ARWAH PENUNGGU SEKOLAH

ARWAH PENUNGGU SEKOLAH
Episode 35


__ADS_3

Hadrian dalam perjalanan kembali ke


rumah. Sudah malam dan malam sangat gelap. Mobil yang dikendarai melaju di


jalan hitam. Pohon-pohon di pinggir jalan tampak sangat menyeramkan.


Pohon-pohon itu ada penunggunya. Tiba-tiba saja Hadrian melihat sosok Faridah


di ujung jalan. Perempuan itu berjalan sambil mendekap buku di dada. Hadrian


menghentikan mobilnya ketika melewati Faridah. Ia mematikan mesin dan membuka


pintu. Hadrian turun dan melihat ke belakang, namun Faridah tidak ada. Hadrian


bingung dan mencari sosok Faridah. Ia mengawasi jalanan, namun Farisa tetap


tidak ada. Ia malah melihat seorang suster yang berjalan lambat dengan seragam


perawatnya.


Hadrian merinding melihat perawat itu.


Tiba-tiba tubuhnya terbakar dan perawat itu tetap berjalan. Hadrian ketakutan


dan buru-buru masuk ke dalam mobil. Tangannya gemetar ketika menyalakan mobil.


Kunci mobil terjatuh ke bawah dan Hadrian meraba dengan tangan kanannya. Ia


merasakan ada cairan kental di bawah dan tidak menemukan kunci mobilnya.


Hadrian melihat jemari tangannya. Lumuran darah melekat di jari-jarinya.


Hadrian terkejut dan ketakutan. Ia keluar dari mobilnya dan berlari di jalan


yang sunyi.


Perawat dengan tubuh terbakar itu


muncul di depan Hadrian. Mata Hadrian terbelalak. Ia terkejut dan mengenal


siapa perawat itu.


“Diza!” serunya.


Arwah penasaran Diza pun menatap

__ADS_1


tajam dengan wajah melepuh. Hadrian terus berlari mencari pertolongan. Namun,


jalan menuju ramainya pemukiman lumayan jauh. Arwah Diza mengejar Hadrian dan


menakutinya dengan sosok-sosok mengerikan. Hadrian bercucuran keringat dan


nafasnya terlihat memburu.


“Jangan ganggu aku! Aku tidak


bersalah.” Jerit Hadrian. Hadrian berhenti di sebuah pohon yang di atasnya ada


sosok perempuan menyeramkan dengan taring yang tajam.


“Akhhh...” Hadrian kembali ketakutan.


Sorot lampu menyilaukan nya. Ada sebuah


trus yang melaju kencang dari lawan arah. Hadrian yang sudah panik dan


ketakutan tidak terkendali. Akhirnya ia terpelanting saat truk itu menabraknya.


Suara dentuman membahana di malam itu. Hadrian tewas bersimbah darah.


Diza, seorang perawan yang tewas


Hadrian. Banyak perawat yang berjaga malam itu tewas mengenaskan. Hadrian yang


tidak sempat mengemban seorang dokter pun mengamuk karena tidak lulus


kedokteran. Ia membakar rumah sakit milik ayahnya.


Langit kembali menghitam dan awan


tampak gelap. Raisa berada di koridor sekolah. Ia melihat seorang guru bernama


Faridah. Guru yang terkenal killer berjalan dengan wajah dingin.


Raisa melihat murid-murid


berbondong-bondong melihat papan pengumuman. Ternyata pengumuman lulus-lulusan.


Raisa mengerutkan keningnya dan bingung. Bukankah ujian semester belum dimulai?


Pikirnya. Raisa berjalan menuju papan pengumuman. Murid-murid mulai

__ADS_1


meninggalkan papapn pengumuman dan hanya ada tujuh yang masih menatapi papan


pengumuman dengan miris. Tujuh murid itu tidak lulus. Mereka putus asa dan


pergi. Tak berapa lama terdengar suara dentuman keras dan terikan histeris.


Ternyata murid-murid itu terjun bebas dari lantai tiga. Raisa terkejut dan ia


berlari melihat murid yang jatuh. Kepalanya pecah dan bersimbah darah. Raisa


menggigit bibirnya dan menutup matanya. Murid yang bunuh diri itu pun


menghilang.


Raisa berlari di koridor. Usut-punya


usut adan seorang guru yang sengaja tida meluluskan mereka. Guru itu adalah


Faridah!


Ruang sekolah pun berubah menjadi


gedung usah berbangsal. Raisa berada di rumah sakit lama yang terbakar. Apinya


sudah padam dan menyisahkan asap dan api-api kecil. Raisa melihat banyak


perawan yang mengerang karena terbakar. Raisa menutup matanya dan menjerit


histeris.


“Akhhh...”


Raisa pun terbangun dari mimpi


buruknya. Nafasnya terengah-engah dan beberapa kali mengucap astagfirullah. Ia


melihat Melda masih tertidur pulas. Ia bingung mengapa mimpi itu hadir lagi


dalam tidurnya.


“Faridah?” Gumamnya pelan.


Jadi selama ini Faridah lah yang tidak


meluluskan tujuh murid hingga mereka depresi dan bunuh diri. Raisa menghelah

__ADS_1


berat. Ia melihat jam dinding masih menunjukan pukul tiga pagi.


__ADS_2