
Sepulang sekolah, Hanna mencari Sorta. Namun, perempuan
berdarah batak itu tidak ada di sekolah. Hanna pun menanyakkan ke guru lain dan
katanya Sorta tidak masuk dikarenakan kurang enak badan. Akhirnya Hanna ke
rumah Pak Damsit. Laki-laki paruh baya itu pasti tahu cerita di sekolah yang sebenarnya. Lagi-lagi
Hanna tidak ingin ditemani oleh Anton. Ia menyuruh Anton untuk pulang lebih dulu.
Hanna
memperhatikan rumah sang penjaga sekolah dengan seksama. Tampak sepi dari
depan. Kemudian ia memberi salam beberapa kali. Tak lama pintu dibuka dan
keluar sosok Pak Damsit dengan kaos oblongnya. Ia menatap Hanna dengan lekat.
“Ada apa lagi?”
tanyanya datar.
“Pak... Saya ingin
tahu cerita sebenarnya.” Ucap Hanna penuh harap.
Laki-laki itu
menghela nafas dengan berat lalu duduk di kursi kayu. Ia mempersilahkan Hanna
untuk duduk. Setelah duduk Hanna kembali bertanya.
“Setahun yang lalu ada pelajar yang jatuh dari
lantai tiga, apa bapak tahu cerita itu?” tanya Hanna.
Laki-laki tua itu terdiam dengan pandangan
nanar. Ia duduk di kursi kayu yang sudah reot. Laki-laki itu sudah bekerja
selama sepuluh tahun di sekolah itu sebagai penjaga sekolah. Tentu saja dia
tahu semua kejadian yang ada di sekolah itu.
“Untuk apa lagi kamu menanyakkan hal itu?” tanya pak Damsit yang tak ingin menceritakan hal itu.
“Pak… Arwah pelajar itu selalu muncul di
sekolah. Itu sangat meresahkan. Saya juga melihat beberapa arwah penasaran."
“Kamu tahu apa tentang pelajar itu?”
Hanna diam sejenak, lalu menatap Pak Damsit
dengan lekat. Ada guratan bathin yang menyedihkan tergambar di wajahnya.
“Pelajar itu bernama Jardi.” Kata Hanna. "Siapa Jardi itu, Pak?"
“Dia anak saya satu-satunya.” Ucap Pak Damsit
mengejutkan Hanna.
“Anak bapak?” Hanna membelalakkan matanya.
“Ya. Dan dia tewas bukan kerena kecelakaan.”
“Maksud bapak?”
“Ada yang mendorongnya dari belakang.”
Hanna terpaku sambil mendengarkan cerita Pak Damsit. Akhirnya Pak Damsit pun buka cerita tentang kematian Jardi, anaknya.
Malam itu Jardi pamit mau main bersama
teman-temannya. Diam-diam Pak Damsit mengikuti Jardi yang masuk ke gedung
sekolah bersama teman-temannya. Mereka melakukan permainan pemanggil arwah.
Permainan itu menjadi menegangkan ketika muncul sosok tubuh tanpa kepala yang
menakutkan. Mereka ketakutan dan berlari ke atap gedung di lantai empat. Jardi
yang penakut pun kalang kabut. Tidak ada jalan keluar. Pak Damsit melihat
seseorang mendorongnya dari belakang hingga Jardi jatuh dari lantai empat.
Jardi tewas seketika berlumuran darah.
“Lantas mengapa arwah Jardi gentayangan dan menakuti teman saya, Pak?” Hanna bertanya lagi.
“Saya tidak tahu. Saya kehilangan anak saya
satu-satunya. Dia adalah penerus kami.”
“Saya turut berduka, Pak. Siapa yang mendorong Jadi?” tanya Hanna penasaran.
Pak Damsit hanya diam dan menngeleng pelan. Ia tidak mau menceritakan siapa yang mendorong Jardi. “Sekarang pulanglah. Tidak ada lagi yang harus
diceritakan.”
Hanna mengangguk dan segera pamit pulang. Hari
sudah hampir senja. Hanna melintasi sekolah itu dan memperhatikannya dari jauh.
Di atap lantai tiga ia melihat beberapa pelajar berdiri di sana. Hanna heran
mengapa masih ada pelajar yang berada di atap sudah senja begini. Tiba-tiba
saja mereka terjun bebas dan membuat Hanna menjerit.
“Akkhh…” Pekik Hana.
Hanna menutup matanya dan perlahan melihat ke
halaman sekolah. Di halaman itu tidak ada apa-apa. Bergegas Hanna melangkahkan
kakinya dan segera mencari angkutan umum.
###
Hanna duduk di kursi sambil melamun. Sang nenek
yang memperhatikan cucunya jadi heran. Wajah Hanna tampak memelas dan gelisah. Sang nenek menghampiri Hanna seraya bertanya.
