ARWAH PENUNGGU SEKOLAH

ARWAH PENUNGGU SEKOLAH
Episode 12


__ADS_3

Sepulang sekolah, Hanna mencari Sorta. Namun, perempuan


berdarah batak itu tidak ada di sekolah. Hanna pun menanyakkan ke guru lain dan


katanya Sorta tidak masuk dikarenakan kurang enak badan. Akhirnya Hanna ke


rumah Pak Damsit. Laki-laki paruh baya itu pasti tahu cerita di sekolah yang sebenarnya. Lagi-lagi


Hanna tidak ingin ditemani oleh Anton. Ia menyuruh Anton untuk pulang lebih dulu.


Hanna


memperhatikan rumah sang penjaga sekolah dengan seksama. Tampak sepi dari


depan. Kemudian ia memberi salam beberapa kali. Tak lama pintu dibuka dan


keluar sosok Pak Damsit dengan kaos oblongnya. Ia menatap Hanna dengan lekat.


“Ada apa lagi?”


tanyanya datar.


“Pak... Saya ingin


tahu cerita sebenarnya.” Ucap Hanna penuh harap.


Laki-laki itu


menghela nafas dengan berat lalu duduk di kursi kayu. Ia mempersilahkan Hanna


untuk duduk. Setelah duduk Hanna kembali bertanya.


“Setahun yang lalu ada pelajar yang jatuh dari


lantai tiga, apa bapak tahu cerita itu?” tanya Hanna.


Laki-laki tua itu terdiam dengan pandangan


nanar. Ia duduk di kursi kayu yang sudah reot. Laki-laki itu sudah bekerja


selama sepuluh tahun di sekolah itu sebagai penjaga sekolah. Tentu saja dia


tahu semua kejadian yang ada di sekolah itu.


“Untuk apa lagi kamu menanyakkan hal itu?” tanya pak Damsit yang tak ingin menceritakan hal itu.


“Pak… Arwah pelajar itu selalu muncul di


sekolah. Itu sangat meresahkan. Saya juga melihat beberapa arwah penasaran."


“Kamu tahu apa tentang pelajar itu?”


Hanna diam sejenak, lalu menatap Pak Damsit


dengan lekat. Ada guratan bathin yang menyedihkan tergambar di wajahnya.


“Pelajar itu bernama Jardi.” Kata Hanna. "Siapa Jardi itu, Pak?"


“Dia anak saya satu-satunya.” Ucap Pak Damsit


mengejutkan Hanna.


“Anak bapak?” Hanna membelalakkan matanya.


“Ya. Dan dia tewas bukan kerena kecelakaan.”


“Maksud bapak?”


“Ada yang mendorongnya dari belakang.”


Hanna terpaku sambil mendengarkan cerita Pak Damsit. Akhirnya Pak Damsit pun buka cerita tentang kematian Jardi, anaknya.


Malam itu Jardi pamit mau main bersama


teman-temannya. Diam-diam Pak Damsit mengikuti Jardi yang masuk ke gedung


sekolah bersama teman-temannya. Mereka melakukan permainan pemanggil arwah.


Permainan itu menjadi menegangkan ketika muncul sosok tubuh tanpa kepala yang


menakutkan. Mereka ketakutan dan berlari ke atap gedung di lantai empat. Jardi


yang penakut pun kalang kabut. Tidak ada jalan keluar. Pak Damsit melihat


seseorang mendorongnya dari belakang hingga Jardi jatuh dari lantai empat.


Jardi tewas seketika berlumuran darah.


“Lantas mengapa arwah Jardi gentayangan dan menakuti teman saya, Pak?” Hanna bertanya lagi.


“Saya tidak tahu. Saya kehilangan anak saya


satu-satunya. Dia adalah penerus kami.”


“Saya turut berduka, Pak. Siapa yang mendorong Jadi?” tanya Hanna penasaran.


Pak Damsit hanya diam dan menngeleng pelan. Ia tidak mau menceritakan siapa yang mendorong Jardi. “Sekarang pulanglah. Tidak ada lagi yang harus


diceritakan.”


Hanna mengangguk dan segera pamit pulang. Hari


sudah hampir senja. Hanna melintasi sekolah itu dan memperhatikannya dari jauh.


Di atap lantai tiga ia melihat beberapa pelajar berdiri di sana. Hanna heran


mengapa masih ada pelajar yang berada di atap sudah senja begini. Tiba-tiba


saja mereka terjun bebas dan membuat Hanna menjerit.


“Akkhh…” Pekik Hana.


Hanna menutup matanya dan perlahan melihat ke


halaman sekolah. Di halaman itu tidak ada apa-apa. Bergegas Hanna melangkahkan


kakinya dan segera mencari angkutan umum.


