
Hanna terbangun sambil menguap lebar. Aroma susu cokelat menyeruak di kamar. Nenek
sudah menyediakan susu hangat untuk Hanna. Pagi ini ia merasa sangat segar.
Badannya tak lagi lemas dan demam. Hanna memperhatikan neneknya yang meletakkan
susu hangat di atas meja kecil dan sarap pagi. Setelah itu tak sengaja ia
melihat sebuah cincin melekat di jemari manisnya. Ia memperhatikan cincin itu
dengan lekat.
“Ini cincin siapa,
Nek?” Tanyanya.
“Sudah, dipakai
saja, Han. Cincin itu pelindungmu agar sosok iblis itu tidak mengikutimu.”
“Hmmm...”
“Kamu istirahat
aja dulu, nggak usah masuk sekolah.” Ujar nenek.
“Nek... Hanna
harus masuk hari ini.”
“Tapi tubuhmu
belum fit, Han.”
“Nggak apa-apa,
Nek. Hanna baik-baik aja kok. Hanna mau nemui Keyla di sekolah. Kasihan dia.”
“Memangnya temenmu
itu kenapa?”
“Hmm... Nggak
apa-apa sih.”
Hanna beranjak
dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandi. Nenek merapikan tempat tidurnya
lalu membuka jendela kamar. Sinar matahari pagi masuk begitu lembut. Terasa
hangat karena malam tadi baru saja turun hujan.
Setelah selesai
mandi dan memakai seragamnya, Hanna berangkat ke sekolah. Seperti biasa ia tiba
lebih dulu dari murid-murid lainnya. Ia menunggu Keyla di depan ruang guru yang
terletak dekat gerbang sekolah. Satpam di depan baru saja tiba dan memarkirkan
sepeda motornya. Laki-laki paruh baya itu membuka pintu gerbang lalu mengambil
bendera dan menaikkan bendera di tiang.
Dari jauh Hanna
melihat Keyla turun dari mobil. Wajah Keyla tampak muram. Ia membiarkan Keyla
berjalan sampai memasuki gerbang sekolah. Hanna menyapanya ketika Keyla mulai
mendekat.
“Ha, Key... Gimana
kabarmu?”
“Hanna? Kamu
kemana aja kemarin?”
“Aku sakit.”
“Huh, aku
mencari-carimu.”
Hanna beranjak
dari tempat duduknya.
“Kamu kenapa kok
wajahmu murung?”
Keyla menatap
Hanna dengan lekat.
“Kami mau
mengakhiri permainan itu, Han.”
“Key... Kamu
yakin?”
“Entahlah. Aku
nggak tahu lagi apa yang harus aku perbuat. Aku selalu dihantui arwah Jardi.”
“Kamu harus cari
orang pinter atau ustad, Key. Aku khawatir terjadi apa-apa sama kamu.”
“Han... Aku nggak
tau lagi harus bagaimana?” Suara Keyla mendadak jadi parau. Matanya
berkaca-kaca.
Hanna menggenggam
jemari tangan Keyla dan memberi semangat kepada sahabatnya itu. Kemudian mereka
beranjak dan berjalan menuju ruangan kelas.
Anton duduk di depan Hanna
sambil menatapnya tajam. Gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali.
“Kamu kenapa lihatin aku
sampai begitu?” tanyanya.
“Kamu dari mana aja kemarin?
Nggak masuk.”
“Aku sakit.”
“Kenapa nggak ngabarin aku?”
“Aku nggak bisa bangkit, Ton.
Kepalaku puyeng rasanya mau muntah.”
“Kamu hamil?”
PLETAK! Hanna menimpunya pakai
bolpoin.
“Aduhh...” Anton merintih.
“Enak aja nuduh aku hamil.
Huh. Hamil sama siapa?” Sergah Hanna sewot.
“Biasanya kalau perempuan lagi
mual trus mau muntah pasti deh bawaaanya hamil.”
“Emang yang menghamili aku
siapa? Kamu?”
“Hehehe... Aku kangen sama
kamu.”
“Gombal ah.”
Hanna melipat tangannya. Keyla
permisih keluar sebentar.
“Kamu kenapa murung lagi?”
“Keyla, Ton...”
“Kenapa dengan Keyla?” tanya Anton penasaran.
“Aku nggak berani cerita ke
kamu.”
“Memang ada apa sih, Han. Cerita
aja sama aku. Kamu harus percaya sama aku yang nggak pernah membocorkan
rahasia.”
Hanna diam sebentar lalu
__ADS_1
cerita ke Anton.
“Kamu tahu tentang kematian
Jardi?”
“Jardi?” Anton terbelalak.
“Iya.”
“Dia jatuh dari lantai empat.
Itu kata murid-murid di sini. Memangnya kenapa?”
“Sebenarnya Jardi tidak jatuh,
Ton. Tapi dia didorong seseorang. Orang itu adalah Keyla.”
“Keyla?” Anton terkejut dan
tidak percaya.