“Hanna… Kamu kenapa, Cu? Jangan melamun aja.
Nggak baik. Apa yang kamu pikirkan?”
Hanna menoleh ke sang nenek.
“Nggak apa-apa kok, Nek.” Katanya.
“Besok mamamu datang.”
“Oh ya?”
Hanna tidak terlihat antusias dengan kedatangan
mamanya.
“Kamu kenapa toh, kok bawaannya cemberut gitu?
Kamu nggak senang melihat mamamu datang?”
“Hmmm… Hanna itu sudah terlalu lama ditinggal
mama, Nek. Jadi udah nggak heran lagi.”
__ADS_1
“Kamu harap maklum apa yang terjadi dengan
mamamu. Semua itu butuh proses.”
Hanna kembali terdiam, kemudian ia berujar
tentang sekolahnya.
“Nek, sekolahku itu angker.”
“Angker? Masak sih?”
“Iya, Nek. Hanna pernah melihat arwah
gentayangan di kelas. Nyeremin deh, Nek. Hanna mau pindah aja ah.”
“Oala, Cu… Kamu mau pindah kemana lagi?
Sebentar ya.” Si Nenek beranjakdari tempat duduknya,
kemudian masuk ke kamarnya.
Tak lama kemudian sang Nenek keluar sambil
membawa sesuatu.
“Nih, pakailah kalung ini. Kalung ini bisa
menjaga kamu dari gangguan arwah-arwah penasaran.” Kata Nenek seraya
menyerahkan sebuah kalung bermata batu warna kecokelatan.
Hanna menerima kalung itu sambil memperhatikan
bentuknya.
“Duh, bentuknya udah nggak zaman, Nek. Masyak
Hanna pake kalung batu?”
“Pakai aja, Han. Untuk jaga-jaga.”
Hanna diam sambil memakai kalung itu di
lehernya. Tak berapa lama Hanna bangkit dari tempat duduknya.
“Hanna ke kamar dulu, Nek.” Ucapnya.
“Kamu nggak makan?”
“Nggak selera, Nek.”
Hanna berlalu dan masuk ke kamarnya. Ia duduk
di kursi belajar dan kembali mengingat kejadian tadi. Beberapa siswa itu bunuh
diri. Apa sebenarnya yang terjadi kepada murid-murid itu? Hanna terus berpikir.
Hanna mengambil ponselnya dan mengubungi nomor Keyla.
“Key, kamu dimana?”
“Di rumah. Ada apa, Han?”
“Ada yang ingin aku bicarain. Kita ke café aja
yuk.”
“Okey. Café mana?”
“Café dr. Mansyur. Ketemu disana aja.”
“Sip.”
Klik. Hanna mematikan ponselnya dan segera
Suasana café seperti biasa. Hanna datang lebih
dulu dan mencari tempat duduk agak di pojokan. Kemudian Keyla pun datang dan
menyapa Hanna seraya duduk di depan Hanna.
“Ada apa sih, Han?” Tanyanya penasaran.
“Key, lima tahun lalu ada tragedi yang
mengerikan di sekolah itu. Tujuh orang murid bunuh diri melompat dari atap
lantai tiga.”
“Kamu tau darimana?”
“Siang tadi aku nggak sengaja mendengar
perbincangan para guru di ruang guru. Apa kamu nggak tahu dengan cerita itu?”
“Aku nggak tau menahu, Han. Lagi pula pihak
sekolah nggak pernah cerita kalau masalah itu.”
“Konon murid-murid itu tergolong murid yang
bandel, suka bolos dan nggak pernah masuk ke sekolah. Waktu ujian lulus-lulusan
mereka tidak lulus. Daripada malu mereka nekat bunuh diri, Key.”
“Serem sekali.” Keyla bergidik.
Seorang pelayan menghampiri mereka dan
menyodorkan table menu ke Hanna. Hanna memesan minuman hangat. Keyla juga
memesan minuman hangat. Mereka ngobrol lagi seputar sekolah mereka yang menjadi
angker.
“Trus apa yang harus kita lakukan, Han.”
“Kita nggak perlu ngelakuin apa-apa.”
“Ughh… Aku semakin takut aja nih. Tinggal
setahun aja lagi masak aku ikut-ikutan pindah?”
“Ngapain juga kamu pindah?”
“Habis nyeremin sih.”
“Selama kamu berbuat baik, nggak ada yang harus
ditakuti, Key.”
“Iya sih. Trus kalau sosok itu muncul emang
nggak takut?”
“Ya takut juga, hahahaha…” Hanna tertawa lebar.
“Huh. Kamu sama aja.”
