
Pagi itu pihak sekolah dikejutkan lagi dengan kematian Ardan yang sangat mengenaskan. Ardan tergeletak di
halaman sekolah berlumuran darah. Kepalanya pecah. Diduga
Ardan jatuh dari lantai empat.
Darah mengering di conblok halaman sekolah. Beberapa murid
bergidik melihatnya. Pihak sekolah melapor ke
pihak yang berwajib agar di outopsi. Kemudian jenazah Ardan segera dibawa ke
rumah sakit untuk divisum. Para murid mulai kasak kusuk atas kematian cowok itu.
Keyla terlihat shok melihat mayat Ardan yang dibawa ke rumah
sakit. Ia semakin
resah. Setelah kematian Mery yang juga sama seperti Ardan, Keyla jadi semakin takut. Pagi
itu juga ia menemui Ziad di ruang kelas.
“Kini Ardan yang
meninggal, Zi? Apa kau pikir ini hanya sebuah permainan?”
“Sudahlah, Key.
Aku bosan mendengar keluhanmu! Kau takut apa? Jangan parno!”
“Itu menurutmu.
Ini masalah nyawa, Zi. Aku belum mau mati ketakutan. Apa kamu tidak pernah
ditakuti arwah Jardi?”
“Aku bukan penakut
seperti kalian. Trus, kau mau apa?”
“Aku ingin
mengakhiri permainan ini.” Keyla beranjak meninggalkan Ziad.
Derap langkah Keyla
tergesa menuju ruangan Nico. Keyla menarik lengan Nico dan mengajaknya keluar
dari ruangan.
“Aku mau bicara
sama kamu, Nic.” Ucap Keyla.
“Kamu mau bicara
apa lagi, Key?”
“Aku ingin
mengakhiri permainan ini, Nic. Kamu lihat kematian Ardan kan? Aku juga, Nic.
Apa kamu pikir ketakutan ku itu kubuat-buat? Aku sudah bicara kan ke kamu?
Tapi kamu nggak mau tahu. Kalian malah mencibirku.”
“Okey, kamu udah
selesai bicara? Kalau begitu izinkan aku pergi.” Ucap Nico seraya meninggalkan
Keyla.
Keyla terlihat
kesal menghadapi kedua cowok itu.
Sorta dan guru-guru lain pun mulai bespekulasi
tentang kematian murid-murid mereka secara tragis. Sorta yang lebih tidak
menerima atas kematian mereka berusaha berbicara kepada pihak sekolah. Ia
menemui kepala sekolah dan membicarakan tentang bagaimana mengatasi semuanya.
“Kita harus bertindak, Pak. Kita nggak bisa
diam saja. Lama-lama para murid akan ketakutan masuk sekolah ini.”
“Kita harus bagaimana lagi, Bu? Kematian mereka
hanya sebuah kecelakan.”
“Bukan kecelakaan biasa, Pak. Sekolah kita ini
angker!”
Kepala sekolah terkejut ketika Sorta mengatakan
kata-kata itu.
“Ibu jangan mengjadge sekolah ini dengan
__ADS_1
sebutan angker. Hati-hati bu Sorta kalau bicara.”
“Pak. Ini bukan hanya saya yang merasakannnya.
Beberapa murid juga sering melihat penampakkan.”
“Sudahlah, Bu. Ibu kembali saja ke kelas. Saya
tidak ingin membicarakan hal ini.”
Sorta diam dan beranjak dari tempat duduknya.
Ia keluar ruangan kepala sekolah dengan rasa kecewa. Winda yang mendengarkan
pembicaraan mereka langsung memberondong Sorta.
“Bagaimana, Bu Sorta?” tanyanya kemudian.
“Kepala sekolah tidak mau tahu tentang apa yang
terjadi di sini, Bu.”
“Hmm… saya semakin takut, Bu. Kemarin saya juga
didatangi arwah penasaran. Tangannya hitam panjang. Iii…” Winda bergidik dan
merinding.
“Lantas apa yang harus kita lakukan, Bu? Saya
juga tidak mau selalu dihantui mereka.”
“Saya mau resign dari sekolah ini, Bu. Saya
takut.”
Sorta diam dan menatap wajah Winda yang
ketakutan. Kemudian ia melangkahkan kakinya memasuki ruangan guru.
###
Siang itu Keyla
nekat masuk kamar mandi sendirian. Ia ingin membuktikan sendiri sosok yang
selama ini ia takuti. Pandangannya mengedar ke sudut-sudut kamar mandi. Dengan
sedikit rasa takut ia berjalan perlahan sambil membuka pintu toilet di
dalamnya. Tiba-tiba saja ia mendengar suara-suara aneh seperti suara binatang
mandi.
Keyla terbelalak
ketika melihat dinding kamar mandi dengan noda hitam seperti terkuak lebar.
Dari dalam dinding itu keluar rambut-rambut berwarna kelabu merayap ke dinding.
