ARWAH PENUNGGU SEKOLAH

ARWAH PENUNGGU SEKOLAH
Episode 30


__ADS_3

“Bu Raisa


kenapa tidur di sini?” tanya Damsit ketika matahari sudah keluar dari


peraduannya. Raisa terbangun dan bingung. Ia mengucek matanya dan bangkit dengan


perlahan. Ia mengamati ruang kelas yang berdebu.


“Saya di mana,


Pak?” tanya Raisa seperti linglung.


“Ibu berada di


ruang kelas 113. Kenapa ibu ke ruangan ini?”


“Memangnya


kenapa, Pak?”


“Kita ke rumah


saya aja, Bu. Mumpung murid-murid belum pada datang.” Kata Damsit kemudian.


Raisa bangkit


dari lantai yang berdebu. Ia menyibakkan kotoran yang melekat di rok kerjanya.


Raisa berjalan tertatih karena kakinya terasa sakit semua. Sesampainya di depan


rumah pak Damsit, laki-laki itu mempersilahkan Raisa duduk di teras.


“Kenapa ibu ke


ruangan itu?” tanya Damsit setelah duduk di depan Raisa.


“Bu Irene


meminta bantuan saya untuk mengajar kelas 10 di ruang 113, Pak. Beliau tidak


bisa masuk katanya.


“Bu  Irene?” Damsit terkejut dengan bola mata


melotot.  “Bu Raisa tidak bercanda


kan?”


“Bercanda?


Maksud pak Damsit apa?”


“Bu Irene sudah


meninggal, Bu. Dua tahun lalu akibat kebakaran.”


“Meninggal?”


Kali ini Raisa yang terlihat terkejut.


“Iya, Bu.”


“Dan


murid-murid itu?”


“Murid yang


mana maksud ibu?” Damsit bertanya heran.


“Ada tiga belas


murid di ruang kelas itu, Pak.”


Pak Damsit


hening sejenak. “Tiga belas murid?” gumam Damsit, kemudian ia menarik nafas


dengan berat.


“Tujuh pelajar


itu tewas tahun lalu dan delapan pelajar itu bunuh diri karena tidak lulus.”


“Bunuh

__ADS_1


diri?”


Jantung Raisa


semakin berdebar kencang. Jadi selama ini ia mengajar para hantu? Bulu kuduk


Raisa merinding tiada terkira. Setelah pak Damsit menceritakan semuanya, Raisa buru-buru pamit.


Damsit


menceritakan asal mula sekolah itu. Dulu itu memang sebuah rumah sakit dua


puluh tahun yang lalu. Rumah sakit itu sangat sepi, hingga tidak ada pasien. Pemilik


rumah sakit bingung harus bagaimana. Akhirnya ia menerima tawaran untuk


melakukan pesugihan. Dokter dan perawat dijadikan tumbal!


“Kamu dari mana


aja, Raisa?” tanya Melda penasaran ketika Raisa baru masuk ke kamarnya dengan wajah


lesu. Raisa tampak lelah dan ia duduk di tempat tidurnya.


“Aku melewati


malam yang sangat panjang, Mel.”


“Malam panjang


bagaimana maksudmu?”


“Nanti aja aku


ceritain. Aku mandi dulu.” Kata Raisa sambil bangkit menuju kamar mandi. Raisa


berjalan pelan dan menelan ludah ketika tiba di kamar mandi. Ia menyalakan


shower dan mengguyur tubuhnya menikmati sentuhan air dingin. Ia memejamkan


matanya berusaha melupakan kejadian itu. Namun, tiba-tiba saja ia terkejut


ketika ia merasakan ada sentuhan di pundaknya. Refleks Raisa menoleh dan


tubuhnya dengan handuk dan keluar dari kamar mandi. Buru-buru ia menuju kamar


dan membuat Melda semakin heran.


“Kamu


kenapa lagi? Masih basah-basah udah masuk kamar?”


Raisa


menelan ludahnya, lalu menghapus tubuhnya dengan handuk kecil. Ia mengeringkan


rambutnya yang sebahu.


“Gak


apa-apa, Mel. Kamu gak ada kelas hari ini?” tanya Raisa mengalihkan pertanyaan.


“Aku


masuk sore.” Jawab Melda sekenanya. “Memangnya kamu gak masuk?”


“Sebentar


lagi, jam 9.” Kata Raisa sambil membuka lemari bajunya. Ia mengambil baju


kerja, lalu memakainya.


Santi,


guru bahasa Indonesia berusia 30 tahun, berjalan di koridor sekolah. Tiba-tiba bulu kuduknya


merinding tiada terkira ketika melewati sebuah toilet perempuan. Santi berhenti


sejenak ketika mendengar suara tangisan yang pilu di kamar mandi.Ia tercekat


ketika melihat helai helai rambut yang melambai seperti tertiup angin. Ragu


Santi melangkahkan kakinya mendekati toilet. Ia khawatir di toilet itu ada


salah satu muridnya yang menangis.

__ADS_1


Perlahan


Santi membuka pintu toilet dan melihat ke dalam. Pintu-pintu di dalamnya ada


lima dan terbuka semua. Tidak ada siapa-siapa di sana. Santi pun masuk dan


memeriksa semua toilet di dalamnya. Suara itu berasal dari toilet ujung dan


Santi melihat rambut tergerai sebagian. Santi menelan ludahnya dan dengan


langkah perlahan ia mendekati toilet itu. Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya


ketika melihat rambut itu memanjang sampai ke lantai.


“Hahhahaha...”


Tiba-tiba terdengar suara dari atap kamar mandi dan Santi menoleh ke atas. Ia


pun menjerit ketakutan ketika melihat sosok perempuan dengan wajah meleleh


meringis padanya.


“Akhhh...”


Santi buru-buru keluar dan berlari di koridor. Buku-buku yang ia dekap di dada


pun jatuh berserakan. Santi berlari menuju ruang guru dan disana tidak ada


siapa-siapa. Para guru udah masuk ke ruangannya masing-masing.


Sore itu


terasa dingin dan Santi masih mengatur jantungnya yang berdebar sangat kencang.


Ia sangat ketakutan dan bibirnya bergetar. Santi duduk di kursi dan bersandar


sejenak. Ia tidak tahu mengapa akhir-akhir ini ia sering dihantui sosok


mengerikan itu. Seorang perempuan yang terbakar. Siapa dia?


Ponsel


Raisa berdering kencang ketika bel sekolah. Dari mama. Memang sejak ia tiba di


sekolah itu belum mengabari mama. Mama juga tidak tahu Raisa mengajar di


sekolah mana.


“Halo,


Ma...” sapa Raisa.


“Raisa,


gimana kabar kamu, Sayang? Kenapa gak ngabarin mama?”


“Raisa


baik-baik aja, Ma. Maaf, Ma Raisa kelupaan.”


“Bagaimana


pekerjaanmu?”


"Yah


begitulah, Ma. Namanya juga kerja pasti ada senang dan tidaknya.”


“Kamu


ngajar di sekolah apa sih?” tanya mama ingin tahu.


“SMU


XX, Ma.”


Mama


terkejut mendengar penuturan Raisa. SMU XX? Jantung mama tiba-tiba saja


berdebar tidan menentu. Mama diam sejenak dan mengingat SMU itu. Ada kejadian


yang mengerikan yang melibatkan mama sepuluh tahun yang lalu. Siswi terbakar


itu. Mama pun memutuskan hubungan ponselnya.

__ADS_1


__ADS_2