
Hadrian dalam perjalanan kembali ke
rumah. Sudah malam dan malam sangat gelap. Mobil yang dikendarai melaju di
jalan hitam. Pohon-pohon di pinggir jalan tampak sangat menyeramkan.
Pohon-pohon itu ada penunggunya. Tiba-tiba saja Hadrian melihat sosok Faridah
di ujung jalan. Perempuan itu berjalan sambil mendekap buku di dada. Hadrian
menghentikan mobilnya ketika melewati Faridah. Ia mematikan mesin dan membuka
pintu. Hadrian turun dan melihat ke belakang, namun Faridah tidak ada. Hadrian
bingung dan mencari sosok Faridah. Ia mengawasi jalanan, namun Farisa tetap
tidak ada. Ia malah melihat seorang suster yang berjalan lambat dengan seragam
perawatnya.
Hadrian merinding melihat perawat itu.
Tiba-tiba tubuhnya terbakar dan perawat itu tetap berjalan. Hadrian ketakutan
dan buru-buru masuk ke dalam mobil. Tangannya gemetar ketika menyalakan mobil.
Kunci mobil terjatuh ke bawah dan Hadrian meraba dengan tangan kanannya. Ia
merasakan ada cairan kental di bawah dan tidak menemukan kunci mobilnya.
Hadrian melihat jemari tangannya. Lumuran darah melekat di jari-jarinya.
Hadrian terkejut dan ketakutan. Ia keluar dari mobilnya dan berlari di jalan
yang sunyi.
Perawat dengan tubuh terbakar itu
muncul di depan Hadrian. Mata Hadrian terbelalak. Ia terkejut dan mengenal
siapa perawat itu.
“Diza!” serunya.
Arwah penasaran Diza pun menatap
__ADS_1
tajam dengan wajah melepuh. Hadrian terus berlari mencari pertolongan. Namun,
jalan menuju ramainya pemukiman lumayan jauh. Arwah Diza mengejar Hadrian dan
menakutinya dengan sosok-sosok mengerikan. Hadrian bercucuran keringat dan
nafasnya terlihat memburu.
“Jangan ganggu aku! Aku tidak
bersalah.” Jerit Hadrian. Hadrian berhenti di sebuah pohon yang di atasnya ada
sosok perempuan menyeramkan dengan taring yang tajam.
“Akhhh...” Hadrian kembali ketakutan.
Sorot lampu menyilaukan nya. Ada sebuah
trus yang melaju kencang dari lawan arah. Hadrian yang sudah panik dan
ketakutan tidak terkendali. Akhirnya ia terpelanting saat truk itu menabraknya.
Suara dentuman membahana di malam itu. Hadrian tewas bersimbah darah.
Diza, seorang perawan yang tewas
Hadrian. Banyak perawat yang berjaga malam itu tewas mengenaskan. Hadrian yang
tidak sempat mengemban seorang dokter pun mengamuk karena tidak lulus
kedokteran. Ia membakar rumah sakit milik ayahnya.
Langit kembali menghitam dan awan
tampak gelap. Raisa berada di koridor sekolah. Ia melihat seorang guru bernama
Faridah. Guru yang terkenal killer berjalan dengan wajah dingin.
Raisa melihat murid-murid
berbondong-bondong melihat papan pengumuman. Ternyata pengumuman lulus-lulusan.
Raisa mengerutkan keningnya dan bingung. Bukankah ujian semester belum dimulai?
Pikirnya. Raisa berjalan menuju papan pengumuman. Murid-murid mulai
__ADS_1
meninggalkan papapn pengumuman dan hanya ada tujuh yang masih menatapi papan
pengumuman dengan miris. Tujuh murid itu tidak lulus. Mereka putus asa dan
pergi. Tak berapa lama terdengar suara dentuman keras dan terikan histeris.
Ternyata murid-murid itu terjun bebas dari lantai tiga. Raisa terkejut dan ia
berlari melihat murid yang jatuh. Kepalanya pecah dan bersimbah darah. Raisa
menggigit bibirnya dan menutup matanya. Murid yang bunuh diri itu pun
menghilang.
Raisa berlari di koridor. Usut-punya
usut adan seorang guru yang sengaja tida meluluskan mereka. Guru itu adalah
Faridah!
Ruang sekolah pun berubah menjadi
gedung usah berbangsal. Raisa berada di rumah sakit lama yang terbakar. Apinya
sudah padam dan menyisahkan asap dan api-api kecil. Raisa melihat banyak
perawan yang mengerang karena terbakar. Raisa menutup matanya dan menjerit
histeris.
“Akhhh...”
Raisa pun terbangun dari mimpi
buruknya. Nafasnya terengah-engah dan beberapa kali mengucap astagfirullah. Ia
melihat Melda masih tertidur pulas. Ia bingung mengapa mimpi itu hadir lagi
dalam tidurnya.
“Faridah?” Gumamnya pelan.
Jadi selama ini Faridah lah yang tidak
meluluskan tujuh murid hingga mereka depresi dan bunuh diri. Raisa menghelah
__ADS_1
berat. Ia melihat jam dinding masih menunjukan pukul tiga pagi.