ARWAH PENUNGGU SEKOLAH

ARWAH PENUNGGU SEKOLAH
Episode 11


__ADS_3

Seperti hari-hari


kemarin, Nico ke sekolah mengendarai sepeda motor. Nico menarik tuas gas dan


melaju di jalan hitam. Pikirannya kacau sejak mengalami mimpi buruk yang acap


kali hadir dalam tidurnya. Ia melihat sosok mengerikan di kamarnya. Sosok


seorang pelajar berwajah pucat dengan luka menganga di wajah bagian kirinya.


Bola matanya hampir copot dari kelopak dan mengeluarkan darah yang amis


memuakkan!


Motor Nico


memasuki halaman sekolah dan segera menuju ke parkiran. Setelah menarik


standar, Nico buru-buru mencari Ziad, temannya. Ia berjalan tergesa di halaman


dan memasuki koridor sekolah. Di sudut ruangan ia melihat Ziad yang berdiri


sambil memperhatikan murid-murid cewek yang tengah bercengkrama. Nico segera


menghampiri Ziad. Ada sesuatu yang ingin ia bicarakan.


“Zi, dia datang


lagi dalam mimpiku.” Kata Nico dengan bibir sedikit  bergetar. Ia sangat ketakutan. Ziad menoleh dan menatap Nico.


“Kau takut apa


sih? Cemen amat.” Cibir Nico sambil terkekeh.


“Arwah itu, Zi.”


“Alaah...


sudahlah. Kau itu nggak usah jadi penakut. Setan itu nggak ada, Nic. Itu hanya


halusinasimu aja.”


Nico mendegut


ludahnya sambil menatap Ziad. Sepertinya tidak ada lagi yang perlu dibicarakan


ke Ziad. Nico pun berlalu meninggalkan Ziad dan masuk ke ruangannya. Ziad hanya


mencibir Nico yang dianggap penakut. Cowok bermata tajam dan pemberani itu


kemudian berjalan mendekati pelajar-pelajar cewek yang masih bercengkrama.


Dari kejauhan


terlihat Keyla berjalan bersama Hanna. Keyla


berjalan di koridor di mana Ziad dan Nico berdiri.


“Hai, Zi, Nic… Kenalin ini temenku. Dia baru


pindah dari Bandung.”


“Hai…” Hanna mengulurkan tangannya.


“Ziad.” Sambut Ziad seraya mengulurkan


tangannya.


“Nico.”


Hanna tersenyum setelah berkenalan.


“Kami nggak bisa lama-lama. Kamu masuk dulu ya,


ada tugas sekolah yang harus kami selesaikan.” Kata Keyla.


“Okey…” Ucap Ziad enteng.


Hanna dan Keyla meninggalkan mereka berdua di

__ADS_1


koridor. Hanna malah melamun sambil berjalan.


“Hei… kamu kenapa, Han? Kok melamun? Hmm… pasti


kamu udah terhipnotis ama mereka kan?”


“Ugh, Keyla apa-an sih? Enak aja.”


“Trus kenapa kamu melamun gitu?”


“Nggak apa-apa. Lagian aku sudah punya Anton. Udah


ah, yuk.”


“Cieee… yang udah jadian. Kapan dirayain?”


“Nggak ada perayaan. Cukup kami berdua aja yang


tahu.”


“Huh. Kamu pelit.”


“Udah ah, yuk…” Hanna beranjak melangkahkan


kakinya.


Mereka kembali melangkahkan kaki dan menaiki


anak tangga. Di selah-selah perjalanan mereka, Hanna menanyakan sesuatu ke


Keyla.


“Trus kalian melakukan permainan itu dimana?”


Keyla menghentikan langkahnya dan terdiam


sejenak, lalu berujar.


“Di gudang lantai empat. Ruangan itu sudah


tidak terpakai, Han. Kenapa sih kamu menanyakkan hal itu?”


yang membuat arwah Jardi jadi penasaran.”


Keyal melanjutkan langkahnya.


“Aku nggak mau membahas cerita itu lagi, Han.” Ujar Keyla.


“Tapi, Key… Apa kamu nggak bertanya-tanya mengapa


arwah Jardi menghantuimu? Kalau memang kejadian itu sebuah kecelakaan?”


Keyla kembali terdiam dan tidak menjawab


pertanyaan Hanna. Ia langsung saja masuk ke ruangannya dan duduk di kursinya.


Hanna juga duduk dan diam. Pikirannya kembali buyar.


###


Siang itu, Hanna mendengar pembicaraan beberapa


guru di ruangan. Ia mendengarkan cerita-cerita mereka yang juga menyeramkan.


Para guru juga sering melihat penampakkan di kamar mandi. Tentang arwah


gentayangan yang konon arwah dari murid sekolah itu sendiri.


Lima tahun yang lalu ada juga kejadian tragis


yang menewaskan seorang pelajar putri. Masa orientasi yang dilakukan beberapa


pelajar dan melampaui batas hingga merenggut nyawa seorang pelajar putri. Konon


arwah itu tidak terima atas kematiannya. Beberapa pelajar yang membuat ia


meregang nyawa pun terus diteror hingga para pelajar ketakutan.


Berita kematian itu pun terendus oleh pers dan

__ADS_1


jadi bahan perbincangan masyarakat. Belum lagi habis berita kematian itu,


seorang pelajar putri ditemukan tewas gantung diri di lantai tiga. Sekolah heboh


dan menjadi menakutkan saat arwah-arwah itu bergentayangan.


Hanna beranjak dari tempatnya dan kembali ke


ruangan kelasnya. Anton memperhatikan Hanna dengan hera.. Hanna duduk di kursinya


dengan wajah muram.


“Kamu kenapa,


Han?” tanya Anton sambil menghampiri Hanna.


Hanna menoleh


dengan pelan.


“Ton... tadi aku


mendengar cerita dari beberapa guru tentang kejadian yang pernah aku alami.”


“Maksudmu?”


“Tentang tujuh


pelajar yang bunuh diri dengan cara melompat dari atas gedung. Ternyata mereka


murid yang tidak lulus ujian dan menakhiri hidup mereka dengan tragis.”


“Hmmm...”


“Aku mau pindah aja, Ton.”


Ujar Hanna.


“Pindah? Maksud kamu?”


“Yah, aku ingin pindah dari sekolah ini. Aku takut. Ternyata banyak sekali kejadian yang menyeramkan di sini.”


“Han… Please… Jangan pindah, demi aku. Kamu nggak usah takut, aku akan selalu melindungi kamu.”


Anton menggenggam jemari tangan Hanna. Hanna menatapnya dengan lekat.


“Emang kamu bisa ngelindungi aku dari mahluk


halus?” Hanna bertanya konyol.


“Setidaknya aku akan berusaha, Han.”


“Tapi aku juga takut, Ton kalau lama-lama dihantui.”


“Coba kamu tenangkan pikiran dulu. Jangan biarkan pikiran kamu terusik dengan sosok-sosok itu. Mereka akan


semakin merajalela kalau kamu takut.”


“Hmmm...”


“Pejamkan matamu,


Han dan rasakan ketenangan bathinmu.” Kata Anton.


Hanna memejamkan


matanya dan mendengarkan kata-kata dari Anton. Ada semilir angin yang menyentuh


tubuhnya. Kemudian ia berusaha menenangkan pikriannya, lalu membuka matanya.


“Bagaimana?”


Hanna tersenyum.


“Sudah lebih baik.” Ucapnya.


Anton tersenyum


sambil menggenggam jemari Hanna.

__ADS_1


__ADS_2