ARWAH PENUNGGU SEKOLAH

ARWAH PENUNGGU SEKOLAH
Episode 19


__ADS_3

Hanna terbangun sambil menguap lebar.  Aroma susu cokelat menyeruak di kamar. Nenek


sudah menyediakan susu hangat untuk Hanna. Pagi ini ia merasa sangat segar.


Badannya tak lagi lemas dan demam. Hanna memperhatikan neneknya yang meletakkan


susu hangat di atas meja kecil dan sarap pagi. Setelah itu tak sengaja ia


melihat sebuah cincin melekat di jemari manisnya. Ia memperhatikan cincin itu


dengan lekat.


“Ini cincin siapa,


Nek?” Tanyanya.


“Sudah, dipakai


saja, Han. Cincin itu pelindungmu agar sosok iblis itu tidak mengikutimu.”


“Hmmm...”


“Kamu istirahat


aja dulu, nggak usah masuk sekolah.” Ujar nenek.


“Nek... Hanna


harus masuk hari ini.”


“Tapi tubuhmu


belum fit, Han.”


“Nggak apa-apa,


Nek. Hanna baik-baik aja kok. Hanna mau nemui Keyla di sekolah. Kasihan dia.”


“Memangnya temenmu


itu kenapa?”


“Hmm... Nggak


apa-apa sih.”


Hanna beranjak


dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandi. Nenek merapikan tempat tidurnya


lalu membuka jendela kamar. Sinar matahari pagi masuk begitu lembut. Terasa


hangat karena malam tadi baru saja turun hujan.


Setelah selesai


mandi dan memakai seragamnya, Hanna berangkat ke sekolah. Seperti biasa ia tiba


lebih dulu dari murid-murid lainnya. Ia menunggu Keyla di depan ruang guru yang


terletak dekat gerbang sekolah. Satpam di depan baru saja tiba dan memarkirkan


sepeda motornya. Laki-laki paruh baya itu membuka pintu gerbang lalu mengambil


bendera dan menaikkan bendera di tiang.


Dari jauh Hanna


melihat Keyla turun dari mobil. Wajah Keyla tampak muram. Ia membiarkan Keyla


berjalan sampai memasuki gerbang sekolah. Hanna menyapanya ketika Keyla mulai


mendekat.


“Ha, Key... Gimana


kabarmu?”


“Hanna? Kamu


kemana aja kemarin?”


“Aku sakit.”


“Huh, aku


mencari-carimu.”


Hanna beranjak


dari tempat duduknya.


“Kamu kenapa kok


wajahmu murung?”


Keyla menatap


Hanna dengan lekat.


“Kami mau


mengakhiri permainan itu, Han.”


“Key... Kamu


yakin?”


“Entahlah. Aku


nggak tahu lagi apa yang harus aku perbuat. Aku selalu dihantui arwah Jardi.”


“Kamu harus cari


orang pinter atau ustad, Key. Aku khawatir terjadi apa-apa sama kamu.”


“Han... Aku nggak


tau lagi harus bagaimana?” Suara Keyla mendadak jadi parau. Matanya


berkaca-kaca.


Hanna menggenggam


jemari tangan Keyla dan memberi semangat kepada sahabatnya itu. Kemudian mereka


beranjak dan berjalan menuju ruangan kelas.


Anton duduk di depan Hanna


sambil menatapnya tajam. Gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali.


“Kamu kenapa lihatin aku


sampai begitu?” tanyanya.


“Kamu dari mana aja kemarin?


Nggak masuk.”


“Aku sakit.”


“Kenapa nggak ngabarin aku?”


“Aku nggak bisa bangkit, Ton.


Kepalaku puyeng rasanya mau muntah.”


“Kamu hamil?”


PLETAK! Hanna menimpunya pakai


bolpoin.


“Aduhh...” Anton merintih.


“Enak aja nuduh aku hamil.


Huh. Hamil sama siapa?” Sergah Hanna sewot.


“Biasanya kalau perempuan lagi


mual trus mau muntah pasti deh bawaaanya hamil.”


“Emang yang menghamili aku


siapa? Kamu?”


“Hehehe... Aku kangen sama


kamu.”


“Gombal ah.”


Hanna melipat tangannya. Keyla


permisih keluar sebentar.


“Kamu kenapa murung lagi?”


“Keyla, Ton...”


“Kenapa dengan Keyla?” tanya Anton penasaran.


“Aku nggak berani cerita ke


kamu.”


“Memang ada apa sih, Han. Cerita


aja sama aku. Kamu harus percaya sama aku yang nggak pernah membocorkan


rahasia.”


Hanna diam sebentar lalu

__ADS_1


cerita ke Anton.


“Kamu tahu tentang kematian


Jardi?”


“Jardi?” Anton terbelalak.


“Iya.”


“Dia jatuh dari lantai empat.


Itu kata murid-murid di sini. Memangnya kenapa?”


“Sebenarnya Jardi tidak jatuh,


Ton. Tapi dia didorong seseorang. Orang itu adalah Keyla.”


