ARWAH PENUNGGU SEKOLAH

ARWAH PENUNGGU SEKOLAH
Episode 17


__ADS_3

Pagi itu pihak sekolah dikejutkan lagi dengan kematian Ardan yang sangat mengenaskan. Ardan tergeletak di


halaman sekolah berlumuran darah. Kepalanya pecah. Diduga


Ardan jatuh dari lantai empat.


Darah mengering di conblok halaman sekolah. Beberapa murid


bergidik melihatnya. Pihak sekolah melapor ke


pihak yang berwajib agar di outopsi. Kemudian jenazah Ardan segera dibawa ke


rumah sakit untuk divisum. Para murid mulai kasak kusuk atas kematian cowok itu.


Keyla terlihat shok melihat mayat Ardan yang dibawa ke rumah


sakit. Ia semakin


resah. Setelah kematian Mery yang juga sama seperti Ardan, Keyla  jadi semakin  takut. Pagi


itu juga ia menemui Ziad di ruang kelas.


“Kini Ardan yang


meninggal, Zi? Apa kau pikir ini hanya sebuah permainan?”


“Sudahlah, Key.


Aku bosan mendengar keluhanmu! Kau takut apa? Jangan parno!”


“Itu menurutmu.


Ini masalah nyawa, Zi. Aku belum mau mati ketakutan. Apa kamu tidak pernah


ditakuti arwah Jardi?”


“Aku bukan penakut


seperti kalian. Trus, kau mau apa?”


“Aku ingin


mengakhiri permainan ini.” Keyla beranjak meninggalkan Ziad.


Derap langkah Keyla


tergesa menuju ruangan Nico. Keyla menarik lengan Nico dan mengajaknya keluar


dari ruangan.


“Aku mau bicara


sama kamu, Nic.” Ucap Keyla.


“Kamu mau bicara


apa lagi, Key?”


“Aku ingin


mengakhiri permainan ini, Nic. Kamu lihat kematian Ardan kan? Aku juga, Nic.


Apa kamu pikir ketakutan ku itu kubuat-buat? Aku sudah bicara kan ke kamu?


Tapi kamu nggak mau tahu. Kalian malah mencibirku.”


“Okey, kamu udah


selesai bicara? Kalau begitu izinkan aku pergi.” Ucap Nico seraya meninggalkan


Keyla.


Keyla terlihat


kesal menghadapi kedua cowok itu.


Sorta dan guru-guru lain pun mulai bespekulasi


tentang kematian murid-murid mereka secara tragis. Sorta yang lebih tidak


menerima atas kematian mereka berusaha berbicara kepada pihak sekolah. Ia


menemui kepala sekolah dan membicarakan tentang bagaimana mengatasi semuanya.


“Kita harus bertindak, Pak. Kita nggak bisa


diam saja. Lama-lama para murid akan ketakutan masuk sekolah ini.”


“Kita harus bagaimana lagi, Bu? Kematian mereka


hanya sebuah kecelakan.”


“Bukan kecelakaan biasa, Pak. Sekolah kita ini


angker!”


Kepala sekolah terkejut ketika Sorta mengatakan


kata-kata itu.


“Ibu jangan mengjadge sekolah ini dengan

__ADS_1


sebutan angker. Hati-hati bu Sorta kalau bicara.”


“Pak. Ini bukan hanya saya yang merasakannnya.


Beberapa murid juga sering melihat penampakkan.”


“Sudahlah, Bu. Ibu kembali saja ke kelas. Saya


tidak ingin membicarakan hal ini.”


Sorta diam dan beranjak dari tempat duduknya.


Ia keluar ruangan kepala sekolah dengan rasa kecewa. Winda yang mendengarkan


pembicaraan mereka langsung memberondong Sorta.


“Bagaimana, Bu Sorta?” tanyanya kemudian.


“Kepala sekolah tidak mau tahu tentang apa yang


terjadi di sini, Bu.”


“Hmm… saya semakin takut, Bu. Kemarin saya juga


didatangi arwah penasaran. Tangannya hitam panjang. Iii…” Winda bergidik dan


merinding.


“Lantas apa yang harus kita lakukan, Bu? Saya


juga tidak mau selalu dihantui mereka.”


“Saya mau resign dari sekolah ini, Bu. Saya


takut.”


Sorta diam dan menatap wajah Winda yang


ketakutan. Kemudian ia melangkahkan kakinya memasuki ruangan guru.


###


Siang itu Keyla


nekat masuk kamar mandi sendirian. Ia ingin membuktikan sendiri sosok yang


selama ini ia takuti. Pandangannya mengedar ke sudut-sudut kamar mandi. Dengan


sedikit rasa takut ia berjalan perlahan sambil membuka pintu toilet di


dalamnya. Tiba-tiba saja ia mendengar suara-suara aneh seperti suara binatang


mandi.


Keyla terbelalak


ketika melihat dinding kamar mandi dengan noda hitam seperti terkuak lebar.


Dari dalam dinding itu keluar rambut-rambut berwarna kelabu merayap ke dinding.