###


Hanna duduk di kursi sambil melamun. Sang nenek


yang memperhatikan cucunya jadi heran. Wajah Hanna tampak memelas dan gelisah. Sang nenek menghampiri Hanna seraya bertanya.


“Hanna… Kamu kenapa, Cu? Jangan melamun aja.


Nggak baik. Apa yang kamu pikirkan?”


Hanna menoleh ke sang nenek.


“Nggak apa-apa kok, Nek.” Katanya.


“Besok mamamu datang.”


“Oh ya?”


Hanna tidak terlihat antusias dengan kedatangan


mamanya.


“Kamu kenapa toh, kok bawaannya cemberut gitu?


Kamu nggak senang melihat mamamu datang?”


“Hmmm… Hanna itu sudah terlalu lama ditinggal


mama, Nek. Jadi udah nggak heran lagi.”

__ADS_1


“Kamu harap maklum apa yang terjadi dengan


mamamu. Semua itu butuh proses.”


Hanna kembali terdiam, kemudian ia berujar


tentang sekolahnya.


“Nek, sekolahku itu angker.”


“Angker? Masak sih?”


“Iya, Nek. Hanna pernah melihat arwah


gentayangan di kelas. Nyeremin deh, Nek. Hanna mau pindah aja ah.”


“Oala, Cu… Kamu mau pindah kemana lagi?


Sebentar ya.” Si Nenek beranjakdari tempat duduknya,


kemudian masuk ke kamarnya.


Tak lama kemudian sang Nenek keluar sambil


membawa sesuatu.


“Nih, pakailah kalung ini. Kalung ini bisa


menjaga kamu dari gangguan arwah-arwah penasaran.” Kata Nenek seraya


menyerahkan sebuah kalung bermata batu warna kecokelatan.


Hanna menerima kalung itu sambil memperhatikan


bentuknya.


“Duh, bentuknya udah nggak zaman, Nek. Masyak


Hanna pake kalung batu?”


“Pakai aja, Han. Untuk jaga-jaga.”


Hanna diam sambil memakai kalung itu di


lehernya. Tak berapa lama Hanna bangkit dari tempat duduknya.


“Hanna ke kamar dulu, Nek.” Ucapnya.


“Kamu nggak makan?”


“Nggak selera, Nek.”


Hanna berlalu dan masuk ke kamarnya. Ia duduk


di kursi belajar dan kembali mengingat kejadian tadi. Beberapa siswa itu bunuh


diri. Apa sebenarnya yang terjadi kepada murid-murid itu? Hanna terus berpikir.


Hanna mengambil ponselnya dan mengubungi nomor Keyla.


“Key, kamu dimana?”


“Di rumah. Ada apa, Han?”


“Ada yang ingin aku bicarain. Kita ke café aja


yuk.”


“Okey. Café mana?”


“Café dr. Mansyur. Ketemu disana aja.”


“Sip.”


Klik. Hanna mematikan ponselnya dan segera


Suasana café seperti biasa. Hanna datang lebih


dulu dan mencari tempat duduk agak di pojokan. Kemudian Keyla pun datang dan


menyapa Hanna seraya duduk di depan Hanna.


“Ada apa sih, Han?” Tanyanya penasaran.


“Key, lima tahun lalu ada tragedi yang


mengerikan di sekolah itu. Tujuh orang murid bunuh diri melompat dari atap


lantai tiga.”


“Kamu tau darimana?”


“Siang tadi aku nggak sengaja mendengar


perbincangan para guru di ruang guru. Apa kamu nggak tahu dengan cerita itu?”


“Aku nggak tau menahu, Han. Lagi pula pihak


sekolah nggak pernah cerita kalau masalah itu.”


“Konon murid-murid itu tergolong murid yang


bandel, suka bolos dan nggak pernah masuk ke sekolah. Waktu ujian lulus-lulusan


mereka tidak lulus. Daripada malu mereka nekat bunuh diri, Key.”


“Serem sekali.” Keyla bergidik.


Seorang pelayan menghampiri mereka dan


menyodorkan table menu ke Hanna. Hanna memesan minuman hangat. Keyla juga


memesan minuman hangat. Mereka ngobrol lagi seputar sekolah mereka yang menjadi


angker.


“Trus apa yang harus kita lakukan, Han.”


“Kita nggak perlu ngelakuin apa-apa.”


“Ughh… Aku semakin takut aja nih. Tinggal


setahun aja lagi masak aku ikut-ikutan pindah?”


“Ngapain juga kamu pindah?”


“Habis nyeremin sih.”


“Selama kamu berbuat baik, nggak ada yang harus


ditakuti, Key.”


“Iya sih. Trus kalau sosok itu muncul emang


nggak takut?”


“Ya takut juga, hahahaha…” Hanna tertawa lebar.


“Huh. Kamu sama aja.”