“Itulah kenyataannya, Ton.
Malam itu mereka sengaja melakukan permainan pemanggil arwah. Semuanya jadi
kacau balau ketika mereka melihat sosok mengerikan di gudang. Entah pikiran apa
yang merasuki Keyla hingga ia tega mendorong Jardi yang ketakutan sampai jatuh
ke lantai.”
“Trus?”
“Keyla selalu dihantui arwah
Jardi. Maka dari itu mereka ingin mengakhiri permainan mereka kamis malam.”
“Hmmm...” Anton berpikir
sejenak.
“Cerita ini jangan sampai
tersebar kemana-mana ya, Ton. Kamu harus janji.”
“Iya aku janji.”
Hanna tersenyum pahit. Anton
hanya tak habis pikir kalau kematian Jardi ada kaitannya dengan Keyla. Gadis
manis itu gadis yang baik menurutnya. Lantas ada masalah apa antara Jardi dan
Keyla?
“Han... sebaiknya kamu
tanyakan ada hubungan apa Keyla dan Jardi?”
“Hmm... Aku takut
menanyakkannya, Ton.”
“Coba kamu tanya aja
baik-baik.”
“Ya udah nanti kalau dia
kembali.”
Keyla duduk sambil menundukkan
kepalanya. Kali ini ia harus berterus terang ke Hanna dan Anton. Tidak ada lagi
yang perlu disembunyikan. Setahun ia menutupi kejadian itu dan ia tidak ingin
terus-menerus dihantui rasa bersalah.
“Jardi memaksaku untuk mencintainya.
Aku tidak mau dan ia mengancam akan membunuhku. Aku takut dan panik. Sementara
Ziad juga tidak menginginkan kehadiran Jardi. Aku mencintai Ziad, tapi ternyata
dia tidak mencintaiku sampai aku memergokinya berpacaran dengan gadis lain.
Pikiranku kalud dan pada saat itu timbul niatku untuk mencelakai Jardi.”
Anton dan Hanna terbengong
mendengar cerita Keyla hingga ia tidak dapat berkata apa-apa.
“Kamu mengorbankan dirimu
sendiri demi Ziad?”
Keyla menunduk dengan wajah
“Key, aku turut prihatin dengan
ceritamu.” Timpal Anton.
“Aku ingin mengakhiri
semuanya, Han.”
“Key... Kamu harus hati-hati.
Lebih baik kamu cari orang pintar atau ustad untuk menjagamu.”
“Aku nggak mau mereka ikut
campur. Ini adalah masalahku, Han.”
Hanna menarik nafasnya
dalam-dalam dan hanya emmperhatikan wajah Keyla yang muram.
Ziad membuka cincin yang diberikan Ki Darmo dan meletakkannya di atas meja.
Cicin itu sebagai pelindung untuknya agar tidak diganggu arwah jahat. Disaat
Ziad masuk ke kamar mandi ia melihat bayangan Jardi di cermin. Ziad terkesiap
dan terkejut. Sosok Jardi menatapnya dengan tajam. Wajahnya hancur berlumuran
darah. Buru-buru Ziad menutup pintu kamar mandi dan bergerak mundur ketakutan.
Nafasnya tersengal dan ia gemetaran.
Suara
desisan-desisan memenuhi kamar mandi milik Ziad. Ia panik sambil mengawasi
setiap sudut kamar mandi. Dari langit-langit kamar mandi ada tetesan darah yang
menetes di lantai. Ziad mendongak perlahan dan
ia melihat sosok Jardi menatapnya dengan pandangan terbalik. Kepala Jardi mengeluarkan
darah.
“AARRGGHH…” Ziad menjerit ketakutan.
Buru-buru ia membuka pintu kamar mandi dan
mencari cincinnya. Cincin itu sudah tidak ada di atas meja. Ziad panik dan mencari kembali di
lantai. Cincin itu tetap tidak ada.
JEDAAARRR...
Jendela kamarnya terhempas
angin dan membentur keras. Ziad terkejut dan membelalakkan matanya
memperhatikan jendela. Sore itu terlihat mendung dengan awan kelabu yang
berarak gelisah. Ziad semakin panik dan buru-buru meraih kunci sepeda motornya.
Ia keluar kamar dengan tergesa.
BRUUUMMMM....
Suara deruman
motor terdengar di garasi. Secepat kilat Zia melaju di jalan hitam. Ia menuju
rumah Nico. Ia menarik tuas gas kuat-kuat dan mengganti gigi beberapa kali.
Sesampainya di
rumah Nico, Ziad langsung saja mencari Nico. Nafasnya tersengal dan pikirannya
kalud. Nico masih dalam perjalanan pulang. Ziad menunggu di teras depan dengan
gelisah. Beberapa saat kemudian terdengar suara motor Nico memasuki gerbang.
Ziad sedikit lega.
Setelah Nico turun
dari motornya, Ziad menghampiri Nico. Nico lebih dulu bertanya ke Ziad.
“Ada apa, Zi?” tanyanya.
