. Raisa berusaha merelainya, tapi mendadak saja
kepala itu copot dari tubuhnya dan jatuh menggelinding di lantai.
Aggghhhkkkk….. jerit Raisa
histeris. Raisa terus berlari hingga nafasnya tersengal dan dia terpeleset pada
sebuah anak tangga.
Aaaaaaggggghhhhhkkkk….
“Raisa!! Banguunn!!” seseorang
membangunkannya dari tidur. Melda mengguncang tubuh Raisa hingga dia terbangun
dan terlepas dari mimpi buruknya. Raisa membuka matanya dengan perlahan. Nafasnya
tersengal. Pandangannya nanar menatap ruangan kamarnya.
“Kamu kenapa sih, Raisa?
Teriak-teriak segala. Ini masih magrib, Raisa. Makanya jangan tidur di kala
senja. Pamali.”
Raisa masih ngos-ngosan dengan
nafas yang tersengal.
“Aku mimpi buruk, Mel.” ujarnya
sambil mengatur nafas.
“Ya, jelas saja kamu mimpi
buruk. Dari kemarin kamu masih mikirin hal-hal yang begituan.”
“Tapi kejadian itu seperti
nyata, Melda.”
“Sudah, ah. Aku lagi sibuk. Kamu
jangan teriak-teriak lagi.”
Raisa bangkit dari tempat
tidurnya. Melihat arloji yang masih menunjukan pukul setengah tujuh.
__ADS_1
“Syukurlah hanya mimpi.”
gumamnya pelan.