
“Bu Raisa
kenapa tidur di sini?” tanya Damsit ketika matahari sudah keluar dari
peraduannya. Raisa terbangun dan bingung. Ia mengucek matanya dan bangkit dengan
perlahan. Ia mengamati ruang kelas yang berdebu.
“Saya di mana,
Pak?” tanya Raisa seperti linglung.
“Ibu berada di
ruang kelas 113. Kenapa ibu ke ruangan ini?”
“Memangnya
kenapa, Pak?”
“Kita ke rumah
saya aja, Bu. Mumpung murid-murid belum pada datang.” Kata Damsit kemudian.
Raisa bangkit
dari lantai yang berdebu. Ia menyibakkan kotoran yang melekat di rok kerjanya.
Raisa berjalan tertatih karena kakinya terasa sakit semua. Sesampainya di depan
rumah pak Damsit, laki-laki itu mempersilahkan Raisa duduk di teras.
“Kenapa ibu ke
ruangan itu?” tanya Damsit setelah duduk di depan Raisa.
“Bu Irene
meminta bantuan saya untuk mengajar kelas 10 di ruang 113, Pak. Beliau tidak
bisa masuk katanya.
“Bu Irene?” Damsit terkejut dengan bola mata
melotot. “Bu Raisa tidak bercanda
kan?”
“Bercanda?
Maksud pak Damsit apa?”
“Bu Irene sudah
meninggal, Bu. Dua tahun lalu akibat kebakaran.”
“Meninggal?”
Kali ini Raisa yang terlihat terkejut.
“Iya, Bu.”
“Dan
murid-murid itu?”
“Murid yang
mana maksud ibu?” Damsit bertanya heran.
“Ada tiga belas
murid di ruang kelas itu, Pak.”
Pak Damsit
hening sejenak. “Tiga belas murid?” gumam Damsit, kemudian ia menarik nafas
dengan berat.
“Tujuh pelajar
itu tewas tahun lalu dan delapan pelajar itu bunuh diri karena tidak lulus.”
“Bunuh
__ADS_1
diri?”
Jantung Raisa
semakin berdebar kencang. Jadi selama ini ia mengajar para hantu? Bulu kuduk
Raisa merinding tiada terkira. Setelah pak Damsit menceritakan semuanya, Raisa buru-buru pamit.
Damsit
menceritakan asal mula sekolah itu. Dulu itu memang sebuah rumah sakit dua
puluh tahun yang lalu. Rumah sakit itu sangat sepi, hingga tidak ada pasien. Pemilik
rumah sakit bingung harus bagaimana. Akhirnya ia menerima tawaran untuk
melakukan pesugihan. Dokter dan perawat dijadikan tumbal!
“Kamu dari mana
aja, Raisa?” tanya Melda penasaran ketika Raisa baru masuk ke kamarnya dengan wajah
lesu. Raisa tampak lelah dan ia duduk di tempat tidurnya.
“Aku melewati
malam yang sangat panjang, Mel.”
“Malam panjang
bagaimana maksudmu?”
“Nanti aja aku
ceritain. Aku mandi dulu.” Kata Raisa sambil bangkit menuju kamar mandi. Raisa
berjalan pelan dan menelan ludah ketika tiba di kamar mandi. Ia menyalakan
shower dan mengguyur tubuhnya menikmati sentuhan air dingin. Ia memejamkan
matanya berusaha melupakan kejadian itu. Namun, tiba-tiba saja ia terkejut
ketika ia merasakan ada sentuhan di pundaknya. Refleks Raisa menoleh dan
tubuhnya dengan handuk dan keluar dari kamar mandi. Buru-buru ia menuju kamar
dan membuat Melda semakin heran.
“Kamu
kenapa lagi? Masih basah-basah udah masuk kamar?”
Raisa
menelan ludahnya, lalu menghapus tubuhnya dengan handuk kecil. Ia mengeringkan
rambutnya yang sebahu.
“Gak
apa-apa, Mel. Kamu gak ada kelas hari ini?” tanya Raisa mengalihkan pertanyaan.
“Aku
masuk sore.” Jawab Melda sekenanya. “Memangnya kamu gak masuk?”
“Sebentar
lagi, jam 9.” Kata Raisa sambil membuka lemari bajunya. Ia mengambil baju
kerja, lalu memakainya.
Santi,
guru bahasa Indonesia berusia 30 tahun, berjalan di koridor sekolah. Tiba-tiba bulu kuduknya
merinding tiada terkira ketika melewati sebuah toilet perempuan. Santi berhenti
sejenak ketika mendengar suara tangisan yang pilu di kamar mandi.Ia tercekat
ketika melihat helai helai rambut yang melambai seperti tertiup angin. Ragu
Santi melangkahkan kakinya mendekati toilet. Ia khawatir di toilet itu ada
salah satu muridnya yang menangis.
__ADS_1
Perlahan
Santi membuka pintu toilet dan melihat ke dalam. Pintu-pintu di dalamnya ada
lima dan terbuka semua. Tidak ada siapa-siapa di sana. Santi pun masuk dan
memeriksa semua toilet di dalamnya. Suara itu berasal dari toilet ujung dan
Santi melihat rambut tergerai sebagian. Santi menelan ludahnya dan dengan
langkah perlahan ia mendekati toilet itu. Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya
ketika melihat rambut itu memanjang sampai ke lantai.
“Hahhahaha...”
Tiba-tiba terdengar suara dari atap kamar mandi dan Santi menoleh ke atas. Ia
pun menjerit ketakutan ketika melihat sosok perempuan dengan wajah meleleh
meringis padanya.
“Akhhh...”
Santi buru-buru keluar dan berlari di koridor. Buku-buku yang ia dekap di dada
pun jatuh berserakan. Santi berlari menuju ruang guru dan disana tidak ada
siapa-siapa. Para guru udah masuk ke ruangannya masing-masing.
Sore itu
terasa dingin dan Santi masih mengatur jantungnya yang berdebar sangat kencang.
Ia sangat ketakutan dan bibirnya bergetar. Santi duduk di kursi dan bersandar
sejenak. Ia tidak tahu mengapa akhir-akhir ini ia sering dihantui sosok
mengerikan itu. Seorang perempuan yang terbakar. Siapa dia?
Ponsel
Raisa berdering kencang ketika bel sekolah. Dari mama. Memang sejak ia tiba di
sekolah itu belum mengabari mama. Mama juga tidak tahu Raisa mengajar di
sekolah mana.
“Halo,
Ma...” sapa Raisa.
“Raisa,
gimana kabar kamu, Sayang? Kenapa gak ngabarin mama?”
“Raisa
baik-baik aja, Ma. Maaf, Ma Raisa kelupaan.”
“Bagaimana
pekerjaanmu?”
"Yah
begitulah, Ma. Namanya juga kerja pasti ada senang dan tidaknya.”
“Kamu
ngajar di sekolah apa sih?” tanya mama ingin tahu.
“SMU
XX, Ma.”
Mama
terkejut mendengar penuturan Raisa. SMU XX? Jantung mama tiba-tiba saja
berdebar tidan menentu. Mama diam sejenak dan mengingat SMU itu. Ada kejadian
yang mengerikan yang melibatkan mama sepuluh tahun yang lalu. Siswi terbakar
itu. Mama pun memutuskan hubungan ponselnya.
__ADS_1