Keyla menerima pesanannya. Mereka pun menyantap
hidangan di depan meja dengan lahap.
###
Nico baru sampai
__ADS_1
di rumah saat malam. Ia memarkirkan sepeda motornya di
garasi, kemudian masuk ke kamarnya. Ia membuka jaket dan baju sekolahnya, lalu menggantungkannya di gantungan baju. Nico mengambil
handuk untuk menutupi pinggangnya. Setelah itu ia masuk ke kamar mandi. Nico
menutup pintu kamar mandi dan menyalakan air dari shower.
Setelah selesai
mandi, Nico keluar dan menyapukan tubuhnya dengan handuk kecil. Ia menuju
cermin di dekat lemari bajunya. Ada lebang di punggungnya ketika ia melihat
dari cermin. Nico terkejut. Lebam keunguan itu seperti genggaman sebuah tangan.
Ia berpikir sejenak sambil meraba lebam itu. Sedikit terasa berdenyut.
Nico mengambil
bajunya dari dalam lemari dan segera mengenakannya. Celana pendek dan kaos
oblong sudah melekat di tubuhnya. Nico beringsut dan mengambil ponsel dari atas
meja belajar. Namun ia terkejut ketika ada tetesan darah yang jatuh dari atap
kamarnya. Darah itu mengenai ponsel dan tangannya. Perlahan ia mendongak ke
atas dan alangkah terkejutnya ia melihat sosok tubuh pucat penuh tanah
menatapnya dengan tajam. Sosok itu berdiri terbalik dengan mata sedikit keluar
dari kelopaknya.Darah menetes tepat di kepala
Nico.
“ARRGGKKKHH...”
Nico menjerit dan bergerak mundur ketakutan.
Ia berusaha
membuka pintu kamarnya, namun terkunci dengan rapat. Nico bingung mencari kunci
kamar yang ia letakkna entah kemana. Nico mendegut ludah sambil mencari kunci
kamar. Kunci itu ada di atas buffet dekat tempat tidurnya. Buru-buru Nico
berlari mengambil kunci dengan tangan gemetar. Sosok itu sudah tidak ada di
atap, namun ia berdiri di balik lemari baju. Nico terkejut alang-kepalang dan
berusaha membuka pintu kamarnya. Sosok itu mendekatinya dengan suara
desisan-desisan yang menakutkan.
“AKU BUTUH TEMAN.....”
“Tidaakkk...” Nico
berteriak sambil berusaha membuka pintu kamar dengan tangan bergetar. Beberapa
kali kunci kamarnya terjatuh karena ketakutan.
“NICO... JANGAN
TINGGALKAN AKU...” Suara desisan itu membuat Nico semakin ketakutan.
Klek! Pintu akhirnya
terbuka dan Nico segera berlari keluar dari kamarnya. Ia menuruni anak tangga
dengan semaput menuju garasi. Ia mengeluarkan sepeda motornya dan segera
menstarter mesinnya.
BRUUUMMM....
Motor Nico melesat
di jalan hitam. Pikirannya kalud dengan bayangan wajah Jardi. Motor itu terus
melaju kencang. Ia tidak tahu mau kemana dan akhirnya ia menuju rumah Ardan.
Ardan teman sekolah dan sama-sama satu Genk mereka.
Nico memarkirkan
motornya di halaman rumah berpagar besi. Ia segera masuk setelah menyapa Papa
dan Mama Ardan. Nico langsung masuk ke kamar Ardan. Ardan yang melihat
kedatangan Nico jadi heran. Wajah Nico terlihat pias dan ketakutan.
“Hei.... Ada apa
bro... Tumben kau datang?” tanya Ardan.
Nico duduk dengan
gelisah.
“Jardi, Dan...”
Ucap Nico gemetar.
“Jardi? Memangnya
ada apa dengan Jardi? Dia kan sudah meninggal?”
“Arwah Jardi ada
di kamarku.”
“Arwah Jardi di
kamarmu? Hahaha... Itu nggak mungkin, Nic. Kau berhalusinasi.”
“Ini nyata, Dan.
Aku melihatnya sendiri.”
“Kenapa kau jadi
penakut? Hei men... relaks... Arwah itu nggak bisa menyakitimu. Tenang aja.”
“Tapi aku takut,
Dan. Sosok Jardi sangat mengerikan.”
“Sudahlah. Itu
mungkin perasaanmu saja.”
“Aku serius, Dan.”
Ardan mengambilkan
minuman untuk Nico. Ia menganggap Nico hanya mengigau saja.
“Nih minum dulu. Biar
otakmu segar dan nggak mikirin setan aja.”
Nico menerima teh
botol pemberian Ardan, lalu ia meneguknya. Sedikit lega dan hilang bayangan
__ADS_1
Jardi dari benaknya.