Keyla membelalakkan matanya dan bergerak mundur selangkah demi selangkah.
Rambut-rambut itu
terus keluar sampai akhirnya sosok menakutkan keluar dengan wajahnya yang
menyeramkan. Keyla menjerit histeris.
“AAARGGKKHHH...”
Ia berusaha membuka
pintu kamar mandi namun kamar mandi terkunci. Keyla menggedor-gedor pintu kamar
dengan keras. Ia berusaha minta tolong karena ketakutan.
Sosok itu
tiba-tiba saja ada di belakangnya. Wajahnya pucat dan hancur berlumur darah.
Gigi-giginya tajam seperti gigi vampir.
“AAARGGGHHKKK...”
Keyla menjerit lagi.
Semuanya pun
menjadi gelap dan Keyla pingsan di kamar mandi.
Hanna mencari-cari
Keyla yang tidak kelihatan batang hidungnya dari siang. Ia mencari Keyla sampai ke
lantai tiga. Biasanya Keyla ke ruangan Nico atau Ziad, namun Hanna tidak
menemukan Keyla. Di lantai tiga ia bertemu dengan Anton yang juga mencari
Keyla.
“Keyla nggak ada.”
__ADS_1
Ucap Anton.
“Kemana lagi sih
anak itu?”
“Emang tadi dia
pamit kemana, Han?”
“Katanya sebentar
aja. Nggak tau kemana.”
Hanna dan Anton
menuruni anak tangga. Mereka mencari lagi di lantai bawah.Tiba-tiba saja Hanna punya inisiatif mencari Keyla di
kamar mandi dan mereka menemukan Keyla yang tergeletak di kamar mandi.
“Keyla…” Gumam Hanna panik.
Hanna segera menghampiri Keyla dan menyuruh
Anton untuk membopong keluar. Mereka membawa Keyla ke kelas. Murid-murid yang
lain pada kasak-kusuk mempertanyakan ada apa dengan Keyla. Hanna tidak bisa
menjelaskan. Ia hanya berharap Keyla segera siuman.
Keyla belum juga siuman ketika papanya datang
menjemput dan membawanya pulang. Hanna dan Anton saling pandang dan menerawang
dengan pikiran masing-masing. Anton meremas jemari tangan Hanna dengan lembut.
“Kita pulang yuk.”
Hanna menganggu dan mengulas senyum pahit.
###
Hari mulai senja ketika Tigor, sang kepala sekolah mematikan
laptopnya. Ia tidak menyadari kalau hari itu begitu cepat berlalu. Ruangannya
masih terlihat terang, namun sudah terlihat gelap di luar sana. Tigor menyimpan
laptopnya di dalam tas, lalu ia beranjak dari tempat duduknya. Tigor mematikan
lampu ruangan dan ia sangat terkejut ketika melihat bayangan hitam di meja kerjanya.
Bayangan itu ada tujuh berdiri menatapnya. Tigor tercekat dan buru-buru ingin
keluar, namun pintu ruangannya terkunci.
Sosok arwah itu mendesis-desis sambil mendekati Tigor.
Laki-laki setengah baya itu ketakutan dan berusaha membuka pintu ruangannya.
“Jangan! Jangan ganggu akuu..! Pergi kalian! Pergii..!!”
“Kau harus terima kekecewaan kami, Tigor!” Suara dari arwah itu seperti suara dari neraka. Arwah tujuh pelajar itu mentut kepada Tigor yang tidak meluluskan mereka dalam ujian akhir.
“TIDAAAKKK…. Aku tidak melakukan apa-apa. Toloooongg…
Damsiiiittt…. Buka pintunyaaa…!!!” Tigor berteriak-teriak.
Tigor panik sambil terus berusaha menggedor pintu. Ia
mendobraknya dengan sekoat tenaga.
BRAAAKK… Pintu terbuka dan Tigor langsung berlari keluar
ruangannya. Sekolah itu sudah gelap. Tigor dengan tergesa menuruni anak tangga.
Hampir saja itu terjatuh karena ketakutan. Ia berlari kecil menghampiri
mobilnya. Begitu tiba di dekat mobil ia langsung membuka pintu dan masuk ke
dalamnya. Tangannya gemetar memasukkan kunci ke starter. Tigor celingukan
memperhatikan halaman sekolah yang terlihat gelap.
BRUUMMM….
Mobilnya pun menderu ketika Tigor menyalakan starter
mobilnya. Dengan gerakan terburu-buru ia menginjak pedal gas dan segera
melajukan mobilnya. Mobil Tigor keluar dengan kecepatan di atas rata-rata. Tanpa
melihat kanan kiri ia menyerobot masuk ke jalan raya.
BRAAANKKK… CRAAASSSSTT…
Mobil Tigor bertabrakkan dengan sebuah truk bermuatan batu.
Mobil Tigor pun terhempas dan terbalik di sisi jalan. Kaca mobil pecah
berserakkan di jalan.
__ADS_1