Keyla menerima pesanannya. Mereka pun menyantap


hidangan di depan meja dengan lahap.


###


Nico baru sampai

__ADS_1


di rumah saat malam. Ia memarkirkan sepeda motornya di


garasi, kemudian masuk ke kamarnya. Ia membuka jaket dan baju sekolahnya, lalu menggantungkannya di gantungan baju. Nico mengambil


handuk untuk menutupi pinggangnya. Setelah itu ia masuk ke kamar mandi. Nico


menutup pintu kamar mandi dan menyalakan air dari shower.


Setelah selesai


mandi, Nico keluar dan menyapukan tubuhnya dengan handuk kecil. Ia menuju


cermin di dekat lemari bajunya. Ada lebang di punggungnya ketika ia melihat


dari cermin. Nico terkejut. Lebam keunguan itu seperti genggaman sebuah tangan.


Ia berpikir sejenak sambil meraba lebam itu. Sedikit terasa berdenyut.


Nico mengambil


bajunya dari dalam lemari dan segera mengenakannya. Celana pendek dan kaos


oblong sudah melekat di tubuhnya. Nico beringsut dan mengambil ponsel dari atas


meja belajar. Namun ia terkejut ketika ada tetesan darah yang jatuh dari atap


kamarnya. Darah itu mengenai ponsel dan tangannya. Perlahan ia mendongak ke


atas dan alangkah terkejutnya ia melihat sosok tubuh pucat penuh tanah


menatapnya dengan tajam. Sosok itu berdiri terbalik dengan mata sedikit keluar


dari kelopaknya.Darah menetes tepat di kepala


Nico.


“ARRGGKKKHH...”


Nico menjerit dan bergerak mundur ketakutan.


Ia berusaha


membuka pintu kamarnya, namun terkunci dengan rapat. Nico bingung mencari kunci


kamar yang ia letakkna entah kemana. Nico mendegut ludah sambil mencari kunci


kamar. Kunci itu ada di atas buffet dekat tempat tidurnya. Buru-buru Nico


berlari mengambil kunci dengan tangan gemetar. Sosok itu sudah tidak ada di


atap, namun ia berdiri di balik lemari baju. Nico terkejut alang-kepalang dan


berusaha membuka pintu kamarnya. Sosok itu mendekatinya dengan suara


desisan-desisan yang menakutkan.


“AKU BUTUH TEMAN.....”


“Tidaakkk...” Nico


berteriak sambil berusaha membuka pintu kamar dengan tangan bergetar. Beberapa


kali kunci kamarnya terjatuh karena ketakutan.


“NICO... JANGAN


TINGGALKAN AKU...” Suara desisan itu membuat Nico semakin ketakutan.


Klek! Pintu akhirnya


terbuka dan Nico segera berlari keluar dari kamarnya. Ia menuruni anak tangga


dengan semaput menuju garasi. Ia mengeluarkan sepeda motornya dan segera


menstarter mesinnya.


BRUUUMMM....


Motor Nico melesat


di jalan hitam. Pikirannya kalud dengan bayangan wajah Jardi. Motor itu terus


melaju kencang. Ia tidak tahu mau kemana dan akhirnya ia menuju rumah Ardan.


Ardan teman sekolah dan sama-sama satu Genk mereka.


Nico memarkirkan


motornya di halaman rumah berpagar besi. Ia segera masuk setelah menyapa Papa


dan Mama Ardan. Nico langsung masuk ke kamar Ardan. Ardan yang melihat


kedatangan Nico jadi heran. Wajah Nico terlihat pias dan ketakutan.


“Hei.... Ada apa


bro... Tumben kau datang?” tanya Ardan.


Nico duduk dengan


gelisah.


“Jardi, Dan...”


Ucap Nico gemetar.


“Jardi? Memangnya


ada apa dengan Jardi? Dia kan sudah meninggal?”


“Arwah Jardi ada


di kamarku.”


“Arwah Jardi di


kamarmu? Hahaha... Itu nggak mungkin, Nic. Kau berhalusinasi.”


“Ini nyata, Dan.


Aku melihatnya sendiri.”


“Kenapa kau jadi


penakut? Hei men... relaks... Arwah itu nggak bisa menyakitimu. Tenang aja.”


“Tapi aku takut,


Dan. Sosok Jardi sangat mengerikan.”


“Sudahlah. Itu


mungkin perasaanmu saja.”


“Aku serius, Dan.”


Ardan mengambilkan


minuman untuk Nico. Ia menganggap Nico hanya mengigau saja.


“Nih minum dulu. Biar


otakmu segar dan nggak mikirin setan aja.”


Nico menerima teh


botol pemberian Ardan, lalu ia meneguknya. Sedikit lega dan hilang bayangan

__ADS_1


Jardi dari benaknya.


__ADS_2