“Keyla?” Anton terkejut dan


tidak percaya.


“Itulah kenyataannya, Ton.


Malam itu mereka sengaja melakukan permainan pemanggil arwah. Semuanya jadi


kacau balau ketika mereka melihat sosok mengerikan di gudang. Entah pikiran apa


yang merasuki Keyla hingga ia tega mendorong Jardi yang ketakutan sampai jatuh


ke lantai.”


“Trus?”


“Keyla selalu dihantui arwah


Jardi. Maka dari itu mereka ingin mengakhiri permainan mereka kamis malam.”


“Hmmm...” Anton berpikir


sejenak.


“Cerita ini jangan sampai


tersebar kemana-mana ya, Ton. Kamu harus janji.”


“Iya aku janji.”


Hanna tersenyum pahit. Anton


hanya tak habis pikir kalau kematian Jardi ada kaitannya dengan Keyla. Gadis


manis itu gadis yang baik menurutnya. Lantas ada masalah apa antara Jardi dan


Keyla?


“Han... sebaiknya kamu


tanyakan ada hubungan apa Keyla dan Jardi?”


“Hmm... Aku takut


menanyakkannya, Ton.”


“Coba kamu tanya aja


baik-baik.”


“Ya udah nanti kalau dia


kembali.”


Keyla duduk sambil menundukkan


kepalanya. Kali ini ia harus berterus terang ke Hanna dan Anton. Tidak ada lagi


yang perlu disembunyikan. Setahun ia menutupi kejadian itu dan ia tidak ingin


terus-menerus dihantui rasa bersalah.


“Jardi memaksaku untuk mencintainya.


Aku tidak mau dan ia mengancam akan membunuhku. Aku takut dan panik. Sementara


Ziad juga tidak menginginkan kehadiran Jardi. Aku mencintai Ziad, tapi ternyata


dia tidak mencintaiku sampai aku memergokinya berpacaran dengan gadis lain.


Pikiranku kalud dan pada saat itu timbul niatku untuk mencelakai Jardi.”


Anton dan Hanna terbengong


mendengar cerita Keyla hingga ia tidak dapat berkata apa-apa.


“Kamu mengorbankan dirimu


sendiri demi Ziad?”


Keyla menunduk dengan wajah


“Key, aku turut prihatin dengan


ceritamu.” Timpal Anton.


“Aku ingin mengakhiri


semuanya, Han.”


“Key... Kamu harus hati-hati.


Lebih baik kamu cari orang pintar atau ustad untuk menjagamu.”


“Aku nggak mau mereka ikut


campur. Ini adalah masalahku, Han.”


Hanna menarik nafasnya


dalam-dalam dan hanya emmperhatikan wajah Keyla yang muram.


Ziad membuka cincin yang diberikan Ki Darmo dan meletakkannya di atas meja.


Cicin itu sebagai pelindung untuknya agar tidak diganggu arwah jahat. Disaat


Ziad masuk ke kamar mandi ia melihat bayangan Jardi di cermin. Ziad terkesiap


dan terkejut. Sosok Jardi menatapnya dengan tajam. Wajahnya hancur berlumuran


darah. Buru-buru Ziad menutup pintu kamar mandi dan bergerak mundur ketakutan.


Nafasnya tersengal dan ia gemetaran.


Suara


desisan-desisan memenuhi kamar mandi milik Ziad. Ia panik sambil mengawasi


setiap sudut kamar mandi. Dari langit-langit kamar mandi ada tetesan darah yang


menetes di lantai. Ziad mendongak perlahan dan


ia melihat sosok Jardi menatapnya dengan pandangan terbalik. Kepala Jardi mengeluarkan


darah.


“AARRGGHH…” Ziad menjerit ketakutan.


Buru-buru ia membuka pintu kamar mandi dan


mencari cincinnya. Cincin itu sudah tidak ada di atas meja. Ziad panik dan mencari kembali di


lantai. Cincin itu tetap tidak ada.


JEDAAARRR...


Jendela kamarnya terhempas


angin dan membentur keras. Ziad terkejut dan membelalakkan matanya


memperhatikan jendela. Sore itu terlihat mendung dengan awan kelabu yang


berarak gelisah. Ziad semakin panik dan buru-buru meraih kunci sepeda motornya.


Ia keluar kamar dengan tergesa.


BRUUUMMMM....


Suara deruman


motor terdengar di garasi. Secepat kilat Zia melaju di jalan hitam. Ia menuju


rumah Nico. Ia menarik tuas gas kuat-kuat dan mengganti gigi beberapa kali.


Sesampainya di


rumah Nico, Ziad langsung saja mencari Nico. Nafasnya tersengal dan pikirannya


kalud. Nico masih dalam perjalanan pulang. Ziad menunggu di teras depan dengan


gelisah. Beberapa saat kemudian terdengar suara motor Nico memasuki gerbang.


Ziad sedikit lega.


Setelah Nico turun


dari motornya, Ziad menghampiri Nico. Nico lebih dulu bertanya ke Ziad.