Ziad terlihat
gugup dengan pertanyaan Nico.
“Nic. Hmm...
aku...” Ziad semakin gugup.
__ADS_1
“Aku apa, Zi?”
“Jardi.”
“Jardi? Kau sudah
bertemu dengannya?”
“Sosok Jardi ada
di kamar mandiku, Nic.”
“Lantas? Kau takut?
Hei men... bukannya kau seorang pemberani? Hahaha... kau ini aneh.”
Wajah Ziad tampak
gelisah.
“Nic... ini
menjadi masalah serius. Jardi sepertinya sangat marah.”
“Kau baru tahu
kalau arwah Jardi sangat marah? Selama ini kau kemana? Aku sudah cerita juga
kan?”
“Aku nggak yakin
arwah Jardi bangkit lagi, tapi dia ada di kamarku, Nic.”
Nico tersenyum
sinis merasa menang dengan ceritanya kemarin.
“Kini baru kau
rasakan. Trus kita harus berbuat apa?”
Ziad terdiam
sambil memikirkan apa yang harus mereka lakukan.
“Kita harus cari
dukun untuk mengikat arwah Jardi.”
“Dukun? Di mana nyarinya?”
“Aku tahu dukun
yang sakti, asal bayarannya setimpal.”
“Bayarannya
mahal?”
“Yah, lumayan
sih...”
“Hmmm... kau
aneh-aneh aja pun, Zi. Dari mana aku punya duit? Minta sama nyokap and bokap?
Bisa curiga mereka.”
Ziad berfikir
sejenak. Ia sama sekali tidak punya uang banyak untuk membayar seorang dukun
berilmu hitam yang sakti.
“Lantas kita
bagaimana, Nic. Ini masalah keselamatan nyawa kita. Kita harus berusaha agar
arwah Jardi tidak menghantui kita.”
Nico tidak tahu
harus berbuat apa. Ia hanya diam dan terpaku sambil termenung. Ia mengingat
perlakuan mereka terhadap Jardi. Mereka sering mengolok-olok Jardi karena dia
hanya seorang anak penjaga sekolah. Wajahnya juga yang tidak menarik menjadi
incaran mereka untuk mempermalukan. Tak jarang mereka menyakiti Jardi. Ziad
juga pernah menghajar Jardi dengan bogeman mentah. Nico juga pernah menyakiti
Jardi.
“Nic...” Panggil
Ziad.
Nico tercekat dan
membuyarkan lamunannya.
“Kita memang
bersalah kepada Jardi, Zi. Sudah banyak kita menyakiti dia.”
“Aku nggak mau
mati konyol karena arwah Jardi, Nic! Dia itu hanya setan yang suka menakuti!
Aku tidak takut! Jardi...!!! Di mana kau..!!! Lawan aku!!!” Teriak Ziad saking
kesalnya.
“Zii... Kau jangan
teriak-teriak di ruamhku. Papa dan Mamaku bisa kaget karena kau!”
“Aku sudah bosan
dengan permainan arwah itu, Nic. Aku ingin menantang dia!” Ziad beranjak dan
menghampiri sepeda motornya.
Ziad langsung
tancap gas begitu motornya menyala. Nico hanya geleng-geleng kepala melihat
temannya itu. Kemudian ia masuk ke dalam rumahnya dengan pikiran tidak menentu.
###
Motor Ziad
memasuki sebuah rumah sederhana di kawasan Tanjung Morawa. Ia ngin minta
bantuan ke Ki Darmo, seorang dukun berilmu hitam yang sakti. Setelah memberi
salam, Ziad mengutarakan niatnya ke Ki Darmo.
“Tolong saya,
Ki...”
“Lantas cincin
yang saya beri kau kemanakan?”
“Cincin itu saya
letakkan di atas meja, Ki. Hanya sebentar dan cincin itu hilang.”
Ki Darmo terlihat
marah ketika mendengar pengakuan Ziad.
“Bukankah sudah
saya peringatkan jangan sekali-kali membuka cincin itu?”
“Tapi jari saya
terasa gatal, Ki. Saya mohon, lindungi saya.”
“Saya tidak dapat
membantumu, Anak muda. Maaf saya tidak bisa memberi apa-apa lagi untuk
melindungimu.”
“Lantas bagaimana
dengan saya, Ki?”
“Kau harus
menyelesaikannya sendiri.”
Ziad semakin kesal
dan ia pergi begitu saja tanpa pamit ke Ki Darmo. Ia menarik tuas motornya dan
melaju kencang di jalan hitam.
Sesampainya di
rumah ia langsung saja masuk ke kamar dan mengawasi kamarnya dengan seksama.
Tidak ada arwah Jardi disana. Ia mencoba memberanikan diri dan berusaha untuk
kuat. Ia akan menghadapi arwah itu sendirian jika memang arwah itu datang lagi
kepadanya, namun sampai pagi ia tidak melihat tanda-tanda arwah itu muncul.
__ADS_1