
Seperti hari-hari
kemarin, Nico ke sekolah mengendarai sepeda motor. Nico menarik tuas gas dan
melaju di jalan hitam. Pikirannya kacau sejak mengalami mimpi buruk yang acap
kali hadir dalam tidurnya. Ia melihat sosok mengerikan di kamarnya. Sosok
seorang pelajar berwajah pucat dengan luka menganga di wajah bagian kirinya.
Bola matanya hampir copot dari kelopak dan mengeluarkan darah yang amis
memuakkan!
Motor Nico
memasuki halaman sekolah dan segera menuju ke parkiran. Setelah menarik
standar, Nico buru-buru mencari Ziad, temannya. Ia berjalan tergesa di halaman
dan memasuki koridor sekolah. Di sudut ruangan ia melihat Ziad yang berdiri
sambil memperhatikan murid-murid cewek yang tengah bercengkrama. Nico segera
menghampiri Ziad. Ada sesuatu yang ingin ia bicarakan.
“Zi, dia datang
lagi dalam mimpiku.” Kata Nico dengan bibir sedikit bergetar. Ia sangat ketakutan. Ziad menoleh dan menatap Nico.
“Kau takut apa
sih? Cemen amat.” Cibir Nico sambil terkekeh.
“Arwah itu, Zi.”
“Alaah...
sudahlah. Kau itu nggak usah jadi penakut. Setan itu nggak ada, Nic. Itu hanya
halusinasimu aja.”
Nico mendegut
ludahnya sambil menatap Ziad. Sepertinya tidak ada lagi yang perlu dibicarakan
ke Ziad. Nico pun berlalu meninggalkan Ziad dan masuk ke ruangannya. Ziad hanya
mencibir Nico yang dianggap penakut. Cowok bermata tajam dan pemberani itu
kemudian berjalan mendekati pelajar-pelajar cewek yang masih bercengkrama.
Dari kejauhan
terlihat Keyla berjalan bersama Hanna. Keyla
berjalan di koridor di mana Ziad dan Nico berdiri.
“Hai, Zi, Nic… Kenalin ini temenku. Dia baru
pindah dari Bandung.”
“Hai…” Hanna mengulurkan tangannya.
“Ziad.” Sambut Ziad seraya mengulurkan
tangannya.
“Nico.”
Hanna tersenyum setelah berkenalan.
“Kami nggak bisa lama-lama. Kamu masuk dulu ya,
ada tugas sekolah yang harus kami selesaikan.” Kata Keyla.
“Okey…” Ucap Ziad enteng.
Hanna dan Keyla meninggalkan mereka berdua di
__ADS_1
koridor. Hanna malah melamun sambil berjalan.
“Hei… kamu kenapa, Han? Kok melamun? Hmm… pasti
kamu udah terhipnotis ama mereka kan?”
“Ugh, Keyla apa-an sih? Enak aja.”
“Trus kenapa kamu melamun gitu?”
“Nggak apa-apa. Lagian aku sudah punya Anton. Udah
ah, yuk.”
“Cieee… yang udah jadian. Kapan dirayain?”
“Nggak ada perayaan. Cukup kami berdua aja yang
tahu.”
“Huh. Kamu pelit.”
“Udah ah, yuk…” Hanna beranjak melangkahkan
kakinya.
Mereka kembali melangkahkan kaki dan menaiki
anak tangga. Di selah-selah perjalanan mereka, Hanna menanyakan sesuatu ke
Keyla.
“Trus kalian melakukan permainan itu dimana?”
Keyla menghentikan langkahnya dan terdiam
sejenak, lalu berujar.
“Di gudang lantai empat. Ruangan itu sudah
tidak terpakai, Han. Kenapa sih kamu menanyakkan hal itu?”
yang membuat arwah Jardi jadi penasaran.”
Keyal melanjutkan langkahnya.
“Aku nggak mau membahas cerita itu lagi, Han.” Ujar Keyla.
“Tapi, Key… Apa kamu nggak bertanya-tanya mengapa
arwah Jardi menghantuimu? Kalau memang kejadian itu sebuah kecelakaan?”
Keyla kembali terdiam dan tidak menjawab
pertanyaan Hanna. Ia langsung saja masuk ke ruangannya dan duduk di kursinya.
Hanna juga duduk dan diam. Pikirannya kembali buyar.
###
Siang itu, Hanna mendengar pembicaraan beberapa
guru di ruangan. Ia mendengarkan cerita-cerita mereka yang juga menyeramkan.
Para guru juga sering melihat penampakkan di kamar mandi. Tentang arwah
gentayangan yang konon arwah dari murid sekolah itu sendiri.
Lima tahun yang lalu ada juga kejadian tragis
yang menewaskan seorang pelajar putri. Masa orientasi yang dilakukan beberapa
pelajar dan melampaui batas hingga merenggut nyawa seorang pelajar putri. Konon
arwah itu tidak terima atas kematiannya. Beberapa pelajar yang membuat ia
meregang nyawa pun terus diteror hingga para pelajar ketakutan.
Berita kematian itu pun terendus oleh pers dan
__ADS_1
jadi bahan perbincangan masyarakat. Belum lagi habis berita kematian itu,
seorang pelajar putri ditemukan tewas gantung diri di lantai tiga. Sekolah heboh
dan menjadi menakutkan saat arwah-arwah itu bergentayangan.
Hanna beranjak dari tempatnya dan kembali ke
ruangan kelasnya. Anton memperhatikan Hanna dengan hera.. Hanna duduk di kursinya
dengan wajah muram.
“Kamu kenapa,
Han?” tanya Anton sambil menghampiri Hanna.
Hanna menoleh
dengan pelan.
“Ton... tadi aku
mendengar cerita dari beberapa guru tentang kejadian yang pernah aku alami.”
“Maksudmu?”
“Tentang tujuh
pelajar yang bunuh diri dengan cara melompat dari atas gedung. Ternyata mereka
murid yang tidak lulus ujian dan menakhiri hidup mereka dengan tragis.”
“Hmmm...”
“Aku mau pindah aja, Ton.”
Ujar Hanna.
“Pindah? Maksud kamu?”
“Yah, aku ingin pindah dari sekolah ini. Aku takut. Ternyata banyak sekali kejadian yang menyeramkan di sini.”
“Han… Please… Jangan pindah, demi aku. Kamu nggak usah takut, aku akan selalu melindungi kamu.”
Anton menggenggam jemari tangan Hanna. Hanna menatapnya dengan lekat.
“Emang kamu bisa ngelindungi aku dari mahluk
halus?” Hanna bertanya konyol.
“Setidaknya aku akan berusaha, Han.”
“Tapi aku juga takut, Ton kalau lama-lama dihantui.”
“Coba kamu tenangkan pikiran dulu. Jangan biarkan pikiran kamu terusik dengan sosok-sosok itu. Mereka akan
semakin merajalela kalau kamu takut.”
“Hmmm...”
“Pejamkan matamu,
Han dan rasakan ketenangan bathinmu.” Kata Anton.
Hanna memejamkan
matanya dan mendengarkan kata-kata dari Anton. Ada semilir angin yang menyentuh
tubuhnya. Kemudian ia berusaha menenangkan pikriannya, lalu membuka matanya.
“Bagaimana?”
Hanna tersenyum.
“Sudah lebih baik.” Ucapnya.
Anton tersenyum
sambil menggenggam jemari Hanna.
__ADS_1