“Ada apa, Zi?” tanyanya.


Ziad terlihat


gugup dengan pertanyaan Nico.


“Nic. Hmm...


aku...” Ziad semakin gugup.

__ADS_1


“Aku apa, Zi?”


“Jardi.”


“Jardi? Kau sudah


bertemu dengannya?”


“Sosok Jardi ada


di kamar mandiku, Nic.”


“Lantas? Kau takut?


Hei men... bukannya kau seorang pemberani? Hahaha... kau ini aneh.”


Wajah Ziad tampak


gelisah.


“Nic... ini


menjadi masalah serius. Jardi sepertinya sangat marah.”


“Kau baru tahu


kalau arwah Jardi sangat marah? Selama ini kau kemana? Aku sudah cerita juga


kan?”


“Aku nggak yakin


arwah Jardi bangkit lagi, tapi dia ada di kamarku, Nic.”


Nico tersenyum


sinis merasa menang dengan ceritanya kemarin.


“Kini baru kau


rasakan. Trus kita harus berbuat apa?”


Ziad terdiam


sambil memikirkan apa yang harus mereka lakukan.


“Kita harus cari


dukun untuk mengikat arwah Jardi.”


“Dukun? Di mana nyarinya?”


“Aku tahu dukun


yang sakti, asal bayarannya setimpal.”


“Bayarannya


mahal?”


“Yah, lumayan


sih...”


“Hmmm... kau


aneh-aneh aja pun, Zi. Dari mana aku punya duit? Minta sama nyokap and bokap?


Bisa curiga mereka.”


Ziad berfikir


sejenak. Ia sama sekali tidak punya uang banyak untuk membayar seorang dukun


berilmu hitam yang sakti.


“Lantas kita


bagaimana, Nic. Ini masalah keselamatan nyawa kita. Kita harus berusaha agar


arwah Jardi tidak menghantui kita.”


Nico tidak tahu


harus berbuat apa. Ia hanya diam dan terpaku sambil termenung. Ia mengingat


perlakuan mereka terhadap Jardi. Mereka sering mengolok-olok Jardi karena dia


hanya seorang anak penjaga sekolah. Wajahnya juga yang tidak menarik menjadi


incaran mereka untuk mempermalukan. Tak jarang mereka menyakiti Jardi. Ziad


juga pernah menghajar Jardi dengan bogeman mentah. Nico juga pernah menyakiti


Jardi.


“Nic...” Panggil


Ziad.


Nico tercekat dan


membuyarkan lamunannya.


“Kita memang


bersalah kepada Jardi, Zi. Sudah banyak kita menyakiti dia.”


“Aku nggak mau


mati konyol karena arwah Jardi, Nic! Dia itu hanya setan yang suka menakuti!


Aku tidak takut! Jardi...!!! Di mana kau..!!! Lawan aku!!!” Teriak Ziad saking


kesalnya.


“Zii... Kau jangan


teriak-teriak di ruamhku. Papa dan Mamaku bisa kaget karena kau!”


“Aku sudah bosan


dengan permainan arwah itu, Nic. Aku ingin menantang dia!” Ziad beranjak dan


menghampiri sepeda motornya.


Ziad langsung


tancap gas begitu motornya menyala. Nico hanya geleng-geleng kepala melihat


temannya itu. Kemudian ia masuk ke dalam rumahnya dengan pikiran tidak menentu.


###


Motor Ziad


memasuki sebuah rumah sederhana di kawasan Tanjung Morawa. Ia ngin minta


bantuan ke Ki Darmo, seorang dukun berilmu hitam yang sakti. Setelah memberi


salam, Ziad mengutarakan niatnya ke Ki Darmo.


“Tolong saya,


Ki...”


“Lantas cincin


yang saya beri kau kemanakan?”


“Cincin itu saya


letakkan di atas meja, Ki. Hanya sebentar dan cincin itu hilang.”


Ki Darmo terlihat


marah ketika mendengar pengakuan Ziad.


“Bukankah sudah


saya peringatkan jangan sekali-kali membuka cincin itu?”


“Tapi jari saya


terasa gatal, Ki. Saya mohon, lindungi saya.”


“Saya tidak dapat


membantumu, Anak muda. Maaf saya tidak bisa memberi apa-apa lagi untuk


melindungimu.”


“Lantas bagaimana


dengan saya, Ki?”


“Kau harus


menyelesaikannya sendiri.”


Ziad semakin kesal


dan ia pergi begitu saja tanpa pamit ke Ki Darmo. Ia menarik tuas motornya dan


melaju kencang di jalan hitam.


Sesampainya di


rumah ia langsung saja masuk ke kamar dan mengawasi kamarnya dengan seksama.


Tidak ada arwah Jardi disana. Ia mencoba memberanikan diri dan berusaha untuk


kuat. Ia akan menghadapi arwah itu sendirian jika memang arwah itu datang lagi


kepadanya, namun sampai pagi ia tidak melihat tanda-tanda arwah itu muncul.

__ADS_1


__ADS_2