Keyla membelalakkan matanya dan bergerak mundur selangkah demi selangkah.


Rambut-rambut itu


terus keluar sampai akhirnya sosok menakutkan keluar dengan wajahnya yang


menyeramkan. Keyla menjerit histeris.


“AAARGGKKHHH...”


Ia berusaha membuka


pintu kamar mandi namun kamar mandi terkunci. Keyla menggedor-gedor pintu kamar


dengan keras. Ia berusaha minta tolong karena ketakutan.


Sosok itu


tiba-tiba saja ada di belakangnya. Wajahnya pucat dan hancur berlumur darah.


Gigi-giginya tajam seperti gigi vampir.


“AAARGGGHHKKK...”


Keyla menjerit lagi.


Semuanya pun


menjadi gelap dan Keyla pingsan di kamar mandi.


Hanna mencari-cari


Keyla yang tidak kelihatan batang hidungnya dari siang. Ia mencari Keyla sampai ke


lantai tiga. Biasanya Keyla ke ruangan Nico atau Ziad, namun Hanna tidak


menemukan Keyla. Di lantai tiga ia bertemu dengan Anton yang juga mencari


Keyla.


“Keyla nggak ada.”

__ADS_1


Ucap Anton.


“Kemana lagi sih


anak itu?”


“Emang tadi dia


pamit kemana, Han?”


“Katanya sebentar


aja. Nggak tau kemana.”


Hanna dan Anton


menuruni anak tangga. Mereka mencari lagi di lantai bawah.Tiba-tiba saja Hanna punya inisiatif mencari Keyla di


kamar mandi dan mereka menemukan Keyla yang tergeletak di kamar mandi.


“Keyla…” Gumam Hanna panik.


Hanna segera menghampiri Keyla dan menyuruh


Anton untuk membopong keluar. Mereka membawa Keyla ke kelas. Murid-murid yang


lain pada kasak-kusuk mempertanyakan ada apa dengan Keyla. Hanna tidak bisa


menjelaskan. Ia hanya berharap Keyla segera siuman.


Keyla belum juga siuman ketika papanya datang


menjemput dan membawanya pulang. Hanna dan Anton saling pandang dan menerawang


dengan pikiran masing-masing. Anton meremas jemari tangan Hanna dengan lembut.


“Kita pulang yuk.”


Hanna menganggu dan mengulas senyum pahit.


###


Hari mulai senja ketika Tigor, sang kepala sekolah mematikan


laptopnya. Ia tidak menyadari kalau hari itu begitu cepat berlalu. Ruangannya


masih terlihat terang, namun sudah terlihat gelap di luar sana. Tigor menyimpan


laptopnya di dalam tas, lalu ia beranjak dari tempat duduknya. Tigor mematikan


lampu ruangan dan ia sangat terkejut ketika melihat bayangan hitam di meja kerjanya.


Bayangan itu ada tujuh berdiri menatapnya. Tigor tercekat dan buru-buru ingin


keluar, namun pintu ruangannya terkunci.


Sosok arwah itu mendesis-desis sambil mendekati Tigor.


Laki-laki setengah baya itu ketakutan dan berusaha membuka pintu ruangannya.


“Jangan! Jangan ganggu akuu..! Pergi kalian! Pergii..!!”


“Kau harus terima kekecewaan kami, Tigor!” Suara dari arwah itu seperti suara dari neraka. Arwah tujuh pelajar itu mentut kepada Tigor yang tidak meluluskan mereka dalam ujian akhir.


“TIDAAAKKK…. Aku tidak melakukan apa-apa. Toloooongg…


Damsiiiittt…. Buka pintunyaaa…!!!” Tigor berteriak-teriak.


Tigor panik sambil terus berusaha menggedor pintu. Ia


mendobraknya dengan sekoat tenaga.


BRAAAKK… Pintu terbuka dan Tigor langsung berlari keluar


ruangannya. Sekolah itu sudah gelap. Tigor dengan tergesa menuruni anak tangga.


Hampir saja itu terjatuh karena ketakutan. Ia berlari kecil menghampiri


mobilnya. Begitu tiba di dekat mobil ia langsung membuka pintu dan masuk ke


dalamnya. Tangannya gemetar memasukkan kunci ke starter. Tigor celingukan


memperhatikan halaman sekolah yang terlihat gelap.


BRUUMMM….


Mobilnya pun menderu ketika Tigor menyalakan starter


mobilnya. Dengan gerakan terburu-buru ia menginjak pedal gas dan segera


melajukan mobilnya. Mobil Tigor keluar dengan kecepatan di atas rata-rata. Tanpa


melihat kanan kiri ia menyerobot masuk ke jalan raya.


BRAAANKKK… CRAAASSSSTT…


Mobil Tigor bertabrakkan dengan sebuah truk bermuatan batu.


Mobil Tigor pun terhempas dan terbalik di sisi jalan. Kaca mobil pecah


berserakkan di jalan.

__ADS_1


__ADS_2