ARWAH PENUNGGU SEKOLAH

ARWAH PENUNGGU SEKOLAH
Episode 5


__ADS_3

Ini bukan kali


pertama Hanna ke toilet. Kamar mandi hanya ada satu di lantai dua dan satu di


lantai dasar. Ia minta ditemeni Hanna dari luar. Hanna berhenti di


depan kamar mandi lantai dua yang posisinya ada di tengah gedung sekolah. Hanna


melangkah dengan ragu ketika membuka pintu kamar mandi. Aura mistik sudah


terasa saat ia masuk.


Hanna


memperhatikan sejenak kamar mandi yang lampunya redup. Ia mendegut ludah seraya


ketakutan, namun ia sudah tidak dapat menahan lagi. Ia segera membuka pintu


toilet dan buang air kecil. Tak sengaja pembalut kewanitaanya jatuh ke dalam


toilet. Untung saja Hanna selalu membawa penggantinya. Setelah selesai buang


air, Hanna mengganti pembalutnya dengan yang baru. Kemudian ia buru-buru keluar


dari kamar mandi. Hanna heran dan bingung.  Suasana sekolah berubah sangat hening. Hanna


celingukan. Gedung sekolah sedikit berubah.


Sedikit berkerut


kening Hanna memperhatikan koridor sekolah yang terlihat berbeda. Ia buru-buru


berjalan dan menuju ruangannya. Hanna terkejut ketika melihat ruangan kelasnya


kosong. Ia bingung. Sekolah belum usai kenapa sudah pada pulang? Pikirnya.


Hanna melirik arloji di tangan kirinya. Jam itu mati tepat dipukul sembilan


pagi.


“Keyla kemana


sih?” Hanna penasaran. “Anton juga nggak ada. Mereka pada kemana?” Gumamnya dalam hati.


Hanna segera ke


mejanya dan ingin mengambil tas sekolahnya, namun tas itu nggak ada.


“Aneh.” Pikirnya


lagi.


Hanna buru-buru


keluar dan melihat halaman depan. Nggak ada murid-murid yang lain di sana. Hanna


mulai panik, lalu tiba-tiba ada keributan di ruang guru. Hanna terkejut dan


menghampiri ruang guru yang letaknya tidak jauh dari ruangannya. Hanna


mendengarkan kegaduhan itu, lalu tiba-tiba tujuh orang pelajar keluar sambil


marah-marah. Hanna buru-buru berlalu dan bersembunyi.


Tujuh pelajar itu


kemudian menaiki anak tangga dengan tergesa. Hanna hanya memperhatikan mereka


dengan takut. Tak lama kemudian, ia mendengar tujuh pelajar itu berteriak dan


lompat dari atap lantai tiga. Hanna terbelalak dan ketakutan. Ia melihat tubuh


pelajar itu jatuh dan mengeluarkan darah. Hanna hampir menjerit, namun ia


menggigit bibirnya. Ia tidak tahu ia berada di mana saat ini.


Hanna ketakutan


ketika tujuh pelajar itu bangkit dengan kepala berlumuran darah. Ia berlari di


koridor mencari tempat berlindung. Ia masuk ke kamar mandi dan duduk sambil


menangis. Hanna berdoa semoga ia bisa kembali ke tempat asalnya. Tiba-tiba saja


pintu kamar mandi terbuka dan Hanna terkejut.


“Hanna...?” Anton


menemukan Hanna yang ketakutan.


Cepat Anton


menghampiri Hanna yang menangis sesenggukan.


“Kamu kenapa


disini?” tanyanya lagi.


“Aku takut, Ton...

__ADS_1


Takutt...” Hanna terlihat bingung.


“Sudah. Ada aku


di sini. Kita ke ruangan yuk.” Ajak Anton seraya memapah Hanna.


Keyla yang melihat


keadaan Hanna jadi bingung.


“Hanna, kamu


dari mana aja? Dari tadi aku mencarimu.”


Hanna tidak


menjawab dan hanya menangis. Anton segera membawanya ke ruangan, lalu


mendudukkan Hanna di kursinya. Hanna masih shock dan banyak diam. Keyla


memberikan minuman botol ke Hanna agar ia bisa lebih tenang. Setelah tenang


Anton bertanya pelan.


“Hann...


sebenarnya ada apa?”


Hanna menarik


nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya.


“Aku nggak tahu,


Ton. Aku berada di tempat asing. Aku nggak menemukan kalian di ruangan ini.


Semuanya berbeda. Trus aku melihat tujuh pelajar melompat dari atap lantai


tiga. Mereka bunuh diri.”


Keyla bergidik.


“Hann... serem


banget sih. Kamu nggak mengarang cerita kan?”


“Enggak, Key. Aku melihat


dengan mata dan kepalaku sendiri.” Suara Hanna terdengar parau.


Keyla mengelus


lengannya yang mulai merinding.


tenangkan pikiran dulu, Han...” Ujar Anton kemudian.


Hanna mengangguk.


Anton dan Keyla masih menemani Hanna di kelas sampai bel berdentang tanda jam


terakhir dimulai.


Anton mendampingi


Hanna saat pulang sekolah. Keyla sudah pamit lebih dulu karena dijemput


papanya. Hanna masih terlihat shock dan murung. Sepertinya perhatian Anton


membuat Hanna menjadi nyaman.


“Aku antar sampai


ke rumah ya, Han?” Ucap cowok itu berbaik hati.


“Nggak usah, Ton.


Aku naik angkutan umum aja.”


“Aku kan bawa


motor.”


“Tapi kamu kan nggak


bawa helm. Nanti kalau ditilang polisi gimana?”


“Aku serahin aja


kamu ke pak polisi.” Kata Anton bercanda.


“Huh, kamu jahat


ah. Kok aku yang diserahin ke polisi? Motor kamu dong.” Kata Hanna sambil tertawa kecil. Sedikit manja sambil memukul Anton.


“Agar pak polisi


tahu kalau cewek yang aku bonceng tidak memakai helm.”


“Ughh...

__ADS_1


Antoon...”


“Hahahaha...”


Hanna sewot dengan


manja.


“Polisi nggak


bakalan menyetop kita, Han. Kan lagi pulang sekolah. Gimana? Aku antar ya?”


Hanna tersenyum


dan mengangguk pelan. Mereka pun segera menuju parkiran motor. Dalam boncengan


Hanna senyum-senyum sendiri. Ia heran mengapa Anton sangat perhatian kepadanya.


Hanna sampai di


rumah dan langsung masuk ke kamarnya. Di dalam kamar ia terpaku sambil mengingat


wajah Anton, lalu ia tersenyum sendiri. Cowok itu telah menggoda hatinya. Hanna


sangat bahagia, namun tiba-tiba saja ia teringat dengan kejadian yang ia alami.


Kejadian itu seperti nyata, namun ia tidak tahu kapan hal itu terjadi.


Hanna tidak bisa


memejamkan matanya. Ia terlihat gelisah sambil menatap


langit-langit kamar. Pikirannya terusik lagi dengan cerita-cerita di


sekolahnya. Apalagi ia melihat sendiri penampakan sosok mengerikan itu. Dia


juga tidak tahu sebenarnya ada apa di sekolah itu.


Berkali-kali ia mencoba memejamkan mata namun


sosok-sosok lain muncul di benaknya. Hanna tercekat dan beranjak dari tempat


tidurnya. Kemudian ia keluar dari kamar dan menuju kamar neneknya. Hanna


mengetuk pintu kamar neneknya.


“Nek… Nenek….”


“Iya… sebentar…” Sahut sang nenek.


Tak lama pintu terbuka.


“Ada apa toh, Cu?”


Tanya sang Nenek dengan heran ketika melihat wajah Hanna memelas.


“Hanna takut, Nek… Hanna tidur sama nenek aja


ya?”


Sang nenek tersenyum dan terkekeh.


“Oalah, Cuu… Udah besar kok masih takut. Ya


udah ayo masuk…”


Hanna masuk ke kamar neneknya.


“Sebenarnya ada apa toh sampai kamu ketakutan


gitu?” tanya neneknya sebelum Hanna merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


“Hmm…. Tadi di sekolah Hanna melihat


penampakkan, Nek. Hanna takut. Hanna pindah sekolah aja ya, Nek…”


“Loh, kok pindah?”


“Habis sekolahnya serem. Pasti ada


penunggunya.”


“Semua bangunan itu pasti ada penunggunya.


Kalau kita tidak mengganggu pasti mereka juga tidak mengganggu kita.”


“Ugh, Nenek. Nenek nggak tahu sih…”


Nenek menghampiri Hanna yang sudah berbaring di


tempat tidur.


“Semua itu mahluk ciptaan Allah, Cu… Ya sudah,


kamu tidur sana. Besok bangun sholat subuh, biar kamu nggak diganggu mahluk


halus.”


Hanna diam saja sambil memejamkan matanya.

__ADS_1


Dalam waktu singkat ia sudah tertidur pulas. Sang nenek hanya bisa


geleng-geleng kepala, lalu berbaring di samping Hanna.


__ADS_2